
Sekarang Yoga membawa Janet ke apartemennya, sepanjang perjalanan Janet tak berhenti menangis, bahkan tak mau berbicara sedikitpun.
"Sudah jangan nangis terus Jane, itu gak akan merubah keadaan."
Janet tetep diam, namun matanya tak berhenti menangis membuat Yoga bingung dengan situasi ini. Yoga menghembuskan nafasnya kasar, ia merasa kesal karena Janet tak mau mendengarnya.
"Jane lihat aku, jangan menangis lagi, sekarang lebih baik kamu makan dulu." ucap Yoga sambil menyodorkan sepiring nasi dan lauknya pada Janet.
Kini Janet menatap Yoga dengan tajam, "Ini semua gara-gara kamu, Kamu sudah menghancurkan segalanya, kamu berengsek, aku benci kamu, aku benci..." Janet langsung berteriak.
Yoga hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Ternyata susah untuk membujuk seorang wanita, apalagi dia menyalahkan ku atas apa yang menimpanya, padahal dia sendiri yang mulai,, huhhh wanita memang selalu benar..."
Janet yang masih terpuruk dengan keadaan nya sekarang hanya bisa menangis dan menangis, bagaimana tidak terpuruk pertama dia kehilangan kegadisannya, kedua dia hamil ketiga dia kehilangan ayahnya dan terakhir ia terusir dri rumah nya sendiri.
Yoga yang sudah tidak tau harus berbuat apa, meninggalkan Janet di sebuah kamar, kamar tamu yang berada di apartemennya, kamar yang biasanya selalu kosong tanpa penghuni.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu saat ini, tenangkan dulu hati dan pikiran mu, kalau sudah kita harus bicara." Yoga pergi ke kamar sebelahnya, ia membersihkan dirinya dahulu karena tadi ikut menguburkan ayahnya Janet.
Setelah kurang lebih lima belas menit Yoga keluar dari kamar mandi, dengan hanya melilitkan handuk di pinggang nya, saat ia akan membuka lemari nya terdengar sesuatu yang pecah dari kamar Janet.
Prannnngggg
Yoga langsung keluar dan masuk ke kamar Janet, di lihat nya Janet sudah memegang pecahan gelas yang tadi sudah ia lemparkan dan pecah.
Janet jelas akan menggoreskan nya ke urat nadinya, "Jane... hentikan..." Yoga mencoba menghentikan niat Janet yang akan bunuh diri.
Janet menoleh ke arah suara Yoga, ia hanya tersenyum "Jangan mendekat, atau aku juga akan membunuhmu berengsek.."
Yoga tak ingin gegabah dalam mengatasi hal seperti ini, karena orang yang putus asa seperti Janet akan nekat melakukan apapun juga.
"Jane, dengarkan aku.. simpan dulu itu oke.. kita bisa bicara baik-baik.. aku akan melakukan apapun untukmu, tapi aku mohon jangan sampai barang itu melukaimu.."
"Diam kau, apa kau bisa mengembalikan hidupku seperti dulu lagi hah?" tanya Janet yang sudah emosi tingkat tinggi.
Yoga terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, Janet yang begitu frustasi dengan keadaannya sekarang memilih akan mengakhiri hidupnya.
"kau tidak bisa menjawab kan?"
Janet kembali akan menggoreskan pecahan beling tadi ke urat nadinya dan dengan sigap Yoga langsung mencekal pergelangan tangan Janet, membuat Janet memberontak.
"Lepaskan aku, lepaskan... aku ingin menyusul papa... lepaskan... jangan halangi aku berengsek...lepassss...."
Janet terus saja meminta di lepaskan, bahkan tangan yoga kini tergores oleh pecahan gelas yang di pegang oleh Janet, Janet yang melihat ada darah bercucuran dari tangan Yoga membuat dirinya langsung menjatuhkan beling tersebut.
Tenaga nya mulai melemah, matanya menatap seperti tidak percaya, ia ketakutan, "Tidak... tidak.. itu darah..jauhkan dariku.. jauhkan.. papah... ada darah pah.. aku takut..." Janet kembali berteriak dan menutup wajah dan telinganya bergantian.
Ya Janet memang takut dengan darah, melihat darah Janet bisa histeris dan seperti orang yang melihat sesuatu yang mengerikan..
Yoga yang paham dengan situasi seperti ini langsung menutup tangan nya dengan kain handuk yang melekat di pinggangnya, seketika handuk terbuka dan menampilkan sesuatu yang bergelantung bebas tanpa batas.
Yoga membersihkan darah yang sudah berceceran di lantai dengan handuk tersebut, dan ia tidak sadar dengan tubuh polos nya itu.
Janet yang melihat itu spontan berteriak dan menutup matanya, namun matanya ditutup tak sempurna membuat Janet masih bisa melihat belalai gajah milik Yoga.
Yoga yang tersadar akan kekonyolan nya, namun Yoga cuek saja, karena toh wanita yang pura-pura menutup matanya itu juga pernah melihat tubuh nya.
"Haiissss kenapa kaget seperti itu, kau kan sudah pernah melihat nya bahkan merasakan nya."
Perkataan Yoga membuat Janet malu sendiri, pipinya memerah, ia tidak sadar ia tersenyum sendiri mengingat belalai yang gagah yang pernah ia lihat dan ia rasakan.
Namun saat itu juga Janet kembali marah, "Iya aku pernah merasakannya, dan karena dia sekarang aku harus menanggung semua akibat yang dia ciptakan hiks... hiks.. hiks.." Janet kembali menangis membuat Yoga bingung.
"Dasar labil..."
to be continued...
Hai reader... terimakasih sudah setia mengikuti alur cerita halu ini ya...
maaf kalau alur nya gak nyambung, antara sibuk dan ngantuk dan pengen nulis bercampur jadi ya gini deh hasilnya hehehe..
Jangan lupa like and komen sebanyak mungkin, kasih kopi atau bunga juga boleh...
Follow juga ya akun NT othor...
Thank you all...