
Sesampainya Valerie dan Nina di area halaman depan mension, bersamaan dengan itu pula sebuah mobil mewah berwarna hitam melesat melewati keduanya.
Meski tak bisa mengucapkan salam perpisahan, namun setidaknya Valerie bahagia karena ia bisa melihat Elbara sebelum kepergiannya.
“Jika suasana hatimu masih terasa kurang baik, aku bisa menemanimu berkeliling taman sebentar,” ucap Nina yang peka dengan kondisi hati Valerie setelah ditinggal pergi begitu saja oleh Elbara.
“huh? Bo.. bolehkah?” tanya Valerie ragu.
Nina mengangguk antusias, kemudian menarik lengan Valerie dan berlari kecil menuju area taman bunga.
“Ayooo!!” seru Nina lengkap dengan senyum lebarnya.
...****************...
Dibangku taman.
Mereka duduk dibangku taman sembari memperhatikan Thomas yang tengah bermain-main dengan kupu-kupu.
“Sebentar ya, ku buatkan teh hangat,” ucap Nina yang lantas pergi usai mendapat respon anggukan mengerti dari Valerie.
Nina pun bergegas masuk ke dalam mension untuk membuatkan 2 cangkir teh yang dapat menghangatkan tubuh mereka di dinginnya pagi ini.
“Senang sekali bisa menjadi dirimu Thomas, kau berlarian kesana kemari tanpa ada beban,” gumam Valerie seraya bangkit dari bangku dan berjalan menghampiri Thomas yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
Valerie pun duduk dengan posisi kedua kakinya yang ditekuk agar bisa ia peluk selagi menyaksikan kegembiraaan Thomas dihadapannya.
“Aku tahu, aku gak boleh menyukainya, tapi… aku benar-benar tak bisa mengendalikan perasaanku terhadapnya, terlepas dari sikap kasar dan jahatnya, aku masih tetap menginginkannya,” oceh Valerie seraya mengenang kembali saat-saat dirinya bersama dengan Elbara selama beberapa hari kemarin.
“Terlebih lagi kedua mata coklat itu, benar-benar mengingatkanku pada seseorang yang kini entah ada dimana, setelah pergi begitu saja tanpa pamit. Padahal dia sudah berjanji akan menemuiku hari itu, tapi dia tidak pernah datang, selama apapun aku menunggu, dia… tidak pernah datang mencariku,” lirih Valerie yang mulai menitikan air mata emosionalnya.
“Ini teh nya Nona Valerie,” ucap Nina yang membuat Valerie terhentak lalu buru-buru menyeka air mata kerinduannya sebelum menerima cangkir yang berisikan teh buatan Nina.
“Terimakasih Nina,” ucap Valerie seraya tersenyum manis pada Nina yang ikut duduk disampingnya.
“Apa yang kau lamunkan tadi?” tanya Nina usai menyesap teh hangat miliknya dan menoleh ke arah Valerie sesaat.
“huh?” kaget Valerie yang sedang meniup teh hangat miliknya.
“engga, hehhee, hanya teringat kenangan masa kecilku aja sewaktu di desa,” timpal Valerie yang masih mempertahankan senyum ramahnya.
“Ohh..” respon Nina yang kembali menyesap teh nya serta melepas pandangannya pada Valerie.
“Ammm.. kudengar kau dan tuan muda dekat? De.. kat yang bagaimana?” tanya Valerie yang mendadak teringat perkataan Laras semalam.
“Ahh itu, kenapa memangnya?
Nona cemburu, hehehe,” goda Nina seraya menyenggol lengan Valerie dengan sikutnya.
“eng.. engga kok hehhehe, aku tak berhak memiliki perasaan semacam itu,” kilah Valerie.
“Eeeyy.. bohong ahh!! Hahhhaaha!! Kau pasti sudah tersihir oleh ketampanannya, waaah gawat nih!!” celetuk Nina.
“Tuan Muda akan semakin keras padamu dan langsung mengusirmu keluar begitu mengetahui kau memiliki perasaan padanya hehhehe, jadi kusarankan jangan terlalu menunjukannya nona,” Nina memperingatkan.
“Kenapa? Apa karena aku tidak selevel dengannya?”
“Bukan begitu, Tuan Muda hanya tak ingin memiliki scandal dengan pekerjanya sendiri, ehhh.. tunggu.. tapi kau bukan pelayan disini kan?!”
“Jadi aku boleh jika menyukainya?” Valerie tampak berseri-seri selagi menunggu respon dari Nina.
“Tidak,” tegas Nina lengkap dengan sorot mata tajamnya.
“Kenapa? Seingatku kau mendukungku tadi malam, kau bilang tidak ada yang tidak mungkin karena tuan muda bukanlah orang suka membeda-bedakan pasta, aku masih ingat dengan jelas.” Gerutunya.
“Kasta, Nona,” Nina membenarkan 1 kata yang salah karena tentunya akan berbeda maknanya.
“Iyaa itu maksudku,” sahut Valerie seraya memasang wajah merengut.
“Hmmm… (Nina hanya bisa menghela nafas panjang lantaran sudah kehabisan kata-kata menghadapi gadis mungil yang usianya terpaut 5 tahun darinya)
Pertama kali aku bertemu dengan tuan muda itu sekitar 14 tahun yang lalu di panti asuhan, saat itu aku masih berumur 9 tahun, tuan muda sering menjadi relawan dipanti membantu para staf menyediakan makanan, mencuci piring, dan menjaga para anak-anak dipanti.
Hal itu dilakukannya sebagai bentuk rasa bersalahnya karena keluarganya telah menghentikan donasinya pada panti. Iya, semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, perusahaan yang didirikan oleh ayah tuan muda kini diambil alih kembali oleh tuan besar.
Berbeda dengan ayah tuan muda yang sangat dermawan dan baik hati, tuan besar membenci menghambur-hamburkan uang perusahaan dengan kegiatan atau hal yang tidak menguntungkan baginya.
Seingatku, tuan muda keluar dari kediaman tuan besar setelah ia menyelesaikan SMA nya, tuan muda bekerja part time setiap hari dibeberapa tempat agar bisa menabung untuk melanjutkan studynya, dan menghabiskan akhir pekannya di panti asuhan.
Untuk mencapai titik ini, perjuangan tuan muda bukan main-main, Nona. Tuan muda bisa membangun perusahaannya sendiri tanpa adanya bantuan apapun dari tuan besar hal itu adalah pencapaian yang sungguh luar biasa menurutku.
Hmmm.. itulah kenapa aku bisa dekat dengannya,” cerita Nina panjang lebar yang diakhir senyum simpulnya.
“Tapi ku harap kau bisa menjaga cerita ini ya, aku tak ingin yang lain tahu jika aku sudah mengenal tuan muda sejak lama,” tambah Nina yang membuat Valerie mengerutkan dahinya.
“Kenapa?” tanya Valerie.
“Sebenarnya hampir semua pelayan disini menyukai tuan muda, nona, jika mereka tahu aku dan tuan muda sudah saling mengenal sejak lama, mereka pasti akan mengucilkanku dan membicarakanku dibelakang. Jadi…. Ssssttt…(Nina menunjukan gerakan 2 jari yang sedang merisleting bibirnya pada Valerie) bahkan aku tak menceritakan hal ini pada Laras,”
“Huh? Kenapa? Eeh.. tapi bukannya Laras tahu kedekatan kalian,” respon Valerie bingung.
“Iya, dia hanya sekedar tahu aku dekat dengan tuan muda, udah itu aja. Aku tak memberitahukannya lebih detail karena dia sering keceplosan, saat ada yang memancingnya dia selalu tanpa sadar terbawa suasana dan langsung menceritakan hal yang seharusnya disimpan baik-baik,” dumel Nina agak kesal karena karakter ceroboh dan tak bisa mengontrol perkataan yang keluar dari mulutnya, istilahnya mah celetak-celetuk lah ya.
“Ahh begitu,” sahut Valerie seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi kedua orang tuanya udah ngga ada?" sambung Valerie.
"Iya, sebenarnya tuan muda juga ikut terlibat dalam kecelakaan yang terjadi, hanya saja kedua orang tuanya tewas ditempat, sedangkan tuan muda sempat dirawat dirumah sakit selama kurang lebih 9 bulan," papar Nina yang membuat Valerie termenung beberapa saat sampai....
Shaapieeh!! Terdengar bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel Nina, dan sekaligus menutup cerita panjang lebarnya. Buru-buru Nina merogoh ponselnya kemudian bangkit dari dudukannya.
“Ehh ada apa?” tanya Valerie.
“Aku pesen ceker merecon barusan lewat shapieeehh, dan kurirnya sudah sampai didepan gerbang, ayoo mau ikut ngga?!” seru Nina yang berlarian sembari membawa gelas yang sudah kosong dalam genggamannya.
“Shapieeh, apa itu shapieeh, hey Nina! Tunggu!!” panggil Valerie yang bergegas bangkit kemudian berlari menyusul Nina sembari memegangi gelas dengan kedua tangannya, sebab takut akan menumpahkan teh yang masih belum sempat ia habiskan.
...****************...
Bersambung...