ONESHOT Korean

ONESHOT Korean
Under the Same Sky Part 04



Negara Nočné


Esoknya, Taeyong menatap kosong pada siaran berita internasional di hadapannya. Putri presiden negara tetangga, Sun Hyunrae, menikah dengan seorang anak pejabat yang sebanding dan serasi dengannya. Hati Taeyong hancur melihat wajah Hyunrae di televisi. Tawa Hyunrae begitu palsu dan tidak bahagia di mata Taeyong. Hanya Taeyong yang bisa membuat Hyunrae bahagia. Begitu pula sebaliknya.


“Aku sudah pernah melihat matahari. Kau akan selalu menjadi matahari yang bercahaya dalam hidupku, Sun Hyunrae. Aku selalu mencintaimu.”


Gelang di tangan Taeyong adalah satu-satunya kenangan yang tersisa tentang Hyunrae sampai akhir hayatnya. Ia berharap, sampai akhir hayatnya, ia tidak akan melupakan Hyunrae, mataharinya.


......


.......


Korea Selatan


Matahari hampir terbenam di kala senja adalah pemandangan favorit Jaehyun. Laki-laki itu akan menghabiskan waktu detik-detik itu di balkon kamarnya, memandang langit dan matahari yang perlahan-lahan turun menuju garis batas cakrawala.


“Paman, kenapa Paman sangat suka melihat matahari terbenam?”


Jaehyun menoleh, menyadari seorang anak perempuan berdiri heran di sampingnya. Dengan ringan, Jaehyun mengangkat tubuh keponakannya itu dan menggendongnya di bahu.


“Kau ingin dengar cerita, Yoo?” Jaehyun bertanya.


“Ya, Paman.”


“Begini, Yoo. Dahulu, ada dua negara yang tidak akur, yakni Negara Svetlý dan Negara Nočné. Negara Svetlý adalah negara siang, dan Negara Nočné adalah negara malam. Pangeran Lee Taeyong dari keluarga Raja Nočné jatuh cinta kepada putri Presiden Negara Svetlý yang bernama Sun Hyunrae. Namun, cinta mereka terhalang oleh keadaan.”


“Benar, Yoo. Jika siang dan malam menjadi satu, dunia akan kiamat. Mereka ada di langit yang sama, tetapi tidak bisa bersama,” jawab Jaehyun kemudian. “Tetapi, Yoo, siang dan malam bisa menjadi satu di satu waktu tiap harinya.


“Sungguh?” Yoo bertanya penasaran. “Bagaimana mungkin, Paman?”


Jaehyun menatap matahari yang masih bergerak menuju garis batas cakrawala. Detik-detik itu begitu mengagumkan bagi seorang Jaehyun. Warna jingga dan biru tua menyatu jadi satu, seperti bahagia dan kesedihan yang berbaur di langit.


“Senja, Yoo. Senja adalah ketika matahari dan bulan ada di langit yang sama. Senja adalah ketika siang dan malam menjadi satu, sebuah keajaiban yang tidak bisa dihindari tiap harinya. Hanya ada beberapa menit bagi mereka untuk bersama.”


Malam datang tak lama kemudian, menggantikan siang yang sudah usai. Jaehyun menemani Yoo ke arah kamar, membiarkan anak itu tiduran di kasur sambil memejamkan mata. Sebentar lagi, saat Yoo tertidur, tugas Jaehyun sudah selesai. Ia keluar perlahan dari kamar Yoo setelah Yoo lelap. Ketika melewati ruang tamu, mata Jaehyun menatap pajangan foto di tembok.


“Selamat malam untuk kalian,” kata Jaehyun pelan.


Ada seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengan Yoo di foto itu, tengah merangkul seorang perempuan dengan begitu mesra. Mereka tertawa bahagia, memandang kamera dengan wajah ceria.


“Taeyong Hyung,” kata Jaehyun pelan pada foto tersebut. “Kadang aku masih suka bertanya-tanya, bagaimana bisa Hyung jatuh cinta pada Hyunrae Nuna. Jelas-jelas, Hyunrae Nuna adalah anak angkat paman kita,” ujar Jaehyun lagi. “Seandainya waktu itu kalian tidak kabur dari rumah Kakek, mungkin kalian masih ada di sini sekarang bersama aku dan Yoo.”


Jaehyun menghela napas lemah. Matanya berkaca-kaca menatap satu demi satu foto yang ada di dinding ruang tamu. Hanya ada foto dirinya bersama Yoo, mulai dari Yoo kecil hingga saat ini.


“Kalau kecelakaan itu tidak terjadi, kita akan hidup berempat di sini, Hyung. Kau, Hyunrae Nuna, aku, dan Yoo, anak kalian,” bisik Jaehyun. “Kenapa kalian sangat menyedihkan? Kalian ada di bawah langit yang sama, tetapi tidak bisa bersama.”


-End-