
Malam harinya.
Lebih tepatnya dikamar Nina, ia tengah berbaring diatas ranjangnya sembari menatap langit-langit setelah seharian ini melalui aktivitas yang sangat melelahkan.
Ceklek.. pintu kamarnya terbuka seiring dengan kemunculan teman baiknya yakni Valerie Antastasya, ia berdiri diambang pintu sembari memegangi handle selagi memberikan sapaan dengan senyum lebarnya pada Nina yang melirik ke arahnya.
“Waaahh! Sepertinya ada yang bersenang-senang hari ini,” celetuk Nina yang kemudian bangkit dan terduduk sembari memperhatikan langkah kecil Valerie menuju kearahnya dengan 2 tangan yang ia tautkan dibelakang tubuhnya.
“Apa itu?” tanya Nina saat Valerie hanya terdiam sembari cengar cengir dihadapannya.
“Nona Valerie!” Seru Laras yang baru saja bergabung di dalam kamar sempit tersebut, ia pun lantas berlari kecil dan memeluk Valerie dengan penuh semangat hingga Valerie kesulitan bernafas.
“Syukurlah kau tidak diusir oleh tuan muda, aku cemas sekali saat nona tidak pulang-pulang,” Laras melepas pelukannya dan beralih memegangi pipi Valerie.
“Apa ini?!” kaget Laras disertai 2 bola mata membulatnya. “Kau.. siapa?” imbuhnya yang masih memegangi erat pipi Valerie.
Valerie hanya tersenyum lebar hingga membuat Laras semakin kebingungan.
“Sekarang kau percaya?” kata Nina yang masih mempertahankan posisi duduknya sembari memandangi kedua karibnya.
“Percaya apa?” sahut Laras yang kemudian melepas kedua tangannya dari pipi Valerie dan duduk disamping Nina.
“Jika Nona Valerie tidak kalah cantiknya dengan Nona Serena,” jelas Nina lengkap dengan raut wajah songongnya yang ia berikan pada Laras.
“Arrgghh!! Kau bisa aja!!” seru Valerie seraya mendorong bahu Nina dengan sekuat tenaga sampai Nina terjengkang ke belakang.
“Aughh ****!! Tenagamu kuat sekali Nona,” celetuk Nina seraya mencoba bangun setelah ditumbangkan oleh Valerie dengan sekali dorong.
“Eehh maaf-maaf aku gak sengaja, aku hanya terlalu bersemangat,” katanya yang kemudian ikut duduk disamping Nina, hingga akhirnya mereka bertiga pun membentuk barisan ditepi ranjang.
“Jadi kau benar-benar Nona Valerie?!” ujar Laras yang masih tak percaya jika gadis yang tampak biasa saja sebelumnya kini sudah bertranformasi menjadi gadis cantik nan anggun.
“He’em.. Aku jadi gak mau menghapus riasan ini hehehehe,” gumam Valerie ditengah tawa kecil bahagianya.
“EEeyyy, gak gitu juga konsepnya nona, wajahmu bisa rusak jika kelamaan pakai make up,” timpal Laras.
“Benarkah?”
“Itu apa?” tanya Nina seraya melirik totebag yang sedari tadi peluk Valerie.
“Ahh ini! aku hampir lupa, ini buat kalian berdua, maaf aku hanya bisa membelikan kalian parfume,” tutur Valerie seraya memberikan bungkusan tersebut pada kedua teman baiknya.
Langsung saja Laras menyambar totebag tersebut serta mengambil salah satu parfume yang berwarna pink muda.
“Waaahhhh!! Luar biasa!! Aromanya wangi sekali, nona benar-benar pintar memilih hehehee, makasih ya,” seru Laras penuh antusias.
“Jadi.. kemana aja nona seharian ini bersama tuan muda?” tanya Nina sembari ikut mencoba menghirup aroma parfume miliknya dan totebagnya ia taruh dibawah disamping ranjang.
“Pertama aku ke tempat makan, terus habis itu ke pasar besar, dan terakhir tuan muda mengajakku ke taman, kurasa tamannya ga jauh dari rumah tuan muda ini,” cerita Valeri.
“Pasar besar?” respon Nina yang merasa asing dengan hal tersebut.
“Ahh.. orang kota biasa menyebutnya mall,” jelas Valerie yang membuat keduanya pun mengangguk mengerti.
“Iya nih! Kurasa tuan muda sudah jatuh hati pada nona,” goda Nina seraya menyenggol-nyenggol sikut Valerie lengkap dengan tawa nakalnya.
“EEeyyy tak mungkinlah! Seumur-umur aku belum pernah melihat tuan muda menyukai seorang gadis yang berasal dari kalangan kita,” celetuk Laras tanpa sadar jika dirinya telah menyakiti hati Valerie.
Terbukti dengan raut wajahnya yang kini tampak merengut. Buru-buru Nina menyikut kasar lengan Laras agar menjaga bicaranya.
“Eeehh bukan begitu maksudku, maaf.. hehhee, aku hanya..”
“Iya gak apa-apa kok Laras, aku mengerti, lagipula aku sendiri pun sadar diri, tidak mungkin jika tuan muda bisa jatuh hati pada gadis seperti diriku, mungkin ini semua hanyalah bentuk simpati dan rasa kemanusiaannya padaku, huffft!...” katanya dengan diakhiri hembusan nafas kasarnya.
“tak ada yang tak mungkin nona, karena dari yang ku tahu tuan muda bukanlah orang yang membeda-bedakan orang berdasarkan kasta,” ujar Nina lembut disertai senyum simpulnya, berharap jika Valerie dapat terhibur dengan perkataannya barusan.
“Terimakasih karena sudah menghiburku Nina, tapi tenang aja, aku benar-benar tidak berharap apapun pada tuan muda, saat sudah waktunya nanti pun aku pasti akan pergi dari rumah besar ini,”
“Tapi aku tak setuju dengan itu nona! Tak bisakah kau memohon pada tuan muda agar membiarkanmu tetap disini bersama kami,” timpal Laras.
“Hmm, sebenarnya aku sudah membujuk tuan muda, aku juga ingin bekerja sebagai pelayan disini, tapi.. sepertinya keputusan tuan muda tak bisa dirubah, tuan muda tetap bersikeras memintaku pergi jika kondisi tubuhku sudah benar-benar pulih,” katanya lirih yang membuat kedua karibnya ikut merasa sedih.
“Hmmm…” Nina membalas hembusan kasar Valerie seraya membaringkan tubuhnya lagi diranjang, disusul dengan kedua karibnya yang ikut berbaring disampingnya.
Kini ketiganya berbaring sembari memandangi langit-langit.
“Apa kau tak bisa membujuk tuan muda, Nina? Bukankah kalian berdua dekat,” celetuk Laras seraya melirik sesaat ke arah Nina.
“Dekat?” tanya Valerie seakan ingin meminta penjelasan lebih mendetail mengenai kedekatan yang Laras maksud.
“Kenapa? Nona cemburu?” goda Nina seraya melirik Valerie dengan tatapan isengnya.
“Waaahh! Kau sudah jatuh hati rupanya, (ujar Laras yang kini memiringkan tubuhnya ke arah kedua temannya, serta menopang kepalanya dengan telapak tangannya)
Emang sih, siapa juga yang tidak jatuh hati ketika melihat lelaki tampan penuh peson dan karismatik seperti tuan muda Elbara. Semua gadis pasti akan langsung jatuh hati, huhh!.. Jika dikehidupan selanjutnya aku terlahir sebagai anak orang kaya, aku pasti! Pasti akan mencari tuan muda, lalu menikahinya!” racau Laras panjang lebar bersamaan dengan khayalan yang diluar nurul nya, hingga membuat kedua temannya lantas mengerutkan dahinya secara bersamaan.
“Kenapa?! Gak boleh berkhayal seperti itu? huhh!!” dengus Laras karena tak suka dengan pandangan julid Nina terhadapnya.
“Yak! Berhenti berkhayal yang tidak masuk akal, jika tuan muda tahu kau menyukainya dia pasti akan langsung memecatmu tau!” omel Nina seraya menoyor kepala laras hingga mendarat di atas kasur.
“Ciihhh!!” dengus Laras lagi.
“Benarkah? Tuan Muda Elbara seperti itu?” komen Valerie yang tak percaya dengan perkataan Nina jika Elbara akan langsung memecat pelayannya jika kedapatan menaruh hati padanya.
“He’em, sudah ratusan pelayan yang dipecat olehnya sejauh ini, entahlah angka pastinya, karena aku sudah berhenti menghitungnya sejak 3 tahun yang lalu. Nona yakin.. benar-benar tidak berharap apapun pada tuan muda?” tanya Nina ingin memastikan.
“Aku.. aku hanya merasa bahagia dan bersyukur aja karena ada yang memperlakukanku dengan baik, hehehe, jika aku bisa membalasnya, aku pasti akan melakukan apapun untuknya,” tutur Valerie diiringi senyum manisnya.
“Aku tak ingin mematahkan perasaanmu atau harapanmu nona, meskipun suatu hari nanti tuan muda akhirnya jatuh hati padamu, tapi… kuyakin perjalanan cinta kalian akan sangat sulit, karena tuan muda Elbara sudah di jodohkan,”
“Ahh iya.. hampir lupa, meski tuan muda dan nona Serena sudah putus, tapi tuan besar tetap bersikeras mengadakan pernikahan untuk mereka berdua, hmmm.. sulit sekali jadi cucu tunggal pewaris JH. Group, harus ini dan itu, tak boleh begini dan begitu,”
...****************...
Bersambung...