
-17.00, 12 Agus 2020.
Jam kembali menujukan pukul 5 sore, Jimin belum juga berhasil memecahkan teka-teki itu. Hingga konsentrasinya buyar saat ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
From Alien
Jimin hyung aku akan lambat pulang!
–
To Alien
Iya, hati-hati!
–
Jimin kembali berkutik dengan kertas-kertasnya setelah membalas pesan V. Untuk beberapa saat Jimin hanya diam menatap huruf-huruf itu “ Kalau benar ini sebuah nama, sepertinya masih ada huruf yang kurang. Tunggu dulu! Kurang?… Kalau begitu apa ada lagi yang akan dibunuh?.. Tapi siapa?…” Tiba-tiba sebuah nama terlintas begitu saja di otak Jimin yang membuatnya cepat-cepat keluar rumah.
Jimin berlari sekuat tenaga menuju tempat yang ada dipikirannya. Tempat dimana seseorang bisa mengawasi keadaan sekitarnya dan tempat dimana seseorang yang memiliki nama yang ada di pikirkan Jimin. Yaitu sebuah gedung kosong disekitar daerah mereka tinggal.
“Hentikan! Ku mohon hentikan!” cegah Jimin setelah ia sampai diatas gedung menghentikan niat seseorang yang berdiri dipinggir gedung. Tapi orang itu hanya melemparkan sebuah senyuman pada Jimin.
-19.00, 12 Agustus 2020
Jimin berusaha menghentikan niat seseorang untuk melakukan sesuatu. Namun orang itu hanya melempar sebuah senyuman pada Jimin, senyuman yang memiliki banyak arti.
“Sepertinya kau berhasil mengungkap teka-teki itu! Hahahaha! Aku senang.” ujar orang itu.
“Dan kau juga bisa langsung tau tempat ini. Hahaha… Ini mengagumkan! Karna kau sudah disini, akan aku beritahu, disini’lah aku mengawasi sekitar dan membunuh mereka semua. Dari sini aku bisa lihat tempat aku membunuh Jin. Aku membunuhnya dengan menyuntikkan racun yang sama untuk membunuh Namjoon. Aku masih ingat saat dia kejang-kejang dan minta tolong padaku, tapi aku tak menghiraukannya. Aku hanya melihat saja dan menunggu dia mati pelahan-lahan! Hahahah… Tapi satu yang perlu diingat Jimin-ah, bukan aku yang membakar dia dalam mobilnya. Malah aku sengaja memakir mobilnya ditengah jalan supaya bisa ditabrak truk dan… Bruakk!! Dengan begitu dia akan hancur berkeping-keping. Namun seseorang memindahkan mobilnya dan membakarnya, aku benci orang itu yang merusak alur cerita yang ku buat. Hmmmm….. tapi aku juga suka orang itu, dia membuat cerita ku lebih menarik! Hehehe…”
“ Aku juga bisa lihat tempat ku membunuh Min Yoongi, Namja sialan itu. Apa kau mau tau Jimin bagaimana aku membunuh’nya?… Baiklah. Malam itu aku datang ke tempat latihan basket’nya, disana hanya ada dia sendiri. Karna dia tak ada teman dia mengajak ku main. Jadi aku menemani’nya bermain basket. Tapi aku kesal padanya, dia selalu mengejek ku, dia bilang aku payah dalam melempar bola kedalam ring. Dan kau tau Jimin-ah, aku dari dulu paling benci diremehkan! Aku akui aku payah dalam melempar bola tapi aku ahli dalam melempar sesuatu! Kau mau tau?… Aku ahli dalam melempar pisau, saat dia lengah sebuah pisau melayang kearah’nya dan…. Szubb! Pisau itu tertancap sempurna di jantungnya. Hahahaha.. Aku bisa mendengar ocehan’nya sesaat. Tapi aku tak menghiraukannya, aku bahkan menambah tusukan itu menjadi 15 buah! Ahhhh… Sepertinya seseorang senang sekali mengganggu ku, orang itu bahkan menambahkan tusukan itu menjadi 20 buah dan menggantung tubuh Namja sialan itu di ring basket! Hahahaha.. Akhirnya mereka semua mati ditangan ku! Hahahah!” lanjutnya tampa sedikitpun penyesalan di dirinya.
“Kenapa kau lakukan itu? Apa salah mereka padamu?” tanya Jimin pada orang itu.
“Karena mereka melupakan ku! Tapi kenapa kau juga melupakan ku? Hikss… Hehehe…” ujar orang itu, ia menangis dan kemudian tertawa.
“Melupakan mu?! Kau itu sebenarnya siapa?!” tanya Jimin.
“Kau lupa, 9 tahun lalu jam 5 sore dibelakang gedung Big Hit School. Apa kau ingat?” katanya.
“Jangan bilang kau anak waktu itu?!” tanya Jimin shock, memutar kembali ingatannya pada 9 tahun lalu.
Flash Back
Park Jimin baru 10 hari disekolah Big Hit School, ia termasuk murid pendiam tapi ia bukan murid yang sombong seperti kebanyakan siswa yang ada disini. Sore itu, Jimin telat dijemput, jadi ia memutuskan main sebentar ditaman belakang sekolah. Jimin lebih suka main ditaman ini, karna jam segini taman ini sudah lengang.
Aaaa! Akhh! Plakk! Buk!
Suara itu menarik perhatian Jimin, ia bergegas mencari sumber suara itu dan menemukan seseorang yang tengah dibully oleh The Prince. Kelompok yang suka membully murid yang lemah dan murid yang mereka tak sukai.
“Hentikan!” teriak Jimin mencoba menghentikan pembully’an itu. Ia berlari kearah pembulian dan menarik orang yang dibully kebelakangnya, dari luka goresan yang cukup dalam dipipi anak itu mengalir darah segar.
“Yak! Jimin jangan ikut campur!” bentak ketua The Prince.
“Kau berani mengganggu kesenangan kami?!” bentaknya lagi.
“Lalu kenapa kau pikir aku takut, Yoongi?! Kalian memang senior disini, tapi kelakuan kalian seperti orang yang tak berpendidikan! Dan aku tak pernah takut pada kalian!” jawab Jimin menatang Yoongi dan teman-temannya.
“Jimin, buat apa kau membela gelandang ini! Gelandang yang tak tau asal usulnya! Dia tak pantas disekolah ini!”Ucap Jin.
“Lalu kenapa kau pikir kau pantas disini Seok Jin! Apa karna kau kaya, tapi yang kaya orangtua mu! Kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia” jawab Jimin Pada anggota The Prince bernama Seok Jin.
“Beraninya kau!”Ujar Hoseok dengan nada marah.
“Jangan pernah sentuh aku Hoseok dengan tangan kotor mu itu” bentak Jimin menangkap tangan Hoseok yang ingin memukulnya dan menghempaskan’nya.
“Biar aku ajarkan anak ini sopan santun pada senior!”
“Awas!”
“Akhhh..!” teriak anak itu yang terluka terkena pisau pada lengannya saat ingin menolong Jimin.
“Brengsek! Beraninya kau melukainya lagi!” teriak Jimin. Buk! Buk! “Aku akan membuat mu merasakan sakitnya Namjoon!” Jimin memukul anggota The Prince bernama Namjoon bertubi-tubi.
“Hentikan tuan muda, sudah cukup anda memukulnya ” cegah seseorang menghentikan Jimin dan menjauhkan Jimin dari Namjoon. “Kalian pergilah!” lanjutnya menyuruh The Prince pergi.
“Kau tak apa-apa?” tanya Jimin mendekati anak itu yang tergeletak menahan sakit luka di tubuhnya.
“lebih baik kita kerumah sakit, ya” bujuk Jimin.
“Aku tak apa-apa! Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini!” jawab anak itu dan pergi meninggalkan Jimin.
“Baiklah, tapi siapa namamu?” tanya Jimin berteriak pada anak itu.
“Nanti aku akan memberitahukan namaku! Dan kau akan mengingat nama itu selamanya!” jawab anak itu yang juga berteriak dan menghilang dibalik gedung sekolah.
“Baiklah akan aku tunggu waktu itu!”
Flash Back End