
“Apa yang kau lakukan disini?
Tubuhmu sudah benar-benar pulih bukan,” ucap Elbara dingin, yang tentu saja membuat Valerie sangat terkejut mendapat sambutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Raut wajahnya berubah seiring dengan perasaan terdalamnya yang terluka akibat reaksi ketus Elbara terhadapnya.
“MEGAN!” panggil Elbara nyaring.
“Iya tuan muda,” sahut Megan yang buru-buru menghampiri tuan mudanya dan berdiri disamping Valerie yang tengah menundukan kepalanya.
“Panggil Nina ke kamarku!” titah Elbara yang lantas pergi begitu saja tanpa perduli akan gadis yang menyambutnya dengan senyuman lebar beberapa saat lalu.
“Baik tuan muda,” timpal Megan seraya membungkuk.
“Huuhh!! Sudah ku duga, mana mungkin tuan muda bisa memiliki hubungan dengan gadis itu hahahha!! Lagian baru dibaikin segitu aja udah baper wkwkwk,” celetuk salah satu pelayan yang berjalan dibelakang Valerie.
“Iya diih, gak sadar diri banget huhh!!” timpal yang lain.
Mendengar cibiran tajam yang ditujukan untuk dirinya, Valerie pun lantas berlarian menuju area belakang sembari terisak lantaran tak kuasa menahan tangis pilu yang sedari tadi ditahannya.
...****************...
Sesampainya di area pekarangan belakang, Valerie pun terduduk diatas rerumputan di depan rumah kecil Thomas. Thomas yang tengah terbaring di rumahnya pun tak mengerti kenapa Valerie tiba-tiba menangis deras begitu ia mendudukan bokongnya dihadapannya.
“Apa dia benar-benar tak bisa mengenaliku hiksss.. Padahal aku sangat-sangat merindukannya,” rengek Valerie ditengah heningnya malam kala itu.
...****************...
Di kamar Elbara.
Elbara melempar jas nya sembarang ke sofa kemudian dilanjut dengan melonggarkan dasi dan melepas kancing dibagian pergelangan tangannya.
Tookk!! Took!! Begitu mendengar suara ketukan pintu, Elbara lantas memutar tubuh dan menatap pintu kamarnya tajam.
“Masuk!” titah Elbara dengan nada tingginya.
“Tuan muda memanggil saya,” ucap Nina yang kemudian berjalan menghampiri Elbara yang tengah berdiri di dekat jendela.
“Kenapa gadis itu masih disini?!” pekik Elbara seraya menajamkan pandangannya pada Nina.
“Maaf tuan muda, kukira tuan ingin nona Valerie tetap disini sampai tuan muda kembali,” sahut Nina yang lebih memilih menundukan kepalanya.
“Apa?! Bukankah sudah ku katakan dengan jelas untuk mengusirnya pergi saat kondisi tubuhnya benar-benar pulih!” sulut Elbara.
“Maaf tuan muda, kurasa tuan mengatakan hal itu pada Bu Megan dan bukan padaku, lantas kenapa aku yang dimarahi?” jawab Nina seraya mengangkat kepalanya agar bisa bertatapan langsung dengan tuan mudanya.
“Kau membantahku! Nina!” bentak Elbara yang masih belum mengendorkan urat-urat diwajahnya.
“Tidak ... aku tak berniat membantahmu, tapi kenapa kau selalu melampiaskan amarahmu padaku, dan juga … jika kau ingin dia pergi, ya tinggal katakan saja sekarang tak perlu dibesar-besarkan seperti ini,” protes Nina, tak terima dengan penekanan yang Elbara berikan padanya.
Tookk ... tookk … belum sempat Elbara membuka mulut untuk membalas keluhan Nina, mereka berdua dikejutkan oleh suara ketukan pintu, baik Nina maupun Elbara saling mengerutkan dahinya lantaran tak menduga akan ada seseorang yang berani memasuki area kamar Elbara.
“Tidak mungkinkan gadis bodoh itu,” gumam Nina pelan seraya membalikan tubuh dan menarik langkah untuk membuka pintu.
“Siapa yang lancang masuk kemari!” celetuk Elbara sesaat sebelum Nina menarik handle pintu kamar.
“Hmm, sudah kuduga,” celoteh Nina seraya menghela nafasnya begitu melihat sosok yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Valerie.
“Berani sekali kau kemari! Kau tak ingat …. “
“Tuan muda aku ingin menunjukan sesuatu padamu,” potong Valerie seraya menyingkirkan tubuh Nina dengan sopan agar dia bisa masuk ke kamar Elbara. “Maaf Nina,” Valerie pun lantas berlari kecil menuju keberadaan Elbara.
“Aku ingin menunjukan …. “ belum sempat Valerie menyelesaikan kalimatnya, Elbara sudah keburu menyambar selembar foto yang hendak ditunjukan oleh Valerie padanya.
“Siapa yang mengijinkanmu masuk ke gudang?!” pekik Elbara yang sontak saja membuat Nina membulatkan kedua mata karena terkejut Valerie akan menunjukan temuannya pada Elbara.
“KAU!! … “ pekik Elbara seraya meremas foto tersebut bersamaan dengan amarah yang sudah mencapai puncak, terbukti dari sorot matanya yang menajam, serta nafasnya yang menggebu-gebu, membuat kedua kaki Valerie gemetar seketika melihat perubahan emosional Elbara yang sangat mengerikan baginya.
“Aku bisa jelaskan tuan muda,” timbrung Nina yang bergegas menghampiri keduanya, kemudian merentangkan tangannya serta menggiring Valerie agar berpindah ke belakang tubuhnya.
“Tinggalkan kediamanku sekarang juga selagi aku masih bersikap baik padamu!” pekik Elbara dengan mata yang mulai memerah dan berair, hal itu jelas sekali menggambarkan bagaimana hatinya yang terluka cukup dalam ketika dipaksa kembali mengingat masa lalu kelamnya.
“Tuan muda Valen,” ucap Valerie dengan nada getirnya seraya mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya yang tersenyum dalam kesedihan, sedang kedua tangannya masih terlihat gemetaran.
“Apa?!” timpal Elbara lengkap dengan kerutan dahi dan ekspresi murkanya.
“Sudah cukup nona Valerie sebaiknya kau keluar sekarang,” ucap Nina yang mencoba menetralkan suasana menegangkan diantara Elbara dan Valerie.
“PERGI!! AKU TAK INGIN MELIHAT WAJAHMU!!” bentak Elbara, yang membuat jantung Valerie berdegup kencang karena saking terkejutnya mendapat bentakan nyaring dari Elbara.
“Kenapa … “
“Cukup Nona mari kita pergi,” potong Nina seraya berbalik serta merangkul Valerie pergi dari tempatnya berada saat ini.
“Jika gadis itu tidak pergi sekarang juga! Kau! Nina yang harus pergi dari sini!” tambah Elbara begitu Nina hendak menarik handle pintu kamar.
Keduanya pun lantas berbalik untuk sejenak. Berbeda dengan Valerie yang sudah tak bisa menahan tangis pilunya, Nina tampak terlihat santai dan tak terpengaruh dengan ancaman Elbara.
“Baik tuan muda,” sahut Nina yang kembali mengalihkan atensinya pada handle pintu, mereka pun pergi meninggalkan kamar Elbara bersamaan dengan ledakan tangisan Valerie yang kian menggema disetiap ruangan yang dilaluinya.
“Sudah Nona, gak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja oke,” ucap Nina yang mencoba menenangkan Valerie dengan tetap merangkulnya serta mengusap lengannya sesekali.
“Kau selalu bilang gak apa-apa, gak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja, tapi kenyataannya malah sebaliknya, aku gak baik-baik aja Nina, aku … udah gak punya siapapun didunia ini, sekarang aku harus pergi kemana hiksss … hiksss …. “ racau Valerie seraya menepis rangkulan Nina dan lalu berlarian menuruni tangga.
Tak ingin membiarkan Valerie bertindak ceroboh atau sembrono, Nina pun bergegas mengejar Valerie yang berlari menuju pintu utama.
Di pekarangan depan mension.
“Nonaa! Nona Valerie!” panggil Nina seraya merncengkram kuat lengan Valerie.
“Kau mau kemana malam-malam begini,” lanjut Nina.
“Aku akan pergi,” sahut Valerie ditengah isak tangisnya yang tak henti meramaikan suasana.
“Ini sudah malam, besok aja, aku akan bantu mencarikan kau tempat tinggal oke,” kata Nina seraya memegangi pundak Valerie serta menatapnya lekat.
“Tidak, kau tak dengar tuan muda mengatakannya dengan jelas, jika malam ini juga aku harus pergi, aku tak ingin kau nanti yang mendapat masalah,” kekeuh Valerie seraya melepas tangan Nina dari pundaknya.
“Astaga kau benar-benar keras kepala sekali, lantas mau kemana kau malam-malam begini huh?” sembur Nina yang kesal dengan sifat keras kepala Valerie.
“Aku akan memikirkannya nanti,” tutup Valerie seraya mulai menarik langkah kembali meninggalkan Nina yang hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
“Nona Valerie!! Nona Valerie!!” panggil Laras yang berlarian dari dalam mension.
“Nonaaaaa!!” namun Nina menahan lengan Laras begitu karibnya itu melewati dirinya.
“Kenapa kau tak menahannya?!” racau Laras yang tak mengerti kenapa Nina masih bersikap tenang saat Valerie memutuskan pergi begitu saja, bahkan dirinya belum sempat pamit pada Megan juga pelayan lainnya.
“Biarkan aja, palingan cuma pergi beberapa kilometer doang, nanti juga dia kembali,” celetuk Nina yang kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju mension.
“Huh?! Percaya diri sekali kau!” timpal Laras seraya berlarian menyusul Nina.
...****************...
Bersambung…