One Night Stand With Hot Duda

One Night Stand With Hot Duda
Melakukan lagi



Namun saat itu juga Janet kembali marah, "Iya aku pernah merasakannya, dan karena dia sekarang aku harus menanggung semua akibat yang dia ciptakan hiks... hiks.. hiks.." Janet kembali menangis membuat Yoga bingung.


"Dasar labil..."


Janet kembali menangis, dalam hatinya ia ingin segera menyusul papahnya, "Pah, aku ingin ikut sama papah.. pah tolong aku.. aku gak sanggup hidup sendiri.." Janet menrintih, suara nya lemah.


Yoga yang mendengar rintihan Janet merasa sangat kasihan, ia harus membuat Janet bangkit, ya Yoga sudah bulat akan membuat Janet bangkit dari keterpurukan nya saat ini, ia akan membantu Janet sampai benar-benar bisa kembali seperti dulu.


Yoga yang sudah tidak punya urat malu, dari tadi mondar-mandir membersihkan kamar Janet dari darah dan pecahan beling tanpa memakai sehelai benangpun.


Janet sebenarnya risih dengan apa yang ia lihat, namun hatinya sedang tak mau peduli dengan apapun ia hanya ingin pergi dari dunia ini, Janet kembali berdiri dan mendekat ke jendela.


Janet membuka kaca jendela itu, ia berniat ingin melompat saja dari atas gedung yang sedang ia tempat itu, namun saat ia melihat ke bawah sana ternyata sangat tinggi, ia sedikit takut namun karena hatinya sudah di kuasai oleh si Syaiton akhirnya ia memberanikan diri untuk naik ke atas jendela tersebut dan akan melompat.


Beruntung Yoga datang tepat waktu, ia langsung menarik tubuh Janet yang sudah naik di atas jendela, dan tubuh mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi Janet berada di atas Yoga.


Janet bisa merasakan sesuatu di bawah sana perlahan mulai bergerak sedikit demi sedikit, membesar dan mengeras, Janet tersadar ia memukul dada polos Yoga, "Kenapa kau selalu ikut campur, aku ingin mati.. jangan halangi aku, lepas.."


Yoga yang aneh dengan perkataan Janet membuatnya heran, "kenapa kau minta di lepaskan, bahkan aku tidak memegangi mu,?"


"Ahhh terserah,, aku ingin mati saja..." Janet kembali berdiri dan kembali ingin melompat dari Jendela, dengan sigap Yoga kembali menarik tangan nya, dan untuk kedua kalinya mereka kembali ke posisi seperti tadi.


Namun kali ini Janet memberontak ia terus melawan kekuatan tangan Yoga yang mencekal tangan nya, "Jangan halangi aku lagi, aku muak dengan semua ini, lepaskan aku..."


Janet terus-menerus memberontak, ia sudah kehilangan akalnya saat ini, yang ada dalam pikirannya itu hanya MATI dan MATI, tidak memikirkan hal lain lagi, hanya ingin terbebas dari penderitaan yang sekarang ia rasakan.


Yoga yang sudah tidak tahan dengan keadaan ini membalikan tubuh Janet, dan kini Janet berada di bawahnya, Yoga menatap tajam Janet dan ia menyerang bibir Janet dengan kasar.


Kedua bibir itu bersentuhan, namun Janet menolak, ia tidak ingin laki-laki di hadapannya kembali mengagahi tubuh nya, ia memberontak meminta di lepaskan.


"Lepas.. dasar bajingan hmmpp...berengsek.. hmmmp gila kau..." Bibir Janet tak bisa lepas berbicara karena ia terus di gempur dengan ciuman-ciuman ganas dari Yoga.


Janet sudah terlihat kehabisan oksigen dan Yoga melepas tautan nya, ia melihat wajah Janet yang begitu di penuhi amarah, Janet langsung menampar Yoga dengan keras.


Plaaaakkk


"kau benar-benar laki-laki berengsek yang pernah aku kenal, bangunlah kau berat sekali" Walau Janet sedang marah tapi ia terlihat sangat menggemaskan di mata Yoga, apalagi saat dia bilang Yoga sangat berat.


Yoga hanya tersenyum sinis, "lihat lah dia masih bangun, ayo kita lakukan lagi seperti malam itu, malam itu kamu begitu liar sekali sayang, tapi kenapa sekarang kau menolak nya?"


Yoga kembali mencium Janet, namun ciuman nya kali ini sangat lembut, ciuman yang begitu hangat, Janet masih kaku, ia terus menolak bahkan bibirnya tertutup rapat, hingga Yoga menggigit bibir bawah Janet, Janet yang merasakan sakit langsung membuka bibirnya membuat Yoga lebih leluasa mengeksplor setiap inci dari mulut wanita itu.


Janet yang sedikit terbuat dengan sentuhan bibir Yoga kembali melemah, bahkan ia tidak menolak tetapi tidak juga memberikan perlawanan.


Tangan Yoga terulur untuk menyentuh kedua aset kembar Janet yang sedari tadi membuat Yoga tidak fokus karena kemeja yang di pakai Janet kancing atasnya sudah terbuka.


Bibir Yoga turun mulai menjelajahi leher jenjang milik Janet, ia mengecup nya berkali-kali bahkan membuat tanda di sana, membuat Janet benar-benar merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.


"Hen..tikan.. achh... Jang..an laku..kan lagi.. achh.."


Tubuh dan hati Janet benar-benar tak singkron, bahkan kini bibir nya malah mengeluarkan suara-suara terkutuk.


Sentuhan tangan dan bibir Yoga membuat Janet benar-benar terbuai, ia sejenak melupakan apa yang sedang ia rasakan, tubuhnya di buat melayang setinggi-tingginya oleh Yoga.


Dua buah gunung kembar yang sudah tidak terbungkus oleh apapun kini menjadi incaran Yoga, di mainkan nya bergantian membuat tubuh Janet terangkat sedikit ke atas.


Yoga mengerti dengan apa yang Janet inginkan, ia langsung meraup keduanya bergantian, mengecap, menyesap dan membuat maha karya indah di sana.


Janet merasa penderitaan nya kini telah usai, ia hanya merasakan kenikmatan dunia saat ini, ia tidak bisa memikirkan hal lain lagi selain kenikmatan yang ia rengkuh saat ini.


Apalagi kini tubuh mereka sudah sama-sama polos, Yoga kembali menyatukan tubuh mereka dengan sekali hentakan, milik Janet masih sempit, membuat milik Yoga seperti di urut-urut di dalam sana.


Memberikan sensasi yang begitu luar biasa untuk keduanya, bahkan mereka melakukan nya sampai hari gelap.


Mereka ambruk karena kelelahan, Yoga tak memberi ampun pada Janet, bahkan Yoga lupa kalau sekarang di perut Janet ada yang harus ia jaga.


Mereka tertidur setelah melewati hari dengan kenikmatan, keduanya tidur dengan saling memeluk.


Tak berselang lama Janet terbangun, ia merasakan sakit di perut nya.


"Arhhhh... sakiittt.."


Yoga akhirnya ikut terbangun karena mendengar rintihan Janet, "Jane kenapa?"


"Perutku sakit... ahhhh tolong..."


Yoga panik, ia teringat kalau Janet sedang hamil, dan ia langsung tersadar apa yang sudah ia lakukan tadi sangat membahayakan calon anaknya.


Dengan cepat Yoga memakai pakaian nya, dan juga memakaikan Janet pakaian, Yoga langsung mengangkat tubuh Janet dan membawanya ke rumah Sakit.


"Jane bertahan ya, kita akan kerumah sakit sekarang."


Yoga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sangat panik, bahkan ia beberapa kali akan menabrak mobil lain di depannya.


"Tenang Yoga tenang, jangan panik," Yoga mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Braakkkk...


to be continued...


***Duhh kenapa tuh... jangan sampe kenapa-kenapa deh..


Jangan lupa like and komen yang banyak ya, kopi bunga atau koin juga boleh sangat..


Kebanyakan pasangan kalau lagi berantem dan pengen cepet baikan ujung-ujung nya ngamar lagi bener gak sih... (untuk yang suami istri ya***)