Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXXV



“Berbalik,” titah Elbara seraya mendudukan bokongnya di samping Valerie.



Valerie pun memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Elbara seperti yang diperintahkannya. Ia tersenyum lebar kala kedua mata mereka bertemu.



“Bukan kesini, tapi kesana!! Aughhh!!” geram Elbara lantaran Valerie tak mengerti apa yang dirinya maksud.


“Ahhh …  iya maaf hehehee,” kata Valerie yang kemudian berbalik ke arah sebaliknya.


“Apa dengan alat itu rambutku bisa cepat kering?” ucap Valerie ditengah sibuknya Elbara mengeringkan helai demi helai rambut panjang ikal Valerie.


“Ya,” sahut Elbara singkat padat dan jelas.


“Ahh iya, bukankah pinggulmu terluka tadi, setelah rambutku kering aku akan membantumu untuk membersihkan lukanya ya,” ujar Valerie lagi yang tak hentinya berbicara saat suara bising hair dryer mendominasi seisi ruangan.


“tidak perlu, hanya luka goresan,” tegas Elbara sembari tetap fokus dengan aktivitasnya.


“Eeeyy … meskipun hanya luka kecil ga boleh dibiarin gitu aja tuan muda, jika tidak, akan infeksi nantinya,” timpal Valerie penuh percaya diri dalam menesahati tuan mudanya.


“Tuan muda,” panggil Valerie lantaran Elbara lebih memilih diam mengabaikannya.



“Tuan muda,” panggilnya lagi namun kali ini sambil menoleh ke belakang.


“Astaga!” dengan 1 tarikan nafas kasar Elbara pun memutar kembali kepala kecil Valerie menghadap ke depan menggunakan telapak tangannya yang lebar.



“Berhenti mengoceh atau ku lakban mulutmu!” pekik Elbara yang akhirnya berhasil membuat Valerie terdiam untuk beberapa menit ke depan.


20 menit kemudian, Elbara mematikan alat hair dryer tanda jika pekerjaannya telah selesai. Ia pun lantas mencabut colokan hair dryer kemudian meletakan alat pengering tersebut di atas meja.


Berlanjut ke kegiatan selanjutnya, ia meraih kotak P3K yang berada diatas meja kemudian diletakannya di sofa.


“Kemari,” titah Elbara seraya membuka kotak P3K kemudian mengeluarkan salep berukuran mini dari kotak tersebut.


“Huh? Kemari kemana?” tanya Valerie yang masih mempertahankan posisinya saat ini.


“Huffttt!!” Elbara kembali mengehela nafasnya mencoba mengendalaikan emosionalnya dalam menghadapi gadis lemot yang berada didepannya saat ini, dengan kasar tangannya kembali memutar kepala Valerie ke arahnya.


“Arrgh!” rengek Valerie begitu kepalanya diputar secara kasar agar menghadap ke Elbara.



“Kau tak bisa ya memperlakukanku dengan lembut? Aku ini seorang wanita,” protes Valerie seraya mengerucutkan bibir mungilnya.


“Ciiih! (Elbara hanya mendengus, kemudian dilanjut mengoleskan salep tipis-tipis ke bagian ujung bibir Valerie yang terluka akibat tamparan keras sang pemabuk sebelumnya)


Staf hotel sudah membawakan makan malam barusan, kau makan duluan saja,” sambung Elbara yang kemudian berlanjut menyibakan gaun piyama Valerie untuk mengolesi luka yang berada dikedua lutut Valerie.


Meski sedikit terkejut dengan tindakan Elbara, namun tak lantas membuat Valerie memberontak atau menghindar.


“huh? Makan malam hehhehee,” girang Valerie yang seketika berubah ceria kembali, Elbara pun terkekeh melihat tingkah laku menggemaskan Valerie.


“Ada lagi yang terluka?” tanya Elbara seraya menurunkan kembali piyama tidur Valerie.


“Ga ada,” sahut Valerie seraya menggeleng kepalanya.


“Tanganmu,” lanjut Elbara seraya meraih kedua tangan Valerie, karena seingat dirinya ia telah melukai tangan Valerie ketika ia menyambar kasar 1 lembar foto darinya.


“Aahh itu, ada sih, tapi kurasa hanya goresan kecil aja diujung jari telunjukku, ini …. “ kata Valerie seraya menunjukan goresan tipis di jemari telunjuknya pada Elbara.


Tanpa banyak berkata, Elbara kembali meraih tangan Valerie kemudian mengolesi jari telunjuk Valerie yang tergores akibat tepian tajam selembar foto.


Setelah cukup mengolesi salep, Elbara meraih plester dari dalam kotak P3K kemudian menempelkannya di area jari telunjuk yang terluka.


“Tunggu, sekarang giliranku! Tuan muda juga terluka kan, biar ku bantu bersihkan lukamu,” seru Valerie seraya menyambar salep yang hendak ditaruh kembali ke dalam kotak P3K oleh Elbara.


“Sudah ku bilang tidak perlu! Kau ini keras kepala sekali,” tolak Elbara yang kembali menyambar salep obat dari genggaman Valerie.


“Ciiihh!!” dengus Elbara kesal yang kemudian bangkit dari sofa dan hendak pergi meninggalkan Valerie yang tengah mengeluarkan setitik salep ke ujung jari telunjuknya.


“Tuan muda!! Tunggu … tuan muda!!” panggil Valerie setelah dirasa cukup mengeluarkan salep ia pun berlari kecil mengejar Elbara.


“Kau ingin membantu mengolesi salep atau hanya ingin melihat tubuhku aja huh?!” pekik Elbara saat Valerie bersikeras sampai memegangi lengannya dan terus merengek.


Valerie pun tampak tersipu malu dan mengatupkan mulutnya kala Elbara melontarkan kalimat tersebut.


“Sudahlah lebih baik kau makan saja, lukaku biar kuurus sendiri!” tegas Elbara seraya menepis lengan Valerie.


“Jangan begitu tuan muda, aku sudah tanggung mengeluarkan salep, hanya tinggal oles sedikit aja kok,” Valerie tetap bersikeras dan kembali memegang lengan Elbara untuk mencegahnya pergi.


“Kau kenapa sih!” gerutu Elbara yang mulai takut dengan sikap agresif Valerie yang ingin terus menempel padanya.


“Aku hanya ingin mengolesi salep aja kok tuan,” timpal Valerie yang semakin berani dan mencoba menyibakan ujung kemeja Elbara.


“Astaga!! Yak!! Siapa yang mengajarimu seperti ini!!” panik Elbara seraya menepis kasar tangan Valerie dari ujung kemejanya lalu mendorong kepala Valerie agar menjauh darinya menggunakan jari telunjuknya.


“Iisshh! Aku hanya ingin mengolesi salep tuan muda, aku tak berniat macam-macam, percaya deeh!” seru Valerie yang tetap mencoba mendekati Elbara dengan berbagai cara.


Melihat Valerie yang semakin tak terkendali, Elbara pun lantas berlarian ketakutan, tak ingin menyerah begitu saja Valerie pun bergegas mengejar Elbara disertai rengekan nyaring yang menggema disetiap ruangan yang dilalui mereka.


“Jangan lari-larian tuan muda, nanti lukanya semakin parah!” seru Valerie ditengah pengejarannya.


“Aughhh!! Sial, yak berhenti mengejarku!” pekik Elbara yang kini berlarian ke dalam kamar.


Belum sempat Elbara menutup pintu kamar, Valerie keburu menubruk pintu kamar dengan segenap kekuatan yang ia miliki hingga Elbara pun lantas terpental dan kembali berlarian menjauh dari Valerie yang hendak menyerangnya.


Brrukkk!! “Aduuhh … “ Valerie terjatuh sangat keras hingga mampu menghentikan langkah Elbara, refleks Elbara berlarian ke arahnya lengkap dengan raut wajah cemasnya.


“Yak! Kau baik-baik saja?!” panik Elbara seraya memegangi pundak Valerie dan menatap maniknya lekat.


Valerie pun tersenyum lebar, entah kenapa meski lututnya terasa sakit namun melihat kekhawatiran yang terpancar dari tatapan Elbara membuat hatinya sangat bahagia.



“Kau masih bisa tertawa dalam situasi ini?” pekik Elbara yang kemudian mengangkat tubuh mungil Valerie dan menggendongnya ala bridal serta membawanya menuju ranjang.


Begitu Elbara membaringkan tubuh Valerie diatas ranjang, buru-buru Valerie bangun dan kemudian memeluk Elbara seerat mungkin.


“A … “ baru saja Elbara mengeluarkan 1 huruf dan mencoba melepaskan pelukan Valerie, gadis mungil itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Ku mohon, hanya kali ini aja, biarkan aku memelukmu seperti ini,” ucap Valerie yang membuat Elbara berhenti berontak.



“Maafkan aku, sebenarnya aku juga tak ingin pergi melebihi batas, tapi … gak tahu kenapa aku benar-benar tak bisa mengendalikan perasaanku padamu, maafkan aku tuan muda,” imbuh Valerie lirih ditengah emosionalnya yang kian menguasai dirinya.


Elbara hanya terdiam membisu mendengar pengakuan yang lebih seperti pengakuan cinta baginya.


...****************...


Keesokan harinya.


Berbeda dengan Elbara yang masih terlelap di atas sofa, Valerie sudah terjaga sedari tadi dan saat ini dirinya tengah berjongkok disamping sofa sembari menikmati keindahan serta ketampanan tuan mudanya.


“Huuuffft … “ Valerie refleks menghela nafas ketika fikiran liarnya mulai bermunculan dan mendorong dirinya untuk bertindak lebih jauh dari sekedar memandangi Elbara tidur.



“Hmmm … “ Elbara bergumam sembari mencoba membuka kedua matanya perlahan.


“Astaga!!” kaget Elbara ketika mendapati hal pertama yang dilihatnya saat bangun adalah wajah mungil Valerie yang dekat sekali dengannya.


Refleks Elbara pun bangkit serta menarik tubuhnya hingga menghantam sandaran sofa.


“APA YANG KAU LAKUKAN!” bentak Elbara penuh emosional.


...****************...


Bersambung…