Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXXVI




“Hhhehhe … Tidurmu nyenyak sekali, aku tiupin dari tadi gak bangun-bangun,” celoteh Valerie sembari cengengesan.


“Astaga! Pantas aja seperti ada aroma jigong yang menusuk hidungku,” gerutu Elbara yang kemudian bangkit dari sofa. “Minggir!” ucap Elbara seraya menyenggol tubuh Valerie dengan kakinya, hingga membuat Valerie pun lantas terjatuh ke sisi lain.


“Aduuh!” rengek Valerie.


“Apa kita akan pulang hari ini tuan?” seru Valerie seraya berlari kecil mengejar tuan mudanya yang keluar dari kamar.


“Pulang? Memangnya kau memiliki tempat tinggal?” balas Elbara yang terus berjalan menuju area dapur.


“Apa?! Ja … di maksudnya aku akan tetap diusir? Lantas untuk apa kau menyelamatkanku kemarin jika akhirnya aku akan ditelantarkan kembali,” keluh Valerie seraya berjongkok dan menundukan kepalanya, layaknya seorang bocah kecil yang ngambek karena tidak dituruti keinginannya.


Elbara yang tengah meminum air mineral pun sampai terkejut dan memuncratkan kembali air yang belum sempat ia telan, karena melihat sikap kekanak-kanakan Valerie yang tampak menggemaskan baginya.


“Uhhuuk … uhuukkk .... “ Elbara terbatuk ditengah aksi ngambek Valerie.


“Astaga …. “ Elbara hanya bisa terkekeh dan menggeleng kepalanya kala Valerie masih tetap terdiam tak bergeming.


“Kau mau sarapan apa?” tanya Elbara yang kemudian kembali meneguk air mineral untuk mengaliri kerongkongannya yang kering.



Namun alih-alih menjawab, Valerie malah membuang wajah ke sisi lain untuk menunjukan keseriusannya dan tak ingin terpengaruh oleh makanan.



Akhirnya pertahanan Elbara pun runtuh, ia tertawa renyah hingga membuat Valerie yang mendengarnya sontak melirik ke arah Elbara yang tengah asyik tertawa sembari menurunkan pandangannya.


Valerie mengerutkan dahinya seraya bangkit dari jongkoknya, perlahan ia melangkah mendekati Elbara yang masih belum menyadari jika Valerie kini sudah berada dekat dihadapannya.


“tuan muda Valen,” ucap Valerie seraya menempelkan 1 telapak tangannya di rahang Elbara, hal itu sontak saja membuat Elbara terkejut dan lalu mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang kini tengah tersenyum lebar padanya.


“Berhenti memanggil nama depanku!” pekik Elbara yang kembali berubah menjadi orang yang berbeda dalam 1 detik. Ia menepis kasar tangan Valerie dari rahangnya disusul dengan matanya yang kini mulai memerah seakan tengah berusaha menahan air mata kemarahannya.


Mendadak dadanya terasa sesak hingga membuat pertahanan kakinya goyang, sementara 1 tangannya memegangi bagian dadanya yang terasa sesak 1 tangan lainnya ia tempatkan di sudut meja.


Praaanngg!! Gelas yang sebelumnya dipakai Elbara untuk minum pun tak sengaja tersenggol dan terjatuh ke lantai.


“Tuan muda … “


Niat hati Valerie ingin mendekat dan membantu Elbara, namun “BERHENTI!” bentak Elbara nyaring.


“Maaf … maafkan aku tuan muda … “ ucap Valerie ketika Elbara terus mundur menjauhinya.


Karena tak ingin terus berada disituasi yang menyakitkan baginya, Elbara bergegas pergi meninggalkan Valerie yang berusaha menahan tangis emosionalnya ketika melihat Elbara tampak kesakitan seperti itu.



“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” gumam Valerie saat Elbara telah menghilang dari pandangannya.


Karena tak kuasa menahan rasa sakitnya Valerie pun terjatuh dan terduduk dilantai sembari memandangi jalanan yang sebelumnya dilalui oleh Elbara.


Ia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada teman kecilnya dahulu, kenapa saat dirinya menyinggung masa lalunya, Elbara selalu menggila serta menunjukan reaksi yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.


Rasa sakit yang begitu mendalam, bahkan sampai kesulitan bernafas seperti barusan, mungkinkah masa lalunya bersamaku hanyalah rasa sakit yang tak ingin ia ingat kembali?’fikirnya.


“Hiikkssss … hikkkkssss … “ berusaha mungkin ia menahannya, namun nyatanya tangisan itu meledak juga seiring dengan rasa sakit yang terus menghantam bagian terlemahnya.


...****************...


Di baseman, lebih tepatnya di dalam mobil yang dikendarai Elbara kemarin. Elbara masih mencoba menenangkan dirinya dengan menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya yang berada diatas kemudi.


Tiba-tiba cuplikan masa lalunya kembali memenuhi fikirannya.


...----------------...


Masih di tempat parkir rumah sakit Ddoldam.


Valen yang saat itu hendak masuk ke dalam mobil, ia terus saja menoleh ke belakang, seolah tengah menunggu seseorang.


“Ada apa tuan muda Valen? Apa ada yang tertinggal?” tanya sang supir yang masih memegangi pintu mobil.


“Ammm … Kakek,” panggil Valen pada kakeknya yang sudah duduk dikursinya.


“Bolehkan tunggu sebentar lagi?” pinta Valen penuh harap.


“Tidak, ayo cepat masuk,” titah kakeknya dengan nada tegas, Valen pun hanya bisa menghela nafas pasrahnya seraya masuk ke dalam mobil.


Usai menutup kembali pintu mobil, sang supir pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan area parkir rumah sakit Ddoldam.


“Bohong, dia pembohong! Katanya mau datang, tapi setelah menunggu 1 jam dia ga muncul-muncul juga!” gerutu Valen dalam hati sembari mengarahkan pandangannya ke balik jendela.


“Aamm … maaf, mungkinkah tuan muda menunggu gadis pengantar susu?” tanya sang supir yang membuat Valen sedikit terkejut hingga membulatkan kedua matanya.


“Pak Tono mengenal Chaca?” seru Valen seraya mencondongkan tubuhnya ke depan, agar bisa melihat pak Tono secara langsung.


“Duduk yang benar Valen,” kata sang kakek yang membuat Valen merengut dan kembali duduk dengan benar.


“Bapak pernah melihat gadis pengantar susu itu di xxx, mau coba mencarinya kesana tuan muda?” tawar sang supir yang kembali membuat Valen kegirangan.


“Ma … “


“Tidak perlu! Untuk apa kau mencari gadis pengantar susu, Valen?! Jangan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna!” potong sang kakek.


“Valen mohon kakek … Valen janji akan menjadi cucu yang baik, Valen akan menuruti semua kemauan kakek, tolong ijinin Valen ketemu Chaca untuk yang terakhir kalinya kek, tolong …. “ bujuk Valen yang sudah tak kuasa menahan isak tangisnya lagi.


Untuk sejenak sang kakek terdiam, seakan tengah menimbang negoisasi yang cucu lelakinya ajukan.


“Ya baiklah, hanya 5 menit,” kata sang kakek yang langsung disambut senyum bahagia oleh Valen.


Buru-buru Valen menyeka air matanya dan kembali memandangi jalanan yang dilaluinya, sementara pak Tono mempercepat laju kendaraannya menuju area/kawasan yang sebelumnya sering dilalui oleh Chaca, sang gadis pengantar susu.


Setelah beberapa menit berkeliling namun sepertinya baik pak Tono maupun Valen tak menemukan adanya tanda-tanda Chaca berkeliaran di area tersebut.


“Bagaimana? Apa sebaiknya kita bertanya aja dimana rumahnya tuan muda?” saran pak Tono yang malah kembali mengundang amarah sang kakek.


“Sudah cukup! Jika tidak ada, tak perlu dicari,” tolak sang kakek yang mulai kesal karena sudah banyak membuang waktu berharganya.


“Baik tuan besar,” ucap Tono patuh yang kemudian memutar arah dan kembali untuk ke jalan pulang.


“Tunggu …  bukankah itu Chaca, pak, itu didepan sana,” seru Valen seraya menunjuk seorang gadis berseragam sekolah yang tengah mengayuh sepeda.


“Iya, itu pasti Chaca, ransel dan sepeda itu miliknya, ayooo cepat kejar dia pak!” tambah Valen yang semakin yakin setelah memperhatikan secara seksama keseluruhan penampilan gadis itu dari belakang.


“Baik tuan,” timpal Tono yang kemudian kembali menancap gas, sementara sang kakek hanya bisa menghela nafas kasar dan mengarahkan pandangannya ke sisi lain.


Belum sempat mobil yang dikendarai Tono menyusul sepeda Chaca, tiba-tiba ada sebuah truk yang melintas dari samping dan dengan cepat menghantam gadis yang tengah asyik mengayuh sepeda tersebut, sehingga sang gadis pun terpental jauh sementara sepedanya ringsek karena terlindas truk tronton.


Spontan Tono menginjak pedal rem selagi kedua matanya masih membeku memandangi kejadian tragis yang baru saja terjadi didepan matanya.


“Tidak …  Chaca!!” bergegas Valen keluar dari mobil dan hendak berlari menuju keberadaan Chaca.


Namun tentu saja hal itu langsung di cegah oleh Tono sang supir, ia memeluk Valen dan mencegahnya pergi ke lokasi kejadian karena takut hal itu akan membahayakan tuan mudanya.


“Lepas!! Lepaskan aku!! CHACAAA!!!!!” 


...****************...


Bersambung...