ONESHOT Korean

ONESHOT Korean
Mystery School (Part 2)



Dan akhirnya aku menemukan buku yang kucari. Prendegharst’s Year book. Buku itu sangat usang dan sudah dihinggapi debu debu kecil. Aku mulai membukanya. Mencari nama ‘Park Jimin’. Setelah ketemu, aku membaca data tentang dirinya.


‘Park Jimin adalah anak seorang bangsawan yang bersekolah di Marie Academy atau sekarang lebih dikenal dengan Prendegharst High School. Kemampuannya dalam bidang Ilmu Alam sudah tidak bisa diragukan lagi. dia sering meraih medali prestasi yang membuat nama Prendegharst High School terkenal di mata Dunia.


Tapi kebahagiaan itu berlangsung hanya sementara. Sesuatu menimpa Jimin…’


Aku membalik halaman berikutnya tidak ada lanjutan informasi tentang Jimin lagi. satu halaman penting itu telah di robek oleh seseorang. Bekas robekannya masih terlihat. Ada sesuatu yang aneh terjadi pada Jimin, aku yakin itu.


Aku melirik ke arah jam dinding. Pukul 18;30. Aku bergegas kembali. Karena akan mengerjakan tugas bersama Jungkook. koridor sekolah begitu sepi. Sejauh ini aku tidak melihat siswa yang melewati koridor sepertiku. Aku sendiri, berjalan ditengah sinar lampu yang temaram.


Whusss..


Angin dingin tiba tiba sajua membelai kulitku. Rambutku melayang dibuatnya. Jantungku tiba tiba berdegup kencang. Aku berhenti berjalan. Dapat kurasakan sesuatu sedang berdiri di belakangku dan menatapku dengan intens. Aku mulai ketakutan. Apakah jangan jangan yang di belakangku adalah perempuan itu? atau mungkin Jimin, ia ingin meminta bantuanku?. Bulu kudukku mulai meremang. Menggigil ketakutan.


Sebuah suara kecil tertangkap oleh indra pendengaranku. Tanpa sedikit menoleh, aku berlari secepat yang kubisa. Meninggalkan sesuatu yang tepat berada di belakangku. Aku yakin sekali dengan suara tadi. kepalaku terasa sakit dan pusing secara tiba tiba.


“Selanjutnya KALIAN!.”


Satu kata; SURAT.


Hah? Aku mendapatkan surat berpita merah jambu. Surat itu tiba tiba tergeletak diatas kasurku. Aku membuka surat itu. surat dari siapa, ya?. apakah itu dari ibuku? Tapi aku baru dua hari berada di sekolah. Atau mungkin ibu sudah rindu dengan anaknya yang cantik ini? Aku selalu penasaran lalu membuka surat itu.


“Apa?!.”


Surat itu bukanlah dari ibu. Tapi dari pengirim misterius. Namanya tidak tercantum dalam surat itu. Surat itu bertuliskan;


‘Sikapmu yang seperti itu akan membuat diriku CELAKA!.’


Aku mulai merasa muak dengan semua ini. Awalnya aku berpikir hari pertama di sekolah baru ini akan menyenangkan. Tapi, aku malah dihadapkan dengan keanehan ini.


Ting… Tong.. Ting.. Tong.


Jam sekolah berbunyi. Bunyinya menggema ke seluruh penjuru asrama. Sudah menunjukkan pukul dua belas tepat.


Aku menggulung surat itu dan membuangnya ke tempat sampah lalu pergi menuju ke kelasku berikutnya.


Kelas berikutnya yaitu bahasa Perancis. Sepanjang Guru Lee mengajar, aku terus tidak fokus dengan apa yang ia bicarakan. Pasalnya, sebelum pergi menuju kelas bahasa Perancis, aku menemukan sebuah ruangan yang sepertinya kamar siswa. Ruangan itu tidak pernah terbuka semenjak aku pertama kali masuk ke sekolah ini. Setelah kelas usai, aku mendekati kamar itu, memutar kenopnya. Terkunci.


Aku yakin ruangan ini sangat rahasia. Sehingga tidak ada seorangpun yang boleh melihat isi di dalam kamar itu. pintu ruangan itu sangat berdebu dan mulai rusak. Kenopnya pun sudah berkarat. Tampaknya ruangan ini tidak pernah disentuh dalam jangka waktu yang sangat lama. Aku membungkuk dan mencoba melihat isi ruangan itu dari lubang kunci.


Dari sini aku bisa melihat sebuah lemari pakaian yang sudah ditumbuhi oleh sarang laba laba. Aku bisa melihat sebuah kasur walau hanya tampak sedikit. Kamar siapa itu?


Kreeek!


Aku terkejut. Pintu tiba tiba terbuka. Bukan pintu ruangan itu melainkan pintu kamar Jungkook. aku beralih ke kemar Jungkook. ketika melihat ke dalam kamar Jungkook, aku melihat seseorang berdiri tepat di bingkai jendela. Aku sangat kaget dan cemas. Orang itu adalah Jungkook!.


Aku berlari, sambil berteriak. “Jungkook! apa yang kamu lakukan?.” Aku memegang Jungkook. menatap wajahnya. Pandangannya kosong tanpa arti. Bola matanya terus melihat ke arah bawah. Aku mencoba memastikan.


Tidak ada siapa siapa di bawah sana. Lalu, apa yang terjadi dengan Jungkook?.


“Jungkook! Jungkook? kamu tidak apa apa kan?.” Ujarku menggoyang goyangkan tubuh Jungkook. awalnya tidak ada reaksi dengan panggilanku. Jungkook tetap bertingkah seperti itu. dan ketika aku ingin menepuk pundaknya…


“TOLONG! Tolong aku!.” Katanya ketakutan. Wajahnya sangat pucat. Kini pandangan Jungkook tidak kosong lagi seperti tadi. tapi, dia merasa sangat ketakutan.


“Tenanglah, Junggkook. Aku disini bersamamu.”


“Taehyung, Bantu aku. Aku tidak ingin dia membunuhku. Dia sungguh menakutkan.” Katanya dengan napas tersengal sengal.


“Minum dulu! Setelah itu baru kamu jelaskan.” Aku berlari menuju dispenser dan mengambil segelas air dan memberikannya pada Jungkook. dia meneguknya dengan cepat.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?.”


Dia menenangkan diri. “Perempuan itu adalah dalang semuanya.” Ujar Jungkook. tapi, aku tidak berbicara. Karena aku tahu perkataan Jungkook belum selesai.


“Tadi, ketika aku ingin mengambil buku, aku melihat pintu kamar di sebelah kamarku terbuka dengan sendirinya. Lalu, dari sana seorang perempuan yang berambut kusut mengerikan itu muncul. Kepalanya tertunduk ketika aku melihat wajahnya. Dia menyebutkan sebuah kalimat ‘Kalian berdua akan mendapat akibatnya.’ Aku sangat takut. Apalagi yang ‘berdua’ itu adalah aku dan kamu, Taehyung.”


Aku terdiam mendengar penuturan Jungkook. apalagi pada bagian terakhirnya. Kalian berdua akan mendapat akibatnya. aku yakin itu semua ada hubungannya dengan surat yang aku dapatkan di kamar serta tulisan tentang Park Jimin. Dan juga tentang perempuan itu. perempuan yang disebutkan Jungkook sama dengan perempuan yang menampakkan dirinya padaku. Aku mulai bingung.


“Taehyung, aku takut disini. Aku tidak ingin tidur di kamar ini. Aku tidak ingin makhluk itu mengangguku lagi.” kata Jungkook dengan tampang cemas dan takut.


“Baiklah, kalau begitu kamu akan tidur di kamarku.” Aku membantu Jungkook membereskan barang barangnya. Aku kasihan melihat Jungkook. aku harus mengungkap rahasia ini dan menyelesaikan semuanya.


Malam ini, aku berada sendirian di kamar. Jungkook sedang keluar, karena ada urusan yang belum terselesaikan dengan Guru Lee. Malam ini sungguh membosankan. Di langit tidak ada bintang dan bulan yang menghiasi. Nampaknya tertutup oleh malam yang gelap gulita.


“Lebih baik keluar saja. Aku ingin cari angin.” Aku membatin. Segera berdiri dan mengambil mantel tebalku. Diluar sangat dingin. Karena itu aku memakainya. Pemandangan di luar kamar sungguh gelap sekali. Aku mengambil senter. Setelah menghidupkannya aku mulai berjalan.


Semua siswa sudah berada di dalam kamarnya masing masing. Hanya aku yang memberanikan diri untuk keluar kamar saat malam begini. Aku teringat dengan Jungkook. sudah dua jam lebih dia pergi meninggalkanku di kamar. Kemana dia? Aku berjalan menuju kamarnya yang lama. Terkunci. Berarti Jungkook tidak ada di kamarnya yang lama.


Kamar rahasia itu!


Aku berjalan perlahan pergi ke kamar rahasia itu. dengan ragu, aku memegang kenopnya dan memutarnya.


KREEEK…


Pintunya terbuka. Aku mematung. Meyakinkan diri untuk masuk ke dalam ruangan ini.


Ayo, Taehyung! Masuklah. Siapa tahu semua rahasia berada di kamar ini. Kata kata it uterus terngiang dalam Otakku.


Dengan menelan ludah, aku masuk ke kamar itu. gelap, berdebu, dan kotor. Itu adalah kesan pertama yang aku rasakan.


“Kamar ini bau sekali.” Aku mendesah. Mengarahkan senterku ke depan. Jendela dengan tirai lusuh itu bergoyang karena diterpa angin.


Aku melihat sebuah meja belajar yang di atasnya terletak sebuah buku. Buku yang sangat usang dan tidak layak digunakan. Aku mengambil buku itu dengan satu tangan, meniup debu yang membalut buku itu lalu membukanya.


ASTAGA! Aku terbelalak. Ini adalah buku Park Jimin. Oh, My God. Kini aku tahu, perempuan misterius itu adalah Park Jimin. Aku membaca buku yang ternyata adalah buku harian milik Jimin itu.


BUKU HARIAN INI MILIK: PARK JIMIN. SANGAT RAHASIA DANMILIK PRIBADI.


19 November


Aku benci mereka.


Mereka sungguh keterlaluan.


1 Desember


Aku sudah muak dengan sekolah ini. AKU BENCI MEREKA!


5 Desember


Mereka berencana untuk melakukan hal keji. Mereka akan membahayakan penghuni sekolah ini. Aku tidak akan membiarkan mereka. Mereka harus dihentikan.


15 Desember


Aku berhasil menggagalkan rencana mereka. Tapi, tampaknya mereka tidak senang denganku.


25 Desember


Mereka mengancamku. Jika aku mengulang sikapku laGi, mereka tidak akan segan membunuhku. AKU TIDAK TAKUT!


1 Januari.


Aku akan menghadapi resikonya. Walaupun akhirnya aku akan mati. Aku akan datang untuk balas dendam kepada orang jahat dan seluruh keluarga mereka nantinya! Dan tidak akan pernah mengampuni mereka selamanya. SELAMANYA!


Aku tidak bisa percaya dengan buku ini. Jimin adalah pelaku dari pembunuhan siswa itu. tapi kenapa? Kenapa dia begitu tega melakukan hal ini. Jungkook? aku ingat dengan pesan yang dikatakan oleh Jungkook ‘Kalian berdua akan mendapat akibatnya’. Jangan jangan…


“Pergi! Jangan ganggu aku!.”


Aku mendengar teriakan dari luar ruangan. Astaga itu suara Jungkook. ia dalam bahaya besar.


Aku berlari dan membuang buku harian itu. aku harus menyelamatkan Jungkook dari tangan Jimin. Jimin adalah hantu. Ia ingin balas dendam. Tapi, apa salah Jungkook?. aku menuruni tangga dengan cepat dan menuju aula utama.


“Jungkook! kamu dimana?.” Pekikku memanggil Jungkook


Tidak ada respon.


“Jungkook?! jawab pertanyaanku!.” Aku begitu panik dan mulai berlari keluar pintu utama. Aku khawatir dengan Jungkook. aku tidak akan membiarkan Jungkook mati sia sia. Aku masih ingat perkataan Jungkook ketika dia pindah ke kamarku.


Aku ingin menjadi seseorang yang berguna. Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku yang telah meninggal. Mereka pasti senang melihat nak perempuannya sekolah dan meneruskan cita citanya. Dan itu akan aku wujudkan.


Perkataan itu sangat membekas dalam hatiku. Jungkook sudah tidak punya keluarga lagi. tapi dia tetap semangat menjalani hidup. Sementara aku, aku selalu mengeluh dan membuat ibuku susah,


“AAARRGGHH…”


Deg! Aku berhenti tepat di sebuah padang rumput. Didepan sana, Jungkook tersungkur. Tubuhnya dipenuhi darah. Aku serasa akan hancur.


“TIIIDAAK!” Aku berlari, memeluk Jungkook. dia masih sadar, tapi tubunya sangat lemah. Aku benci Jimin.


“Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini kepada Jungkook?.” teriakku tak terima.


“Dia adalah keturunan orang yang telah membunuhku!.” Bentak Jimin. Wajahnya yang pucat pasi begitu menakutkan.


“Tapi, kenapa harus Jungkook?.” kataku dengan airmata tak mampu kubendung lagi. “Jungkook tidak salah apa apa. kenapa kamu setega itu, Jimin?.”


“Kamu tidak mengerti perasaanku.” Ujarnya. Aku tahu bagaimana perasaan Jimin ketika masih hidup.


“Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi itu hanya masa lalu. KAMU SUDAH MATI, JIMIN!.” Bentakku lagi. aku makin mengeratkan pelukanku ke tubuh Jungkook.


“Aku hanya ingin membalas dendamku. Mereka berniat ingin menghancurkan sekolah. Tapi aku menggagalkan mereka. Setelah itu aku mati. Apakah itu adil? Mereka seenaknya saja membunuh diriku. Lalu, mereka pergi tanpa rasa bersalah kepadaku.” Jimin mulai menangis.


“Aku tahu, Jimin. Tapi, relakanlah semua itu. mereka pasti akan mendapat akibat karena telah membunuhmu. Aku yakin itu.”


“Dengan semua yang telah mereka perbuat?.” Tanya Jimin.


Aku mengangguk tanda meyakinkan. Jimin masih ragu. Dia menunduk. “Benarkah? Benarkah mereka akan mendapat hukumannya dari tuhan?.”


“Iya, aku yakin itu.”


“Tapi bagaimana dengan temanmu?. Aku sudah membuat kesalahan besar. Aku sudah melukai sahabatmu.”


“Kamu tidak bersalah. Aku pantas mendapatkan ini. Maaf pamanku telah membunuh dirimu, Jimin.” Jungkook tiba tiba membuka suaranya, padahal tubuhnya berdarah.


Jimin berusaha menahan tangisnya. Tapi dia tidak bisa.


“Terimakasih. kalian adalah orang paling baik yang pernah aku temui. Sekarang, aku sudah tenang. Aku tidak akan menganggu sekolah ini lagi. aku akan pergi untuk selama lamanya. Sampai jumpa.”


Arwah Jimin kemudian berubah menjadi serbuk bercahaya. Cahaya kecil itu melayang dan menghilang di tengah langit malam. Semuanya telah selesai.


“Taehyung, Aku ingin sekali bertemu dengan kedua orangtuaku.” Ujar Jungkook memejamkan mata.


Aku membantunya berdiri dan berjalan. “Kamu pasti akan bertemu dengan mereka, Jungkook. pada hari yang sudah ditentukan nanti.”


Hari ini aku dan Jungkook berjalan menaiki sebuah bukit di belakang sekolah. Kami berbagi cerita masa lampau kami masing masing. Ternyata paman Jungkook bersama kedua temannya adalah orang yang telah membunuh Jimin. Pantas saja Jungkook berbicara seperti itu kepada Jimin.


Sinar mentari menyembul dari balik awan membuat mata kami berdua silau. Semua misteri sekolah sudah berakhir. Tidak ada yang mengetahui selain aku, Jungkook dan Tuhan. Hmmmmm.. leganya bisa merayakan hari di sekolah tanpa ada masalah dan keanehan lagi.


“Wah, akhirnya kita sampai juuga di puncak bukit.” Ujarku tak percaya.


“LIHAT! Sekolah tampak lebih jelas dari atas sini.” Jungkook berseru senang. Mata bulatnya berbinar.


Aku senang kalau Jungkook juga senang. Dia pantas merasakan kebahagiaan seperti ini. Aku termenung sambil melihat sekolah dari atas sini. Hawa di bukit ini begitu sejuk dan cocok untuk menenangkan diri.


“Taehyung, kamu mau tidak membantuku membuat makalah?.”


Aku menoleh pada Jungkook. “Dengan senang hati.” Lalu aku berlari, melemparkan daun daun kering ke arah wajah Jungkook


HARI YANG INDAH DAN DAMAI.


THE END