
Hyunrae mengajak Taeyong melihat salah satu pantai terindah di negara itu. Sinar matahari menyinari lautan dan pasir, menghangatkan semua orang yang menghabiskan waktu di sana. Ada beberapa turis tengah berjemur, anak-anak bermain pasir dan membuat istana pasir, serta beberapa orang menikmati minuman dingin atau es krim.
“Ini… indah sekali…,” bisik Taeyong tanpa sadar.
Taeyong berdiri di tepi pantai. Ia melepas sepatunya, hendak merasakan ombak secara langsung di kakinya. Dingin langsung membuat Taeyong menggigil kecil. Tawanya lepas ketika ombak itu berlari mengejar dirinya.
“Kau senang?” Hyunrae bertanya.
“Sangat,” balas Taeyong diiringi senyuman dengan sambil Ngefoto.
“Aku sangat… bahagia, Hyunrae.”
Hyunrae, tanpa sadar, tersenyum kecil ketika melihat tawa bahagia Taeyong. Ia tidak menolak ketika Taeyong menarik tangannya, mengajaknya berlari menghindari ombak. Sesekali, mereka tertawa lepas, berteriak ketika ombak membasahi kaki mereka. Setelah lelah, keduanya hanya bisa duduk di tepi pantai yang kering dan menatap lautan.
“Ini… hari terindah dalam hidupku,” kata Hyunrae tiba-tiba.
Taeyong, yang duduk di sampingnya, menoleh dan menatap Hyunrae heran. Cahaya matahari yang berwarna emas menyorot wajah cantik Hyunrae, membuatnya berkilauan.
“Kenapa?”
“Karena aku bertemu denganmu.”
Hyunrae menyandarkan kepalanya ke bahu Taeyong. Angin meniup rambut panjang Hyunrae, membuat helaiannya berkibar. Mereka memejamkan mata, menikmati hembusan angin untuk beberapa menit. Tak lama kemudian, Hyunrae memegang tangan Taeyong dengan lembut.
“Aku punya hadiah untukmu,” kata Hyunrae.
Ia mengeluarkan gelang kain berwarna merah yang dibelinya di Pasar Rakyat Svetlý tadi. Dipakaikannya gelang itu di tangan Taeyong. Hyunrae tersenyum puas sesudahnya dan menjulurkan tangannya sendiri yang memakai gelang serupa. Bedanya, gelang Hyunrae berwarna biru.
“Couple,” bisik Taeyong senang.
“Kita,” jawab Hyunrae setuju.
Sayangnya, senyum di wajah Hyunrae tidak bertahan lama. Ia menatap sesosok laki-laki di belakang Taeyong, tengah berlari ke arah mereka dengan wajah serius. Hyunrae mengenali sosok itu dan buru-buru berdiri. Tak lupa, ia menarik Taeyong agar ikut berdiri juga.
“Kita pergi dari sini, Taeyong,” kata Hyunrae cepat. “Ayo, kita harus pergi.”
Taeyong menatap Hyunrae bingung. Wajah Hyunrae begitu panik dan ketakutan. Mereka berlari, menjauh dari pantai dan hendak keluar dari sana. Tapi, belum sempat melakukan apa-apa, mereka dihadang oleh beberapa orang dengan pakaian seragam.
“Nona Muda, apa yang Anda lakukan di sini?! Besok adalah hari pernikahan Anda, Nona Muda. Seharusnya Anda di Istana Presiden saat ini,” ujar salah satu orang yang menghadang mereka.
“Istana Presiden?” Taeyong berbisik tak percaya.
“Anda harus kembali, Nona Muda. Tuan Presiden mencari Anda,” ujar Raymond lagi.
“Sun Hyunrae adalah putri presiden yang akan menikah itu?” Taeyong berbisik.
“Tangkap orang yang bersama Nona Muda,” kata Raymond tiba-tiba, memberi perintah pada anak buahnya untuk menangkap Taeyong.
“Tidak! Apa-apaan ini?! Lepaskan temanku!” Hyunrae berseru.
“Teman Anda ini penyusup dari Negara Nočné. Dia menggunakan identitas palsu untuk masuk ke sini, Nona Muda. Kami harus membawanya pada Tuan Presiden untuk diadili.”
“Lepaskan temanku, Raymond.”
Raymond tidak menghiraukan ucapan Hyunrae. Ia dan anak buahnya segera menahan Taeyong tanpa basa-basi. Tiba-tiba, Taeyong terbatuk beberapa kali dan nyaris terjatuh ke pasir. Anak buah Raymond menahan tubuh Taeyong, memaksanya berdiri.
“Lepaskan dia, Raymond,” ujar sebuah suara tiba-tiba.
Semua orang menoleh pada suara itu. Dari arah lain, seorang pria paruh baya muncul bersama pengawal-pengawalnya. Langsung saja, Raymond dan para anak buahnya menunduk hormat.
“Tuan Presiden, apa yang Anda lakukan di sini?” Raymond bertanya sambil menunduk.
Saat itu pula, Taeyong jatuh berlutut di pasir sembari memegangi dadanya. Tubuh Taeyong melemah seiring dengan sinar matahari yang semakin menyilaukan. Seseorang yang lahir di Negara Nočné mempunyai stuktur tubuh yang berbeda karena tidak pernah merasakan sinar matahari sejak lahir. Jika saja Taeyong mengetahui hal itu sebelumnya, ia tidak akan melakukan perjalanan ini. Tidak mungkin seorang pewaris tahta seperti dirinya mati di negara orang dengan cara tak terhormat.
“Ayah?” Hyunrae berbisik pelan. “Ayah! Tolonglah,” desah Hyunrae pelan. “Biarkan Taeyong kembali ke negaranya. Aku berjanji, aku menikah dengan laki-laki yang Ayah pilihkan besok. Aku janji, Ayah. Tapi selamatkan Taeyong. Dia sekarat. Dia tidak boleh ada di sini.”
Tuan Presiden menatap Taeyong yang masih terbatuk-batuk. Ia menghela napas pelan dan meminta Raymond membantu Taeyong untuk berdiri lagi.
“Anak itu adalah pewaris tahta Negara Nočné. Jika terjadi sesuatu padanya, perang tidak dapat dihindari lagi. Kita pulangkan dia segera,” ujar Tuan Presiden. “Dan Sun Hyunrae, kau akan menerima hukuman setelah ini. Kau tidak boleh keluar rumah sampai acara pernikahanmu besok.”
Taeyong menatap Hyunrae tidak percaya. Demi seseorang yang baru Hyunrae temui hari itu, ia sudah bisa mengorbankan kebebasannya sendiri. Ketika matanya dan mata Hyunrae bertemu, Taeyong merasakan perih yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
“Maafkan aku,” ujar Hyunrae pelan.
Dalam hitungan detik, Hyunrae berlari dan memeluk Taeyong sembari menangis. Ia menatap Taeyong selama yang ia bisa, mencoba mengingat wajah Taeyong supaya ia tak melupakan Taeyong sampai akhir hidupnya. Ini pertemuan yang singkat, dan Hyunrae takut ia akan melupakan Taeyong suatu hari nanti.
“Thank You, Hyunrae,” bisik Taeyong sepelan mungkin.
“Your Welcome Taeyong"Ucap Hyunrae.