
“Baik tuan,” timpal Tono yang kemudian kembali menancap gas, sementara sang kakek hanya bisa menghela nafas kasar dan mengarahkan pandangannya ke sisi lain.
Belum sempat mobil yang dikendarai Tono menyusul sepeda Chaca, tiba-tiba ada sebuah truk yang melintas dari samping dan dengan cepat menghantam gadis yang tengah asyik mengayuh sepeda tersebut, sehingga sang gadis pun terpental jauh sementara sepedanya ringsek karena terlindas truk tronton.
Spontan Tono menginjak pedal rem selagi kedua matanya masih membeku memandangi kejadian tragis yang baru saja terjadi didepan matanya.
“Tidak … Chaca!!” bergegas Valen keluar dari mobil dan hendak berlari menuju keberadaan Chaca.
Namun tentu saja hal itu langsung di cegah oleh Tono sang supir, ia memeluk Valen dan mencegahnya pergi ke lokasi kejadian karena takut hal itu akan membahayakan tuan mudanya.
“Lepas!! Lepaskan aku!! CHACAAA!!!!!”
Sssssssssssppppppp …. Elbara seketika tersadar dalam mimpi buruk yang telah menguasai dirinya selama beberapa menit berkat gedoran agresif kaca mobilnya dari luar.
Brrukkk!! Bruukkk!! “KAKAK!!” teriak Nina yang kemudian menempelkan seluruh wajahnya ke kaca jendela mobil hingga menghasilkan gambaran yang cukup mengerikan bagi siapapun yang melihatnya, terutama dibagian hidungnya yang terpampang jelas 2 bulatan besar layaknya hidung seekor babi.
“Astaga!!” Elbara yang belum sepenuhnya bisa bernafas normal akibat insiden kecelakaan masa lalu yang melibatkan teman kecilnya, kini dirinya dikejutkan oleh wajah aneh Nina yang menempel lekat dibalik kaca jendela mobilnya.
“YAK!!” bentak Elbara ditengah buliran keringat yang mengalir dari sudut dahinya, ia pun lantas menurunkan kaca jendela mobil masih dengan emosional yang bergejolak serta mata yang menyipit untuk menunjukan kekesalannya pada gadis yang kini sudah menarik wajahnya dari kaca jendela.
“Kau ingin membuat jantungku berhenti bekerja huh?!” gerutu Elbara kesal.
“Aku sudah mengetuk kaca jendela mobilmu sedari tadi tau! Nih lihat punggung tanganku sampai merah, lagian kakak ngapain sih pake tidur di mobil segala, dan itu … kenapa bisa berkeringat gitu? Diiihh pasti mimpi jorok ya!” tuduh Nina seraya menunjuk dan tersenyum nakal.
“Aiiisshhh!! Sial! Untuk apa kau kemari?!” tanya Elbara yang masih mempertahankan nada tingginya.
“Astaga! Kakak lupa? Kakak sendiri yang menyuruhku untuk kemari sekalian bawakan semua barang-barang milik kak Valerie,” sahut Nina seraya menunjukan dan menepuk-nepuk koper besar yang berisikan semua barang-barang Valerie.
“Tumben sekali kau memanggilnya kakak?” komen Elbara yang sudah mulai menurunkan nada suaranya.
“Eeeyy, kita sedang tidak berada dalam mension, seperti denganmu, aku juga ingin menganggapnya seperti kakak kandungku sendiri,” celotehnya lengkap dengan senyum tengilnya.
“Jangan-jangan kau yang mengajarinya seperti itu,” celetuk Elbara yang malah membuat Nina menaikan 1 alisnya lantaran kalimat yang terkesan ambigu baginya.
“mengajari seperti itu? Apanya yang seperti itu?” balas Nina kebingungan lengkap dengan gesture yang mendukung.
“Aah sudahlah! Katakan padanya untuk berhenti memanggil nama depanku!” pekik Elbara yang kemudian menutup kembali kaca jendela mobilnya dan lantas pergi begitu saja tanpa adanya kalimat penutup atau pamitan.
Whooooosssshhh … Mobil melaju kencang sehingga membuat Nina yang berdiri tak jauh disamping mobil sebelumnya merasakan hembusan angin yang cukup membuat rambut serta pakainnya berterbangan mengikuti arah angin membawanya.
“Kamvret!” umpat Nina lengkap dengan tatapan sinis yang ia tujukan pada jalanan yang telah dilalui oleh mobil Elbara.
...****************...
30 menit sebelumnya.
Setelah kepergian Elbara 10 menit yang lalu, Valerie pun lantas terbangun sembari menyeka bulir air matanya. Ketika hendak menarik langkah pertamanya, indra pendengarannya tiba-tiba mendengar suara gaduh yang berasal dari luar.
Untuk sejenak ia terdiam sembari memandangi pintu utama yang lumayan cukup jauh dari tempatnya kini berdiri. Sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan lebih dekat serta memastikan keributan apa yang terjadi di balik pintu.
PLLAAAKK!! Terdengar jelas sekali suara tamparan dari balik pintu hingga membuat Valerie terkejut dan refleks membungkam mulut dengan kedua tangannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi diluar?” Valerie membatin.
...----------------...
“SUDAH CUKUP! MAMI TAK INGIN MENDENGAR ALASANMU LAGI!! Tinggalkan perusahaan Elbara sekarang juga dan kembali belajar tentang bisnis!
Kau sudah kepala 3, belum cukupkah kau bermain-main ALAN!”
“Bermain-main? Jadi selama ini aku bekerja keras membangun karirku sendiri diperusahaan Elbara, itu semua tak ada artinya?!” balasnya.
“Ciiihh!! Bekerja keras?
Menjadi jong*os Elbara kau sebut itu bekerja keras huh?! Kau hanya menjadi pelayannya Alan! Memangnya apa yang bisa kau banggakan dari seorang pelayan?!
Dengar! Mami sudah berusaha mempertahankanmu agar bisa terlahir ke dunia, sekarang saatnya kau membalas Mami bukan?
Meski kau anak hara*m tapi kau terlahir sebagai anak lelaki, berbeda dengan …. “
“Aku tak pernah minta dilahirkan bukan?! Jika aku bisa memilih, aku hanya ingin terlahir …. “
“TUTUP MULUTMU!! (PLAAAKKK!!)
Kakakmu sudah mengalah dan memberikanmu kesempatan untuk memimpin perusahaan, jadi … berhenti menjadi jong*os Elbara dan kembali pulang ke rumah oke!
Jika sampai akhir pekan kau masih bersikeras tetap berada disisi Elbara …. “
“Jadi berhenti mengusik kehidupanku, aku tak akan pernah pindah dari sini ataupun pergi ke perusahaan papi!” tegasnya seraya mengepalkan kedua tangan untuk mengekspresikan perasaan emosionalnya saat ini.
“Oke … baiklah, tapi ingat! Jika kau mengacau lagi dan membuat gadis itu menangis, mami akan langsung menyuruh orang untuk menyeretmu pulang ke rumah! Mengerti!” ibunya menekankan lengkap dengan sorot mata tajam setajam silet.
“Kau tak akan menjawab?!” lanjut ibunya ketika Alan hanya terdiam membalas tatapan tajamnya.
“Ya,” sahut Alan dengan matanya yang mulai memerah.
“Bagus, akan segera mami atur jadwal pertemuanmu,” pungkas ibunya yang kemudian pergi meninggalkan Alan yang masih terdiam ditempat sembari memandangi punggung ibunya yang kian menjauh dari hadapannya.
Ceklek … Valerie membuka pintu seraya mengintip keluar sedikit.
“Kau menguping?!” pekik Alan saat ia menoleh ke arah samping, dilihatnya seorang gadis tengah berdiri dibalik pintu yang terbuka sedikit.
“Ammm … maaf, aku tak bermaksud menguping apa yang …. “
Merasa malas meladeni Valerie, Alan pun lantas memilih pergi tanpa ingin mendengar penjelasan lebih lanjut Valerie. Entah kenapa, meski sebenarnya ia takut setengah mati dengan peringai Alan yang tak lebih sama hal nya dengan Elbara namun ia tetap tak tega melihat Alan seperti itu.
Dengan segenap keberanian yang ia miliki, ia pun memutuskan untuk mengejar Alan dan berniat menghiburnya.
“Tu.. tunggu tuan Alan!” panggil Valerie yang lalu berlarian menyusul langkah cepat Alan menuju lift.
“Tungguu! Huhhh … haahhh … hehehhee,” tahan Valerie yang akhirnya berhasil menghentikan pintu lift sebelum benar-benar tertutup, ia pun lantas masuk dan berdiri disamping Alan.
“Apa yang kau inginkan?!” pekik Alan dengan nada ketus serta lirikan tajamnya.
“Aku … aku juga ingin mencari udara segar diluar hehhehe, loooh kok lift nya kaya naik, bukannya turun?” kata Valerie yang kebingungan saat mendapati lift tersebut malah menariknya ke atas.
...****************...
Sesampainya di atap hotel xxx.
Meski tak mengerti apa sebenarnya tujuan Alan pergi ke atap, namun Valerie tetap mengekorinya 1 langkah dibelakang.
“Tunggu tuan Alan, sebenarnya apa yang mau tuan lakukan disini?” tanya Valerie kala fikiran negativenya mulai menyerang, karena Alan terus berjalan sampai ke tepi dinding pembatas atap.
“Yak … yak … tuan Alan!” seru Valerie yang terkejut saat Alan naik dan duduk diatas dinding pembatas.
“Kenapa? Kau fikir aku akan menjatuhkan diriku huh?!” timpal Alan lengkap dengan senyum smirknya.
“Bu … kan begitu tapi disini sangat berbahaya tuan,” kata Valerie seraya menarik-narik pinggiran kemeja Alan dengan 2 jemarinya.
“Naiklah kemari,” pinta Alan seraya menepuk ruang disisinya.
“Tidak! Hehhehe, a … aku tak cukup gila untuk membahayakan diriku sendiri,” celetuknya yang malah membuat Alan menatapnya sinis lantaran tersinggung dengan kalimatnya.
“Cepat naik! Atau kau ingin melihatku melompat dari sini,” ancam Alan seraya menarik lengan Valerie dan menatapnya tajam.
“Oke … oke … astaga! Aku benar-benar takut, tunggu sebentar,” ucap Valeria seraya menarik nafas dalam-dalam serta memejamkan matanya sejenak.
Tak ingin menunggu lagi Alan pun lantas turun dari tembok pembatas, kemudian dengan gerakan cepat ia mengangkat tubuh mungil Valerie dan mendaratkannya di tempat sebelumnya duduk.
Tentu saja hal itu membuat Valerie sangat terkejut bukan main, terlebih Alan memang dengan sengaja sedikit mendorong tubuh Valerie ke belakang hingga Valerie pun hampir terjengkang.
“AAaaaaaaa!!” teriak Valerie.
Melihat Valerie yang ketakutan sampai memejamkan kedua matanya serta memegang erat ujung kemeja dibagian pinggul Alan, Alan merasa sedikit terhibur dan tanpa sadar telah mengeluarkan tawa renyahnya.
“Astaga! Yak! Tuan Alan!” pekik Valerie yang masih gemetaran ketakutan karena tindakan extreme Alan terhadapnya. “hikkkkssss!! Hiksssssssss!!” Valerie pun akhirnya menangis karena tak kuasa menahan rasa takutnya akan ketinggian.
Namun bukannya cepat-cepat menurunkan Valerie, Alan malah terdiam sembari menatapi wajah mungil Valerie yang tengah menangis sesenggukan. Seakan ada yang mengusik hatinya ia benar-benar terhanyut akan suasana kala itu.
...****************...
Bersambung...