
Malam dikuasai kegelapan, siang dikuasai cahaya.
Jika ada yang melanggar kodrat itu, dunia akan kiamat.
Negara Nočné
Lee Taeyong menguap keras-keras, membuat guru yang ada di depan kelas itu berhenti menulis di papan dan berbalik melihat Taeyong. Bukan hanya sang guru yang dibuat terkejut dengan tingkah lakunya, seisi kelas pun menatap Taeyong dengan wajah tak nyaman.
“Kapan kelas akan berakhir, Bu?” Taeyong bertanya.
“Segera, Yang Mulia. Setelah materi ini selesai, kelas akan berakhir.”
Guru wanita itu menjelaskan tentang struktur pemerintahan Negara Nočné, sebuah materi yang membosankan bagi Taeyong karena ia sudah mendengar cerita yang sama berulang-ulang sejak kecil. Pangeran Taeyong adalah anak tunggal dari Raja dan Ratu Negara Nočné, sebuah negara tanpa cahaya matahari yang langitnya selalu gelap gulita dan selamanya malam.
“Negara kita bertetangga dengan Negara Svetlý,” kata guru itu sambil menunjuk sebuah poster peta di papan tulis. “Negara Svetlý adalah negara yang tidak pernah mengalami malam. Matahari bersinar sepanjang hari dan tidak pernah terbenam.”
“Bagaimana mungkin Ibu mengetahui sesuatu tentang Negara Svetlý sementara Ibu tidak pernah mengunjunginya?” Taeyong tiba-tiba bertanya. “Selama ratusan tahun, Negara Nočné dan Negara Svetlý tidak mempunyai hubungan baik. Tidak pernah ada orang dari negara ini yang berkunjung ke sana. Begitu pula sebaliknya.”
“Begini, Yang Mulia,” kata guru itu tenang. “Apa yang saya sampaikan di kelas saat ini adalah pengetahuan yang berdasarkan pada sejarah yang telah diajarkan sejak dulu.”
“Kenapa negara kita dan mereka tidak pernah menjalin hubungan yang baik?” Taeyong bertanya lagi.
“Bukannya negara ini dan Negara Svetlý tidak bisa menjalin hubungan yang baik, Yang Mulia,” jawab guru itu lagi. “Tetapi, gelap ada di seluruh langit negara ini selamanya. Ini sudah takdir, dari dahulu seperti itu. Bagi Negara Svetlý, ini tentu adalah ancaman. Mereka tidak bisa memantau apa yang terjadi di negara ini dan bagaimana kita berkembang.”
“Apakah itu berarti Negara Svetlý menganggap kita sebagai ancaman?” Taeyong bertanya kritis. “Kita seharusnya menjelaskan pada mereka bahwa Negara Nočné bukanlah ancaman hanya karena mereka tidak bisa melihat cahaya dari negara ini.”
“Seharusnya, sebagai anggota keluarga kerajaan, Yang Mulia bisa menjawab pertanyaan itu sendiri,” kata gurunya sambil tersenyum.
........
......
Ada sebuah pagar border yang membatasi Negara Nočné dengan negara-negara tetangganya. Taeyong ada di antara orang-orang yang ingin melintasi border, bertujuan pergi ke negara lain entah untuk bekerja, sekolah, berlibur, atau memuaskan rasa penasaran. Khusus tujuan yang terakhir, sepertinya hanya Taeyong yang ada di sana untuk itu.
“Selamat malam,” sapa seorang petugas penjaga border dengan satu-satunya sapaan yang ada di negara itu. “Passport Anda?”
“Ah ya,” kata Taeyong sambil mengambil ransel dari punggungnya. “Tunggu sebentar,” katanya lagi sembari memasukkan tangan ke ranselnya, mencari-cari passport miliknya.
Ucapan petugas penjaga border membuat Taeyong terdiam. Ia baru sadar, selama hidupnya, belum pernah sekali pun Taeyong menginjakkan kaki keluar dari Negara Nočné. Ia adalah seorang pewaris tahta, yang keluar rumah pun hanya sebulan sekali. Jika keluar rumah, semua pengawal mengikutnya.
“Belum pernah,” jawab Taeyong jujur sambil menyerahkan passport bersampul hitam miliknya.
“Sayang sekali, Tuan Han Jaehyun,” kata petugas itu sambil membaca data diri Taeyong. “Usia Anda saat ini sudah dua puluh tahun. Sebaiknya Anda lebih banyak berlibur.”
Jantung Taeyong berdegup kencang, takut kalau jati dirinya terungkap. Ia memakai nama palsu, passport palsu, dan data palsu demi keluar dari negaranya sendiri. Untung saja, Taeyong jarang terekspos media. Tidak banyak yang mengenali wajahnya sebagai pewaris tahta.
“Saran yang bagus,” kata Taeyong cepat-cepat. “Karena itulah aku ingin melihat Negara Śnieg.”
“Pilihan yang tepat untuk berlibur,” ujar petugas border itu masih sambil memeriksa data-data Taeyong di komputer. “Salju di sana sangat indah. Anda akan merasa senang di sana.”
Petugas itu menemukan data Han Jaehyun di database negara. Ia memberikan cap di passport yang Taeyong bawa dan mengembalikan passport itu pada Taeyong.
“Thank You" ujar Taeyong lega.
“Your Welcome. Selamat berlibur, Tuan Han Jaehyun.”
Taeyong pun berjalan, melewati border dan keluar dari zona negaranya. Dengan cepat, ia memasukkan passport Han Jaehyun ke tasnya dan mengeluarkan passport lain dari saku celananya. Sampul passport tersebut berwarna putih, dengan tulisan khas Negara Śnieg. Sambil menahan rasa takutnya, ia berjalan di sepanjang jalan setapak menuju Negara Svetlý. Sedikit demi sedikit, warna langit di atas Taeyong berubah.
“Antrian ke Negara Svetlý?! Silahkan buat barisan di sini!”
Seruan itu menyadarkan Taeyong bahwa ia semakin dekat dengan negara tetangga. Ia melihat antrian panjang di depan sebuah border warna jingga. Taeyong mengantri di belakang rombongan turis dari negara lain yang ia tak ketahui asalnya. Sambil memegang passport palsunya, Taeyong menunggu antrian.
“Berikutnya!”
Taeyong maju, memperlihatkan passport di tangannya pada petugas berpakaian merah itu. Ia menatap data-data Taeyong dan foto Taeyong, serta membandingkan foto itu dengan wajah Taeyong. Sambil mengerutkan dahinya, petugas itu mengambil cap dan memberikan izin masuk untuk Taeyong.
“Thank You"Ucap Taeyong.
Taeyong pun melangkah terus menuju pintu keluar itu. Ketika ia mencapai pintu, sinar matahari membuatnya terkejut dan mundur jauh-jauh. Pertama kalinya dalam hidup, Taeyong merasakan sinar matahari di sekujur tubuhnya.
.......
.......