
“kenapa kamu tidak datang waktu itu?” melepas pelukan.
“maaf, waktu itu aku…!!!”
“Seharusnya aku yang minta maaf, aku nggak tahu kalau kamu ada rasa sama Jong Dae.”
“Sudah lupakan, ada apa kamu memintaku kesini?”
“Apa kamu mengenal Lee Joon Ki?”
“Iya, aku kenal. Dan sepertinya aku sama dia sudah ngerasa cocok meskipun usia kita sangat beda jauh.”
“Karena itu lah aku mengundangmu kesini.”
“Ada apa, Ae Ri?”
“Dia anakku Ga Eun? Dia memberikan ini pada kami, dan ternyata disitu tercantum nomor teleponmu. Maka dari itu aku bisa menghubungimu.” Jelasnya seraya menyodorkan sebuah buku foto yang diberikan Joon Ki kepadanya.
“apa? Tidak mungkin. Kamu bohong kan?”
“Tidak, Ga Eun. Aku serius. Dia anakku!!!”
Tanpa menjawab Song Ga Eun menghilang dari pandangan Kim Ae Ri yang terduduk menangis. Ae Ri berfikir apakah ini balasan atas pengkhianatan terhadap sahabatnya Ga Eun semasa dulu diturunkan kepada anaknya, Lee Joon Ki.
Di kampus
Tae Sang yang sedang duduk di sebelah Joon Ki, sempat bingung dengan tingkah sahabatnya itu yang semakin hari semakin aneh. Diam dan terus berdiam diri tanpa menghiraukan kehadiran Tae Sang di sampingnya.
“Sudahlah, masih banyak wanita cantik dari dia.”
“Memang, tapi bagaimana kalau yang aku cinta cuma dan hanya dia?”
Tiba-tiba, Shikhyung muncul di hadapan mereka. Melihat keheningan itu, Shikhyung tertarik mendekati mereka berdua.
“Boleh aku gabung?”
“Nggak masalah!!”
“Kamu kenapa Joon? Kok mukamu kusut gitu.”
“Aku tak apa.”
“Bohong tuh, dia ada masalah sama gebetan barunya. Usianya beda jauh.”
“Diem ahh!!”
“Ooo ya, siapa dia?” berharap Joon Ki menyebutkan namanya,.
“Song Ga Eun, dosen musik disini.”
“Apa? dia kan, kakakku!!”
Shikhyung pun langsung mengambil langkah menjauhi tempat mereka berdua duduk.
Dengan membawa sekeranjang kehancuran karena ia telah jatuh cinta kepada Joon Ki, yang ternyata malah menyukai kakak yang usianya berbeda jauh darinya saat ini.
“Ini tidak mungkin!! aku salah telah mencintainya.” Cetusnya sambil menangis di taman belakang kampus.
Rumah Joon Ki
Joon Ki sedang duduk bersama dengan ayahnya untuk membicarakan masalah asmaranya yang begitu rumit.
“Hentikan permainanmu ini, Nak? Kalian nggak akan mungkin bisa bersatu.”
“Aku mencintainya, pa!!!”
“Tidak, Joon Ki.”
Joon Ki pun meninggalkan papanya sendiri di ruang keluarga. Ia bermaksud menemui Song Ga Eun di kelas kosong ruang piano itu. Sekuat tenaga ia berlari membawa sebuah buku note yang diberikan oleh Ga Eun waktu itu.
Kali ini dia benar-benar menemukan Ga Eun sedang bermain piano dengan indah. Dia menghampiri Ga Eun di ruangan itu sambil bertepuk tangan dan menangis kecil.
Ga Eun hanya tersenyum menghentikan permainan pianonya dan memandang ke arah Joon Ki dan ikut menangis.
“Persis seperti pertama kali kita bertemu.” Duduk di sebelah Ga Eun. Dia pun hanya menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita main bersama.”
“Iya.”
Mereka berdua pun mulai memainkan pianonya, dengan sangat cepat berpacu dengan indahnya irama yang konstan menjadikan suasana saat itu benar-benar romantis. Song Ga Eun pun tiba-tiba menghentikan permainannya.
“Shikhyung sangat mencintai kamu!!” katanya sambil menoleh ke arah Joon Ki.
“Tapi aku mencintai kamu!!”
“Perasaan ku sama seperti kamu, tapi ketahuilah kita sangat berbeda.”
“Aku tidak perduli, cinta tak memandang usia kan?” memegang pundak Ga Eun.
“Maaf, aku tidak bisa. Ini permainan kita yang terakhir.” berdiri untuk meninggalkan Joon Ki.
“Tidak, kamu tidak boleh pergi!!!” memegang tangan Ga Eun.
“Karena ini semua jauh akan lebih baik.” tangisnya melepaskan genggaman Joon Ki dan melangkah pergi menjauhinya
“Ga Eun.. jangan pergi!!! Teriaknya.
Song Ga Eun tetap tidak menghiraukannya meskipun mendengar panggilan Joon Ki, dia berjalan sambil menangis kecil. Ga Eun telah menghilang dari balik pintu, tinggalah Joon Ki dan piano tua serta lembaran buku note di atasnya
Tanpa ia sadari, ternyata kelas dan seisinya ini masih tetap menjadi saksi akan pertemuan dan perpisahannya dengan Ga Eun. Dengan berlinangan air mata ia pun memainkan kembali piano di hadapannya. Song Ga Eun akan tetap dikenang sebagai matahari yang selalu menerangi hati Joon Ki, meskipun perbedaan usia yang membuat mereka tak bisa bersatu.
End