
Negara Svetlý
Sun Hyunrae berjalan melewati kios-kios di Pasar Rakyat Svetlý sembari merapikan penutup rambutnya. Ia menolak sopan tawaran penjual bahan makanan yang menjulurkan kacang-kacangan mentah padanya. Dari kejauhan, Hyunrae melihat penjual perhiasan di salah satu kios. Tanpa ragu-ragu, ia menyentuh salah satu gelang kain berwarna biru.
“Gelang keberuntungan?” Hyunrae berpikir sendiri.
“Benar sekali, Nona. Mungkin ini hari keberuntungan Anda. Siapa yang tahu, Anda akan bertemu jodoh Anda hari ini,” kata sang penjual bersemangat. “Tidak perlu mahal-mahal, hanya tiga Leson saja.”
“Lima Leson untuk dua gelang. Bagaimana?” Hyunrae menawar.
“Cukup bagus,” ujar penjual itu sambil menjentikkan jari. “Sepertinya Anda suka warna biru. Boleh saya sarankan merah untuk pasangannya? Warna merah senada dengan warna penutup kepala Anda, Nona.”
“Pilihan yang baik,” kata Hyunrae seraya memberikan lima koin Leson pada penjual itu.
Hyunrae mengambil dua gelang yang diserahkan padanya. Ketika ia berbalik, seseorang menghantam tubuhnya dengan cukup keras. Hampir saja Hyunrae terjatuh, jika seseorang itu tidak lebih dulu menangkap tangannya dan menariknya.
Senyum bahagia tidak henti-hentinya menghias wajah Taeyong ketika ia melangkah masuk ke Pasar Rakyat Svetlý. Pasar itu sangat indah, disinari cahaya matahari yang berkilauan dari langit. Para pedagang berseru-seru, menawarkan dagangan mereka pada siapa saja yang melewati pasar itu.
“Daging segar, Pak?”
Taeyong mundur selangkah saat sepotong daging segar disodorkan padanya. Ia kaget, tentu saja. Ini pertama kalinya dalam hidup ia mengalaminya. Tapi, buru-buru Taeyong menggantikan rasa kaget itu dengan tawa yang ramah.
“Aku tidak bawa uang,” kata Taeyong sopan. “Mungkin lain kali,” ucapnya lagi sambil berbalik.
Kesalahan besarnya adalah Taeyong tidak melihat seorang wanita yang berjalan ke arahnya. Taeyong dan wanita itu pun bertabrakan. Karena tubuh Taeyong lebih tinggi dan stabil, ia tidak terjatuh. Lain halnya dengan wanita itu yang langsung kehilangan keseimbangan. Sebelum wanita itu jatuh, Taeyong lebih dulu menangkap tangannya dan membantunya menjaga keseimbangan.
“Sorry!” Taeyong berseru kaget. “Aku tidak sengaja.”
Seperti sebuah adegan lambat, penutup rambut wanita itu terlepas, jatuh ke tanah dan memperlihatkan rambut cokelat pemiliknya. Taeyong terkesima karena sosok wanita itu sangatlah cantik. Matanya berwarna biru, menatap Taeyong dengan tatapan yang hangat.
“Tidak apa-apa. Aku juga salah, tidak melihatmu,” jawab wanita itu.”
Ketika wanita itu menunduk untuk mengambil penutup rambutnya, Taeyong juga melakukan hal yang sama, membuat tubuh mereka hampir bertemu. Buru-buru Taeyong melepaskan tangannya, membiarkan wanita itu mengambil penutup rambutnya sendiri.”
“Kau tidak apa-apa?” Taeyong bertanya lagi.
“Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak.”
“Namaku Sun Hyunrae. Siapa namamu?”
“Lee Taeyong panggil aja Taeyong"
“Lee Taeyong?” Hyunrae mengerutkan alisnya. “Kau pasti bukan dari Negara Svetlý. Nama keluargamu terdengar asing.”
Taeyong menelan ludah, khawatir kalau-kalau jati dirinya sebagai anggota keluarga Negara Nočné terbongkar. Ia berdeham sejenak dan tertawa kecil untuk meredam rasa khawatirnya.
“Kau bisa menukarnya dengan Leson milikku,” kata Hyunrae sambil mengulurkan tangan. “Berapa banyak uang yang kau punya?”
“Tujuh puluh Kahlsha,” jawab Taeil jujur.
“Kahlsha? Itu bukan mata uang Negara Śnieg. Kau dari Nočné?” Hyunrae bertanya kaget. “Kahlsha adalah mata uang Nočné. Dan nama keluargamu, Lee, artinya Marga Dari Negara Nočné. Apa kau imigran gelap?”
Terdiam, Taeyong tidak bisa lagi menemukan alasan untuk dilontarkan pada Hyunrae. Ia menelan ludah, tidak membantah, yang berarti mengiyakan.
“Tolong, jangan laporkan aku,” kata Taeyong akhirnya. “Aku hanya, ingin melihat matahari.”
Di luar dugaan, Hyunrae malah tersenyum kecil ketika mendengar jawaban itu. Bagi seseorang dari Negara Nočné, melihat matahari adalah sesuatu yang sangat indah. Hyunrae tahu, negara itu hanya ditutupi gelap malam. Taeyong pasti tidak pernah merasakan hangatnya sinar matahari dan indahnya langit biru seperti yang Hyunrae alami tiap hari.
“Kapan kau akan kembali ke negaramu?” Hyunrae bertanya.
“Segera, kalau aku sudah menemukan apa yang kucari. Suasana siang hari.”
“Kalau begitu, ikutlah denganku. Aku juga tengah mencari sesuatu,” kata Hyunrae. “Kebebasan di siang hari,” kata Hyunrae balik sambil tertawa.
Taeyong menatap Hyunrae dengan wajah heran sejenak sebelum tersenyum kecil. Ia bisa merasakan tangan Hyunrae menarik pergelangan tangan Taeyong dengan ringan, tanpa beban.
-\=-
Hyunrae dan Taeyong menghabiskan waktu di sebuah café outdoor, menikmati cahaya matahari sembari menghabiskan es krim di atas meja. Siang hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati hidangan dingin. Taeyong jarang sekali merasakan es krim mencair di mulutnya karena negaranya adalah negara malam.
“Mohon tandatangan di sini, Nona Sun Hyunrae,” ujar seorang pelayan seraya memberikan bukti transaksi. “Nona punya nama yang sama dengan putri presiden yang akan menikah besok,” tambah pelayan itu sambil tersenyum. “Tapi Nona sudah pasti bukan putri presiden itu, ‘kan?”
“Tentu saja bukan,” kata Hyunrae, tersenyum tipis seraya membubuhkan tandatangan di bukti pembayaran tersebut. “Aku yakin wanita itu sedang berada di Istana Presiden, menyiapkan hari esok.”
Pelayan tersebut mengangguk setuju dan membereskan meja. Setelah pelayan itu berlalu, Taeyong memanggil Hyunrae dengan wajah penasaran.
“Besok putri presiden akan menikah?” Taeyong bertanya.
“Ya,” balas Hyunrae tanpa ekspresi.
“Kenapa kau tidak terlihat senang akan pernikahan putri presiden?” Taeyong bertanya heran. “Apa kau… jangan-jangan…”
“Apa?” Hyunrae memotong cepat, merasa khawatir.
“Jangan-jangan kau menyukai calon suami putri presiden itu,” sambung Taeyong sambil tertawa. “Tapi tidak mungkin, ‘kan? Mana mungkin rakyat biasa sepertimu menyukai seorang calon suami putri presiden. Kau hanya rakyat biasa"Ucap Taeyong sambil Ketawa.
“Tidak lucu,” kata Hyunrae separuh mendesis. “Sudahlah, apa lagi yang kau inginkan? Aku bisa membawamu ke semua tempat yang kau mau.”
“Sungguh?” Taeyong tersenyum cerah. “Aku mau lihat pantai. Katanya, pantai di sini sangat indah. Banyak orang berjemur di bawah matahari. Benarkah itu?”Ucap Taeyong penasaran.
“Iya” angguk Hyunrae. “Kau ingin melihat pantai? Ayo, kita ke sana.”