
Yoga yang ternyata senang karena sudah mengantongi identitas Janet kini ia kembali lagi ke dalam kamar hotel, tadinya ia hanya ingin mengejar Janet, namun sayang Janet malah pergi tanpa pamit.
"Sejak malam itu, kamu sudah menjadi milikku nona.." ucap nya dengan seringai mengerikan.
Yoga yang sampai siang ini masih berada di hotel hanya rebahan dan senyum-senyum sendiri memikirkan Janet, bagaimana tidak seorang wanita yang masih virgin ia begitu lihai di ranjang, seperti yang sudah pro dalam memainkan beberapa adegan.
Apalagi saat Janet sedang memasukan Lolly pop besar ke dalam mulutnya, ahhh sensasinya sangat luar biasa pikir Yoga, Yoga yang sudah lama tidak merasakan kehangatan tubuh seorang wanita kini ia terus membayangkan Janet.
"Aku harus segera mencari nya, ini tidak bisa di biarkan, sabar brother nanti kamu akan memasuki sarangmu kembali." Ucap nya Sambil mengelus pucuk kepala ular cobra yang sedari tadi sudah bangun.
Yoga kini beranjak untuk membersihkan diri di kamar mandi, dalam mandinya saja tak henti-hentinya ia membayangkan tubuh Janet saat berada di atasnya, bergoyang dan memacu tubuh nya dengan sangat agresif, membuat tangan yoga bergerak maju mundur memegangi ular cobranya, hingga ular itu mengeluarkan bisa nya.Setelah puas dengan kegiatan nya, ia segera mandi dan bersiap pergi.
Otak duda mesum itu terus traveling kemana-mana hanya membayangkan tubuh Janet saja, membuat nya tidak fokus mengerjakan apa-apa.
"Ini kenapa pakai kemeja saja kancing nya salah masuk lobang lain, jadinya kan panjang sebelah huhhh" Yoga mengeluh pada dirinya sendiri yang benar-benar tidak bisa fokus.
Hari ini tempat yang pertama kali ingin dia datangi adalah rumah Janet, ia akan pura-pura meminta pertanggung jawaban Janet atas perbuatan nya malam tadi.
Mobil Yoga meluncur ke tempat tujuan, saking senang nya di dalam mobil Yoga menyetel musik, ia bernyanyi dan berjoget tak karuan.
Sang supir yang melihat majikan nya berasa ada yang aneh, tidak biasanya wibawa seorang Prayoga turun rendah seperti itu.
Namun Yoga yang di tatap nya tak peduli dengan sekitar, ia terus saja bernyanyi lagu kesukaan nya.
Tiga puluh menit kemudian mobil yang di tumpangi Yoga berhenti di sebuah rumah mewah, ia melihat keadaan sekitar tampak sepi.
"Pak tolong tanyakan dulu, apa Janeta ada di rumah?" Suruh Yoga pada supir nya.
"Baim gan,"
Supir itu turun dari mobil menghampiri security yang berjaga di rumah Janet, "Maaf pak apa nona Janeta nya ada dirumah?" tanya sopan pak Anwar supir Yoga.
"maaf pak non Janet belum pulang dari semalam, maaf bapak siapa ya?" tanya pak Wahyu.
"Saya hanya di suruh majikan saya saja pak, mari kalau begitu" Pak Anwar pun pamit dari hadapan pak Wahyu.
"Maaf gan nona Janeta tidak ada di rumah, dari semalam ia tidak pulang katanya" Jelas Pak Anwar saat sudah masuk ke dalam mobil, membuat Yoga mengangguk dan menyuruh kembali menjalankan mobilnya.
Yoga tak tenang, sebelum bertemu dengan wanita yang sudah menjungkir balikan dunia nya, ia terus bertanya-tanya dalam hati nya, kemana perginya wanita itu.
Sementara seorang wanita yang sedang menangis dirumah sahabatnya, membuat Siska yang di juluki bestie nya itu muak.
"tata sayang sudah jangan nangis terus, sumpah aku gak tahu kalau minuman yang aku berikan malam itu malah membuatmu tidur dengan pria asing"
"ya aku tahu, kamu gak mungkin jahat sama aku, tapi sekarang aku harus gimana sis, hidupmu hancur, masa depanku bagaimana, terus kalau aku hamil gimna? arggghhh..." Janet terus saja nyerocos dan di akhiri dengan teriakan frustasi nya, membuat Siska benar-benar kesal.
Namun Siska hanya berpura-pura empati terhadap Janet, Siska yang ternyata musuh dalam selimut itu sengaja menjebak Janet hanya untuk kepentingan pribadinya saja, karena Siska sudah lama menyukai kekasih Janet.
Siska ingin Irwan membenci Janet setelah tahu apa yang terjadi pada Janet, dan mungkin akan meninggalkan Janet.
Janet yang sudah setres ingin rasanya menceburkan tubuh nya ke dalam sumur, berharap menjadi penghuni terakhir sumur itu.
"Tenang dulu ta, aku akan membantumu sebisa mungkin untuk menghadapi masalah ini, kamu lupakan saja semuanya, semoga kamu tidak akan hamil dan meneruskan hidupmu kedepannya." ucap Siska mencoba menenangkan tata sahabatnya, tata adalah panggilan Siska pada Janet.
"Tapi bagaimana dengan Irwan, dia tidak mungkin menerimaku yang sudah seperti ini hiks... hiks.." Janet kembali menangis mengingat kekasihnya yang begitu ia cintai, Irwan adalah sosok laki-laki yang begitu baik, dan pengertian.
"Jangan sampai dia tahu dulu ta, semuanya harus tersimpan rapi dahulu, nanti setelah waktu yang pas baru kamu ungkapkan semuanya pada Irwan, aku yakin dia akan menerimamu apa adanya"
"Dan aku pastikan Irwan tahu dan membencimu" lanjut Siska dalam hatinya.
Janet hanya pasrah pada hidup nya ke depan, ia tidak ingin berlarut-larut dalam bayangan malam panas nya dengan pria asing itu, toh belum tentu dia hamil.
"Aku harus pulang, papah pasti mencemaskanku"
"hmm baiklah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya ta."
Mereka berpelukan sejenak, sebelum Janet pergi rumah Siska, Janet kembali memesan taksi online dan sebelum masuk mobil ia memastikan dulu kalau mobil yang akan di tumpangi nya benar-benar mobil pesanan nya.
Setelah di rasa benar, Siska masuk dan mobil itu langsung meninggalkan rumah Siska dengan cepat, pikiran Janet yang terlalu berat membuat nya lelah dan ia tertidur di dalam mobil.
Sudah cukup lama mobil itu bergerak hingga berhenti tepat di titik aplikasi, dan memarkirkan mobil nya di depan gerbang rumah Janet, di lihat nya Janet yang tertidur pulas membuat supir itu tak tega membangunkan nya, namun ia harus segera mencari penumpang lain dan terpaksa membangunkan Janet.
"Mbak... mbak... bangun mbak, kita sudah sampai"
Janet yang terkejut karena di bangunkan oleh supir itu terbangun dan menyusut air liur yang sudah menetes di mulut nya.
"Cantik-cantik jigongan" ucap sopir itu dalam hatinya.
"Oia pak maaf, saya sudah bayar di aplikasi ya,"
"iya mbak terimakasih"
Janet pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah nya, namun saat melewati pos satpam pak Wahyu langsung memanggil Janet.
"Maaf non, tadi ada yang nyari?"
"Siapa pak?"
"Saya tidak tahu, saat saya tanya siapa dia hanya bilang, di suruh majikan nya saja"
Janet pun berpikir siapa yang mencarinya sampai ke rumah, padahal teman-teman nya banyak yang tidak tahu rumah Janet, namun seketika pikirannya tak tenang, ia mengingat pria yang semalam mengungkung tubuh nya.
Deg
"Yoo ramaikan lapak Janet and Yoga, jangan lupa like and komen nya bestie...