Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXIII



Di area pekarangan belakang mension.



“Sebaiknya kau usir gadis itu sekarang juga,” kata Alan yang lebih mirip seperti sebuah perintah.



“Kau mengenalnya?” tanya Elbara yang tak ingin terpengaruh dengan emosional Alan dan lebih memilih tetap stay cool.


“Gadis itu sudah dijual oleh ayahnya pada para gangster yang berkedok sebagai rentenir, dan salah satu pembelinya adalah Bos Naga kepala gangster dari wilayah Barat, dia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari gadis itu.


Jika mereka tahu kau yang menyembunyikannya, kau akan dapat masalah, Bara. Kita cari aman saja, usir dia pergi sekarang juga sebelum semuanya menjadi rumit,”


“Lalu bagaimana dengan ayahnya?” tanya Elbara.


“Setelah gadis itu kabur, Bos Naga merasa telah dikhianati oleh pak Irfan, dia memenjarakan pak Irfan,” papar Alan.


“Baguslah,” respon Elbara yang tak mengindahkan peringatan dari karibnya yang memintanya untuk cepat mengusir Valerie.



“Baguslah? YAK! Kau tak cemas dengan situasimu sekarang Bara! Kau sedang berurusan dengan ketua gangster yang paling disegani oleh kelompok gangster manapun, dia bahkan pernah menghabisi semua gangster yang berada diwilayah timur sendirian. Bos Naga benar-benar murka saat gadis itu berhasil kabur sebelum sempat… yaa kau tahulah, tak perlu ku jelaskan lebih detail,” jelasnyanya lagi yang membuat Elbara kini mengarahkan atensinya pada Alan.


“Maksudmu? Gadis itu belum…”


“Iya, berbeda denganmu yang mendapat kesialan hari itu, putri pak Irfan seperti mendapat angin segar dan kesempatan kabur ditengah kekacauan yang dibuat oleh tuan besar,” ujarnya yang masih diselimuti rasa emosionalnya.


“YAK! Sebegitu senanganya kau mengetahui jika gadis itu belum sempat ditiduri oleh para lelaki hidung belang huh?!


Dengar yak! Ini bukan saatnya kau…”


“YAK!! YAK!! ELBARA!! Astaga!”


Elbara melongos pergi begitu saja karena sudah tak tahan dengan kebawelan Alan yang sudah melebihi ibu-ibu sedang bergosip di tukang sayur.


“YAK! ELBARA! (tahan Alan seraya memegangi lengan Elbara dan membuatnya berhenti berjalan) Aku bicara seperti ini untuk kebaikanmu Bara!”


Elbara menepis kasar tangan Alan dari lengannya. “Aku pasti akan mengusirnya! Tapi tidak saat ini,” tegas Elbara seakan tidak perduli dengan situasi yang mungkin akan membuat dirinya dalam bahaya.


“Kau menyukainya?” tebak Alan, Elbara hanya berdecak kesal kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertahan.


...****************...


Setelah perseteruan yang terjadi diantara Elbara dan Alan, akhirnya keduanya pun berpisah, Alan menyerah dan memilih pergi ke kantor untuk memback up pekerjaan Elbara yang lagi-lagi membolos. Sedang Elbara kembali masuk ke dalam mensionnya, ia berjalan menuju area ruang makan untuk menyantap sarapan pagi.


Namun saat melewati area dapur, ia melihat sekilas Valerie yang tengah berdiri didepan wasteful tanpa melakukan apapun, hanya pandangannya yang mengarah lurus menembus kaca jendela yang memperlihatkan area luar mensionnya.


Merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Valerie, Elbara pun lantas membelokan tujuannya ke area dapur yang sebenarnya tak pernah ia masuki sejak berdirinya mension tersebu.


“Selamat pagi tuan muda!” sapa Laras yang muncul tak jauh didepannya, namun Elbara malah melongos pergi begitu saja ke area dapur seakan kehadiran Laras hanyalah butiran debu yang tak terlihat.


Laras pun mengerutkan dahinya dan diam-diam mengikuti kemana tuan mudanya pergi.


Di area dapur, Elbara menaikan 1 alisnya ketika menyadari Valerie hanya bengong ditengah usahanya melepas sarung tangan karet yang membalut kedua tangannya.


“Apa yang kau lihat?”


“Astaga!! tuan muda maaf.. maaf.. aku gak sengaja,” racau Valerie seraya menyentuh rahang Elbara dengan 2 tangannya, yang salah satunya masih mengenakan sarung tangan karet.


Alhasil pipi kiri Elbara merah dan 1 lagi dipenuhi busa sabun yang tersisa dari sarung tangan karet yang dikenakan Valerie.


“Jauhkan tanganmu dari rahangku!” pekik Elbara yang langsung membuat Valerie menarik tangan dan mundur selangkah ke belakang.


“Argghh!” namun naasnya salah satu kakinya malah tersandung hingga membuatnya tergelincir dan hendak tumbang ke belakang. Dengan cepat Elbara meraih apron yang dikenakan Valerie kemudian menariknya agar Valerie bisa kembali berdiri tegak.


“hhhehe, terimakasih tuan muda,” ucap Valerie begitu berhasil kelaur dari masa-masa kritisnya berkali-kali karena bantuan sigap Elbara.


“Siapa yang suruh kau mengerjakan semua ini?!” pekik Elbara sembari melirik ke deretan piring diatas rak yang baru saja dibersihkan oleh Valerie.


“Tidak ada yang menyuruhku tuan muda, aku hanya ingin mengerjakannya saja karena tak enak dengan yang lainnya. Mereka semua sudah bekerja keras sedangkan aku hanya bermalas-malasan dikamar,” katanya seraya menautkan kedua tangan didepan dan menundukan pandangannya.


“Kenapa harus merasa segan? Memangnya aku menggajimu untuk melakukan ini semua? Ganti pakaianmu, kau bukan pelayan, mengerti!” sentak Elbara yang membuat Valerie terhentak.


“Ba.. baik tuan muda..” sahut Valerie patuh.


Setelah dirasa cukup memarahi Valerie, Elbara pun lantas memutar tubuhnya dan hendak meninggalkan area dapur.


“Tuan muda,” tahan Valerie sembari mencubit bagian ujung kaos oblong Elbara dengan 2 jemarinya yang mungil.


“Ada apa lagi?” bentak Elbara.


“I.. itu tuan muda, ada busa sabun di wajahmu, biar saya bantu bersihkan,” ucap Valerie ragu namun tetap memberanikan diri menarik langkah dan mengusap busa sabun yang bersarang disalah satu pipi mulus Elbara dengan lap.


“Yak! Lap apa yang kau pakai?!” pekik Elbara lengkap dengan sorot mata tajamnya.


“Huh?! I.. ini ku ambil dari sana,” timpal Valerie seraya menunjuk area pinggir wasteful, sontak saja hal itu langsung kembali mengundang emosional Elbara.


“Kau menyentuh pipiku dengan lap bekas?! Astaga!! Hahhahaa!! (Elbara tertawa yang menyiratkan penuh makna) Kau benar-benar! Seharusnya ku lempar saja dulu kau ke laut, Sial!!” gerutu Elbara seraya pergi berlalu karena sudah tak memiliki tenaga untuk melayani kebodohan Valerie yang sudah melebihi batas area khatulistiwa.


...****************...


Beberapa jam kemudian..


Meski sudah dilarang melakukan pekerjaan rumah tangga, namun Valerie tetep kekeuh membantu para pelayan dalam menyelesaikan tugasnya.


Valerie berjalan menuju ruang tengah dengan membawa 1 ember berisikan air serta lap pel. Sembari bersenandung ringan ia pun menaruh ember yang berisikan air dilantai dan bersiap untuk mengepel seluruh ruang tengah.


“Selamat siang tuan muda!” sapa Valerie yang langsung menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memberikan rasa hormatnya pada Elbara, yang tengah berjalan menuruni tangga dengan tablet yang berada dalam genggamannya.


Elbara hanya menanggapinya dengan tatapan julid, sebelum kembali terfokus pada layar tabletnya.


“Siapa yang menyuruhmu mengepel lantai ruang tengah dengan alat itu?!” pekik Elbara yang sudah hampir sampai di anak tangga terbawah.


“Ammm… maaf tuan..” belum sempat Valerie menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Elbara terpeleset dan terjatuh dengan posisi terduduk dilantai, perlahan ia melirik ke arah Valerie ditengah nafasnya yang menggebu-gebu seakan ingin menunjukan sekali kekesalannya yang sudah naik ke ubun-ubun.


"YAAAKK!!"


...****************...


Bersambung…