One Night Stand With Hot Duda

One Night Stand With Hot Duda
Syarat Janet 2



Hari ini Janet sudah bisa pulang ia kembali ke apartemen yoga, setelah sampai Janet langsung masuk ke kamar nya begitupun dengan Yoga.


Yoga membersihkan dirinya dahulu sebelum kembali ke rumah utama, rencana nya ia akan membawa Janet esok hari ke rumah utama menemui sang ibu.


Setelah selesai membersihkan dirinya dan sudah berpakaina lengkap Yoga masuk ke kamar Janet, ia melihat Janet yang sedang mengobrak-abrik isi koper dan tas nya, mencari sesuatu, namun tak kunjung ia temukan.


"Hmmm"


Yoga berdehem untuk menyadarkan Janet dari ulahnya yang sedari tadi tidak berhenti mengacak-acak kamarnya.


Janet yang sadar akhirnya menoleh ke arah suara Yoga, "Apa?" tanya Janet dengan ketus lalu membalikan kembali tubuh nya dan lanjut mencari apa yang ia cari.


"Jutek amat sih, nyari apa kamu?" tanya Yoga.


"Hp aku ilang, gak ada di tas. Atau jangan-jangan kamu ambil dan jual ya."


Yoga langsung melongo mendapatkan tuduhan konyol seperti itu, "Heii hati-hati kalau bicara, mana mungkin aku mencuri HP dan menjualnya, memang nya aku kekurangan uang?" tanya nya kesal.


"Mungkin aja, kamu kehabisan uang untuk membayar biaya rumah Sakit ku"


Yoga hanya menggelengkan kepala nya, tak akan ada habisnya kalau berdebat dengan wanita keras kepala seperti Janet.


"Aku mau pulang dulu menemui ibuku, dan besok aku akan membawamu dan mengenalkannya sebagai calon istri."


Janet langsung berhenti saat ia mendengar perkataan Yoga yang akan mengenalkan nya pada ibunya, "Aku belum siap." ucap Janet.


"Siap tidak siap kamu harus siap, anak kamu harus punya ayah, aku tidak mau anakku di bully orang karena tidak punya ayah." Kesal Yoga karena lagi-lagi Janet tak siap.


Yoga menerawang ke masa lalu nya, dimna saat ia duduk di sekolah dasar teman-teman nya membully habis-habisan karena dia tidak mempunyai ayah, bahkan dia tidak mempunyai teman sama sekali, ia di anggap anak haram karena terlahir tanpa ayah, dan Yoga tak ingin itu terjadi kembali kepada anaknya, dia akan melakukan apapun demi kebahagian sang anak.


Janet pun langsung terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan Yoga padanya, akhirnya Janet mengangguk setuju.


"Baiklah aku akan menurutmu, tapi syaratku apa kau akan menerimanya nya?" tanya Janet dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Hmm, apa syaratnya?"


"Oke syarat pertama."


"Tunggu-tunggu kenapa ada syarat pertama, memang nya akan ada syarat yang lainnya?" tanya Yoga yang kurang setuju.


"Banyak, dan diamlah aku belum selesai." cicit Janet.


"pertama, aku ingin kamu bantu aku merebut kembali hak-hak ku yang mereka ambil, ke dua jangan mencari kesempatan untuk menyentuhku kembali setelah kita menikah.."


"Heii syarat apa itu, yang ke dua gak bisa aku lakuin, ngapain punya istri tapi gak bisa di sentuh."


"Diam dulu, cerewet amat sih jadi cowok dan syarat ke tiga aku punya pacar, dan tolong izinkan aku untuk menyelesaikankan dulu hubungan ku dengan dia, aku gak mau selama kita menikah akan ada orang ketiga diantara kita, dan itu juga berlaku untukmu dan yang terakhir.."


"What masih ada lagi?" potong Yoga yang sudah mulai kesal.


"aku ingin kita bercerai setelah anak ini lahir"


Jantung Yoga terasa terhenti saat Janet mengajukan syarat yang terakhir, mungkin ketiga syarat yang lainnya masih bisa ia lakukan tapi untuk yang ke empat seakan tak sanggup untuk ia lakukan.


"Kenapa harus bercerai? kita bisa kan menjalani rumah tangga sebagai mana mestinya, membahagiakan anak kita bersama nantinya."


"Maaf, penikahan ini sebuah keterpaksaan, tidak di dasari dengan cinta sedikitpun, aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang hanya menginginkan anak saja dan hanya demi kebahagiaan anaknya saja tanpa peduli dengan kebahagian yang menjadi istrinya."


Jleb


Hati Yoga kembali bergemuruh, memang ada benar nya apa yang di katakan oleh Janet, ia hanya menginginkan anaknya, tanpa ada rasa cinta pada ibunya.


"Baiklah kalau itu mau mu, aku harus pergi sekarang"


Yoga langsung pergi meninggalkan Janet, sekarang pikiran Yoga benar-benar di kuras dengan syarat dari Janet apalagi syarat yang terakhir.


"Baiklah sekarang memang tak ada cinta di antara kita, tapi sebelum anak kita lahir aku pastikan kau akan tergila-gila padaku." Yoga tersenyum pasti, ia yakin Janet akan mencintainya sebelum anak mereka lahir, hanya tinggal menunggu waktu saja.


"Tapi bagaimana dengan Monster kecil ini, masa tak bisa masuk ke kandang nya sih?"


Yoga pun langsung pergi dari apartemennya dan langsung menuju rumah utama, ia benar-benar akan menemui sang ibu untuk meminta restu nya.


Sementara Janet terlihat sangat tak tenang, memikirkan pernikahan nya esok dengan Yoga, ia belum bisa menghubungi Irwan sampai saat ini, ia tidak tahu ponselnya berada di mana sekarang.


Janet terus mengingat-ngingat dan terakhir yang ia ingat saat pergi dari rumah nya ia memasukan HP nya kedalam tas, tapi saat di cari di tasnya ia tidak menemukan HP nya sama sekali.


"Apa dia menyembunyikan nya?" tanya Janet dalam hati dan ia langsung keluar dari kamarnya lalu masuk ke kamar Yoga yang untung nya tidak di kunci.


Janet mulai mencari di seluruh ruangan kamar Yoga ia berharap akan menemukan HP nya agar bisa bertemu dengan Irwan.


"Done akhirnya ketemu juga, dasar pencuri." Janet mendengua kesal karena HP nya benar-benar di sembunyikan oleh Yoga di laci nakas kamarnya, namun ia juga bahagia karena bisa menemukannya, dan langsung menghubungi sang kekasih.


Janet langsung menyalakan HP nya, dan saat sudah di nyalakan banyak sekali pesan dan telpon masuk dari sang kekasih.


Janet kemudian menelpon balik Irwan dan ingin meminta bertemu untuk memutuskan hubungan mereka.


"Hallo Jane, kamu kemana aja sih aku cari-cari kamu dari kemarin." suara Irwan dari sebrang telpon terdengar sangat khawatir dan membuat Janet merasa bersalah.


"Maaf, aku ada sedikit masalah aku ingin bertemu denganmu!" Janet langsung saja meminta bertemu dengan Irwan tanpa banyak bicara lagi.


"iya ayo kita ketemu, aku kangen sama kamu dan banyak hal yang aku ingin tahu tentang keadaanmu sekarang sayang"


"Kita ketemu nanti malam ya ditempat biasa, ya sudah aku akan bersiap dulu."


"Oke, I love you"


"love you to" Janet langsung menitikkan air matanya saat mengatakan hal terakhir sebelum memutus panggilan nya.


Janet merasa telah mengkhianati cinta nya pada Irwan, laki-laki yang sudah menemaninya beberapa tahun belakangan ini, entah apa yang akan terjadi saat nanti Irwan tahu apa yang sebenarnya terjadi.


to be continued...