
Akhirnya Janet menceritakan kejadian di malam itu yang berujung menyerahkan mahkota yang paling berharga kepada laki-laki asing yang tak pernah ia temui sebelumnya.
Tangan Irwan terkepal kuat, ia kini tahu pasti perbuatan siapa ini dan arahnya kepada Siska sahabat Janet sendiri.
"Ini semua ulah Siska,"
"Kenapa menyalahkan Siska, dia tidak tahu apa-apa?"
"Baiklah aku yang akan bertanggung jawab atas bayi yang ada di perutmu sekarang, aku gak rela orang lain memilikimu."
Bruuugg
Tubuh Irwan langsung terhuyung kebelakang saat sebuah pukulan mendarat di wajah nya, terlihat seseorang yang terlihat emosi.
"Yo..yoga..." Janet tidak tau ada Yoga datang di saat dirinya dan Irwan sedang berbicara, ternyata sedari tadi Yoga sudah mendekat ke arah mereka menguping semua pembicaraan antara mereka, dan di saat Irwan ingin bertanggung jawab atas anak yang di kandung Janet disitu Yoga tak terima.
"Dia anakku, dan kau tak berhak bertanggung jawab atas dia" Ucap Yoga dengan nada sinis.
"oh... ini ayah anak itu? lumayan juga tapi ini untukmu"
Bugh..
"Ini untukmu yang telah menodai wanitaku"
bugh..
"Ini untukmu yang telah merebutnya dariku"
bugh..
"Dan ini untuk pembalasan karena kau telah memukulku duluan."
Tiga tinjuan kini berhasil mengenai wajah tampan Yoga, membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Namun Yoga hanya tersenyum ia kembali bangkit membalikan tubuh Irwan dan ia membalas nya, namun Janet yang sudah tidak tahan melihat kedua laki-laki itu saling memukul akhirnya berteriak.
"Berhenti kalian..."
Keduanya langsung berhenti saat Janet berteriak dan menatap kedua laki-laki itu dengan tajam.
Janet langsung meninggalkan kedua nya yang sama-sama sedang merasakan sakit di wajah nya.
Tak ada yang menang ataupun kalah, karena keduanya sama-sama bonyok, "Jane tunggu..." Irwan dan Yoga bersamaan memanggil Janet namun Janet tak kunjung berhenti.
Mereka lari mengejar Janet sambik memanggil Janet agar berhenti dan menunggu mereka.
Janet langsung membalikan badan nya di saat telinga nya sudah terasa pengang karena panggilan dua pria dewasa yang masih seperti bocah itu.
"Diam kalian, dan berhenti jangan mengejarku lagi, kalau tidak aku akan melompat dari jembatan ini." Ancam Janet dan keduanya langsung berhenti.
Janet melihat ada taxi di depannya ia langsung masuk dan meninggalkan Yoga dan Irwan di tempat tadi.
"Ini gara-gara kamu, Janet jadi pergi." ketus Yoga
"Ini salah kamu, ngapain nongol tiba-tiba disini" Irwan mendengus kesal.
"Ahh sudah lah aku mau pergi, dan ingat Janet akan menjadi milikku, kau jangan pernah mengganggu nya lagi."
Irwan hanya diam mendengar perkataan Yoga namun dalam hatinya ia begitu marah.
"Lihat saja aku akan menggagalkan pernikahan mereka." ucap Irwan dalam hati dan tangan nya ikut mengepal kuat.
Sementara Yoga malah memilih ke apartemen Janet untuk memastikan Janet pulang ke apartemen nya, ia tak ingin Janet malah pergi darinya, padahal besok ia akan menikahi wanita berbadan dua itu.
Setelah Yoga sampai di apartemen nya ia langsung masuk ke dalam kamar Janet, melihat apakan Janet ada dikamarnya, dan ternyata Janet sedang meringkuk di atas kasurnya dengan menangis.
"Jane..." panggil Yoga lembut.
Janet tak bergeming ia terus saja menangis menumpahkan kekecewaan nya pada dirinya sendiri.
Yoga yang merasa dirinya di abaikan langsung mendekati Janet dan memeluk erat wanita itu.
"Menangislah, keluarkan semua tangismu, sampai kau puas. Tapi berjanjilah ini tangisanmu yang terakhir karena aku akan membahagiakanmu mulai hari ini."
to be continued