
Braaakk
Yoga menutup pintu mobil nya dengan kencang menggunakan kaki nya, ia kemudian dengan cepat membawa Janet masuk ke dalam sebuah klinik.
Yoga mencari bantuan untuk membawa Janet dengan blankar, "Suster, tolong cepat.." Yoga begitu panik saat ini, suster yang mendengar ada yang minta tolong dengan cepat membawa blankar dan membaringkan Janet di sana, mereka mendorong tubuh Janet yang sedang memegangi perut nya menuju IGD.
"Maaf pak, bapak tidak boleh masuk dan segera urus pendaftara untuk pasien." ucap Salah satu suster dan menutup pintu.
Yoga langsung mencari tempat untuk menyelesaikan pendaftaran untuk Janet, " Sus saya mau daftarkan pasien yang bernama Janeta Maharani."
"Baik silahkan pak"
Suster penjaga dan Yoga terus berkomunikasi perihal identitas Janet, dan setelah selesai Yoga kembali ke ruangan dimana Janet sedang mendapatkan perawatan.
Yoga duduk dengan frustasi, ia tidak menyangka karena kegilaannya kini Janet dan calon anaknya harus berhadapan dengan maut.
"Ya Tuhan, selamatkan mereka berdua aku mohon!"
Tak lama seorang dokter wanita cantik keluar dari ruangan IGD dan mencari Yoga, "Maaf apa anda suami dari wanita yang di dalam?" tanya Dokter itu ramah.
"emm..bukan ..eh.. iya Dok maksud saya iya saya suaminya!" Yoga terlihat gugup saat di tanya dokter.
"Tidak apa-apa jangan panik pak, istri Anda sudah kami tangani, Alhamdulillah dia baik-baik saja sekarang, kandungan nya juga baik."
"Ahh syukurlah Dok" Yoga kini sudah bisa bernafas lega, saat dokter menerangkan keadaan Janet dan bayinya.
" Bapak terlalu semangat ya, Lain kali jangan melakukan dengan kasar ya pak, kandungan istri bapak lemah, jadi saya sarankan untuk saat ini jangan dulu ya, nanti setelah benar-benar baik dan kandungan nya kuat bisa kembali melakukannya tapi pelan-pelan." jelas dokter sambil tersenyum dan membuat Yoga memerah.
"he.. iya Dok.."
Dokter Arina langsung meninggalkan Yoga dengan senyum terbaiknya, Yoga benar-benar malu saat dokter itu bilang Yoga terlalu bersemangat.
Yoga langsung masuk ke dalam ruangan Janet, ia melihat keadaan Janet yang begitu memilukan, "Jane maafkan aku, maaf!" Yoga langsung meminta maaf saat berhadapan dengan Janet, namun Janet memalingkan wajahnya saat tatapan mereka bertemu.
"Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja?" tanya Janet datar.
Yoga kembali menghela nafasnya, "Apa kau ingin aku melakukan nya lagi di sini?"
"Aku akan terus melakukan nya kalau kau berbuat hal konyol lagi, Jane tatap aku sekarang."
Janet pun menatap mata Yoga dengan tajam, "Jangan menatapku seperti itu, kau seakan mau membunuhku saja"
"Kau minta aku menatapnya, tapi kau sendiri.. ahhh sudahlah Takan ada ujungnya berbicara dengan mu pria mesum.."
Yoga kembali tersenyum, dan kini tangan Yoga terulur dan menggenggam tangan Janet, namun kali ini Janet tidak menolak, namun ia masih terlihat dingin.
"Setelah ini, aku akan menikahimu Jane aku akan bertanggung jawab untuk kehamilannya ini".
Janet terdiam dia tidak tau harus menjawab apa saat ini, pikirannya yang kacau membuat dirinya tidak bisa memikirkan arah hidupnya kedepan karena saat ini yang ia pikirkan hanya ingin mengakhiri hidupnya saja.
Seorang suster datang dan membuat Yoga melepas genggaman nya, ia beralih menatap suster yang datang mengganggu nya.
" Maaf pak, bapak diminta untuk mengurus administrasi nya dahulu dan ini resep obat yang harus bapak tebus." Suster itu tersenyum kaku karena ia tahu kedua orang tersebut sepertinya sedang berbicara serius, namun ia tidak peduli dirinya harus cepat-cepat memberikan resep itu kepada Yoga.
"Baik lah Sus terimakasih"
Suster pun pergi meninggalkan Yoga dan Janet di sana, "Baiklah aku akan kembali secepetanya, pikirkan perkataan ku barusan, ku harap kau menyetujuinya karena kalau tidak aku akan melakukan nya lagi padamu sekarang"
"Dasar pemaksa mesum"
Janet merasa kesal dengan Yoga, lagi-lagi dia mengancam akan melakukan nya lagi dan lagi, sebenarnya ini juga kesalahannya, ia selalu tidak bisa menolak saat bibir Yoga sudah mulai menjelajah di aset kembar nya, katakanlah itu titik kelemahan nya.
Janet langsung pasrah saat Yoga dengan rakus nya melahap gunung kembar nya bergantian, bahkan saat ini Janet kembali mengingat pergulatan panas mereka.
Namun apalah daya ini semua sudah terjadi, mau di apakan lagi kini hidupnya sudah benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.
"aahhhh sial kenapa otak gue malah jadi mesum gini sih, ini gara-gara dia."
Janet mengetuk-ngetuk kepalanya dengan tangan nya, ia menyadari kebodohannya nya tidak bisa menjaga dirinya sendiri, padahal saat ia bersama Irwan kekasihnya, mereka tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh, hanya sebatas ciuman dan pelukan saja.
"Ahhhhh Irwan..."
to be continued...