ONESHOT Korean

ONESHOT Korean
Malam Ini




Malam ini sungguh terasa berbeda dengan malam lainnya. Angin terus mondar mandir, tak pamit tak tahu malu. Kedinginan menenemani tubuhku malam ini layaknya es, tubuh ini seraya membisu. Membeku dan tak berkembang seperti halnya luka di hati yang sekarang merekah ini. Kesunyian malam ini seperti hujan yang tak berawan di tengah malam, aku sendirian dan tak bisa merasa kesepian lagi. Kehampaan ini telah berteman akrab denganku. Seakan mati, tubuh ini merasakan jiwa kosong yang tak bertuan sedang berpesta di sini.


Orang-orang sering berkata bahwa hati yang tersakiti mungkin menyebabkan berbagai tingkah unrealistik keluar. Luka di hati bisa membangunkan singa yang tidur menjadi pemangsa manusia. Pembuluh darah yang normal dapat pecah merusak seluruh tubuh dan air laut yang tenang dapat jadi tsunami yang meluluh lantakkan sebuah kota.


Aku keluar membuka pintu rumahku yang ternyata tak melihat apa-apa, gelap gulita di sana. Hanya suara angin yang kudengar, bahkan untuk beberapa detik aku tak tahan berada di luar dan aku pun langsung masuk membanting pintu rumahku. Aku bercermin di dalam kamarku sambil berkata “Kecantikanku hilang atau memang berubah?” Aku sunyi dan bingung akan diriku saat ini, bimbang dan sembrono adalah tabiatku sekarang.  Musik syahdu dan sendu pun selalu berputar terngiang di kepalaku.


“Lebih baik aku tidur sekarang, mungkin akan jadi lebih baik esok. Aku harap semua akan kembali seperti semula, seperti inginku.” 



Aku pun membanting tubuhku ke atas kasurku yang bergambar bulan bintang. Tubuh ini hanyut terbawa keheningan malam yang dingin. Pikiranku kosong hingga aku ingin ada yang datang ke pikirku, suasana yang tenang sungguh mendukung untuk tidur berkualitasku. Namun mata ini tak bisa diajak bersahabat, aku tak dapat memejamkannya walau untuk beberapa detik. Begitupun aku terus memaksa dan terus mencoba.


……….


“Lebih... lebih… aku pergi... aku akan berubah!”


  Aku mendengar suara teriakan entah darimana, lalu aku menjawab “Siapa.. siapa kamu?”, Ia tak menjawab. Langit tiba-tiba menjadi siang, dan awan tebal menghampiri langit. Aku bingung tak karuan, tangisku tiba-tiba keluar dan terus mengalir deras di pipi, “Dasar air kotor... kenapa kamu keluar... asin..!!!”


“…..(musik bermain)…”



Aku mendengar suara musik sendu yang ternyata berasal dari sebuah gramophone tua yang ada di sudut ruang tengah rumahku. Tunggu, ada yang aneh, aku tidak ingat aku mempunyai sebuah gramophone.


“Hhmm… lagu ini, sungguh menjadi viral di pikiranku.” Aku memicingkan mata dan tersenyum licik kepada suara musik yang kudengarkan. Tetap, hati ini terasa hancur.


       Musik itu terus berputar dan aku tak merasa terganggu, aku malah duduk menyandar ke lutut ku di sudut lain ruangan ini. Berjam-jam aku seperti itu, terkadang suara gemuruh datang, padahal di luar  langit sangat cerah. Namun yang lebih aneh aku tidak merasakan salah atau terganggu dengan hal itu. Aku terus di posisiku dengan pikiran kosong dan terus menangis, kadang bibirku tersenyum dan malah tertawa mengingat kehidupan yang kulalui saat ini.


“Gila…. Sakit kau ya... penyakit!!!.. hikss..hikss…” Aku membentak kekosongan, marah lalu menangis.


“Heh… kau..!!!”


“haha… gila kau..”


“Udaaah… gitu aja!”


       Aku terus mendengar suara lelaki itu, suaranya merdu di telingaku ketika ia mengatakan kata apapun. Aku mendengar suara namun tak dapat melihatnya. Kemudian aku berlari menuju sebuah lorong di dalam rumahku. Aku tak pernah melihat lorong ini, namun aku tetap berlari dan tak kuduga ini panjang sekali. Aku terus berlari dan suara itu tidak hilang di telingaku, hingga akhirnya aku sampai dan kembali lagi ke kamarku.



Ada surat tertempel di cerminku


       “Hai.. sini, dekat denganku. Tatap aku dalam-dalam, kamu merasakan apa itu? Apakah hatimu kacau?... aku di sini untuk mu, sekarang buka laci meja ini.. ambil dan gunakan barang–barang di dalamnya. Aku harap kamu akan senang dan bahagia, jangan terlalu dipikirkan, aku dekat denganmu.. tatap saja cermin di depanmu, teguhkan hati jangan bimbang. Aku ada untukmu, lakukan sesuka hatimu, jangan biarkan siapapun mengatur hidupmu!” Begitulah bunyi surat itu.


“Surat ini… siapa yang buat? Siapa yang naruh di sini?”  Pertanyaan itu terus muncul di benak. Aku langsung mencari laci di meja tersebut dan membukanya..


       Kemudian tanpa ragu, ku gunting rambutku dan terus ku gunting hinga tak berbentuk. Aku mengguntingnya di depan cermin sambil tertawa dan menangis. Potongan rambutku berjatuhan membasuh tubuh indahku yang saat ini tak berbalut busana. Rambutku terus kupotong hingga sesuai dengan gaya yang kusuka, yaitu hampir botak walaupun masih ada sunggut-sunggut yang tersisa.


“Haha… rambut bodoh, aku tak membutuhkanmu. Pergilah!”


       Kemudian aku membuka laci satunya dan aku menemukan buku dan pulpen, ya… buku itu adalah binderku yang sering kubawa kemanapun.


“Ahaa… aku tau apa yang harus aku lakukan binder." Sambil menghantukkan kepalaku ke meja, aku membuka tutup pulpenku dan langsung membuka lembaran bukuku. Dengan sigap aku langsung mengoyak, merusak, dan melubangi semua lembar yang ada di binderku,. Semua catatan, kisahku, pegalamanku, semua kurusak dan tak peduli akan apapun. Aku tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk.


        Lalu, setelah selesai aku pun membuang binderku keluar jendela, dan aku pun membuka laci berikutnya yang ternyata berisikan air mineral. Tanpa basa-basi, aku langsung membuka tutup botol tersebut dan langsung memandikan tubuh ini dengan air di dalamnya yang ternyata tak ada habisnya.


“Mampus… aku akan membanjiri rumah ini, tubuhku akan tenggelam didalamnya, air ini sungguh segar." Aku pun terus membuang air tersebut ke tubuhku dan sesekali meminumnya. Akhirnya air ini habis juga. Itu malah membuat aku berteriak tak karuan.


“Aaaaa…. habis. Gila, air gila… lalu aku bermandikan apa?”


“Ggrkk….grrrkkkk…!!!”. Aku langsung membuka laci terakhir di meja tersebut, yang ternyata berisikan obeng yang cukup panjang. Aku pun berpikir untuk apa obeng ini, aku tak dapat ide apapun dari obeng tersebut.


“Oh ya… obeng ini akan menusuk jantungku dan perlahan darah akan membanjiri tubuh kotorku, maka mungkin Tuhan akan mengasihaniku. Aku berterimakasih kepada diriku sendiri yang telah membantuku melakukan semua kegiatanku hari ini." Mulut ini terus mengoceh dan mengarahkan obeng tepat ke arah jantungku yang sedang berdetak sangat luar biasa dan yang terjadi…


“Hei… tunggu… sebodoh itu kah?” Datang seseorang dari arah belakangku, seketika aku melihatnya dari pintu dan…


       Aku menangis sampai menggila ketika melihat siapa yang datang, aku terus menangis dan menjatuhkan seluruh barang-barang di mejaku sambil membanting meja tersebut.


“Luar… luar biasa kamu datang meredam keributan ini! cinta… aku bodoh cinta padamu, aku cinta kamu..!!! bawa aku pergi!”


“Jangan kau cintai aku, aku bukan!!!”


“Kau tak punya rasa padaku, aku tau hal itu... Peluklah aku sekali saja.” Aku menangis tersedu sambil membuang harga diriku.



       Ia pun datang menghampiri dan memelukku, aku pun terus mendekapnya erat seakan menjadi pelukan pertama dan terakhir. Aku pikir semua sudah selesai sekarang, namun di akhir aku melihat ia tersenyum puas seakan tengah mengolokku.


Dan..


“Ehhmm.. akhhh.. !!!” Air mataku berjatuhan namun aku langsung megusapnya, aku terkejut kenapa aku menangis…


       Dan akhirnya aku tersadar pagi telah datang dan aku terbangun dari tidurku, yang berarti usaha tidurku tadi malam berjalan baik. Aku langsung mengusap mataku yang terus berlinangkan air mataku. Kulihat jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku pun bergegas mandi dan melanjutkan hidup. Aku tak ingat apa yang aku mimpikkan malam itu hingga 2 minggu setelah tidur itu.


       Saat itu ketika aku bertemu dengannya dan aku berhasil memberikan senyumku padanya sehingga ia membalas senyumku. Walaupun rasa yang ada padaku begitu besar padanya namun ia tak merasakan yang sama, seketika aku mengingat mimpi tersebut entah darimana asalnya. Aku rasa semua omong kosong itu hanyalah fase kehidupan yang memang harus aku lalui.


       Ternyata pemikiran orang-orang bahwa orang yang sedang sakit hatinya akan berubah menjadi bringas atau semacamnya tidak sepenuhnya benar. Aku sadar bahwa kesakitan ini tidak sepenuhnya kesalahan dia, akulah orang yang paling bersalah di sini. Akulah yang terlalu memaksakan dan mengharapkan dirinya yang ternyata tak bersamaku.


      Hingga sekarang kami tak pernah bersatu dan rasa ini tidak seperti dahulu lagi, aku tak sebodoh dahulu dan terus berjuang menyelamatkan hidupku dari percintaan semua ini. Aku akan berubah dan terus melangkah ke depan dan menjadi api yang dieluh-eluhkan.