
Sementara itu didepan kamar hotel Elbara, terlihat Nina tengah menempelkan kartu akses hotel sedang 1 tangannya masih menggenggam erat pegangan koper besar milik Valerie.
Treneenggg!! Pintu pun terbuka, Nina pun lantas masuk seraya menarik koper besar tersebut dengan kedua tangannya.
Sunyi, sepi yang ia rasakan begitu memasuki area ruang tengah seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Tak ingin ambil pusing dulu Nina pun melanjutkan perjalanannya menuju salah satu kamar untuk meletakan koper besar milik Valerie.
“Kemana dia?” gumam Nina seraya menaikan koper besarnya ke atas ranjang.
“Hmmm … Ahhh entahlah! Mungkin sedang di kamar mandi,” fikirnya yang kemudian lebih memilih membuka koper dan menyusun semua barang-barang Valerie.
Selang beberapa menit kemudian setelah semua barang tersimpan dan tertata rapih pada tempatnya, Nina kembali menghela nafas dan membawa langkahnya keluar dari kamar sembari menelusuri setiap area yang terjangkau oleh pandangannya.
“Kak Valerie! Kau dimana?” panggil Nina seraya berjalan menuju area dapur.
“Astaga!! Ada apa ini?!” pekik Nina kala langkahnya telah sampai di area dapur yang tampak kacau akibat pecahan gelas berserakan dimana-mana.
“Apa mereka bertengkar lagi?” Nina kembali bergumam. “Hmmm … Seperti biasa, pada akhirnya akulah orang yang membersihkan kekacauan yang mereka berdua perbuat! Huffttt!!” oceh Nina yang kemudian berbalik dan menuju ruangan kebersihan untuk mengambil sapu serta pengki yang nantinya akan ia gunakan untuk mengumpulkan pecahan kaca.
15 menit kemudian, setelah selesai membersihkan kekacauan yang diperbuat oleh Elbara dan Valerie, Nina beralih ke aktivitas selanjutnya yakni memasak makan siang untuk dirinya juga Valerie yang masih belum jelas keberadaannya saat ini.
“Eeeyyy tak mungkin kan jika dia diculik?” celetuk Nina yang kini tengah memotong bahan-bahan masakannya diatas meja.
“Atau … dia kabur setelah bertengkar dengan kakak,” lagi-lagi fikiran negativenya menyerang membuat dirinya gusar.
“Hmmm … “ akhirnya Nina pun menghentikan aktivitas memotongnya, ia mengelap kedua tangan ke apron yang dirinya kenakan sebelum menarik langkah meninggalkan area dapur.
Sebelum memutuskan pergi mencari Valerie keluar, ia mencoba menelusuri setiap ruangan lebih dulu, seperti kamar yang lainnya, kamar mandi diluar, ruang bekerja Elbara serta ruangan-ruangan lainnya yang berada di kamar hotel Elbara.
Namun setelah pencariannya selama kurang lebih 15 menit, Nina benar-benar tak menemukan adanya tanda-tanda Valerie berada didalam.
Hal itu malah semakin membuat Nina gelisah tak menentu, ia pun lantas memacu langkahnya menuju pintu utama setelah pencariannya yang tak membuahkan hasil.
“Aiiisshh!! Dia kemana sih!!” gerutu Nina sembari berlari kecil.
Ceklek … begitu pintu terbuka dilihatnya Valerie sedang berdiri tepat didepan pintu sembari mengembangkan senyum lebarnya.
“Nina!!” seru Valerie nyaring yang langsung memeluk Nina erat.
“Aduuuuh!! Tunggu, jadi dari tadi kau ada didepan pintu?” tanya Nina yang memililh meminta penjelasan lebih dulu seraya melepas paksa pelukan erat Valerie.
“Iya hhehhehe, pintunya terkunci dan aku tak memiliki kuncinya,” timpal Valerie yang membuat Nina memutar bola matanya jengah.
“astaga!” Nina berkacak pinggang dan menatap tajam gadis dihadapannya yang entah termasuk species polos ataukah memang bego.
“Apa kau tak bisa mengetuk pintu?” lanjut Nina yang masih mencoba menahan emosional dalam menghadapi gadis seperti Valerie.
“Sudah kok, memangnya ga kedengaran?” balas Valerie. “Sudah ah, biarkan aku masuk,” lanjut Valerie seraya meminggirkan tubuh Nina agar dirinya bisa masuk ke dalam.
“Kau sudah masak? Aku lapar sekali,” kata Valerie yang langsung berjalan menuju area dapur.
“Ahh iya disini tadi ada pecahan gelas looh, kau harus berhati-hati Nina,” oceh Valerie seraya menoleh ke belakang.
“Aku sudah membersihkannya,” jawab Nina dengan nada ketusnya.
Nina pun lantas berjalan mendahului Valerie untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
“Kau mau masak apa?” tanya Valerie yang kemudian duduk dan memperhatikan Nina memotong bahan-bahan makanan.
“daripada duduk disitu, bukankah lebih baik kau membuat dirimu berguna?” ketus Nina.
“Ciihh!! Memangnya kau ingin aku melakukan apa huh?” sahut Valerie yang tak kalah ketusnya, ia pun bangkit dan menunggu intruksi dari Nina di samping meja.
“Cuci sayur mayur yang ada dibaskom itu,” titah Nina seraya menunjuk ke arah baskom yang berisikan sayur mayur yang berada disamping wasteful.
“Oke, itu mah gampang,” timpal Valerie yang lalu berjalan menuju wasteful dan mulai menjalankan perintah dari Nina.
“Niihh udah ... “ ujar Valerie seraya memberikan baskom sayur mayur yang sudah ia bersihkan.
“Ambil panci dilemari lalu isikan air dan taruh diatas kompor,” Nina kembali memerintah begitu Valerie menyelesaikan tugas pertamanya.
“Oke,” sahut Valerie yang lantas berjalan menuju lemari dan dilanjut melakukan apa yang diperintahkan Nina.
“Sudah, ada lagi?” tanya Valerie yang kembali ke sisi Nina.
Nina menoleh ke belakang untuk melihat pekerjaan yang dilakukan oleh Valerie.
“Kenapa ga dinyalain apinya?” kata Nina.
“Kau ga bilang minta dinyalain kan barusan, hanya isi air ke dalam panci dan letakan diatas kompor,” balas Valerie lengkap dengan raut wajah julidnya.
“Astaga! Nyalakan apinya!” titah Nina dengan ngegasnya yang membuat Valerie tetap mempertahankan ekpresi julidnya.
“Bagaimana caranya? Ga ada tombol yang mesti ku putar disini,” kata Valerie seraya mengamati kompor yang tampak sangat berbeda dengan kompor miliknya didesa dahulu.
“Sudah hhehhehe, ahh iya btw kau hanya akan memasak sayur? Ga ada dagingnya gitu?” tanya Valerie seraya melirik sayur mayur yang berada dalam baskom.
“Ada, masih dilemari pendingin, tolong bawakan kemari,” kata Nina lagi yang kini mengambil alih dan berdiri didepan kompor.
“Oke,” sahut Valerie seraya berlari kecil menuju lemari pendingin untuk membawa daging yang diminta Nina.
“Ini?” tanya Valerie seraya mengeluarkan mangkuk kaca kecil yang berisikan daging segar yang sudah dipotong dadu dan menunjukannya pada Nina untuk memastikan, kalau-kalau ia salah ambil.
“Iya,” sahut Nina seraya memasukan bahan-bahan masakan ke dalam air yang sudah mendidih.
Setelah memastikan kebenarannya, Valerie pun lantas membawanya dan memberikannya pada Nina yang tengah mengaduk kaldu didalam panci.
“Aammm sudah wangi aja aromanya hehehhee,” komen Valerie seraya meletakan mangkuk kaca yang berisikan daging dalam jangkauan Nina.
“lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanya Valerie ketika Nina sedang sibuk dengan aktivitas memasaknya.
“Siapkan piring, alat makan dan nasi aja diatas meja,” timpal Nina.
“Oke,”
Setelah melaksanakan perintah Nina yang terakhir, Valerie pun lantas duduk dikursi sembari menunggu Nina yang masih mengaduk-aduk kaldu agar bercampur rata.
“Sebenarnya, (Nina memutar tubuhnya ke belakang sejenak) apa yang terjadi antara kau dan kak Bara?” tanya Nina yang akhirnya menyinggung tentang insiden yang menyebabkan pecahan gelas berserakan dilantai.
“Kak Bara?
Aaahh iya dari tadi kurasa sikapmu sangat berbeda sekali dari biasanya, kau juga tak memanggilku nona?” tanya Valerie namun lebih terdengar seperti nada seseorang yang tengah melakukan aksi protes.
“Hmmm … (Nina menghela nafas sejenak dan kembali memutar tubuhnya untuk melanjutkan mengaduk kaldu masakannya)
Itu kan jika kita sedang berada di mension, di mension aku hanyalah seorang pelayan, sudah semestinya aku bersikap sopan dan selayaknya seorang pelayan pada umumnya. Begitpun denganmu, aku menganggapmu sebagai tamu kak Bara, karena memang kak Bara tak pernah menempatkanmu sebagai pelayan bukan?
Berbeda jika kita sedang diluar, aku selalu memanggil tuan muda kakak, karena memang dia sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri, dan kau pun sama seperti itu,” jelas Nina panjang lebar.
“tidak! Kurasa tidak seperti itu,” bantah Valerie lengkap dengan tatapan sinisnya.
Mendengar bantahan keras Valerie, Nina pun menoleh ke belakang seraya mengerutkan dahinya.
“Kau tidak menganggapku sebagai kakakmu, kau hanya memperlakukanku seperti teman sebayamu,” keluh Valerie.
“Wkwkwkwkwk, benarkah? Sory, sory, aku benar-benar ga sadar, habisnya kelakuanmu sudah seperti adik-adikku dipanti aja,” celetuk Nina diiringi dengan tawa renyahnya.
Nina pun kembali fokus dengan masakannya yang sebentar lagi matang.
“Ahh iya, kau … ehh maksudnya kakak, hahahaa, kakak belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang terjadi diantara kalian?” lanjut Nina yang kembali pada pertanyaan sebelumnya.
“Hmmm itu, entahlah, aku tak tahu kenapa dia sangat marah sekali saat aku memanggil nama depannya, padahal dulu saat pertama kali bertemu, dia memperkenalkan diri dengan nama Valen, tapi kenapa sekarang dia merubah nama panggilannya,” celoteh Valerie yang tentu saja membuat Nina terkejut dan kembali memutar tubuhnya kebelakang.
“Ammm … aku emang gak tau apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu kalian, tidak, maksudku, bukannya aku gak percaya jika kalian sudah pernah bertemu sewaktu kecil, tapi … kurasa untuk sekarang lebih baik jangan menyinggung hal-hal yang membuatnya teringat akan masa kecilnya dulu.
Kak Bara memiliki gangguan kecemasan, kak Valerie, kakak sudah lihat sendiri kan bagaimana murkanya kak Bara saat kakak menyinggung masa lalunya. Bahkan kali ini dia sampai memecahkan gelas, itu artinya masa lalunya bukanlah hal yang membahagiakan baginya.
Jadi sebaiknya tolong jangan mengungkit masa lalunya lagi kak Valerie, kau mengertikan maskudku,” tutur Nina lembut seraya kembali mengalihkan atensinya pada kompor sejenak dan mematikannya tanda jika masakannya sudah siap dihidangkan.
“Begitu ya?
Lalu, bagaimana aku bisa memberitahunya jika aku adalah Chaca, temannya,” sahut Valerie seraya menundukan kepalanya dan mere*mas kedua tangan yang ia tautkan diatas meja.
Sebelum menjawab pertanyaan Valerie, Nina lebih dulu membawa sayur daging buatannya dan diletakannya diatas tatakan yang sudah dipersiapkan oleh Valerie sebelumnya.
Kemudian mendaratkan bokongnya dikursi seraya menatap lekat manik Valerie.
“kak … (panggil Nina lembut seraya meraih serta menggenggam kedua tangan Valerie)
Aku gak ngelarang kakak untuk mengungkapkan identitas kakak pada kak Bara, hanya saja, pelan-pelan oke, jangan terburu-buru, tunggu sampai kak Bara mau membuka hatinya untuk kakak, setelah itu kalian bisa bicara dari hati ke hati, menceritakan ini dan itu.
Mungkin aja kan suatu saat nanti kak Bara akan bercerita sendiri tentang kisah masa lalunya ketika kalian sudah benar-benar dekat.
Jadi ... Untuk sekarang ini kurasa sebaiknya berhenti membawa ingatannya ke masa lalu.
Atau ... Mungkin kak Valerie bisa memulainya lagi dari awal, sebagai Valerie bukan sebagai Chaca teman masa lalunya.
Kenapa?
Kakak ga percaya diri bisa merebut kembali hati kak Bara?"
...****************...
Bersambung...