Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXX



Keesokan harinya.


Di area belakang mension, lebih tepatnya area kolam berenang, Valerie duduk dipinggiran kolam sembari memperhatikan air kolam yang membentuk gelombang saat ia mengepakan kedua kakinya ke permukaan air kolam.


“Kau bosan ya?


Padahal baru sehari ditinggal tuan muda, kau sudah seperti orang yang kehilangan separuh jiwanya,” goda Nina yang baru saja datang kemudian duduk disamping Valerie yang menyambutnya dengan senyuman lebar.



“Hhhehe, apa terlihat sekali?” timpal Valerie yang kembali mengarahkan atensinya pada permukaan  kolam.


“Iya, dari semalam kau murung dan tak nafsu makan, penyebabnya apa lagi coba selain kepergian tuan muda yang tiba-tiba,” celetuk Nina.


“Boleh saja memiliki perasaan dengan tuan muda, cuma.. aku ingin mengingatkan saja, jangan terlalu menunjukannya didepan pelayan lainnya, atau kau akan dibuat merasa tidak nyaman tinggal disini nona, seperti yang sudah ku katakan sebelumnya hampir semua pelayan disini menaruh perasaan pada tuan muda Elbara.


Kau harus hati-hati, terkadang mereka terlihat baik diluar tapi… sebenarnya mereka sangatlah licik,” Nina menasehati agar Valerie tidak terlalu terang-terangan menunjukan perasaannya pada tuan muda Elbara.


“Hmm.. iya baiklah,” sahut Valerie pasrah.


“Ahh iya btw, aku penasaran sekali dengan kalung yang kau pakai kurasa kalung itu harganya sangat mahal sekali,” celetuk Nina tiba-tiba yang membuat Valerie mengerutkan dahinya sejenak sebelum akhirnya mengangkat rambut ikal panjangnya lantaran liontinnya bergeser ke belakang tengkuknya.


“Ini maksudmu..” kata Valerie seraya menunjukan liontin dengan diamond berbentuk love pada Nina yang penasaran akan kalung miliknya.


“He’em.. ehh tunggu, apa ini,” timpal Nina seraya mencoba mendekat agar bisa melihat dengan jelas sebuah tanda lahir yang berada dibelakang tengkuk Valerie.


“tattoo nya unik sekali,” komen Nina setelah puas memindai tanda lahir yang di fikir tattoo oleh Nina.


“Ini tanda lahirku Nina! Hihh, kau tak bisa membedakan memangnya tanda lahir dengan tattoo,” ketus Valerie yang merasa sebal lantaran tanda lahirnya dibilang tattoo.


“Masa siih?! Kok bisa berbentuk seperti mahkota gitu, aneh sekali,” ujar Nina yang masih tak percaya dengan fakta yang dikatakan Valerie sembari mengerutkan dahinya.


“Iya memang begitu, tanda lahirku ini sudah ada sejak aku lahir, kedua orang tua angkatku pernah memfotonya saat aku bayi, dan juga kalung ini sudah ada sejak aku disimpan dipintu panti asuhan, mungkin karena aku putri yang tak diharapkan jadi kedua orang tua kandungku menaruhku di panti asuhan secara diam-diam.


Kemudian besoknya aku ditemukan didepan pintu panti asuhan oleh Bunda Maria,” papar Valerie dengan raut wajah datar seakan rasa sakit itu sudah tak lagi membuatnya terluka dan menangis ketika mengingat atau menceritakannya kembali.


“Eeeey.. Jangan berfikiran sempit seperti itu, mungkin saja kedua orang tuamu memiliki masalah atau semacamnya yang membuatnya tak bisa merawatmu, kemudian memiliki menitipkanmu dipanti asuhan, agar kau bisa tumbuh dengan baik dibanding harus ikut bersama dnegan kedua orang tua kandungmu,” bantah Nina yang ingin mencoba mendoktrin Valerie dengan opini-opini positifenya sembari merangkul Valerie.


“Hmmm.. entahlah, jika memang benar begitu, bukankah seharusnya mereka bisa menitipkanku secara baik-baik, agar dikemudian hari jika aku sudah besar, aku bisa mencari mereka. Tapi dengan cara diam-diam seperti itu, bukankah mereka hanya ingin memutus hubungannya denganku?” balas Valerie yang malah membuat Nina menelan ludah karena apa yang dikatakan Valerie memang ada benarnya.


Jika kedua orang tuanya tidak benar-benar berniat membuang Valerie, bukankah mereka bisa menitipkan Valerie secara terang-terangan, alih-alih menaruhnya secara sembunyi-sembunyi saat orang lain masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.


“Emmm.. Hehhhehe.. mung.. kin mereka hanya butuh waktu nona, percaya deh mereka pasti akan datang menjemputmu kembali,”


“Ciihh!! Berhenti mengatakan hal-hal yang tak masuk akal, aku sudah 28 tahun, kau kira mereka masih mengingatku, huh!” dengus Valerie kesal dengan fikiran-fikiran positif Nina yang seakan tengah menghibur seorang bocah.


“Astaga! Kau sudah mulai berani membantah dan berkata kasar sekarang, padahal waktu awal kau datang menatap mata orang-orang aja gak berani,” gerutu Nina seraya menggeleng kepalanya kala melihat perubahan karakter Valerie setelah kurang lebih 2 minggu tinggal di kediaman Elbara.


Alih-alih menjawab keluhan panjang lebar Nina, Valerie hanya membalasnya dengan ekspresi julid kemudian membuang wajahnya ke arah lain.


Hal itu sontak membuat Nina tertawa dalam keterkejutannya, tak ingin meladeni gadis tersebut, Nina memilih bangkit  kemudian mendorong keras tubuh Valerie hingga tercebur ke dalam kolam.


“Arrrgghhh!! To.. long.. tolong!!” racau Valerie kala tubuhnya sudah masuk ke dalam kolam.


“Eeeeyy tenanglah! Air kolam tak akan menenggelamkanmu, berdiri yang benar!” pekik Nina seraya berkacak pinggang dan memperhatikan Valerie yang seketika terdiam saat dirinya ketahuan tengah berpura-pura.


“Ciiihh!!” dengus Nina yang kemudian pergi berlalu meninggalkan Valerie yang masih menatap punggungnya dengan sinar laser merah yang keluar dari 2 bola matanya.


...****************...


Keesokan harinya.


“Kau yakin tak mau ku bantu Laras?” seru Valerie seraya berlarian dengan Thomas yang berada dibelakangnya, mereka berdua melewati Laras yang tengah serius memotong beberapa helai cabang daun.


“Tidak,” jawab Laras tegas begitu Valerie kembali melintas didepannya, namun kali ini alih-alih berlarian, ia mengendarai sepeda yang entah didapatkannya darimana dengan Thomas yang masih setia mengejarnya dibelakang.



“Baiklah!!” sahut Valerie yang kembali melintas dengan sepedanya, dan kali ini Thomas duduk dikursi belakang sembari memelet-meletkan lidahnya pada Laras yang mulai kesal lantaran diganggu terus oleh 2 makhluk aneh itu.


“Mereka benar-benar membuat darahku naik sampe ke ubun-ubun, aughhh!!” dengus Laras selagi 2 tangannya aktif memotong dedaunan sedang matanya fokus pada 2 makhluk aneh yang bermain-main didepannya.


“Astaga!” kaget Laras begitu tersadar jika sedari tadi ia sudah memangkas habis dedaunan, Laras pun hanya bisa terduduk ditanah sembari meratapi hasil kerja kerasnya yang  berakhir dengan sia-sia.


...****************...


Keesokan harinya lagi.


Seperti biasanya kali ini pun Valerie bermain-main dengan Thomas, lelah berlarian kesana kemari, Valerie mengajak Thomas bermain ayun-ayunan di area taman bermain dekat dengan taman bunga.


“Apa kau bisa mendorongnya Thomas?” tanya Valerie begitu mendudukan bokongnya diayunan sembari menggoyangkan ayunannya pelan.


Seolah mengerti apa yang Valerie inginkan, Thomas pun berlari ke belakang Valerie kemudian mengangkat tubuhnya lalu mendorong bagian punggung Valerie dengan 2 tangannya.


“Hhheehee.. terimaksih Thom.. kau baik sekali padaku, apa dikehidupan sebelumnya kau adalah kekasihku?” celetuk Valerie.



Ggukk.. guuk!! Timpal Thomas yang kembali mendorong punggu Valerie dengan segenap kekuatan yang dirinya miliki.


“Hmmm.. kau mau gentian, (kata Valerie yang tiba-tiba bangkit dari ayunannya seraya memegangi tali ayunan tersebut)


Ayoo naik!!” seru Valerie antusias ingin cepat-cepat mengayun Thomas.


Thomas pun lantas naik ke atas ayunan dan memegang tepi ayunan erat-erat menggunakan cakarnya.


“Hhhehhee, aku dorong ya!!” Valerie memberi aba-aba sebelum mendorong ayunan yang dinaiki Thomas, agar Thomas bisa bersiap.


GGggukkk.. gguukkk!!


Jauh di sisi lainnya, terlihat beberapa pelayan tengah berbisik-bisik sembari memperhatikan Valerie yang sedang menghabiskan waktunya bersama anjing peliharaan Elbara.


“Apa dia sudah gila?


Dari kemarin kerjaannya main-main mulu sama anjing,” celetuknya lengkap dengan ekspresi julid yang ditujukan pada Valerie.


“Iya, diajak ngobrol pula, seolah kek emang beneran obrolan mereka nyambung, ciihh!! Seharusnya dulu tuan muda memanggil dokter psikiater bukannya dokter Yesa,” timpal rekannya yang tak kalah julidnya.


“Lagian darimana sih tuan muda mungut gadis aneh gitu, pake di bawa kemari lagi, ngotor-ngotorin mension aja,” tambah yang lainnya.


“Ssssttt!! Mungkin tuan muda sengaja membawa gadis aneh itu kemari, ya untuk jadi teman si Thomas wkwkwkwk, kan udah mirip tuh kelakuannya mereka berdua hahahhaa!!”


...****************...


Bersambung...