Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXIX



“Shapieeh, apa itu shapieeh, hey Nina! Tunggu!!” panggil Valerie yang bergegas bangkit kemudian berlari menyusul Nina sembari memegangi gelas dengan kedua tangannya, sebab takut akan menumpahkan teh yang masih belum sempat ia habiskan.


“huhh.. haahhh!! Lelah sekali,” keluh Valerie begitu sampai di depan gerbang.


“Iya nih, huhhh.. haaah.. coba aja abang kurirnya boleh masuk ke dalam,” imbuh Nina yang juga ikut menarik nafas terlebih dahulu di depan gerbang besar yang masih terkunci rapat.


“Dimana abang kurirnya Nin?” tanya Valerie seraya menelusuri area depan dari celah gerbang, namun dahinya berkerut lantaran tak menemukan siapapun sejauh mata memandang.


“Itu tuh disana! (seru Nina sembari mengeluarkan 1 tangannya ke celah gerbang besi untuk menunjukan dimana abang kurirnya berada)


Huhhh.. pak Budi kemana sih! pak Budi!! Pak Budi!!” panggil Nina dengan suara lantangnya sembari melihat ke arah pos satpam yang tampak kosong.


“Haduuuhhh!! Nona tunggu disini sebentar ya, sini gelasnya biar ku simpan di pos aja,” pinta Nina seraya menyambar gelas yang masih digenggam erat oleh Valerie, dan langsung bergegas berlarian menuju pos penjagaan.


“Waaahh pagar ini besar dan tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari pagar sekolahku dulu,” oceh Valerie seraya mencoba memanjat gerbang tersebut sembari cengengesan.


Ngomong-ngomong tentang ketinggian pagar, mendadak ingatannya kembali pada saat dirinya sedang membolos bersama teman dekatnya, mereka berdua memanjat pagar bagian belakang sekolah karena tak ingin mengikuti kelas terakhir yakni matematika.


Selang beberapa menit kemudian, begitu Nina kembali, sontak saja ia kebingungan sembari celingak celinguk kesana kemari mencari gadis mungil yang tadinya ada disini namun dalam sekejap dirinya menghilang.


“Nona Valerie! Nona!! Augghhh!! Sial, kemana lagi dia,” panggil Nina yang mulai panik sembari menggaruk-garuk bagian tengkuknya yang tidak gatal sebenarnya.



“Nina!” seru Valerie yang kini sudah berada diarea luar, ia tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya pada Nina yang terkejut sampai membulatkan kedua matanya.


“Nona.. ba.. bagaimana bisa..”


“Mesinnya sudah benar Nina!! Kau mundur sedikit akan ku bukakan gerbangnya!” seru pak Budi dari pos penjagaan.


“huh?!” masih dalam keterkejutannya Nina pun hanya menurut saja untuk mundur beberapa langkah ke belakang mengikuti arahan pak Budi.


“Abang kurirnya yang itu kan? Biar aku aja yang ambilkan oke,” kata Valerie yang langsung berlarian menuju abang kurir yang mulai kesal karena konsumennya sedari tadi ga dateng-dateng.


Refleks Nina pun mengangguk masih dengan mulutnya yang menganga.


Perlahan gerbang besar yang berada dihadapan Nina pun terbuka lebar. Begitu dirasa cukup untuk dilewati, Nina pun berlarian menyusul Valerie yang sudah lebih dulu menghampiri abang Shapieeh.



Setelah mengambilkan makanan karibnya Valerie pun kembali sembari bersenandung riang.


“Selamat pagi Bu,” sapa Valerie pada tukang sapu di atas trotoar.


“I.. iya pagi juga nona,” sahutnya dengan sedikit rasa canggung sebab merasa aneh aja ada orang asing yang menyapa dirinya.


Belum sempat Valerie kembali melangkahkan kakinya, tiba-tiba mobil yang berada tak jauh disampingnya membuka kaca jendelanya, dan cllingggg!! Seseorang yang duduk dikursi samping pengemudi melempar sampah kaleng minuman tepat ke hadapan tukang sapu, dengan raut wajah songongnya ia hendak menutup kembali kaca jendela mobilnya.


Tak tinggal diam, dengan emosional yang menggebu-gebu Valerie memberanikan diri memungut sampah kaleng minuman tersebut kemudian melemparkan kembali masuk ke dalam mobil.


“Arrggh!! Sial!!” umpat seseorang dari dalam mobil yang lantas mencoba membuka pintu mobilnya dan berniat membalas perlakuan seseorang yang telah melempar sampah tepat ke wajahnya.


Namun belum sempat pintu mobil tersebut terbuka lebar, dengan cepat Nina menendangnya sekuat tenaga yang semakin membuat orang di dalam mobil geram.


“APA HUH!!” bentak Nina yang ga ada takut-takutnya padahal orang yang dibelakang kemudi adalah seorang pria berbadan besar yang diyakini adalah kekasih dari wanita yang telah membuang sampah sembarangan tadi.


“Su.. sudah Nina..” kata Valerie yang ketakutan kala pria berbadan besar itu keluar dari pintu yang lain.


Tak hanya tukang sapu dan Valerie yang gemetaran dibuatnya, Nina pun yang sedari tadi menggonggong keras pada orang-orang didalam mobil mulai menciut kala pria berbadan besar itu hendak menghampirinya dengan sorot mata tajamnya.


“Aiiishh SIAL!! PAK ANTON!! PAK ANTON!!” teriak Nina nyaring sembari mundur selangkah dan merangkul Valerie.


Sementara sang tukang sapu hanya bisa terdiam membeku di tempat karena tak menyangka jika masalahnya akan menjadi seserius ini.


“Habisi aja mereka semua baby!” seru wanita yang berada didalam mobil, ia tertawa puas melihat ketiga wanita tersebut tampak ketakutan setengah mati begitu kekasihnya muncul.


“Ayoooo kita lari saja!” ujar Nina yang lantas berlari dengan menarik lengan Valerie, dan tak lupa Valerie pun menarik lengan sang tukang sapu tersebut karena takut jika mereka pergi, lelaki tersebut akan melampiaskan kekesalannya pada sang tukang sapu yang tidak bersalah.


Akhrinya mereka bertiga pun berlarian kembali menuju kediaman Elbara  sembari sesekali melihat ke belakang.


“Aiisshhh! Si king kong itu masih mengejar kita!” celetuk Nina, ia pun menambah kecepatan laju larinya karena tak ingin tertangkap.


Namun naasnya, Valerie malah tersandung dan terjatuh bersamaan dengan makanan yang telah dipesan Nina.


Dengan gerakan cepat lelaki berbadan besar itu pun mencengkram kerah gaun Valerie, yang membuat tubuh Valerie terangkat seketika.


“Astaga nona Valerie,” “Nonaaa!!” teriak Nina dan sang ibu tukang sapu serempak saat kedua kaki Valerie sudah tak menapak di aspal.


“Arrrghh!! Nina to.. long aku!!” rengek Valerie ditengah usahanya mengumpulkan oksigen yang tersendat akibat lehernya tercekik oleh kerah bajunya.


Tak kehilangan akal, Nina pun buru-buru mengambil bungkusan ceker merecon yang sebagian isinya sudah berceceran diaspal, kemudian dilanjut dengan melemparkannya tepat ke wajah lelaki yang tengah mencengkram kuat kerah baju Valerie.


“ARGGGHHH!!” teriak lelaki berbadan besar tersebut yang kemudian menjatuhkan tubuh mungil Valerie lantaran tak tahan dengan rasa perih yang berasal dari siraman sambel ceker merecon.


“BRENGSEK!! WANITA JA*LA*NG!!” umpat lelaki tersebut yang sudah mencapai puncaknya dan hendak melayangkan tinjunya pada Nina.



Greep!! Beruntung Anton sang penjaga keamanan dikediaman Elbara keburu muncul dan bisa menangkap lengan kekar lelaki tersebut yang hanya tersisa 3 cm lagi dari wajah Nina.


“Pak Anton,” ucap Nina begitu menyadari kehadiran Anton disampingnya.


“ARGGHH!!” rengek lelaki berbadan tersebut saat Anton mulai melancarkan aksinya dengan menggenggam erat pergelangan tangannya kemudian memelintirnya.


“Ayooo nona…”


Buru-buru Nina membantu Valerie berdiri lalu berlarian masuk ke dalam, dan membiarkan pak Anton sendiri yang mengurus lelaki songong tersebut.


...****************...


Setelah melalui masa-masa menegangkannya beberapa saat lalu, akhirnya Valerie dan Nina pun bisa bernafas lega, mereka berdua berjalan santai sembari saling menautkan lengan di area pekarangan mension.


“Hehhehe tadi itu benar-benar menakutkan sekali,” celetuk Valerie sembari cengengesan dan bergelayutan dilengan Nina.


“Iyaa.. hhahhaha.. untung saja pak Anton datang tepat waktu, jika tidak aku mungkin sudah, ahhh!! tidak tahulah membayangkannya aja ngeri banget,” timpal Nina seraya bergidik membayangkan kembali situasi menegangkan yang sebelumnya ia alami.


“Ahh iya, tapi tadi kau keren sekali Nina, tanpa berfikir panjang langsung whaakkk!! Menendang pintu mobil, hihihiii!!” puji Valerie.


“Nona juga, aku tak menyangka nona memiliki keberanian untuk melempar kembali sampah itu, biasanya nona hanya terdiam kemudian menangis di pojokan, wkwkwkwk!!”


“Eeeeyy, kau ini sedang memuji atau mencibirku, ciihhh!!” balas Valerie.


“Waaahhh.. sekarang kau pandai mengumpat juga hahhahhaha, siapa yang mengajarimu huh?” goda Nina sembari menyenggol pinggul Valerie pelan dengan sikutnya.



“Kau,” balas Valerie yang bahkan tak ragu memberikan tatapan sinisnya pada Nina.


“Ahhhhahhaha!!”


...****************...


Bersambung...