Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXII



Keesokan harinya, masih bertempat dikamar Nina. Saat ini menunjukan pukul 06:00 tepat, ketiganya masih terlelap dalam mimpi indahnya sampai akhirnya Valerie yang lebih dulu terjaga. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali selagi mengumpulkan nyawanya.


Valerie sedikit terkejut kala mendapati hal pertama yang ia lihat adalah 2 pasang kaki tepat dihadapannya, ia pun lantas bangkit sembari memandangi kedua karibnya yang tidur dengan posisi berbeda darinya.


“Ahh.. (Valerie manggut-manggut setelah menyadari jika dirinyalah yang merubah posisi tidurnya, gadis yang masih setengah sadar itu pun menurunkan kedua kakinya ke lantai, dan berjalan perlahan menuju cermin yang hampir menyamai tinggi tubuhnya)


ARgghh!!” teriak Valerie yang sontak saja membuat kedua temannya terbangun seketika sembari celingak-celinguk ke segala arah.


“Apa?! Apa?!” seru Nina dengan setengah mata terbuka.


“Apa ada kebakaran huh?!” tambah Laras yang ikut terbangun dan buru-buru turun dari ranjang, namun naasnya kakinya masih terbelit selimut yang membuatnya terjatuh tersungkur dipinggir ranjang.


“Wajahku.. hikssss!!” rengek Valerie seraya berbalik dan menunjukan wajahnya yang kini dipenuhi bintik-bintik merah atau lebih seperti bruntusan akibat dari make up yang tidak dibersihkan seharian kemarin.


“Aiisshh! Sial!! Sudah ku bilang untuk mencucinya bukan sebelum tidur! Itulah akibatnya jika kau keras kepala!” bentakan nyaring Nina menggema mengisi keheningan pagi kala itu.


“Heeeuuu!! Aku hanya..”


“Hanya apa!” bentak Nina lagi yang kini sudah membuka lebar kedua matanya.


“Hanya bahagia sekali karena merasa sangat cantik, hikssss!!” rengek Valerie seraya menundukan kepalanya, layaknya seorang bocah yang tengah dimarahi oleh ibunya.


“Aughhh!! Kau bisa meriasnya kembali kan nanti,” timpal Nina yang masih mempertahankan intonasi ngegasnya.


“Sudah-sudah, sebaiknya nona mandi, cuci muka yang bersih, kemarin nona beli skincare juga kan, tenang aja, biasanya bruntusan ga berlangsung lama kok,” ucap Laras yang mencoba menengahi perseteruan yang terjadi antara karibnya Nina yang emosian dengan Valerie yang keras kepala dan cengeng.


“Ba.. baiklah..” patuh Valerie yang kemudian bergegas keluar kamar dan melakukan hal yang diperintahkan oleh Laras.


“Yak! Berhenti teriak-teriak, tak bisakah kau bicara dengan nada normal! Aughh! Dan juga, kurangi mengumpat (berkata kasar),” tegur Laras seraya bangkit dan meraih selimut yang sebelumnya membelit kedua kakinya.


“GAK MAU TUH!” ketus Nina yang langsung saja dibalas tatapan tajam oleh Laras sebelum akhirnya ia menyerang Nina dengan membungkus tubuh Nina menggunakan selimut tebalnya, kemudian dilanjut melompat ke atas tubuh Nina dan bermain genjot-genjotan diatasnya layaknya sedang berada diatas trampoline.


...****************...


Di lain tempat, yakni balkon kamar Elbara. Ia tampak berdiri di tepi pagar pembatas sembari memperhatikan kesibukan para pelayannya yang sedang melakukan tugasnya masing-masing.


Sampai suara ketukan kamar membuat dirinya terhentak lalu menoleh ke belakang.


Ceklek.. Pintu kamar penghubung balkon pun terbuka lebar.



“Kenapa masih disini? Bolos lagi?” tanya lelaki yang memiliki perawakan tubuh hampir menyerupai Elbara, tinggi besar dan juga tak kalah tampannya dengan Elbara.


Melihat Elbara yang mengacuhkannya dengan kembali mengarahkan pandangannya ke area pekarangan, lelaki tersebut pun lantas berjalan mendekati Elbara yang berdiri penuh karismatik sembari memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya.


“Yak! Berhenti terus melarikan diri dan sembunyi di kastilmu, kau harus menghadapi tuan besar dan katakan padanya dengan tegas jika kau menolak keras perjodohanmu dengan nona Serena,” ujarnya dengan penuh penekanan dalam setiap tutur katanya.



“Kau fikir kakek tua itu akan mengerti lalu menyerah begitu saja,” timpal Elbara seraya melirik tajam ke arah lelaki yang berdiri tepat disampingnya.


“Lantas apa yang akan kau lakukan sekarang huh?!”


“Bukankah cabang kita di Amerika sedang bermasalah? Pesankan tiket, kita berangkat ke Amerika besok pagi,” Elbara malah mengubah topik pembahasan mereka.


“Kali ini mau berapa lama kau disana huh?!” tambahnya.


“Entahlah, mungkin 1 bulan,” respon Elbara yang masih tak bisa melepaskan pandangannya dari area pekarangan.


“Apa?! Kau benar-benar!” geramnya seraya menggelang kepala dan berkacak pinggang.


“Ahh iya, kudengar kau membawa gadis asing dari kapal? Bisa-bisanya kau kefikiran untuk menyelamatkan orang lain saat kau sendiri sedang diburu oleh para pesuruh tuan besar,” tambahnya yang membuat Elbara melirik sesaat pada teman dan sekaligus orang kepercayaannya bisa disebut tangan kanannya.


“Dimana dia sekarang? Apa kau juga membawanya kemari?” ocehnya lagi disaat Elbara hanya menanggapinya dengan lirikan, karena memang Elbara terkenal dengan sikap dingin juga irit dalam berbicara.


“Kau tak perlu memperdulikannya, begitu ia pulih, dia akan pergi dari sini,” sahut Elbara dengan nada datarnya.


“Huh?! Jadi benar, kau memabawanya kemari?! Waaaahh!! Sebenarnya ada apa denganmu? Tumben sekali kau perduli pada seorang wanita, tak kau kenal pula. Mungkinkah.. Kau menyukainya? Ya semacam cinta pada pandangan pertama gitulah, kau tahu kan maksudku,” ejeknya seraya menyikut lengan Elbara.


“Berhenti bicara omong kosong! Sebaiknya kau pergi, aku menggajimu bukan untuk bermain-main!” geram Elbara yang lantas pergi meninggalkan area balkon dan masuk ke dalam kamarnya.


...****************...



Keduanya berjalan beriringan menuruni tangga, menuju lantai dasar.


“Yak! Setidaknya berikan aku sarapan dulu!” rengek Alan yang ikut bergegas menuruni tangga saat Elbara memacu langkahnya karena tak mau berdekatan dengan dirinya.


“Kau bisa minta Jessi belikan sarapan untukmu, sarapan saja dikantor!” balas Elbara yang ingin cepat-cepat berpisah dari temannya yang bawel itu.


“Gak, aku mau sarapan disini saja,” kekeuh Alan yang kemudian mempercepat laju jalannya untuk mendahului Elbara.


“YAK!” bentak Elbara, namun belum sempat ia meneruskan kalimat makiannya, sosok seorang gadis keburu muncul dari area dapur sembari membawa salah satu hidangan dalam genggaman kedua tangannya.


Baik Elbara maupun Alan mengehentikan langkahnya sejenak sembari memperhatikan gadis tersebut yang tak lain adalah Valerie, ia mengenakan seragam pelayan yang mungkin dipinjamnya dari Nina.


“Selamat pagi tuan muda,” sapa Valerie disertai senyum merekahnya serta bungkukan tubuh untuk menunjukan rasa hormatnya.


“Kau.. Putri dari pak Irfan?” tanya Alan seraya mengamati Valerie dari ujung kepala sampai kaki, seakan tengah mencocokan ingatan sosok putri pak Irfan dengan gadis yang ada dihadapannya saat ini.


Praaannngggg… Mangkuk kaca yang tengah dipegang erat Valerie pun terjatuh bersamaan dengan keterkejutannya mendengar nama ayah angkatnya disebut oleh lelaki yang tak dikenalnya.


Sontak saja hal itu langsung membuat Megan yang kebetulan lewat pun berlarian menghampiri Valerie yang hendak berjongkok serta membereskan kekacauan yang telah ia buat.


“Astaga nona Valerie!” panik Megan.


Sementara itu Elbara yang tadinya hendak bergegas menghampiri Valerie pun dihentikan oleh Alan, dengan sorot mata tajam dan gelengan kepala tegas, Alan menunjukan tanda larangan kerasnya terhadap Elbara yang ingin membantu gadis malang tersebut.


“Mari kita bicara,” ajak Alan seraya menarik paksa lengan Elbara untuk menjauh dari lokasi kejadian.


Elbara pun hanya bisa menghela nafas kasar dan menuruti kemanapun Alan membawanya pergi.


...****************...


Bersambung…