Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXV



Keesokan harinya.



Di kamar Elbara, usai menjalani ritual pagi dikamar mandi yakni membersihkan tubuhnya sebelum memulai hari sibuknya.


Ia pun kelaur dari balik pintu kamar mandi masih dengan handuk yang ia lilitkan di pinggulnya, sedang 1 tangannya sibuk mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Langkah terhenti kala matanya menangkap sesosok gadis yang tak lain adalah Valerie, ia tengah berdiri 5 langkah dihadapannya sembari mendekap baki yang sebelumnya ia gunakan untuk membawa cookies dan susu seperti janjinya beberapa hari lalu.


“Hehehhe.. selamat pagi tuan muda!” seru Valerie penuh semangat seraya membungkukan tubuhnya untuk memberikan hormat pada Elbara.


“Kau… “ geram Elbara seraya berkacak pinggang lengkap dengan pandangannya yang mengintimidasi hingga membuat Valerie mulai gelisah.


“Aku.. aku hanya ingin menepati janjiku sebelumnya tuan muda, kau harus mencoba cookies buatanku ini, aku membuatnya dari subuh tadi, pasti kau suka..” oceh Valerie seraya meraih piring cookies kemudian berjalan cepat mendekati Elbara yang masih berdiri ditempat.


Elbara hanya bisa menghela nafasnya selagi menunggu gadis keras kepala itu datang kepadanya.


“Aduhhh!!”


Brrukkkkk!! Pranggggg!!


Naasnya ditengah perjalanan, Valerie tersandung kakinya sendiri hingga membuat tubuhnya goyah dan langsung saja ambruk ke hadapan Elbara. Sontak saja hal itu memicu emosional Elbara, tak hanya murka karena Valerie yang selalu membuat kekacauan, namun saat Valerie terjatuh ke hadapannya gadis itu refleks menarik handuk Elbara yang membuat bagian bawahnya kini terekspos.


Piring yang digenggamnya pecah serta cookiesnya pun jatuh berserakan mengotori lantai kamar Elbara.


“Maaf.. maaf tuan muda..” ujar Valerie seraya mengangkat wajahnya ke atas.


Kedua matanya membulat kata melihat pemandangan yang sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya, sang tuan muda hanya memakai celana da*la*m berwarna hitam sedang handuk yang membalutnya sudah terlepas dan kini sedang digenggam erat oleh Valerie tanpa sadar.


“Maa.. maaf tuan muda saya…” Valerie buru-buru bangkit serta menyerahkan handuknya pada Elbara.


Dengan gerakan kasar Elbara pun menyambar handuknya. Menyadari Valerie hendak mundur tanpa melihat area sekitar, dengan cepat Elbara menarik pinggul Valerie kemudian mengangkat dan meletakan tubuh mungil Valerie dipundaknya, layaknya seseorang tengah memanggul 1 karung beras.


“Aa.. apa.. yang akan tuan lakukan?” racau Valerie ditengah perasaannya emosionalnya yang bercampur aduk.


Namun Elbara tak tertarik untuk menjawabnya, ia hanya terus berjalan menuju sofa disudut ruangan, lalu melempar tubuh Valerie dengan kasar dan kembali ke tempat dimana handuknya ia jatuhkan tadi.


“DIAM!! Jika tak ingin terluka!” bentak Elbara kala ia melihat Valerie hendak turun dari sofa melalui pantulan kaca jendela besar, disaat perjalanannya meraih handuk yang ia jatuhkan sebelumnya didekat area serpihan piring berserakan.


“Baik tuan muda,” ucap Valerie patuh sembari meramas kedua tangan dan duduk manis disofa.


Setelah melilitkan kembali handuknya untuk menutupi area bawah tubuhnya, ia pun lantas berjalan menuju nakas tempat dimana telfon diletakan.


“Cepat kemari!” teriak Elbara begitu telfon tersembung dan langsung saja menutupnya dengan sedikit hantaman yang membuat Valerie terkejut.


Selang tak berapa lama kemudian, suara ketukan pintu kamar Elbara pun terdengar.


“MASUK!” teriak Bara nyaring yang lagi-lagi membuat Valerie ketakutan.


“Iya tuan, tuan memanggil saya?” tanya Nina yang muncul dari balik pintu dan masih belum menyadari Valerie yang sedang terduduk di pojok sofa.


“Bersihkan kekacauan yang dibuatnya!” perintah Elbara seraya melirik ke arah gadis mungil yang tengah merengut dipojokan.


“Baik, saya bawakan alat pembersihnya dulu tuan muda,” imbuh Nina yang hendak memutar tubuhnya.


“Tunggu!” tahan Elbara sembari melenggangkan kaki jenjangnya.


“Iya tuan muda,” sahut Nina yang kembali membungkukan tubuhnya serta menautkan kedua tangannya diatas perut bawahhnya.


“Siapkan keperluanku, aku akan pergi ke Amerika,” Elbara mengumumkan berita mengenai perjalanan dinasnya ke cabang Amerika.


“Lagi?” timpal Nina cepat tanpa berfikir lebih dahulu yang membuat Elbara menaikan 1 alisnya.


“Lagi? (respon Elbara yang menghentikan langkahnya begitu sampai didepan pintu ruangan tempat dimana dirinya menyusun atau meletakan segala keperluannya, seperti pakaian, sepatu dan aksesoris lainnya untuk menunjang penampilannya)


Apa maksudmu?!”


“Ahh.. engga tuan, maksud saya mau berapa lama kali ini tuan muda di Amerika?” dalih Nina.


“1 bulan, aku akan pergi dalam 1 jam, jadi cepat bersihkan kekacauan itu kemudian kemas barang-barangku, mengerti?!” Elbara menekankan.


“Mengerti tuan muda,” sahut Nina.


Begitu Elbara menarik handle pintu dan hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Nina pun buru-buru memutar tubuhnya karena merasa sudah tidak ada lagi yang akan Elbara sampaikan padanya.


“Ahh iya!! (Namun mendengar lengkingan suara Elbara, dengan cepat Nina kembali ke posisi awal)


Kau tahu kan peraturan utama dikediamanku, Nina?!” pekik Elbara seraya meletakan 1 tangannya diambang pintu sementara 1 lainnya dipinggang.


“Iya tuan muda, tidak ada yang diijinkan masuk ke area lantai 2 selain Ibu Megan dan saya,” tutur Nina santai, seakan tak terpengaruh oleh tatapan intimidasi Elbara terhadapanya.


“Lantas kenapa kau menyuruh gadis itu melakukan hal yang tidak perlu huh?!” bentak Elbara seraya menajamkan padangannya pada gadis mungil yang sedari hanya diam dipojokan.


“Ini bukan kesalahan Nina tuan muda, saya yang bersikeras mengantarkan sarapan untuk tuan muda, saya fikir setidaknya hati tuan muda bisa sedikit luluh dengan ketulusan saya,” sambar Valerie seraya bangkit dari sofa dan membungkuk 90⁰ ke hadapan Elbara, sebagai tanda permintaan maaf dan penyeselannya.


“Dengar! Jika kau tak ingin Nina dipecat, sebaiknya kau turuti perintahku dengan baik kali ini! Jangan membuat kekacauan dan jauhi area terlarang termasuk lantai 2, mengerti!” tukas Elbara tajam yang langsung dibalas anggukan patuh oleh Valerie.


“Jangan pernah berfikir kau istimewa hanya karena kau pernah tidur diranjangku sekali, kau… tak lebih sama dengan gadis-gadis lainnya yang pernah tidur denganku. Sebaiknya kau pergi sebelum aku berubah fikiran dan mengusirmu sekarang juga dari kediamanku!” pekik  Elbara yang kemudian melongos pergi begitu saja, tanpa menyadari jika perkataannya barusan telah menyakiti perasaan Valerie.


Berusaha kuat dengan mengepalkan kedua tangannya, namun tetap saja begitu ia kembali berdiri tegak dan melihat wajah Nina yang iba padanya, tangis pilunya terdengar sangat nyaring hingga memenuhi seisi ruangan kala itu.



“Hikkkksss.. hiiikkkksss..”


Nina menarik nafas dalam-dalam sebelum berjalan menghampiri Valerie yang masih berdiri di tempat, seakan perkataan Elbara barusan dapat membekukan tubuhnya seketika.


“gak apa-apa, gak apa-apa nona Valerie, semua akan baik-baik aja oke, mari kita turun,” ajak Nina lembut seraya merangkul tubuh Valerie dan menggiringnya keluar dari kamar Elbara, ditengah isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


...****************...


Bersambung…