Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXVII




Begitu membuka pintu kamar Elbara, Alan disuguhkan oleh pemandangan yang sangat mengejutkan. Iya, karena gorden kamar Elbara kala itu sudah terbuka lebar, Alan bisa melihat dengan jelas karibnya yang kini tengah terduduk bersandar di tepi pagar pembatas dengan nafas yang tak karuan hingga membuat wajahnya memerah.



Alan pun lantas berlarian menuju nakas yang berada di samping ranjang Elbara untuk mengambil 1 kantong kertas yang biasa digunakan Elbara jika dirinya terkena serangan panik, hal itu dapat membantu pernafasannya menjadi lebih baik.


Setelah menemukan 1 kantong kertas, Alan kembali berlari menghampiri karibnya yang sudah benar-benar kolaps.


Tanpa banyak bicara Alan langsung memberikan kantong kertas tersebut pada Elbara, dengan cepat Elbara menyambarnya kemudian menggunakannya sebagai mana mestinya agar pernafasannya kembali normal.



Selagi Elbara menghirup dan menghembuskan nafasnya menggunakan kantong kertas pemberiannya, Alan bangkit dan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambilkan air mineral.


Setelah beberapa menit berlalu, kondisi Elbara berangsur membaik hingga dirinya kini sudah tak membutuhkan kantong kertasnya lagi.


Ia menyandarkan kepalanya ke pagar pembatas seraya memejamkan kedua matanya sejenak untuk merileks-kan tubuhnya. Kemeja yang tadinya akan ia kenakan untuk berpergian pun sudah banjir keringat sehingga mau tak mau ia harus mengganti kemeja serta menata ulang penampilannya yang kacau balau.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alan seraya menyodorkan botol air mineral pada Elbara.



Mendengar suara karibnya yang sudah kembali, Elbara pun membuka kedua matanya seraya menerima botol air mineral yang sudah dibukakan tutupnya oleh Alan, agar Elbara bisa langsung meminumnya.


“Huh… haaah… ti.. dak.. ada,” dusta Elbara yang masih mencoba menstabilkan pernafasannya sedikit lagi.


“Sudah lama sekali kau tak mengalaminya, kukira kau akan benar-benar sembuh total,” celoteh Alan seraya berjongkok dihadapan Elbara yang masih bersandar sembari memegangi botol air minum yang telah habis diteguknya.


“Mau ku panggilkan dokter Yesa?” tambah Alan yang khawatir dengan keadaan karibnya saat ini.


“Tidak perlu, aku sudah merasa lebih baik,” tegasnya seraya mencoba bangkit dengan berpegangan pada pagar pembatas balkon, sedang botol air minum yang dipegangnya diambil alih oleh Alan.


“Hmm, sebaiknya kita tunda kepergian ke Amerika hari ini, kurasa kondisimu tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh,” saran Alan seraya menutup botol air mineral dan berjalan mengikuti Elbara masuk ke dalam kamar.


“Tidak! Aku akan pergi sekarang, kau tunggu saja dibawah, aku akan turun dalam 15 menit,” bantah Elbara yang langsung memacu langkahnya menuju ruangan tempat dimana ia menyimpan pakaian.


“Hmmm, ya baiklah,” pasrah Alan seraya meneruskan perjalanannya menuju pintu keluar.


“Jangan biarkan siapapun tahu tentang hal ini,” ucap Bara ketika tangannya hendak menarik pintu.


“Ya, memangnya kau ingin aku mengadu pada siapa huh?!” ketus Alan yang kemudian menghilang lebih dulu sedang Elbara masih berdiri diambang pintu.


...****************...


Diluar kamar Elbara, Alan mengerutkan keningnya sembari meremas botol air mineral yang telah kosong dalam perjalanannya menuruni anak tangga.


“Aneh sekali, sebenarnya hal apa yang menjadi pemicunya? (gumam Alan sembari memiringkan kepalanya kesana kemari seakan tengah berfikir keras mencari jawaban atas pertanyaannya) seingatku saat dia putus dengan Serena, dia terlihat baik-baik saja, dia bahkan tidak terlihat galau, sedih atau depresi.


Lalu, apa sebenarnya yang bisa membuat dinding pertahanannya runtuh? Dia benar-benar tampak menyedihkan disaat-saat seperti itu, seperti anjing yang kehilangan induknya,” ia menutup ocehan panjang lebarnya dengan 1 tarikan nafas panjang.


“Hey, buangkan ini untukku!” seru Alan bersamaan dengan lemparan botol kosong yang sudah diremas kepada seorang pelayan yang melintas dihadapannya.


Karena tak bisa menangkap lemparan Alan, botol tersebut pun mendarat dilantai.


“Kepribadiannya benar-benar jauh sekali dengan tuan muda, meski tuan muda terlihat kasar, tapi tuan muda tak pernah memperlakukan kami seperti sampah,” gerutu Echa yang kemudian pergi dengan membawa botol kosong tersebut.


...****************...


Di area pekarangan depan.



Valerie terlihat sedang dudukan diatas rumput bersama dengan Thomas yang seakan tidak ingin jauh-jauh dari Valerie.


“Jika kau bisa ramah padaku, kenapa dulu kau malah menggonggong dan terus mengejarku, kau jahat sekali!” celetuk Valerie seraya menyikut pelan tubuh gempal Thomas.


Guuukk..Gguukk.. sahut Thomas seolah mengerti apa yang dikatakan Valerie padanya.


“Ya mau gimana bisa kenal, saat aku mendekatimu kau malah langsung menggonggong sangat lantang, jelaslah aku lari ketakutan, huhh!” dumel Valerie disertai lirikan sinisnya pada Thomas.


Gguukk.. Gguukk..


“Eeeyyy.. apa tampangku terlihat seperti orang penjahat huh?! Coba lihat, lihat, wajahku cantik, imut manis begini kau kira penjahat,” gerutu Valerie seraya menunjukan ekspresi wajah seimut dan semanis mungkin pada Thomas.



“Apa yang kau lakukan?!” tanya Alan dengan nada ketusnya yang muncul mendadak dibelakang Valerie.


Valerie buru-buru bangkit kemudian membungkukan tubuhnya dihadapan Alan untuk menunjukan rasa hormatnya pada karib tuan mudanya.


“Selamat pagi tuan,” sapa Valerie yang disusul dengan bangkitnya Thomas dan ikut berdiri tegak disamping Valerie.


Alan memindai tubuh Valerie dari ujung kepala sampai ujung kaki layaknya seseorang tengah melakukan penilaian secara menyeluruh, sembari berkacak pinggang.


“Kondisi tubuhmu sudah lebih baik bukan? Kenapa masih belum pergi dari sini?” pekik Alan tajam yang masih belum mengendorkan tatapannya terhadap Valerie.


“Aamm.. maaf tu.. tuan,” respon Valerie yang tak berani menatap langsung kedua mata mengintimidasi Alan.


“Maaf?! Kurasa itu bukan jawaban yang benar,” timpal Alan seraya menaikan alis serta memasang raut wajah tengilnya.


“kenapa? kau tak akan menjawabku huh!” lanjut Alan seraya menaikan intonasi suaranya lantaran Valerie hanya terdiam membisu.


“Selamat pagi tuan Alan, tuan muda sudah menunggu di mobil,” ujar Nina yang baru saja bergabung ditengah situasi menegangkan.


Alan melirik sinis ke arah Nina sebelum akhirnya pergi berlalu tanpa sepatah kata.


Setelah kepergian Alan, akhirnya Valerie bisa bernafas dengan normal, ia pun terduduk lemah diatas rerumputan ditengah usahanya menstabilkan pernafasannya yang sempat terganggu sebab situasi menegangkan yang diciptakan oleh Alan beberapa menit lalu.


“Sudah nona, ngga apa-apa, semuanya akan baik-baik aja oke,” ucap Nina lembut seraya merangkul dan mengusap pundak Valerie yang hampir tak bisa menahan tangisnya.


Seakan mengerti dengan kondisi hati Valerie, Thomas yang sedari tadi terdiam pun kini ikut menghibur Valerie dengan menempelkan kepalanya ke lengan Valerie kemudian mengusap-usapkannya seperti yang dilakukan Nina.


Melihat usaha Thomas yang ingin menghiburnya, Valerie pun terkekeh dan membalas sikap baik Thomas dengan mengelus kepalanya.


...****************...


Bersambung...