Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XVIII




“Kenapa?” tanya Elbara begitu sampai dan melihat Valerie yang tengah memandangi tempat minuman segar berwarna warni dihadapannya.


Merasa sungkan menuturkan rasa hausnya, ia hanya nyengir serta mengetuk-ngetukan ujung sepatu flat shoesnya ke lantai marmer sementara kedua tangannya tertaut dibelakang tubuhnya.


“Hmm.. Rasa apa?” tanya Elbara yang akhirnya mengerti apa yang diinginkan Valerie meskipun gadis tersebut tidak berkata apa-apa.


“Hheheee.. Strowberry,” pinta Valerie dengan nada manjanya ia kembali berbalik pada sang penjaga kedai minuman.


“Baik, sebentar ya,” ucap sang penjaga disertai senyum ramahnya.


“Ahh iya, pak Bagas mau rasa apa?” tanya Valerie seraya menoleh ke arah Bagas yang tengah membawakan barang-barang Valerie.


“Ahh gak perlu nona, terimakasih,” tolak Bagas lengkap dengan senyum renyahnya.



Melihat Valerie yang malah menawari Bagas minuman, Elbara lantas memberikan tatapan sinisnya pada Bagas, seakan tidak terima dengan situasi aneh yang terjadi saat ini.


“Sebaiknya kau kembali ke mobil dulu, simpan semua barang-barangnya,” titah Elbara yang langsung dibalas anggukan mengerti oleh Bagas sebelum akhirnya pamit undur diri.


“Baik tuan!”


“Tuan Muda mau?” tawar Valerie seraya menyodori minumannya yang telah dibuatkan oleh sang penjaga kedai.


“Tidak,” timpal Elbara seraya mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang kertas dalam dompetnya kemudian diberikannya pada sang penjaga kedai untuk membayar minuman Valerie.



Selagi Elbara menyelesaikan transaksinya, Valerie berlari kecil menuju tepi pagar pembatas lantai 5, pandangannya menelusuri setiap pertokoan yang berada dilantai 4,3,2, dan 1, tak ada 1 pun yang terlewatkan oleh mata bulatnya.


Tiba-tiba sudut bibirnya mengembang seiring dengan kebahagiaan yang kembali menyelimuti hatinya, gadis mungil itu merasa takjub dengan kemegahan mall dan puluhan orang yang berlalu-lalang bersama pasangannya masing-masing.


Mereka semua tampak sangat bahagia dengan caranya tersendiri, ada yang hanya sekedar berjalan-jalan sambil bercanda gurau, ada yang tengah menikmati makanan disela obrolan ringan yang entah tentang membicarakan masalah pribadi atau pekerjaan. Yang pasti raut wajah bahagia yang terpancar dari orang-orang yang dilihatnya membuat dirinya merasakan emosional yang sangat mendalam.


“Apa yang kau lihat?” tanya Elbara yang ikut berdiri di tepi pagar pembatas dan mengedarkan pandangannya ke bawah.


“huh? Tidak.. hehhhee.. Aku hanya merasa bahagia aja, baru pertama kali aku mengunjungi pasar sebesar ini, dengan hawa sejuk dan tentunya ga desek-desekan sama ibu-ibu yang berbadan besar hehheee,” paparnya yang lagi-lagi mengembangkan senyum lebarnya hingga membuat hati Elbara seperti tersengat.


“Di desa pasti belum ada mall ya,” gumam Elbara yang sesekali melirik ke arah Valerie.


“Tentu, hhahhaa!! Di desaku hanya ada pasar tradisional. Ahh iya, boleh aku bertanya sesuatu?” ucap Valerie yang kini mengarahkan tubuhnya menghadap Elbara.


“Tidak,” jawab Elbara.


“Hmm.. padahal aku cuma mau tanya kenapa kau sangat baik sekali padaku,”


Meski sudah dilarang oleh Elbara, namun nyatanya Valerie tetap melontarkan pertanyaannya yang membuat Elbara terkekeh seraya melirik sesaat ke arah Valerie yang tengah memandanginya sembari menyedot minuman segarnya.


"uuhh minuman ini enak sekali! Hheeehe segar dan manissss!!"


“Tak perlu berlebihan, pada akhirnya kau tetap harus keluar dari kediamanku,” timpal Elbara yang membuat Valerie pun menarik nafas kasarnya.


“huhhhfft!! Tak bisakah tuan muda mengangkatku sebagai pelayanmu?


Aku juga bisa melakukan pekerjaan rumah tangga kok! Ammm, memasak, membuat kue.


Aahh iya! Aku juga bisa menjadi pelayan pribadi tuan muda, aku akan melayani tuan muda dengan sangat baik, seperti mengantar kue dan susu untuk tuan muda setiap pagi, hehehee,” Valerie menuturkan rencananya dengan mendetail berusaha membujuk Elbara dengan kata-kata manisnya.


Namun mendengar kalimat Valerie yang hendak mengantarkan kue dan susu setiap pagi, membuat ingatan Elbara terbang melayang jauh ke masa lalu yang sebenarnya sudah ia kubur dalam-dalam.


...****************...


Yang bertempat di rumah sakit Doldam desa Pandora. Pemuda berusia 13 tahun itu tengah terduduk di atas ranjang rumah sakit sembari memandangi pemandangan luar dari balik kaca jendela kamarnya.


“Halo Tuan Muda Valen!! Hhhheehe, maaf ya aku sedikit terlambat, ban sepedaku bocor lagi, tapi tenang aja kue dan susunya masih hangat kok, hehehehe,” seru seorang bocah perempuan yang berusia 8 tahun, ia berlarian menuju sisi ranjang kemudian menaruh botol susu dan tempat makan yang berisikan beberapa kue kering diatas nakas lebih dahulu.


Kemudian dilanjut dengan menuangkan susu tersebut ke dalam sebuah gelas kosong serta memberikannya pada tuan muda yang bernama Valen tersebut.


Setelah Valen menerima gelas yang berisikan susu, bocah perempuan itu kembali sibuk dengan berusaha membuka tutup tempat makannya yang tampak sulit terlepas.


Valen pun tampak mengehela nafasnya sejenak kemudian menaruh gelas susunya diatas nakas, kemudian menyambar tempat makan yang sedang digenggam bocah perempuan tersebut.


“Sini biar aku saja,” kata Valen dengan penuh percaya diri ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka tutup makan yang menempel erat seakan sulit untuk dipisahkan.


Tak butuh waktu lama, Valen pun akhirnya bisa melepas tutup tempat makan tersebut, ia menaruh tutupnya diatas nakas sedangkan tempat yang berisi kue-kue kering ia letakan diatas ranjang untuk ia cemil bersama dengan susunya.


“Hehhehee.. kau kuat sekali tuan muda,” puji bocah perempuan itu sembari memijat-mijat lengan atas Valen yang tampak kuat berotot bagi penglihatannya.


Valen yang sedang menikmati cemilan paginya pun tampak tersipu malu.


...****************...


Kembali ke saat ini.


Elbara buru-buru menyadarkan dirinya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Tak ingin terlihat gugup oleh Valerie yang masih memperhatikannya.


“Gimana? Boleh ya? ya? Aku pandai membuat kue loh, selain berkebun, keluargaku juga memiliki toko kue kecil-kecilan, jadi sejak kecil aku selalu membantu membuat kue serta mengantarkannya ke pelanggan Ibu,”


“Dimana desamu berada?” tanya Elbara yang kembali mengarahkan pandangannya pada Valerie.


“Di…”


Dreeeddd.. dreeedddd.. tiba-tiba ponselnya bergetar hingga obrolan mereka pun terputus, karena Elbara lebih memilih merogoh ponsel serta mengecek panggilan tersebut.


“Kau temani dia beli skincare dan make up, aku akan menyusul,” perintah Elbara begitu Bagas sudah kembali dan bergabung bersama mereka.


Setelah mendapat respon anggukan dari Bagas, Elbara pun lantas pergi untuk mencari tempat lebih sunyi agar bisa mengobrol dengan nyaman.


“Mari nona Valerie,” ajak Bagas ketika Valerie masih memperhatikan Elbara yang kian menjauh darinya.


“Iya pak,” sahut Valerie dengan nada lemasnya, mereka pun berjalan ke arah yang berlawanan dengan jalan yang diambil oleh Elbara.


“Amm.. Biasanya nona Valerie pakai skincare dari brand apa?” tanya Bagas ditengah perjalanannya.


“Skincare itu apa?” tanya Valerie polos yang membuat Bagas terkekeh.


“Hhhehe, skincare itu seperti.. amm.. sabun wajah, iya, selain kita membersihkan tubuh memakai sabun, wajah pun perlu dibersihkan bukan?”


“Aku selalu membersihkan wajahku memakai sabun mandi kok,” celetuk Valerie yang lagi-lagi berhasil membuat Bagas merasa terhibur dengan kepolosannya.


“Hhahhaa, wah masa sih, bukankah Ph kulit tubuh dan wajah itu tidak sama ya non,” sahut Bagas.


“Ph? Apa itu Ph? Pak Bagas sedang berbicara dengan bahasa Indonesia kan?” celoteh Valerie yang kebingungan memahami beberapa kalimat Bagas.


“Hhhhaaha! Iya.. iya maaf nona, baiklah kalau begitu sebaiknya nanti kita tanya saja pada pegawai tokonya, soalnya saya juga kurang mengerti tentang skincare wanita hehehee,”


...****************...


Bersambung...