
Janet yang sekarang sedang terbaring di ranjang rumah Sakit sudah mulai bosan berada di sana, ia ingin segera pergi dari tempat itu namun ternyata ada dua orang berbadan kekar yang menjaga di pintu, membuat dirinya bagai terpenjara.
"Aku ingin begini... aku ingin begitu... ingin ini... ingin itu... banyak sekali..." Janet malah bernyanyi mengusir rasa bosan di hatinya.
"Si mesum kemana sih, aku ingin pulang..." Janet sekarang merasa kesepian karena tidak ada Yoga di sisinya, panggilan mesum yang di sematkan kepada Yoga itu karena saat bersama Janet Yoga akan sering mengancam melakukan hal yang membuat otak nya sering traveling kemana-mana.
Tak berselang lama Yoga akhirnya datang juga, ia membawakan buah-buahan untuk Janet agar Janet tidak kekurangan asupan nutrisi, dan agar si jabang bayi di perutnya akan tetap sehat.
"akhirnya kau datang juga!" Ucap Janet pada Yoga yang baru saja menyimpan buah-buahan itu di meja.
"Apa kau merindukan ku?" Goda Yoga.
"Isshhh apa-apaan sih, aku hanya bosan di sini dan ingin cepat pulang." ketus Janet.
"Kita akan tahu kapan kau bisa pulang setelah dokter memeriksa mu siang ini." jelas Yoga.
Bahkan Yoga rela kembali ke rumah sakit di siang ini agar tahu kondisi Janet dan bayinya, karena sebentar lagi jadwal dokter memeriksa keadaan Janet.
"Aku sudah sehat, dan aku ingin pulang..."
"Kamu mau pulang kemana? bukan nya kamu sudah di usir dari rumah?" Tanya Yoga dan Janet langsung menatap Yoga dengan tidak percaya.
Ya Janet merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Yoga, ia benar-benar kehilangan keluarga dan rumahnya, ia baru sadar sekarang dirinya tidak punya apa-apa lagi, bahkan semua fasilitas yang ia miliki sudah di rebut semuanya oleh ibu dan saudara tirinya.
Tanpa sadar Janet menitikkan air matanya, ia kini merasa sebatang kara, entah apa yang harus ia lakukan dan harus kemana setelah ini.
"Kau benar, aku tidak punya rumah, aku tidak punya apa-apa lagi sekarang hiks.. hiks.. hiks.." Janet kembali menangis, membuat Yoga merasa bersalah karena telah berbicara spontan seperti itu.
"Sudah kau bisa tinggal di apartemen ku sementara, sebelum kita sah menjadi suami istri, dan kalau kita sudah menjadi suami istri kita akan pindah ke rumah utama." jelas Yoga.
Janet langsung membulatkan matanya sempurna, "Siapa yang akan menjadi istrimu, aku tidak mau.." Janet menolak mentah-mentah perkataan Yoga.
Yoga hanya terkekeh mendengar penolakan Janet, membuat Yoga langsung mendekati Janet dan mereka hanya berjarak satu centi meter saja, Janet bisa merasakan hembusan. nafas Yoga yang beraroma mint itu.
Wajah Janet tiba-tiba memanas dan memerah ia langsung memalingkan wajah nya ke pinggir agar terhindar dari tatapan mesum Yoga.
"Aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab dengan mu yang kini sedang mengandung anakku."
Pasalnya Yoga ingin menikahinya hanya ingin bertanggung jawab untuk anak yang di kandung nya saja, karena Janet tahu tidak ada cinta sama sekali di antara mereka.
Jadi ia mencoba mengambil keuntungan dari pernikahan itu, selama semalam suntuk iabterua memikirkan apa yang di katakan Yoga kepadanya tentang pernikahan.
dan akhirnya ia memutuskan untuk mengajukan beberapa syarat kepada Yoga agar dia tidak banyak di tuntut dan di rugikan di pernikahan yang terpaksa itu.
"apa yang kau mau?" tanya Yoga.
Janet tersenyum dengan pertanyaan yang di tanyakan Yoga, "aku akan memberitahumu setelah pulang dari sini, karena saat ini aku sudah bosan berada di sini, tak ada teman, tak ada Handphone dan tak ada yang bisa membuatku senang."
Yoga begitu kesal dengan jawaban yang di berikan Janet, ia hanya ingin tahu syarat yang wanita itu ajukan tapi malah berakhir seperti ini.
Tapi Yoga harus bersabar mungkin ini bawaan bayi nya, wanita memang terkadang menyebalkan baginya.
"Sabar... sabar... dia sedang mengandung calon Yoga junior, jangan membuatnya sampai setress." bathin Yoga sambil mengelus-elus dadanya agar kesabarannya bisa bertambah.
Tak lama dokter datang berkunjung untuk memeriksa Janet, Janet yang melihat dokter langsung sumringah ia tidak sabar agar bisa cepat pulang.
"Selamat siang semua, maaf saya mengganggu" Sapa Ramah dokter itu membuat Yoga yang sedang duduk di pinggir ranjang langsung mundur dan mempersilahkan dokter untuk memeriksa Janet.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? apa yang kamu rasakan?" tanya dokter
"Aku sudah baikan Dok, dan tidak ada yang aku rasakan selain ingin cepat pulang" ucap Janet yakin.
Yoga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Janet yang kadang membuatnya jengkel, "Oh syukurlah, dan ternyata benar Anda sudah lebih baik dan sore ini bisa pulang" Dokter itu pun tersenyum.
"Hore.. aku bisa pulang..." seru Janet dan langsung memeluk Yoga dengan gembira,membuat dokter kembali tersenyum..
"bapak harus terbiasa dengan sikap istri bapak yang seperti ini, karena ini normal terjadi pada wanita hamil, dan kalau gitu saya permisi harus memeriksa pasien lain."
Janet langsung melepaskan pelukannya dan ia sedikit malu karena tidak sadar memeluk laki-laki yang sebenarnya ia benci, tapi demi misi nya tercapai ia harus bersabar dan pura-pura baik di hadapan Yoga.
To be continued...