Open The Door, Please!!

Open The Door, Please!!
BAB XXXI



Kembali ke area bermain Valerie, sekilas Valerie melihat Nina sedang berjalan sendirian di sisi lain, merasa penasaran ia pun lantas pergi berlari begitu saja meninggalkan Thomas yang masih asyik berayun.


“Ninaaa!!” panggil Valerie sembari berlarian menyusul Nina yang cukup jauh darinya.


“Ninaaa!! Tunggu!!” panggil Valerie lagi lantaran Nina masih tetap memacu langkahnya, mungkin karena jarak mereka cukup jauh jadi Nina tidak bisa mendengar panggilan Valerie dibelakangnya.


“Ninaaaa!!” akhirnya setelah ketiga kalinya ia memanggil, Nina pun memutar tubuhnya lengkap dengan raut wajah terkejutnya karena tak menduga Valerie mendadak berada dibelakangnya.


“Astaga nona!! Ngagetin aja!” gerutu Nina seraya memegangi bagian dadanya.


“huhh.. hahhhh.. huuuhh.. a.. ku sudah me.. manggilmu sejak tadi tahu!” balas Valerie seraya mencoba menstabilkan pernafasannya setelah berlari cukup jauh mengejar Nina.


“Yaa lagian ngapain sih pake nyusul aku segala,” kata Nina yang kembali melanjutkan perjalanannya menuju tujuan.


“Emang kau mau kemana, aku ikut dong,” seru Valerie seraya menautkan lengannya ke lengan Nina agar bisa berjalan beriringan.


“Seharusnya kau tak boleh kemari nona, tuan muda pernah bilangkan tentang area terlarang, dan inilah salah satu area terlarang yang dimaksud tuan muda,” papar Nina begitu mereka sampai didepan sebuah rumah kecil, yang lebih seperti gudang tempat penyimpanan barang-barang yang sudah tak terpakai.


“Huh? Memangnya ada apa disini?” tanya Valerie seraya mengerutkan dahinya selagi menunggu Nina membuka kunci pintu.


“Tempat dimana tuan muda menyimpan semua barang-barang pribadi, termasuk kenangan masa kecilnya, tak ada yang diijinkan berjalan diarea ini apalagi masuk ke dalam rumah ini,” tambah Nina yang sudah berhasil membuka kunci kemudian hendak masuk ke dalam.


“Laah kau sendiri mau apa kemari?” timpal Valerie. “Gelap sekali disini, bisa kau nyalakan lampunya Nina,” sambung Valerie yang ikut masuk ke dalam rumah dengan kondisi gelap gulita lantaran semua gorden yang tertutup rapat ditambah tak ada penerangan lampu sama sekali.


“Iyaa sebentar, aku sedang berusaha mencari tombol lampunya nih, udah lama sekali aku ga kemari, aku lupa dimana letak tombol lampu,” sahut Nina yang berjalan perlahan ke sisi lain sembari meraba-raba dinding untuk menemukan tombol lampu.


Sedangkan Valerie malah berjalan ke arah yang berlawanan tempat dimana banyak perabotan tersimpan.


Bruukk.. “Aduuhh!!” rengek Valerie kala jidatnya menghantam sesuatu yang keras seperti lemari yang terbuat dari kayu.


Bruuukk.. “Aduuhh!!” rengeknya lagi begitu kakinya tak sengaja membentur sebuah kursi.


“Aiisshhh!! Jika tak bisa berjalan dengan benar sebaiknya diam dulu!” pekik Nina yang kesal mendengar rengekan cempreng Valerie sedari tadi.


Cllingggg.. 1 per 1 lampu menyala dan menerangi setiap ruangan yang ada.


Awalnya Valerie tampak bahagia lengkap dengan ukiran senyum diwajahnya, kala Nina berhasil menemukan tombol lampu sehingga membuat suasana kini menjadi terang benderang.


Namun senyuman itu tak berlangsung lama ketika Valerie melihat sebuah foto keluarga berukuran cukup besar yang terpajang tepat dihadapannya.


“tuan muda Valen,” gumam Valerie pelan sembari memperhatikan remaja lelaki yang duduk diantara kedua orang tuanya.


“Hey! Apa yang kau lihat,” panggil Nina sembari menyenggol pinggang Valerie dan ikut memandangi foto keluarga tuan mudanya.


“Eeeyy berhenti menatapnya, (tegur Nina yang kembali menyenggol Valerie dan menggodanya) aku tahu kau menyukainya tapi…”


“Apa tuan muda mengalami kecelakaan di desa Pandora?” potong Valerie seraya mengarahkan atensi seriusnya pada Nina yang kini mulai mengerutkan dahinya.


“Ba.. gaimana nona bisa tahu,” respon Nina yang terkejut mendengar fakta yang dilontarkan Valerie.


“Tidak, (timpal Valerie seraya mengembangkan senyum lebarnya)


Ahh iya, apa yang mau kau lakukan disini?” lanjut Valerie yang kembali mengingatkan Nina akan tujuannya kemari.


“huh? Tu.. tunggu..” panggil Nina saat Valerie mulai menarik langkah sembari memperhatikan setiap detail yang ada dalam ruangan tersebut.


“Katakan padaku, darimana kau tahu lokasi kecelakaan tuan muda, kurasa aku tak pernah menceritakan lokasi kejadiannya dimana,” lanjut Nina sembari mengikuti langkah Valerie yang berjalan-jalan tak ada tujuan.


“Dan gak mungkin juga tuan muda yang menceritakannya padamu, karena teman dekatnya dan nona Serena pun tak ada yang tahu mengenai hal ini,” tambah Nina yang penasaran sekali darimana Valerie mengetahui lokasi kejadian tuan mudanya mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan ia kehilangan kedua orang tuanya.


Tak perduli dengan ocehan karibnya, Valerie malah terus berkeliaran ke setiap ruangan sembari membuka laci disetiap lemari yang ia temui seakan tengah mencari sesuatu.


“Sebenarnya apa yang kau cari nona?” tanya Nina yang masih setia mengikuti Valerie 1 langkah dibelakangnya.


“Ahh.. ketemu..” seru Valerie seraya mengambil selembar foto dari laci nakas yang berada di sebuah ruangan yang lebih mirip seperti kamar tidur.


“ketemu apanya?” sahut Nina seraya mengerutkan dahinya dan mendekat untuk ikut melihat foto yang tengah digenggam oleh Valerie.


Di lihatnya foto tersebut adalah foto Elbara yang tengah mengenakan seragam rumah sakit, bersama dengan seorang gadis mungil nan manis tengah duduk di rerumputan sembari memegangi seekor anjing kecil yang berada diantara mereka berdua.


Keduanya tampak bahagia, terlihat dari tawa lebar keduanya yang begitu lepas seakan ingin menunjukan betapa bahagianya mereka tengah bermain dengan seekor anjing.


“Eeeyy.. kau hanya ingin mengambil foto tuan muda rupanya, tak boleh!! Jika ketahuan tuan muda, aku bisa dimarahi,” tegas Nina sembari menyambar selembar foto dari apitan jemari Valerie.


“Hmmm, gadis yang disamping tuan muda..” kata Valerie seraya menunjuk ke arah foto yang sudah direbut paksa darinya.


“huh? Gadis?” respon Nina yang kembali memperhatikan foto yang kini sudah diambil alih olehnya.


“Chaca..” ucap Valerie yang membuat Nina menaikan 1 alisnya untuk mengungkapkan tanda tanya dalam benaknya.


“Coba kau balik fotonya,” lanjut Valerie yang langsung saja dilaksanakan dengan baik oleh Nina.


Kedua matanya membulat kala melihat 3 nama yang tertera di belakang foto tersebut.


Valen-Vivi-Chaca.


“Chaca, itu aku,” tambah Valerie yang malah semakin membuat Nina.


“Aku pernah ceritakan, aku tumbuh di desa, dan desa itu adalah desa Pandora, dimana aku pertama kali bertemu dengan tuan muda Valen,”


“Huh? Tidak, tidak mungkin, astaga! Aku tak tahu jika perasaan sukamu terhadap tuan muda akan berubah menjadi seperti ini, cukup menghalu nya, sebaiknya ayo bantu aku bawakan bad cover dilemari sana,” seru Nina seraya memutus pandangannya pada selembar foto tersebut dan menaruhnya di dalam saku seragamnya.


Ia pun lantas menarik lengan Valerie menuju ruangan tempat dimana bad cover tersimpan.


“tidak.. aku tidak menghalu Nina, kalau begitu berikan fotonya,” rengek Valerie ditengah perjalanannya diseret oleh Nina.


“Diam! Berisik, kita ga boleh lama-lama disini, atau…” kata Nina seraya memelankan suaranya serta menempelkan jari telunjuknya di bibir ditambah raut wajahnya yang mendukung, sehingga membuat Valerie pun terdiam seketika.


“atau apa?” ucap Valerie setengah berbisik sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.


GGguukkk!! GGggukkkkk!!


Suara gong gong-an Thomas pun berhasil memecah keheningan dan membuat Valerie juga Nina sontak berteriak histeris seraya saling berpelukan karena saking terkejutnya.


“AAAAaaaaaa!!”


...****************...


1 tahun kemudian.


Niat hanya akan pergi selama 1 bulan namun nyatanya sudah 1 tahun berlalu Elbara belum juga kembali.



Valerie yang tengah berayun diarea taman bermain pun merasa kehidupannya semakin hampa, seiring dengan hari-harinya yang hanya dipenuhi kesunyian serta kesepian yang tak kunjung berakhir.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tuan muda Valen belum juga pulang, mungkinkah dia akan menetap di Amerika dan tak akan pernah kembali,” gumam Valerie seraya mengayun pelan ayunannya dan menyender di tali ayunan.


“Hmmm … Aku sangat merindukannya,” oceh Valerie lagi disertai helaan nafas panjangnya.


“Jika dia masih menyimpan foto itu artinya dia masih mengingatku bukan, tapi … kenapa dia tak pernah datang mencariku, padahal aku sudah menunggunya lama sekali, hufft …. “ lagi-lagi Valerie menarik nafas untuk menunjukan betapa frustasi dirinya akan kerinduan yang sudah lama bersarang dalam hatinya.


“NONAAAA!!! Nonaaaaa Valerieee!!” panggil Nina dari kejauhan yang sontak saja membuat Valerie terhentak kemudian perlahan menoleh ke belakang lengkap dengan kerutan didahinya.


“Tuan muda … huhh … haahh …. “ racau Nina sembari mencoba menstabilkan pernafasannya, setelah berlarian untuk mencari keberadaan Valerie yang ternyata ada di area bermain.


“Ada apa dengan tuan muda?” tanya Valerie yang terkejut kala Nina menyebutkan nama orang yang selalu berada dalam fikirannya.


“Tuan muda telah kembali nona dan sekarang …. “ belum sempat Nina menyampaikan keseluruhan beritanya, Valerie malah keburu ngabrut pergi meninggalkan Nina.


...****************...


Setibanya Valerie didalam mension, ia hanya melihat para pelayan yang masih membungkuk membentuk sebuah barisan dipintu masuk.


“Nona Valerie,” ucap Megan yang berada di barisan depan, begitu ia mengangkat kepalanya ia sudah mendapati Valerie berdiri didepannya sembari celingak celinguk kesana kemari seolah tengah mencari seseorang.


Megan menarik nafas sebelum menunjukan keberadaan Elbara dengan sorot matanya. Dengan cepat Valerie memahami kode yang diberikan Megan sang kepala pelayan, Valerie pun lantas berlarian masuk ke dalam untuk menyusul Elbara yang tengah berjalan menaiki tangga.



“Tuan muda!!” panggil Valerie lengkap dengan senyum bahagia yang terpancar jelas dalam raut wajah cantiknya.


Elbara pun lantas memutar tubuhnya dengan gesture cool serta lengan yang dimasukan ke dalam saku celana kainnya.



Ia menatap dingin ke arah Valerie seakan tidak senang dengan sambutan hebohnya.


Meski Valerie ingin berada lebih dekat dengan Elbara namun ia teringat akan perintah tuan mudanya untuk tidak menginjakan kakinya kembali ke lantai 2. Jadi Valerie hanya menunggu Elbara dari bawah tangga dengan berharap lelaki yang berdiri jauh diatasnya bisa turun dan menghampiri dirinya dibawah.


...****************...


Bersambung...