
Bruughh
Pak Wira tiba-tiba tak sadarkan diri, Bu Rissa yang melihat suaminya pingsan langsung berteriak minta tolong, "Tolong.... tolong..." Semua penghuni rumah langsung menghampiri asal suara teriakan Bu Rissa.
"Budi cepat angkat bapak... dan kamu Udin bawa Jane."
Kedua orang yang di perintahkan langsung sigap, pak Wira dan Janet sama-sama di baringkan satu ranjang di kamar Janet.
"Bi imah kamu cepat panggil dokter Andri,"
"Iya nyah..."
Bi Imah langsung menghubungi dokter Andri, dokter keluarga pak Wira, kurang dari setengah Jam dokter Andri datang, dan langsung memeriksa keadaan Pak Wira dan Janet.
Pertama yang ia periksa adalah pak Wira, ia mengecek nadi pak Wira lalu Tanan nya mengecek leher pak Wira dan lanjut mendekatkan kedua jari di bawah hidung pak Wira.
Dokter Indra melirik pada Bu Rissa, dan menggeleng kan kepalanya. "Apa maksud mu Dok?" tanya Bu Rissa yang tak mengerti dengan gelengan kepala dokter Andri.
"Pak Wira sudah tiada Bu, mungkin sekitar 20 menit yang lalu"
Bu Rissa yang terkejut mendengar kenyataan kalau suaminya meninggal langsung memeluk suaminya di iringi tangisan, bagaimanapun ia sangat menyayangi suami nya tersebut, walau ia tidak suka kepada Janet tapi tidak dipungkiri ia begitu menyayangi pak Wira.
"Mas... bangun... jangan tinggalkan aku mas... aku mohon..."
Bu Rissa benar-benar merasa kehilangan pak Wira saat ini, laki-laki yang sudah mengangkat derajatnya, pak Wira menikahi Bu Rissa saat Bu Rissa sedang terpuruk dengan keadaan ekonominya, ia mempunyai dua orang anak yang sekarang sedang kuliah di luar negeri, di biayai oleh pak Wira.
Bu Rissa langsung melihat ke sisi lain, dimana gadis yang sudah tidak perawan itu masih terbaring, tatapannya tajam seperti ingin membunuh saja.
"Ini gara-gara dia, anak sialan itu." tangan nya menunjuk pada sosok yang baru saja membuka matanya, ia bingung kenapa banyak orang di kamarnya, apalagi Bi Imah yang sedang menangis.
Ia melihat Bu Rissa menatapnya dengan tajam, "Ini semua gara-gara kamu Jane, lihat ayah mu harus pergi dengan rasa sakit di hatinya." ucap Bu Rissa.
Duarrrr
Bagai di sambar petir di siang bolong, Janet terkejut mendengar ayahnya pergi, ia menoleh ke arah Pak Wira yang ternyata sudah tidak ada.
"Bu.. kenapa papah meninggal Bu?" tanya Janet yang masih tidak tahu alasannya.
"Sudah Jane, Bu Rissa kita harus segera mengutus jenazah pak Wira, biarkan dia tenang dengan kepergiannya." dokter Andri melerai kedua wanita berbeda generasi itu dan Untung nya Bu Rissa menurut.
"Budi, Udin tolong bawa Bapak ke ruang tamu, dan tolong umumkan kepergiannya, biar tetangga bisa membantu kita untuk pengurusan jenazah,"
Budi dan Udin langsung gerak cepat, menggotong jenazah pak Wira untuk di semayamkan, Bu Rissa yang masih tak menerima kepergian suaminya, langsung berbalik dan membuat perhitungan pada Jane.
"Urusan kita belum selesai, lihat apa yang akan aku lakukan kepadamu." Bu Rissa langsung pergi setelah berbicara pada Janet.
Janet yang tidak tahu apa-apa merasa heran, apa yang sudah ia perbuat, apa salahnya, itulah yang sekarang ada di benak Janet.
Janet lalu mencoba bangun, dan langsung bertanya pada orang di sekitarnya namun tak ada yang berani menjawab, karena sebenarnya merekapun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bi.. Bi imaah, papah kenapa Bi, kenapa dia bisa meninggal? terus kenapa ibu menyalahkan ku, memang apa yang aku lakukan bi?" tanya Janet panjang lebar.
Bi Imah hanya menggeleng, ia juga tidak tahu mesti menjawab apa "non yang sabar ya, ikhlaskan kepergian tuan." ucap Bi Imah.
Janet yang masih syok dengan berita duka ini, membuat dirinya lemas, ia berpegangan pada lemari besar berisi barang-barang antik peninggalan ibu kandungnya.
"Non kenapa?" tanya Bi Imah yang melihat Janet seperti sedang merasakan pusing.
"Aku pusing Bi.."
"Ya sudah duduk dulu, bibi ambilkan minum"
Janet pun beristirahat sejenak, duduk di sofa yang berada di ruang tamu, sambil sesekali melihat tubuh pak Wira yang sudah terbujur kaku di hadapannya.
Janet terus menangis di dekapan Bi Imah, ia tak menyangka papah nya harus pergi secepat itu, para pelayat sudah mulai berdatangan, di antara mereka ada sosok yang sangat familiar dan tentu saja sosok yang selama ini ia hindari.
"Itu kan pria itu, kenapa dia ada di sini?"
to be continued