
Sore harinya, di kebun pekarangan belakang mension Valentino, terlihat Nina sedang menyirami tanaman dengan selang, sementara Laras tampak anteng memotong dan merapihkan dedaunan disisi lain.
“Hay Nina..” sapa Valerie yang sudah mengganti seragam pelayannya, iya karena Elbara terus saja memarahinya lantaran mengenakan seragam pelayan, ia pun akhirnya menurut dan merubah pakainnya ke gaun yang bernuansakan biru muda.
“Nona Valerie, kenapa nona ada disini? Mau melihat-lihat taman?” tebak Nina yang sesekali melirik ke arah Valerie yang berada disampingnya.
“Ammm, boleh aku membantumu menyirami bunga-bunga itu? Tenang saja, kali ini aku tak akan membuat kekacauan, pasti ku kerjakan dengan baik kok,” bujuknya sembari memasang wajah semanis mungkin agar Nina mau mengalihkan pekerjaannya pada Valerie.
“Eyyyy, jangan Nin!! Kalau ketahuan tuan muda, kau yang akan di kheeeuuukkk!!” seru Laras yang hanya memunculkan kepalanya dari balik semak-semak serta memperagakan lehernya yang ditebas dengan jempolnya, untuk membuat adegan semakin dramatis.
Kemudian kembali berjongkok dan melanjutkan aktivitasnya, setelah melontarkan komentarnya.
Mendengar hal itu, tentu saja Valerie pun memanyunkan bibirnya untuk menunjukan kekecewaannya sembari menautkan kedua tangan ke belakang tubuhnya.
“Iya nona, sebaiknya nona berjalan-jalan aja, nona belum melihat keseluruhan area kediaman tuan muda kan, masih banyak hal yang bisa nona lakukan selain bekerja,” Nina mencoba menghibur Valerie dengan menyarankan hal yang menyenangkan lainnya.
Namun tampaknya Valerie tak tertarik dengan hal tersebut, ia masih tetap memandangi selang yang dipegang Nina dengan pandangan penuh harap, hingga membuat Nina pun akhirnya menghela nafas panjangnya.
“Hmmm.. okk.. okk.. baiklah, tapi lakukan dengan benar kali ini nona,” ucap Nina pasrah yang kemudian memberikan selang yang dipegangnya pada Valerie.
“Hhehheee, terimakasih Nina,” timpal Valerie girang yang langsung saja berjalan perlahan sembari menyirami tanaman yang dilaluinya.
“Waaahh!! Kau benar-benar percaya padanya, Nina?!” celetuk Laras yang kembali menyembulkan kepalanya dari balik semak-semak beberapa saat, dan meneruskan pekerjaannya lagi.
“Ciihh!!” Nina hanya mendengus untuk menanggapi komenan Laras, sembari menggeleng kepalanya.
“Nina,” panggil seseorang dari belakang yang tak lain adalah Pras.
Nina pun memutar tubuhnya untuk menyambut kedatangan Pras.
“Iya mas,”
“Bu Megan mencarimu,” kata Pras.
“Ada apa?”
“Entahlah, coba kau tanya sendiri, ibu sekarang ada di dapur,”
“Hmm, baiklah, ahh iya, tolong mas perhatikan nona Valerie ya, dia sedang menyirami tanaman, aku khawatir dia bisa saja membuat banjir dengan air itu,” ujar Nina sebelum pergi meninggalkan Pras.
“Iya,” jawab Pras singkat yang kemudian mengarahkan atensinya pada gadis yang masih asyik menyirami tanaman dengan perasaan riang gembira.
Namun baru saja mau melangkah, ponsel dalam sakunya bergetar yang membuat langkahnya terhenti dan lebih memilih mengecek telfon masuk.
“Iya Halo, pak Bowo, ahh.. saya di area taman bagian barat pak,” katanya.
“Ahh begitu, baik saya segera kesana,” tutupnya seraya kembali memasukan ponselnya ke dalam saku dan bergegas pergi menjauh dari area taman bagian barat.
“Sedang apa dia?” gumam Elbara ketika melihat Valerie sedang berjongkok dihadapan tanaman sembari mengangguk-angguk seakan tengah melakukan interaksi dengan seseorang.
“Apa yang kau lakukan?” ujar Elbara yang sontak saja mengejutkan Valerie, hingga membuat dirinya refleks mengarahkan selang air ke tubuh Elbara, tak sampai 1 detik kemeja putih yang dikenakan Elbara pun basah kuyup.
“Astaga!!... (kaget Valerie yang panik dan mencoba menutupi semburan air tersebut dengan 1 telapak tangannya, lantaran dirinya tidak tahu cara mematikan alat yang kini sedang digunakannya)
Maaf.. maaf tuan muda!! (seru Valerie yang kian kalang kabut kala semburan air itu malah pecah kesana kemari, hingga membuat air mancur aestetik diantara dirinya dan Elbara yang masih berdiri lengkap dengan sorot mata tajam yang mengarah padanya)
Ba.. bagaimana cara mematikannya? Maaf.. tuan..”
Elbara menghentikan kalimat Valerie dengan menyambar tangan Valerie yang tengah memegangi selang air, kemudian ditariknya agar lebih mendekat padanya.
Valerie terkejut sampai membulatkan kedua matanya kala tubuh mungilnya bertubrukan dengan dada bidang Elbara.
“Uhhuukk.. uhuukk!!” segera setelah Valerie terbatuk lantaran canggung berada sedekat itu dengan Elbara, jempol Elbara menarik tuas tombol selang yang membuatnya kini berhenti menyemburkan air cukup deras.
“Apa kau mengabaikan perintah dan laranganku?!” pekik Elbara tajam sembari melempar jauh selang air yang tak bersalah tersebut.
“Maaf.. maafkan aku tuan muda.. (ujar Valerie seraya berlutut dihadapan Elbara yang murka menghadapi sikap keras kepala Valerie)
“Kau… akan mengulanginya lagi bukan?!” balas Elbara.
Sementara itu Laras yang masih berada dibalik semak-semak hanya bisa mengintip dan menyimak adegan penindasan dihadapannya, tanpa ada niat untuk membantu karibnya yang saat ini sedang dalam situasi yang penuh penekanan.
“Aku hanya ingin berusaha bekerja dengan baik agar tuan muda tetap mengijinkanku tinggal disini, aku benar-benar tak memiliki tempat tujuan, seperti yang kau tahu, ayahku sendiri pun tega menjualku, aku.. benar-benar tak memiliki siapapun tuan muda hikksss.. hikssss.. kumohon..” rengek Valerie disela isak tangisnya yang sudah tak bisa ia bendung lagi.
“Berhenti merengek, kau fikir masalah akan selesai hanya dengan tangisan dan rengekan huh?! Dan juga.. kau tidak berada diusia yang masih bergantung pada orang lain. Kau mau kemana pun nanti setelah pergi dari kediamanku, itu bukan urusanku!” tukas Elbara tajam yang kemudian pergi berlalu begitu saja meninggalkan Valerie yang masih duduk bersimpuh diatas tanah.
“Hikkksss.. hikkssss.. jika pada akhirnya dia akan tetap mengusirku, lalu untuk apa kau membelikanku ini dan itu kemarin hikkkss.. hikkssss!! Membelikanku makanan dan minuman yang enak, mengajakku berjalan-jalan, membelaku ketika aku dipermalukan. Aku menyesal karena berfikir dia adalah lelaki yang dermawan dan baik hati, hikksss… hiksss!!” racau Valerie sembari memperhatikan punggung Elbara yang kian menjauh dari pandangannya.
“Astaga nona Valerie!! Kau baik-baik aja? kenapa dudukan disini?” seru Nina yang berlarian hendak menghampiri Valerie.
“Aku.. aku.. heeuuu… hikkssss!!” tak sanggup menjawab pertanyaan Nina, Valerie hanya menangis dan meraung lebih kencang seakan tengah meluapkan emosionalnya.
“Gak apa-apa nona, semuanya akan baik-baik aja oke,” ucap Nina mencoba menghibur Valerie seraya memeluknya erat meskipun hal itu dapat membuat pakainnya basah.
“Waaahh nona kau berani sekali tadi, selama ini belum ada seorang pun yang berani membantah atau menjawab perkataan tuan muda,” seru Laras yang akhirnya keluar dari area persembunyiannya, ia pun berjalan mendekati Valerie dan Nina sembari membawa gunting besar dalam genggamannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi barusan?” tanya Nina seraya melapas pelukannya dan beralih memandangi Valerie yang masih belum bisa mengendalikan sisa isak tangisnya.
“Aku tahu, mungkin aku terdengar serakah, sebenarnya dengan tuan muda menyelematkanku waktu itu saja sudah cukup. Tapi aku malah merengek memintanya untuk memperkerjakanku disini, aku hanya merasa tidak memiliki pilihan lain, bagaimana jika orang-orang jahat itu sedang berkeliaran mencariku diluar, aku sangat takut… Nina.. apa yang harus aku lakukan hikkssss?!”
...****************...
Bersambung...