
Malam itu, burung hantu tak berkicau karena ketakutan melihat sebuah pemandangan; seorang gadis berambut pirang berlari sambil menitikkan airmata. Raut wajahnya memperlihatkan wajah cemas. Dia menoleh ke belakang. Disana sesosok tubuh tinggi mengikutinya.
“Pergi! jangan ganggu aku!.” Pekik gadis malang itu.
Sang sosok memperlihatkan seringai paling menakutkan yang ia miliki. Dia mengangkat satu tangan. Memamerkan pisau perak berkilap nan tajam miliknya. Tangan berkuku panjangnya menggeliat.
“Kumohon menjauhlah dariku! Aku tidak melakukan apapun padamu.”
Tapi… Bruk.
Malang gadis itu jatuh karena tersandung batu. Lututnya mengeluarkan darah segar yang berlarian bagai takut melihat sosok yang semakin dekat itu. Rambut pirang kusut itu berterbangan karena ditiup angin malam. Lolongan serigala terdengar.
“Selamat tinggal!.” Sosok itu tiba tiba sudah berdiri sekitar satu meter di belakang gadis itu. Semakin dekat… Dan dekat…
Pisau itu diangkat ke langit, lalu…
“Tidaaaaak!.”
—
“Taehyung! ayo bangun!.” Teriak Ibu membuat seisi rumah seolah berguncang. Aku tersentak kaget.
“Ada apa, bu?.” Kenapa teriak teriak begitu?.” Tanyaku pelan sambil mengusap mata.
“Teriak teriak darimana? Kamu tahu sekarang jam berapa, putri tidur?.” Tanya wanita tua itu dengan kedua tangan menempel di pinggang. “Jam delapan! kau tidak mau sekolah, hah?.”
“Astaga, iya. Aku lupa!.” Aku langsung melompat dari ranjang dan berlari mengambil handuk. Dengan cepat, aku menuju kamar mandi. Hari pertama masuk sekolah malah terlambat, aduh. Semoga saja guru gurunya tidak mengerikan. Batinku.
Setengah jam berlalu.
Perasaanku tidak menentu. Bagaimana tidak? Sekarang, sudah pukul setengah Sembilan. Gawat. Ini sungguh gawat. Aku memakan roti dan teh dengan terburu dan segera beranjak dari meja makan lalu berpamitan pada ibu.
“Bu, aku pergi dulu ya! aku sudah terlambat, nih!.” Aku beteriak sambil melambaikan tangan kearah ibu.
“Iya, iya. Lain kali jangan begadang sampai larut malam!.” Titah ibu.
“Aku bukan begadang. Oh iya, bu. Kalau ibu kangen, kirim surat saja, ya!.”
“Iya, iya. Jangan berbuat hal yang tidak tidak selama berada di sekolah dan jaga dirimu Taehyung-ah! ibu mencintaimu!.”
“Aku juga mencintaimu bu.”
Walau perasaan cemasku masih menggerogoti, tapi rasa penasaranku tentang sekolah itu juga sungguh besar dan hampir meledak. Oh iya, aku sampai lupa. Aku bersekolah di Prendegharst High School. Sebuah akademi yang berada di ujung kotaku. Kata orang sih, akademi itu sangat terkenal dengan kepintaran murid dan prestasinya. Wow, aku jadi tertantang masuk ke sekolah itu.
Kriiiit…
Mobil berhenti mendadak. Kepalaku terantuk ke langit langit mobil. Aduh, sakit banget. Tanpa mempedulikan hal itu, aku langsung keluar dari mobil, mengambil koper di bagasi dan berpamitan pada pak supirku. Gerbang sekolah sudah terlihat. Aku tidak terlambat tapi jantungku kembali dag dig dug.
“Perkenalkan namaku Kim Taehyung. Aku tinggal di kota Reinvillage.” Ujarku memperkenalkan diri. Setelah itu guru Kim menyuruhku duduk di bangku nomor tiga deretan ke dua. Aku berjalan perlahan menuju bangku. Sejauh ini aman aman saja.
“Hei, Taehyung! Salam kenal.” Panggil seorang perempuan dengan rambut diikat dua.
“Hei, Jung-kook. Salam kenal juga.” Kataku sembari mengeja nametag yang tertera di seragam perempuan itu. aku sebenarnya masih ragu apakah namanya Jungkook atau bukan. Soalnya aku tidak terlalu memperhatikan siswa lain saat acara perkenalan tadi. Dia tersenyum padaku menampilakan gigi depannya yang seperti kelinci. Menggemaskan sekali.
“Baiklah, anak anak. Pada pertemuan petama kita, saya akan mengajar tentang Invertebrata.” Kata guru Kim dengan suara lantang. Aku mengambil buku tulis di sampingku. Jungkook tengah memandangiku dengan senyumnya. Aku membalas senyumannya. Sejauh ini hanya Jungkook yang tampak berbeda dari murid yang lain. Tapi, entah kenapa pandanganku tiba tiba tertuju pada sesuatu dibalik pohon.
Sesosok tubuh berdiri dengan kepala yang ditundukkan. Rambutnya panjang kusut. Menutupi seluruh wajahnya. Dia terlihat sungguh berbeda. Tangannya pucat pasi. Siapa dia? Apakah dia juga warga sekolah ini? Kalau iya, kenapa dia berdiri disana dan apa yang ia lakukan disana?.
“Nona Taehyung, apa yang kamu lakukan?.” Guru Kim menegurku. Tatapan matanya sungguh mengintimidasi. Aku tersentak
“Oh, tidak apa apa, bu.”
“Fokus pada pelajaran.”
“Baik, Bu.” Aku melihat ke pohon itu lagi. gadis itu telah menghilang. Kemana dia pergi? Aku mulai merinding. Sadar jika semua itu mengangguku yang sedang belajar, aku menggelengkan kepala cepat dan kembali fokus. Ah, masa ada hal yang seperti itu.
Aku berjalan menuju kamar asramaku. Kamarku berada di lantai 2. Di sepanjang koridor, banyak anak yang lalu lalang dan membicarakan sesuatu dengan teman mereka. Mereka tampak senang dengan teman barunya. Dan aku? Masih sendiri tanpa ada teman dan sapaan. Kecuali Jungkook.
Kamar nomer 204, aku berhenti tepat di depan pintu kamar. Pintu kayu yang sudah sedikit reyot itu sangat dipenuhi dengan debu. Aku membuka kamar. Bunyi pelan tapi aneh terdengar. Lalu, aku memperlihatkan isi kamar yang begitu sederhana. Hanya ada satu kasur besar, satu meja belajar dan meja rias. Di samping jendela berkaca tiga, ada sebuah lemari pakaian berukiran antik.
Tiba tiba saja…
Prak…
“Taehyung, ini gawat!.” Kata Jungkook mengejutkanku. Kepalanya menyembul dari balik pintu. Wajahnya cemas. Keringat bermunculan dari wajahnya yang bulat.
“Ada apa, Jungkook?.” ujarku tak kalah panic.
“Ada sesuatu yang mengerikan. Aku tidak bisa menjelaskan. Lebih baik kita ke lantai bawah.” Jungkook masuk dan menarik lenganku. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tangga menuju lantai utama berhasil dilalui dalam waktu kurang dari 2 menit. Di bawah sana, semua murid berkerumun melihat sesuatu. Tampaknya ada sesuatu yang begitu penting.
Jungkook menerobos murid lain yang menghalangi pemandangan.
“Permisi… permisi.” Deg, jantungku tiba tiba terasa berhenti. Aku terbelalak melihat sesuatu di depan mataku. Sesosok tubuh terbujur dengan dibalut kain putih. Satu tangannya tak terbalut dengan warna sudah membiru. Apa yang terjadi dengan sekolah ini?.
“Semuanya kembali ke kamar masing masing.” Perintah kepala sekolah kepada muridnya. Dia bersama guru lain mengangkat jenazah murid itu. aku bersama Jungkook saling bertukar pandang. Bingung. Hari pertama sudah terjadi hal yang mengerikan.
Tiba tiba saja, aku teringat sesuatu. Perempuan itu. apakah perempuan itu ada hubungannya dengan semua ini? Atau jangan jangan perempuan itu adalah arwah dari jenazah tersebut? Pikiranku kacau balau. Semuanya bercampur aduk.
“Taehyung, bagaimana kalau kita ke perpustakaan saja? Untuk refreshing.” Tawar Jungkook padaku.
“Ide yang bagus. Ayo, kita pergi.”
Perpustakaan Prendegharst High School bisa dibilang besar. Banyak sekali lemari buku yang berjejer di tiap kiri dan kanan. Semuanya tersusun dengan rapi. Aku mengisi daftar hadir dan langsung mencari buku untuk dibaca. Kalau soal buku, aku paling suka dengan buku cerita. Di rumah, aku lebih banyak mengoleksi buku cerita ketimbang buku ilmu pengetahuan.
Setelah memilah dan memilih, akhirnya aku mendapatkan buku yang kucari. Buku cerita novel yang berjudul ‘Alice in the wonderland’. Aku memilih tempat duduk paling tepi yang hanya diisi oleh sedikit siswa. Aku menoleh kearah Jungkook, dia tampak bingung dengan buku pilihannya. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah Jungkook yang begitu menggemaskan.
“Mereka semua akan mati…”
Aku tersentak. Melihat sekeliling, masih sama seperti tadi tapi, aku baru saja mendengar sebuah suara perempuan yang begitu menakutkan. Suara itu masih menggema di dalam kepalaku. Dimana dan darimana asal suara itu? tidak mungkin! Aku ketakutan saat menoleh ke arah pintu masuk. Disana berdiri perempuan yang aku lihat ketika belajar di kelas tadi. perempuan itu berambut kusut dengan kepala yang ditundukkan. Namun, kali ini dia tidak hanya berdiri. Tapi.. dia… Bergerak. Perempuan itu mendekat ke arahku. Oh, ini tidak bagus. Sangat tidak bagus.
Aku berusaha untuk memanggil Jungkook yang tidak sadar akan kehadirannya. Bukan! Bukan hanya Jungkook yang tidak menyadari keberadaan perempuan ini. Dia semakin mendekat. Bentuk wajahnya mulai terlihat dari balik rambut hitam kusut itu.
“Mereka! mereka akan menerima akibatnya!.” Ujar perempuan itu dengan suara parau.
Aku tidak mengerti. Apa yang akan dia lakukan padaku? Apakah jangan jangan…
“Taehyung!.” Panggil Jungkook. aku terkejut, nafasku terasa berat seperti habis berlari. “Kamu kenapa, Taehyung? Kamu baik baik saja kan?.”
Aku mengangguk menenangkan diri. “Ya, aku tidak apa apa.”
Jungkook memasang tampang curiga. Tapi aku berusaha untuk meyakinkan Jungkook bahwa aku baik baik saja.
“Lihat, apa yang aku temukan.” Ujarnya.
“Apa itu? tampaknya seperti sepucuk surat.” Kataku merebut benda yang ia pegang.
“Disitu ada namanya. Park Jimin.” Sambung Jungkook lagi. dia merebut kembali benda yang kupegang dan mulai membacanya.
‘Jangan pernah lengah. Bahkan saat kamu sedang siaga. Mereka lawanmu! Hentikan mereka! Hanya masa lalu lah yang akan menunjukkan. Sadarlah!.’
Hah? surat apa ini? Aku bertanya Tanya dalam hatiku. Aku tidak mengerti dengan maksud yang terdapat dalam surat ini. Sungguh membingungkan. Jungkook tampaknya bernasib sama denganku.
“Aku rasa dia menuliskan surat ini karena ada rasa benci atau dendam. Dan mungkin dia ingin orang lain mengetahu perasaan yang sedang ia alami dengan cara menuliskan surat ini.” Jelas Jungkook, aku hanya mengangguk.
“Tapi, menurutmu siapa ya, yang membuat surat ini?.” Pikiranku kembali tertuju pada perempuan misterius itu. apa dia yang menuliskan surat ini?.
“Entahlah, aku tidak tahu.” Kata Jungkook. “Kita ke asrama saja ya? aku sudah lelah.”
“Iya, aku juga sudah lelah dengan kejadian hari pertama sekolah yang mendebarkan.” Lanjutku disertai tawa kecil. Dan kami berdua kembali, bersama beribu pertanyaan tentang surat itu.
Sore ini, aku langsung keluar dari kelas tanpa mengajak Jungkook. ada sedikit rasa bersalah dalam diriku namun karena rasa penasaranku tentang Park Jimin lebih besar dari rasa bersalahku. Aku berlari menuju perpustakaan. Mencari data tentang siswa yang pernah bersekolah Prendegharst High School.
“Bukan, Bukan, Bukan.”