
Setelah mengenakan kemeja dan menata rambutnya, Elbara pun akhirnya keluar seraya mengancingkan lengan kemejanya.
“Sudah beres?” tanya Elbara saat melihat Nina yang sedang menutup risleting koper besar yang berada diatas ranjangnya.
“Iya tuan muda, semua keperluanmu sudah ada dikoper,” sahut Nina yang kemudian menurunkan koper besar tersebut ke lantai.
“Bawa susu itu dan berikan pada gadis cengeng tadi,” titah Elbara seraya menunjuk ke arah susu yang berada diatas nakas menggunakan sorot matanya.
“Valerie..”
“Huh?!” respon Elbara seraya menaikan 1 alisnya kala Nina menanggapinya dengan menyebutkan nama Valerie.
“Namanya Valerie tuan muda, barangkali saja kau lupa, aku hanya ingin mengingatkan,” imbuh Nina seraya meraih susu tersebut kemudian dilanjut dengan menarik pegangan koper untuk dibawanya turun.
Namun baru saja beberapa langkah, Nina menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang.
Seakan tak perduli dengan teguran halusnya barusan, Elbara malah lebih memilih berjalan menuju cermin.
Untuk sesaat mereka berdua saling beradu tatap melalui pantulan cermin tersebut.
“susunya akan ku berikan pada yang lain, karena nona Valerie alergi susu sapi,” ujar Nina yang akhirnya lebih dulu memutus pandangannya dan pergi berlalu bersama koper besar milik tuan mudanya.
Sedangkan Elbara tampak terhentak mendengar fakta tersebut, seakan ingatannya kembali dipaksa mengembara jauh ke masa-masa terkelamnya.
...****************...
Kilas balik 20 tahun lalu, di rumah sakit Ddoldam yang berada di desa Pandora.
Lebih tepatnya dikamar inap tuan muda yang bernama Valentino, tertera jelas di gelang identitas yang dikenakannya saat ini.
Bocah remaja berusia 13 tahun itu kini tengah asyik bercengkrama dengan seorang gadis kecil yang usianya mungkin sekitar 8 tahunan.
Setelah berhasil membukakan tutup tempat yang berisikan cookies dengan gesture gentlemannya, ia pun menaruh tempat cookies tersebut di depannya agar bisa dinikmati bersama dengan gadis pengantar susu dan cookies yang duduk dikursi disamping ranjangnya.
“Iniii…” ujar gadis kecil tersebut yang hendak menyuapi Valen cookies, namun Valen malah mengatupkan rapat-rapat mulutnya, dan mendorong cookies tersebut agar menjauh dari mulutnya.
“Hhmmm..” gadis kecil itu hanya bisa mengehela nafas panjangnya ketika niat baik dan tulusnya di tolak mentah-mentah oleh Valen.
“Aku bisa memakannya sendiri, aku bukan anak kecil!” pekik Valen yang kemudian meraih susunya dan meminumnya beberapa teguk sebelum kembali menaruhnya diatas nakas.
“Iya baiklah,” sahut gadis tersebut lemah, meski kecewa dengan sikap kasar Valen namun tak lantas membuatnya merajuk berkepanjangan, ia pun memakan cookies yang sudah terlanjur berada dalam apitan jemarinya dengan sekali lahap.
“Uhhuukk..uhuuuuk..”
Tanpa meminta, dengan sikap seperti pria sejati, Valen pun langsung menyambar susu dan menyodorkannya pada gadis yang tengah terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah.
“Uuhhukkk.. uhhuuukk..!!”
Namun gadis tersebut malah menggelengkan kepalanya sembari memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit. Buru-buru ia pun berlari menuju lemari dingin yang berada diujung ruangan, gadis kecil itu membuka lemari pendingin tanpa meminta ijin terlebh dahulu pada pemilikinya yang kini tengah memperhatikannya dengan dahi berkerut.
‘Apa yang dia lakukan?’ begitulah kira-kira bunyi fikiran Valen yang masih memegangi segelas susu dalam genggamannya.
Dilihatnya gadis kecil itu menyambar 1 botol besar berukuran 1.5 liter yang berisikan air mineral, kemudian dengan ganas meneguknya sampai air mineral tersebut hanya sisa setengahnya.
Valen pun melongo sampai membulatkan kedua matanya, ia benar-benar terkejut dengan hal yang dilakukan gadis kecil barusan.
“Kau meminum setengah botol besar itu hanya dalam beberapa detik,” komen Valen.
“Hhhheee.. habis, air nya seger banget sih, udah dingin terus kaya ada manis-manisnya gitu wkwkwk!!” celoteh gadis kecil tersebut seraya menutup lemari pendingin, dan kembali ke kursinya dengan membawa botol besar tersebut dalam dekapannya.
“Apa? Memangnya kau tak punya lemari pendingin dirumah?” tanya Valen begitu gadis kecil terduduk dikursinya.
“Tidak, hehehee,” timpalnya seraya menaruh botol besar tersebut diatas nakas.
“Kau.. mau balas dendam ya?
Karena tadi aku tidak mau menerima cookies dari tanganmu, jadi..”
“Tidak, bukan begitu, aku alergi susu sapi,” ungkapnya diakhiri senyum lebar yang menampilkan 1 dimple disalah satu pipinya juga deretan gigi kelincinya, yang membuat jantung Valen mendadak dag dig dug tak karuan.
“Berhenti tersenyum! Ompong!!” cibir Valen, karena memang ada salah satu gigi yang belum tumbuh dengan sempurna digusi bagian bawahnya, sontak saja gadis tersebut langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena merasa malu.
...****************...
Kembali ke masa kini, setelah cuplikan masa kecilnya tayang beberapa menit, kedua kaki Elbara terasa lemah dan hampir saja meruntuhkan pertahanan tubuhnya. Namun dengan cepat Elbara meletakan telapak tangannya ditepi meja sebagai tumpuannya agar tidak terjatuh.
Berusaha sekuat tenaga Elbara kembali berdiri tegap ditengah usahanya menstabilkan pernafasan yang mendadak terasa sesak. Perlahan ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.
Kondisi tubuhnya berangsur membaik kala udara sejuk di pagi hari menerpa indra penciumannya, untuk sejenak Elbara memejamkan matanya sembari melangkahkan kakinya menuju tepi pagar pembatas.
Elbara menarik nafas dalam-dalam untuk meresapi angin sepoi-sepoi yang merasuk ke dalam pori-pori kulitnya, masih dengan mata terpejam ia berusaha untuk merilekskan tubuhnya dari serpihan luka masa lalu yang kembali menggores bagian terlemahnya.
Begitu ia kembali membuka mata, dilihatnya sosok gadis mungil tengah berlarian bersama dengan anjingnya Thomas dipekarangan depan mensionnya.
Tak seperti sebelumnya yang ketakutan saat melihat Thomas, kini mereka berdua malah menjadi teman baik dan bahkan bermain kejar-kejaran dengan penuh riang gembira.
“Tidak, tidak mungkin,” sangkal Elbara yang ingin tetap menjaga kewarasannya, dengan perasaan emosional yang kembali bergejolak dalam hatinya, ia meremas besi pagar pembatas seerat mungkin sembari terus memperhatikan Valerie yang berlarian kesana kemari bermain dengan Thomas.
Sekilas potongan-potongan masa lalunya kembali bermunculan memenuhi fikirannya, suara itu, wajah gadis kecil itu terus saja berputar-putar dan membuat pertahanan Elbara perlahan runtuh.
“Halo tuan muda Valen.. hhhehhe, kenalin aku Chaca…” tokkk… tokkkk…
“Halo tuan muda Valen! Hihihihi, kau semakin tampan aja wkwkwkk!! Jadi cepat bukain pintunya ya!! Kakiku sudah pegal nih!!”
“Halo tuan muda Valen! Aku membawakan susu dan cookies lagi untukmu, tolong bukain pintunya agar aku bisa masuk!!”
“Eyyy yoooo!! Tuan muda apa kau sudah lebih baik sekarang? Jika belum, ayo kita berjalan-jalan lagi ke taman hehehhee!! Jangan dikunci terus dong!! Aku cape kalau mesti teriak-teriak terus setiap kali aku datang! Huhhh!”
“Selamat pagi tuan muda Valen, hehhee maaf aku sedikit terlambat, tadi rantai sepedaku macet wkwkwk!! Jangan ngambek ya, TUAN MUDA!! (bruukk!! Bruukkk!!) TUAN MUDA!!”
“Halo tuan muda Valen! Bagaimana jika kita saling bertukar kode rahasia? Seperti yang suka ada di film-film gitu hahahhaa!!”
“Open the door please!!...”
...****************...
Bersambung...