Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXXIV



Setelah pertarungan sengit antara Elbara dan para pemabuk berakhir, Elbara pun lantas berjalan kembali mendekati keberadaan Valerie yang masih terduduk ditempat semula.


Meski pertarungan tersebut dimenangkan oleh Elbara, namun bukan berarti Elbara baik-baik saja, salah satu pemabuk itu memecahkan botol alkoholnya kemudian menyerang bagian pinggul Elbara ketika dirinya lengah, sehingga membuat rembesan darah pun mengalir dari bagian pinggulnya yang terluka.


“Apa kau bodoh!


Kenapa kau selalu tersesat dan menimbulkan masalah huh?!” sentak Elbara yang kini telah berdiri dihadapan Valerie yang hendak bangkit.


Namun karena pertahanan kakinya tiba-tiba goyah, tubuh mungilnya pun nyaris terjatuh, dengan sigap Elbara melingkarkan tangan kekarnya dipinggul Valerie hingga gadis tersebut kini bisa bersandar padanya.


“Kau … terluka?” kaget Valerie saat tangannya tak sengaja menyentuh bagain pinggul Elbara yang berdarah.


“Aku baik-baik saja, cepat naik!” kata Elbara seraya membelakangi Valerie kemudian menurunkan tubuhnya agar Valerie bisa naik ke atas punggungnya.


“Tapi … “


“NAIK!!” bentak Elbara yang membuat Valerie buru-buru naik ke atas punggung Elbara.



Mereka berdua pun pergi dari area kegelapan tersebut meninggalkan 3 pria pemabuk yang sudah tumbang tak sadarkan diri di berbagai sudut.


“Terimaksih … karena sudah menemukanku,” gumam Valerie seraya menyandarkan pipinya dibahu lebar Elbara.


Mendengar 1 kalimat yang Valerie lontarkan, mendadak 1 cuplikan memorynya muncul di benaknya.


...****************...


Flashback 20 tahun yang lalu, lokasi di rumah sakit Ddoldam, lebih tepatnya diruangan yang lebih seperti gudang terbengkalai. Terlihat seorang gadis kecil tengah terduduk dipojokan sembari memeluk kedua kakinya serta memasukan wajahnya ke dalam apitan kakinya.


Ceklek …


Suara pintu ruangan terbuka disusul dengan kemunculan sosok lelaki remaja yang mengenakan seragam rumah sakit, ia membawa tiang infus bersamanya kemudian berjalan cepat menuju gadis kecil yang masih menyembunyikan wajahnya.


“Chaca … gak apa-apa ini aku, Cha, kau baik-baik aja kan?” katanya seraya mencoba mengangkat wajah gadis kecil yang bernama Chaca.


Gadis kecil itu pun tersenyum getir, ketakutannya berangsur menghilang bersamaan dengan senyum hangat yang Valen berikan padanya.


“Terimakasih … karena sudah menemukanku tuan muda Valen,” gumamnya yang kemudian memeluk Valen dengan perasaan haru serta isak tangis bahagia untuk menggambarkan rasa syukur dan leganya saat ini.


...****************...


“Sekarang kita mau kemana tuan?” tanya Valerie, untuk mencairkan suasana lantaran sedari tadi Elbara hanya terdiam.


“Kau akan tahu setelah sampai,” ketus Elbara yang tetap berusaha menjaga dinding pertahanannya agar tidak kembali runtuh hanya karena emosional sesaatnya.


“Hmm … baiklah, kau tidak lelah? Aku bisa berjalan sendiri kok, kau bisa menurunkanku,” ucap Valerie seraya mengangkat wajahnya dan menatap bagian samping wajah Elbara.


“Tak bisakah kau diam! Rengekanmu menyakiti telingaku,” semburnya yang membuat Valerie malah terkekeh.


“Hhehhehe … “


“Kau tertawa huh?!” pekik Elbara, seakan tak perduli dengan perkataan ketus Elbara, Valerie malah kembali menyandarkan pipinya dibahu Elbara seraya mengeratkan lilitan tangannya dileher Elbara.


“Maafkan aku karena sudah membuatmu marah tuan muda, aku tak bermaksud selalu memancing emosionalmu, maafkan aku …. “ gumam Valerie yang tak ingin membiarkan suasana diantara mereka sepi sunyi.


“Kau sudah makan?” tanya Elbara yang kini mulai menurunkan intonasi suaranya.


“Belum, kenapa? tuan muda mau mengajakku makan malam di restoran? Eeh tapi, kita mesti ke rumah sakit dulu tuan muda, kurasa lukamu cukup parah, sebaiknya kita obati dulu lukamu, baru habis itu …. “


“Diamlah!” pekik Elbara.


...****************...


Di hotel xxx yang letaknya tak jauh dari area taman kota.


Setibanya di hotel. Meski tampak kebingungan karena Elbara malah membawanya ke hotel, Valerie tetap berjalan masuk ke dalam sembari menelusuri setiap area yang dilaluinya.


“Kenapa tuan mengajakku kemari?” tanya Valerie heran seraya mengarahkan pandangannya pada Elbara yang berjalan menuju meja yang terdapat telepon.


Alih-alih merespon pertanyaan Valerie, Elbara lebih memilih meraih gagang telepon dan dilanjut menghubungi salah satu staf hotel.


“Bawakan kotak P3K dan pakaian ganti,” titah Elbara yang langsung ke intinya tanpa berbasa-basi.


“Kau mandi dulu, bersihkan tubuhmu, nanti ku bawakan pakaian ganti untukmu,” lanjut Elbara pada Valerie yang masih berdiam diri ditempat.


“Ba … baik tuan muda,” patuh Valerie yang kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Took … took … suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar hotel.


Elbara yang sedang berdiri sembari memegangi ponsel dalam genggamannya pun lantas berjalan santai menuju pintu utama.


“Selamat malam tuan Elbara,” sapa 2 staf hotel serempak yang membawakan pakain serta kota P3K permintaan Elbara.


“He’em, letakan disana,” perintah Elbara seraya membuka pintunya lebar agar kedua staf wanita tersebut bisa masuk dan meletakan permintaan Elbara di tempat yang disuruhnya.


“Ada lagi yang tuan butuhkan? Astaga!” kaget salah satu staf hotel tersebut saat melihat adanya noda darah yang tersebar di bagian pinggul kemeja Elbara.


“Tuan El baik-baik saja? Mau saya panggilkan dokter kemari?” seru rekannya yang lain, yang juga ikut terkejut saat baru menyadari akan luka serius Elbara.


“Tidak perlu, hanya luka tergores saja, tidak perlu dibesar-besarkan, sudah cukup kalian boleh pergi,” ujar Elbara.


Kedua staf wanita itu pun membungkuk pada Elbara tanda pamit undur dirinya dari hadapan Elbara.


“Tunggu! … Bawakan makan malam,” tambah Elbara ketika salah satu staf hotel hendak menarik handle pintu.


“Baik tuan Elbara,” sahut keduanya serempak seraya membungkukan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar.


...****************...


Diluar kamar hotel.


“Kira-kira siapa ya gadis yang beruntung menghabiskan malam dengan tuan Elbara? Huuhh … aku iri sekali dengannya, dia pasti lebih cantik dari nona Serena,” oceh staf wanita yang baru saja keluar dari kamar Elbara.


“Entahlah, aku tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu karena dia terus menundukan wajahnya, dan begitu masuk lift dia malah bersembunyi ke belakang tuan Elbara, kurasa karakter gadis itu sangat berbanding terbalik dengan nona Serena,” timpal rekannya.


...****************...


Setelah bermenit-menit kemudian …


Merasa kesal karena Valerie yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, Elbara pun memutuskan untuk menggedor pintu kamar mandi dengan ganas.


Brruukk!! Bruukk!!


“Yak! Apa kau tertidur didalam?! Lama sekali kau mandi,” bentak Elbara yang sudah kehilangan kesabarannya.


“Ma … maaf tuan muda, bisa tolong pakaian gantiku,” sahut Valerie seraya membuka pintu sedikit kemudian menjulurkan 1 tangannya keluar.


“Astaga! Jadi dari tadi kau menunggu pakaian huh?! Kau kan bisa memakai jubbah mandimu dulu. Aughhh!! … “ meski dongkol dengan kelakuan Valerie, namun Elbara tetap memenuhi keinginan Valerie, ia berjalan menuju sofa lalu menyambar pakaian ganti untuk Valerie kemudian menggantungkannya ke tangan Valerie.


Dengan cepat Valerie kembali memasukan tangannya dan menutup rapat pintu kamar mandi setelah mendapat apa yang ia inginkan.


Ceklek …  Akhirnya Valerie keluar usai mengenakan piyama tidur yang telah disiapkan oleh staf hotel sebelumnya.



“Maaf tadi kau bilang apa? Jubbah mandi? Jubbah mandi itu apa? Apa seperti Jubbah milik draculla yang ada di tv tv begitu?” tanya Valerie polos seraya berajalan mendekati Elbara yang tengah menatapnya tajam.


“Tidak, sudah lupakan, aku tak ingin berdebat denganmu, kemari! (ajak Elbara seraya menarik tangan Valerie menuju sofa) duduk!” lanjut Elbara yang langsung dilaksanakan dengan baik oleh Valerie.


Selagi Valerie duduk manis menunggu disofa, Elbara kembali melangkahkan kakinya menuju meja tempat dimana staf hotel sebelumnya menaruh kotak P3K. Tak lupa juga hair dryer yang berada diatas meja rias dibawanya sebelum kembali menghampiri Valerie.


“Apa itu?” tanya Valerie begitu Elbara kembali dengan membawa 2 buah benda digenggamannya.


“Apa aku harus menjelaskan tentang kotak pertolongan pertama ini padamu?!” ketus Elbara.


“Tidak bukan yang itu, tapi yang ada ditangan kananmu,” sahut Valerie ketika Elbara meletakan kotak P3K diatas meja sedang ia membawa hair dryer bersamanya.


“Pengering rambut,” jelas Elbara seraya mencolokan kabel hair dryer dan mulai menyalakan mesinnya.


“Berbalik,” titah Elbara seraya mendudukan bokongnya di samping Valerie.



Valerie pun memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Elbara seperti yang diperintahkannya. Ia tersenyum lebar kala kedua mata mereka bertemu.


“Bukan kesini, tapi kesana!! Aughhh!!” geram Elbara lantaran Valerie tak mengerti apa yang dirinya maksud.


“Ahhh …  iya maaf hehehee,” kata Valerie yang kemudian berbalik ke arah sebaliknya.


...****************...


Bersambung…