
Taman kota.
Tanpa terasa langkah kecil Valerie telah membawanya ke area yang sebelumnya pernah ia singgahi bersama Elbara 1 tahun lalu. Meski hanya sekali, namun ingatannya tentang tempat ini juga sosok Elbara yang hangat kala itu, tak akan pernah memudar sama hal nya dengan kerinduan yang selama ini pendam sendirian.
“Apa yang membuatmu menjadi sedingin dan sekasar ini tuan muda Valen, mungkinkah kau telah banyak melalui hal berat selama ini,” Valerie bermonolog selagi melangkahkan kaki kecilnya tanpa tujuan.
“Hmm … “ Valerie menarik nafas dalam seraya memeluk tubuhnya untuk memblokir angin malam yang berhembus kencang ke arahnya.
“Huh? Apa ini?” oceh Valerie seraya meraba saku cardigannya, kemudian dikeluarkannya sesuatu dari dalam saku cardigan tersebut.
“Onigiri?” ocehnya lagi saat mengetahui hal apa yang tersimpan disaku cardigannya, untuk sesaat ia menghentikan langkahnya sembari memperhatikan 1 bungkus onigiri yang berada di atas telapak tangannya.
“Mungkinkah Nina yang memasukannya?” fikir Valerie yang kemudian kembali memasukan onigiri tersebut ke dalam saku cardigannya dan lanjut jalan lagi.
...****************...
Di dalam kamar Elbara.
Usai Elbara membersihkan tubuhnya dari polusi udara yang melekat disekujur tubuhnya, masih dengan jubbah mandinya Elbara berjalan santai menuju sofa.
“Hmmm … “ terdengar helaan nafas beratnya kala bokongnya telah mendarat di sofa, ia pun menyandarkan tubuhnya serta menutup setengah wajahnya dengan sikutnya.
Tookk … tookkk …
“Masuk!” ucap Elbara nyaring.
“Ada apa?” tanya Elbara setelah menyingkirkan tangannya dari pandangannya, ia melihat sosok pelayan andalannya berjalan ke hadapannya sembari membawa baki.
“Aku hanya ingiin mengantarkan makan malam, dan juga memberitahu jika nona Valerie sudah pergi,” katanya usai meletakan hidangan makan malam sederhana Elbara diatas meja.
“Ya,” sahut Elbara yang seakan tak perduli dengan informasi tersebut, dan lantas kembali menutup setengah wajahnya dengan sikutnya layaknya seseorang tengah mencari ketenangan dalam kegelapan.
“Apa ini?” seru Nina seraya berjalan menuju nakas yang berada disamping ranjang megah Elbara, sedang Bara hanya terdiam tak memberikan reaksi apapun.
“tuan muda terluka? Kenapa foto ini ada noda darahnya?” celetuk Nina dengan nada heboh yang dibuat-buat, padahal sebenarnya hanya noda percikan darah sedikit.
Barulah Elbara merasa terusik setelah mendengar kehobohan yang dibuat-buat oleh Nina. Dilihatnya Nina tengah berdiri disamping ranjangnya sembari memegangi foto yang sebelumnya diremas oleh Elbara.
“Apa maksudmu?” tanya Elbara seraya menaikan 1 alisnya.
“Disini, diujung foto ini ada noda darah, apa ini darahmu?” seru Nina kembali seraya berjalan mendekati keberadaan Elbara dan menunjukan lokasi percikan darah yang dimaksud Nina.
“Sebentar, ku ambilkan kota P3K nya dahulu tuan muda,” tambah Nina yang hendak bergegas pergi saat Elbara masih terlihat kebingungan.
“Aku baik-baik saja,” kata Elbara seraya bangkit dari sofa.
“Lantas jika ini bukan darah tuan muda, itu artinya … nona Valerie yang terluka saat kau mengambil paksa foto ini dari tangannya,” opini Nina.
ZZZZzzrrhhhhh … Gelegaaarr … mendadak suasana yang tadinya baik-baik saja, kini berubah menjadi kilatan petir yang cukup membuat siapapun terkejut mendengarnya, ditambah rintik hujan mulai turun membasahi bumi dan seisinya.
“Astaga! Apa ini, kurasa cuacanya tadi baik-baik aja, kenapa mendadak hujan lebat, huhh … kasihan sekali nona Valerie, pasti lukanya semakin perih saat terkena air hujan,” celoteh Nina lengkap dengan ekspresi yang mendukung sekali aktingnya saat ini.
“Minta Bagas untuk siapkan mobil!” titah Elbara seraya berlalu pergi menuju ruang pakaian.
“Ciihh!! Dasar plin-plan,” gumam Nina disertai raut wajah julidnya saat Elbara telah menghilang dari pandangannya.
...****************...
15 menit sebelum hujan lebat turun.
Di taman kota.
Lelah berjalan kesana kemari tanpa tujuan pasti, akhirnya Valerie pun memutuskan beristirahat sejenak di depan toko serba ada.
Sembari mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya kedua matanya tampak sibuk memperhatikan hal disekitarnya.
“Huuffft, apa aku jadi gelandangan sekarang? Aku bahkan tak memiliki sepeserpun dikantungku, hanya onigiri yang entah dari mana asalnya,” oceh Valerie seraya merogoh saku cardigannya kemudian mengeluarkan 1 bungkus onigiri tersebut dan menatapnya dengan tatapan sendu.
“Valerie?” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul disampingnya.
Valerie mengerutkan dahinya sejenak sebelum mengalihkan perhatiannya dari onigiri yang masih dalam genggamannya.
“Ahh benar! Kau rupanya Hhahhaa!” imbuhnya dengan nada yang terdengar seperti mengejek.
“Tuan Alan,” ucap Valerie yang kemudian bangkit dan membungkuk dihadapan Alan.
“Hmm, kenapa tuan sangat membenciku?” timpal Valerie seraya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap bola mata tajam Alan yang berdiri tegak dihadapannya.
“Ciiih!” Alan hanya mendengus serta memalingkan wajahnya dari Valerie.
Krubukk … krubukk … suara perut keroncongan Alan tak sengaja terdengar oleh telinga Valerie, sontak hal itu langsung membuat Alan tengsin dan salah tingkah.
“Tuan Alan belum makan malam? Silahkan onigirinya tuan, setidaknya tuan bisa mengganjal dengan nasi kepal ini dulu sebelum sampai di rumah,” kata Valerie lembut seraya mengulurkan sebungkus onogiri miliknya.
Entah kenapa mendadak tubuh Alan membeku kala ia melihat senyum teduh yang Valerie berikan, untuk sesaat hatinya merasa tersentuh oleh kelembutan dan ketulusan gadis mungil yang berdiri dihadapannya saat ini.
Usai memandangi Valerie, atensinya kini beralih pada nasi kepal yang tengah digenggam Valerie, dahinya mengerut kala melihat salah satu jemari Valerie terluka seperti sayatan benda tajam. Hingga membuat tangannya spontan bergerak dan hendak meraih lengan gadis mungil tersebut.
Namun belum sempat ia menyentuh lengan Valerie, keduanya dikejutkan oleh suara petir yang menggelegar dan juga rintikan hujan yang mulai turun membasahi keduanya.
“Maaf … maaf tuan Alan aku menjatuhkan onigirinya,” panik Valerie yang tak sengaja melapas nasi kepal tersebut saat petir menyambar dan mengejutkan dirinya.
Alan mengepalkan kedua lengannya kemudian melongos pergi begitu saja meninggalkan Valerie yang sedang memungut onigirinya.
Meski sudah berada di dalam mobil, Alan masih tetap memperhatikan Valerie yang tengah kebingungan mencari sosok dirinya yang menghilang begitu saja.
“Sial!! Bisa-bisanya aku tersentuh hanya karena sebungkus nasi kepal!” BRruuggghh!! Alan mengutuk dirinya sendiri yang kemudian dilanjut dengan meninju stir mobil untuk melampiaskan amarahnya, lantaran sempat goyah oleh gadis miskin tersebut.
“Ayolah Al!! Jika ingin bermain-main pun setidaknya cari gadis yang selevel denganmu, bukan gadis desa, miskin, cupu, dan bego seperti dia!” racau Alan yang kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan area parkir.
Kembali ke area toko serba ada, karena kursi-kursi yang disediakan diluar toko serba ada basah kehujanan, Valerie pun lantas menepi ke sisi toko serba ada.
“Hmmm … dingin sekali,” gumam Valerie yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sembari menelusuri jalanan disisi teduh yang terhalang oleh pinggiran atap pertokoan.
Entah apa yang difikirannya saat ini, yang jelas ia hanya ingin berjalan dan terus berjalan tanpa henti, karena dengan menggerakan tubuhnya ia bisa menenangkan fikirannya yang kacau balau akibat diusir dari kediaman Elbara.
Hujan lebat yang mengguyur kota Jakarta pun perlahan mereda seiring dengan sambaran petir yang kini sudah sepenuhnya menghilang.
Meski sudah mencoba menghindari area yang terguyur hujan dengan berlari secepat yang ia bisa, namun tetap saja pakaiannya basah kuyup begitu pun dengan wajah serta rambutnya yang sudah seperti orang tercebur ke dalam kolam berenang.
“Huuhhhh … dinginnyaaaa!! (celoteh Valerie sembari memeluk dirinya sendiri) Nina dan Laras pasti sedang tidur nyenyak sekarang, huhh! Tega sekali mereka membiarkan aku berkeliaran diluar kedinginan seperti ini, ga ada niatan buat mencari aku gitu, hiiikssss …. “ oceh Valerie panjang lebar sampai tak terasa langkahnya kini telah membawanya pada area sunyi dan penuh kegelapan, lantaran hanya beberapa lampu jalan yang masih berfungsi dengan baik.
“Aku dimana? Kenapa aku bisa sampai kesini?” katanya yang tiba-tiba membeku begitu tersadar dari lamunannya.
“Hey cantik! Hehhehe … Kau tersesat ya?” seru seseorang yang muncul dihadapannya sembari membawa botol minuman keras.
“Waaaahh!! Tubuhmu indah sekali sayang hihihihi!!” racau temannya yang juga ikut berjalan mendekati Valerie.
Tanpa berfikir panjang lagi Valerie pun bergegas mundur dan hendak berlari menghindari ketiga lelaki mabuk tersebut.
“SIAL!! Cepat kejar dia!!” seru yang lainnya yang kemudian mengambil langkah seribu untuk mengejar Valerie.
Namun naas kali ini pun Valerie tersandung kakinya sendiri yang membuatnya terjatuh mengenaskan.
Seakan mendapat timing yang bagus, kedua pemabuk itu lantas berlarian menghampiri Valerie yang tengah berusaha bangkit.
Ketiga pemabuk itu berjalan mengitari Valerie yang tengah terduduk melipat kedua kakinya. Sekilas memorinya kembali membawa dirinya ke insiden dramatis yang pernah ia alami. Saat dirinya dibaringkan di atas ranjang kemudian para lelaki paruh baya berbadan buncit tersenyum penuh nafsu ke arahnya.
Hal itu semakin membuatnya ketakutan sehingga tubuhnya pun bergetar hebat, karena trauma yang ia alami kembali menyerangnya.
“Tidak … hikkksss!! Tolong jangan … hikkkssss ….” Rengek Valerie ketika para lelaki pemabuk itu mulai menyentuh tubuhnya.
Pllaakkkk!! 1 tamparan keras mendarat dipipi Valerie ketika salah satunya mulai kesal karena Valerie terus merengek serta membuat pertahanan yang cukup tangguh dengan memeluk erat kedua kakinya.
“Ayooo man ….”
BRRrrruukkkk!!!
Belum sempat salah satu tangan lelaki pemabuk itu menarik lengan Valerie, tubuhnya keburu terpental jauh kemudian terjatuh tersungkur ke aspal bersamaan dengan botol mirasnya yang telah pecah berserakan.
Melihat temannya yang kini sudah terkapar tak berdaya di aspal, membuat kedua lelaki pemabuk itu geram dan lantas menyerang seseorang yang telah menumbangkan temannya barusan.
Valerie yang sedari tadi hanya menunduk pun kini memberanikan diri mengangkat wajahnya agar bisa melihat dengan jelas pahlawan yang sudah menyelematkan dirinya.
“Tuan muda … “ gumam Valerie dengan bibirnya yang gemetar serta rembesan darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh salah satu pemabuk tersebut.
...****************...
Bersambung...
Note : Onigiri adalah nama Jepang untuk makanan berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat sehingga berbentuk segitiga, bulat, atau seperti karung beras.