
Janet terus menangis di dekapan Bi Imah, ia tak menyangka papah nya harus pergi secepat itu, para pelayat sudah mulai berdatangan, di antara mereka ada sosok yang sangat familiar dan tentu saja sosok yang selama ini ia hindari.
"Itu kan pria itu, kenapa dia ada di sini?"
Pria yang sudah di pastikan adalah Yoga menatap lekat pada Janet yang seperti enggan bertemu dengan nya, Janet yang memang menghindari pria itu langsung menatap arah lain saat Yoga menatapnya.
Yoga terlihat membaur dengan tetangga lainnya, menyiapkan segala keperluan untuk jenazah, membuat Janet merasa laki-laki itu tidak seburuk yang ia kira.
Tatapan Janet yang terlihat kosong membuat hati Yoga merasakan apa yang sedang Janet rasakan, Yoga ingin sekali mendekati Janet dan menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir.
Yoga hanya bisa memandang Janet dari kejauhan, berharap wanita itu bisa ikhlas dan sabar.
Pak Wira yang sudah di mandikan dan di kafani akan segera di kebumikan, semua orang ikut mengantar ke peristirahatan terakhir pak Wira.
Pak Wira yang terkenal sebagai orang baik dan dermawan itu kepergiannya di iringi banyak orang, banyak yang mendoakan dan juga banyak yang membantu.
Janet juga ikut dalam rombongan pengantar Jenazah, ia satu mobil dengan Bi Imah, sementara Bu Rissa berada satu mobil dengan kedua anaknya yang masih berada di Indonesia, padahal tadinya sore ini mereka akan berangkat menuju London.
ya keduanya kuliah di London, membuat mereka sedikit angkuh karena menjadi orang kaya baru.
Pemakaman pak Wira sudah selesai, dan para pengantar satu persatu meninggalkan makam, namun Janet masih tak mau meninggalkan pusara ayahnya, ia kembali menangis di hadapan makam.
"Pah, maafin Janet ya, Jane belum bisa membuat papah bahagia dan bangga, papa terlalu cepat meninggalkan Jane, sekarang Jane gak punya siapapun di sini pah.."
"Dan Kau Jane, saya tunggu kamu di rumah, kita selesaikan masalah nya" belum juga Janet selesai dengan kenyataan pahit ini, ibu sambung nya sudah meminta segera pulang.
Namun Janet hanya mengangguk saja, ia tak langsung pergi dari makan ayahnya, "Pah, kenapa papah pergi secepat ini, lihat pah di sini ada cucu papah, aku gak tau setelah ini hidupku bagaimana kalau papah gak ada?" Janet berbicara dari hatinya sembari mengelus perut nya yang masih rata, menunjukan calon cucu papahnya disana.
Janet yang terpuruk membuat nya tak ingin pergi dari makam, ingin rasanya ia menemani sang papa disana, " Aku ingin sama papa aja pah, aku gak sanggup memikul beban ini sendiri pah." Janet terus menangis dihadapan pusara pak Wira, sudah dua jam Janet menangis disana, dan kini hujan mulai turun, namun Janet rak mau beranjak, hingga badan nya terasa melayang.
"Heii kau, lepaskan aku.. beraninya kau meng..." Janet menggantung kata-kata nya saat melihat tubuh nya di gendong oleh Yoga.
"Kau..!"
"Ya ini aku, apa yang kau lakukan sampai berjam-jam disini, lihat sudah turun hujan kau harus pulang!"
Yoga merasa punya hak atas wanita yang sekarang sedang memberontak dalam gendongannya, memintanya untuk di turunkan.
"apa hakmu, dan kau siapa berani mengatur hidupku hah...?" Janet berteriak di depan wajah Yoga membuat Yoga langsung menurunkan Janet dan menatap Janet tajam.
"Kau adalah wanita ku, dan jangan pernah berpikir untuk pergi dariku karena disini ada anakku."
Janet langsung terdiam, ia tidak menyangka kenapa Yoga tahu tentang kehamilannya, Janet tak bisa berkata apa-apa lagi, dan Janet berpikir Yoga bukan orang sembarangan karena selalu tahu tentang nya, disaat orang lain belum mengetahui nya.
"Siapa kau sebenarnya, dan kata siapa disini ada anakmu? Jangan terlalu percaya diri tuan, aku tidak hamil anakmu dan tidak akan pernah hamil anakmu, hmmp.."
Belum juga selesai bicara bibir Janet sudah di bungkam oleh Yoga dengan bibirnya, Yoga ******* bibir Janet dengan lembut, memberikan sensasi luar Biasa bagi Janet, lumayan lama mereka berciuman karena Janet sempat terbuai dengan sentuhan bibir Yoga, namun di saat kesadarannya kembali Janet langsung mendorong dada Yoga agar menjauh dari nya, lagi pula dirinya sudah kehabisan oksigen saat itu.
"hhhhh apa yang kau lakukan berengsek...hhh..." Janet sampai terengah-engah karena pasokan oksigen nya yang menipis, Yoga hanya tersenyum dan kemudian membawa Janet pergi, dengan menarik tangan wanita itu.
"diam lah atau aku akan melakukan nya lagi sekarang" Yoga mengancam Janet yang terus saja memberontak minta di lepaskan.
Saat Janet mendengar ucapan Yoga dia langsung diam dan mengalah, tak ingin Yoga kembali mencium nya lagi, karena sekarang di hadapannya banyak manusia yang berlalu lalang.
Yoga membawa Janet pulang ke rumah nya, dan saat sudah berada di halaman rumah nya, Janet melihat barang-barang dan koper nya sudah berada di luar rumah.
"Kenapa barang-barang ku di keluarkan semua, siapa yang berani melakukan nya.." Janet berteriak tidak terima barang-barang nya di keluarkan sampai berantakan di teras rumah.
"Kenapa kau marah hah?" tanya Bu Rissa yang sudah lebih dulu keluar sebelum Janet masuk ke dalam rumah nya, di ikuti oleh kedua anak kesayangan nya dari belakang.
"Apa maksud ibu, ibu mengusir ku?" tanya Janet tenang.
"Ya kau memang harus pergi dari rumah ini, rumah ini terlalu bagus untuk wanita murahan sepertimu, kau hamil di luar nikah kan.?" Kini Marsya yang berbicara.
Janet terdiam ia tak menyangka semuanya akan terbongkar begitu cepat, "Tapi ini rumahku, kalian tidak berhak mengusirku dari sini." Janet kini mulai emosi.
"Aku berhak atas apa yang ada di rumah ini, lagi pula ini adalah amanat terakhir dari papahmu sendiri, karena dia meninggal saat tau kamu hamil, dan itu berarti kau yang telah membunuh suamiku, kalau kau tidak mau pergi maka akan aku lapor kan ke polisi, dengan tuduhan pembunuhan." ucap panjang lebar Bu Rissa.
"Apa.... papah meninggal karena tahu aku hamil, berarti aku yang membunuh papa?" Janet langsung bersimpuh, ia menangis dan memukul-mukul perutnya.
"Tidak... aku benci kamu.. ini gara-gara kamu, aku harus kehilangan orang yang aku sayang gara-gara kamu, aku benci kamu... hiks.. hiks.. hiks.." Janet terus saja memukul perutnya dan tak lama ada tangan kekar yang menghentikan aksinya.
"Dia tidak bersalah, jangan hukum dia dengan. kesalahanmu sendiri Jane.." Kini Yoga ikut berbicara, ia tidak rela calon anak nya terus di sakiti ibunya sendiri.
"Jane ikut denganku sekarang, mereka sudah mengusirmu, kamu sudah tak ada artinya lagi di rumah ini" lanjut Yoga dan langsung menggendong Janet ala bridal style, Janet kali ini tak memberontak, ia hanya terdiam dalam tangisnya.
"Pergi lah yang jauh, dan jangan pernah kembali, aku tidak Sudi mempunyai anak sampah sepertimu" Perkataan Bu Rissa membuat Jane dan Yoga menghela nafasnya dalam-dalam.
to be continuedp