One Night Stand With Hot Duda

One Night Stand With Hot Duda
Bertemu Irwan



Malam ini Janet dan Irwan akan bertemu di sebuah taman kota, Janet pergi sendiri dengan menggunakan taxi, ia tak ingin di jemput Irwan, dan tak ingin Irwan tahu tempat tinggal nya sekarang.


Ternyata Irwan sudah berada di sana, sedang duduk di sebuah bangku taman dan sebuah buket bunga mawar merah di tangan nya.


Janet menghampirinya dan berdiri di hadapan laki-laki yang sangat ia cintai, saat Irwan tahu wanitanya sudah datang ia pun berdiri dan menyambut Janet dengan pelukan hangat.


"Jane, aku merindukanmu"


Janet pun membalas memeluk Irwan dengan erat, menyalurkan kerinduan dalam hatinya.


"Aku juga merindukan mu Wan"


"Kamu kemana saja setelah di usir dari rumah?"


Janet langsung kaget dari mana Irwan tahu, apa jangan-jangan Irwan juga sudah tahu tentang kehamilannya saat ini?


"Ka..kamu tahu dari mana kalau aku di usir dari rumah?"


Irwan pun menceritakan saat ia kerumah Janet dan di beritahu oleh satpam nya, dan dari sana Irwan terus mencari keberadaan Janet.


Itu semua membuat Janet lebih merasa bersalah, bagaimana bisa ia mengkhianati laki-laki baik di hadapannya.


Tak terasa bulir bening jatuh begitu saja dari mata Janet membuat Irwan bingung, "Kenapa kamu menangis jane?" tanya Irwan khawatir.


"Maaf kan aku wan.. hiks..hiks.. hiks.." Tangis Janet semakin pecah saja, di pelukan Irwan, membuat Irwan menjadi lebih bingung lagi.


"Kamu kenapa? ayo cerita sayang?"


Janet pun terdiam ia tak sanggup kalau harus kehilangan Irwan, "Jangan menangis lagi Jane, aku akan menikahi mu secepatnya agar kamu bisa tinggal bersamaku nanti."


Deg


Wajah Janet langsung mendongak ia menatap Irwan dengan tatapan yang tak bisa di artikan, bahkan jantung nya seakan berhenti mendengar Irwan akan menikahinya.


"Maaf aku gak bisa menikah denganmu Wan," akhirnya kata itu lolos juga dari mulut Bianka.


"Kenapa? apa kamu sudah tak mencintaiku?" tanya Irwan heran.


Bianka hanya menggeleng ia tak ingin bercerita lebih jauh lagi karena akan membuat Irwan lebih sakit hati lagi kalau tahu ia sedang hamil anak orang lain.


"Maaf hubungan kita memang harus berakhir, kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripadaku."


Janet langsung membalikan badannya dan berlari menjauh dari Irwan, namun Irwan yang tak terima kemudian mengejar Janet dan tangan Janet berhasil Irwan cekal.


"Tidak Jane, aku tidak ingin kita berpisah, apa salahku Jane, tolong lihat aku, aku mencintaimu Jane."


Jane yang tak ingin melihat Irwan ia terus saja menunduk, ia begitu rapuh saat ini, hanya bisa menangis dan menangis.


"Irwan sekali lagi tolong lepaskan aku, aku harus pergi dari sini dan pergi dari kehidupanmu, itu sudah menjadi keputusanku, tolong terima semua ini, mungkin kita tidak berjodoh."


"Apa alasan nya Jane? kenapa kamu mau pergi dariku, apa salahku?" kebersamaan kita beberapa tahun kebelakang apa artinya Jane, aku tidak ingin hubungan ini berakhir."


"Tapi aku hamil anak orang lain Wan?"


cekalan Irwan di tangan Janet langsung melemah ia menatap mata Janet dan berharap ada kebohongan di mata wanita yang begitu ia cintai.


Irwan tersenyum " Kamu ini nge prank aku ya? aku gak percaya sayang, sudah gak usah begini, aku tau sifat kamu, kamu saja membatasi diri dari aku, gak akan mungkin kamu memberikan nya sama orang lain kan"


Janet kembali menangis ia kini bersimpuh di hadapan Irwan dan terua meminta maaf kepadanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku minta maaf, semua yang kamu dengar itu benar Wan, aku hamil dan besok aku akan menikah dengan orang yang menghamiliku, semuanya terjadi begitu cepat dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku gak mau lebih dalam menyakiti hati kamu Wan,"


"Apa kepergian ayah dan terusirnya kamu ada hubungan nya dengan ini?" tanya Irwan.


Janet hanya mengangguk pasrah, biarlah Irwan tahu yang sebenarnya agar ia lebih mudah mengakhiri hubungan nya ini.


"Ayo duduk dulu, ceritakan semuanya padaku"


Irwan membawa Janet duduk kembali di kursi tadi, harapannya masih sama kalau Janet hanya membuat prank untuknya.


Akhirnya Janet menceritakan kejadian di malam itu yang berujung menyerahkan mahkota yang paling berharga kepada laki-laki asing yang tak pernah ia temui sebelumnya.


Tangan Irwan terkepal kuat, ia kini tahu pasti perbuatan siapa ini dan arahnya kepada Siska sahabat Janet sendiri.


"Ini semua ulah Siska,"


"Kenapa menyalahkan Siska, dia tidak tahu apa-apa?"


"Baiklah aku yang akan bertanggung jawab atas bayi yang ada di perutmu sekarang, aku gak rela orang lain memilikimu."


Bruuugg


to be continued