
Beberapa Minggu kemudian, hari-hari Janet tidak di ribetkan dengan teroran dari Yoga, ia merasakan kenyamanan kembali dalam hidup nya.
"Hoooaaammm"
Pagi ini Janet baru bangun tatkala sinar matahari masuk kedalam celah jendela kamarnya, ia menguap panjang karena malam tadi tidur nya begitu nyenyak.
Janet mengerjapkan matanya ia perlahan membuka kedua matanya lebar, ia tersenyum karena bisa tidur nyenyak malam tadi, membuat tubuhnya lebih fresh di banding pagi-pagi lainnya.
Aroma masakan yang masuk ke kamarnya mulai membuat perut nya bergejolak, "Ini bau apa sih, kok eneg banget" Janet bertanya-tanya sambil menutup hidung nya rapat-rapat.
Perutnya yang seperti di aduk-aduk ingin segera mengeluarkan isinya, Janet langsung lari kedalam toilet dengan tergesa-gesa, dan memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.
"Hoek... Hoek.. hoekk.."
Badan Janet langsung berasa lemas setelah isi perutnya keluar semua, membuat dirinya limbung, namun ia masih bisa bertahan, ia mencuci dan membersihkan wajah dan mulut nya.
"Perut ku kenapa, gak biasanya kayak gini" tanyanya heran.
Janet mengingat sesuatu, ia langsung melihat kalender di hadapannya, matanya membulat sempurna melihat tanggal berapa saat ini.
"Tidak... tidak... harusnya satu Minggu yang lalu aku menstruasi, tapi sampai hari ini tamuku belum datang juga, aku harus memastikannya." Janet buru-buru merapikan diri dan berangkat menuju apotek.
Ia berjalan melewati orang tuanya yang sudah berada di meja makan untuk sarapan, "Jane tunggu kamu mau kemana? sarapan dulu!" seru Bu Rissa.
"Maaf Bu, aku ada urusan sebentar, gak lama kok, aku segera kembali" ucap nya buru-buru dan langsung meninggalkan rumah.
Apotek di daerahnya hanya di tempuh sekitar 10menit memakai mobil, dan tak lama Janet sudah berada di sana.
Ia celingak-celinguk melihat sekitar, takut ada yang mengenal nya, ia mengendap-endap masuk apotek, dan saat di rasa aman ia membuka masker nya.
"mbak bisa minta respek nya?" tanya Janet pada pelayan apotek tersebut.
"Disini gak bisa minta mbak, harus beli." ucap absurd pelayan tersebut.
"OMG, maksud saya,saya beli mbak" Janet menghela nafasnya kasar.
Pelayan apotek itu tersenyum, " saya becanda mbak, mau yang merk apa?"
Janet menepok Jidat nya yang sudah kesal, "semua merk bungkus satu-satu." ucapnya ketus.
Pelayan itu langsung menyiapkan pesanan Janet, membungkusnya dan langsung memberikan nya pada Janet. "Berapa?" tanya Janet.
"Seratus dua puluh lima ribu mbak" Janet memberikan uang dua lembar seratus ribuan, dan langsung pergi meninggalkan pelayan apotek itu yang hendak mengambilkan kembalian untuk Janet.
"Mbak tunggu ini kembalian nya," Seru pelayan apotek.
"Buat mbak aja" Janet berteriak dari dalam mobil nya yang masih bisa terdengar oleh pelayan tersebut karena kaca mobil terbuka.
"wiihhh lumayan tujuh puluh lima ribu masuk kantong, kenapa gak semua pembeli kaya gini ya, jadi aku cepet kaya kan hehe" seru pelayan.
Janet buru-buru mengemudikan mobil nya kembali menuju rumah, tak di sangka sedari tadi ada yang membuntuti dan mengawasi gerak-gerik Janet dari kejauhan
Janet dengan cepat masuk ke dalam rumahnya, dan kembali masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan orang tuanya yang mengajakn ya sarapan.
"Jane ayo sarapan dulu" Kini suara ayahnya yang terdengar, namun Janet hanya tersenyum dan menjawab singkat lalu berjalan ke arah kamarnya.
Janet langsung menutup pintu kamarnya, dan mengunci nya dari dalam agar tak ada yang bisa masuk ke kamarnya.
"Semoga garis satu..."
Janet langsung ke toilet dan mencoba semua tespek yang tadi ia beli, tujuh tespek langsung ia coba agar hasilnya bisa ia yakini.
Janet menunggu beberapa saat,dan ia mulai mengambil nya, ia membalikan semua tespek nya, Janet sangat terkejut melihat semua hasilnya sama, ak ada satupun yang berbeda.
"Garis dua semua nya, a.. aku hamil..."
Janet sangat terpukul, ia duduk lemas di lantai toilet, menggenggam semua alat tes kehamilan itu dengan erat, berharap hasilnya akan berubah, tapi sayang saat ia lihat lagi tetap hasilnya sama.
Janet langsung melempar semua tespek itu ke sembarang arah, ia berteriak sekencang-kencangnya nga, meluapkan emosi dalam dirinya.
Kesal, marah, sedih, kecewa semua nya bercampur jadi satu, ia tidak menyangka semua yang ia takutkan akhirnya terjadi, akan seperti apa hidupnya kedepan.
Menanggung malu karena hamil di luar nikah, apalagi oleh orang yang tidak ia kenal, apa yang akan di pikirkan Irwan kekasihnya kalau sampai tahu ia mengandung anak orang lain.
Mungkin Irwan akan menyebutnya wanita murahan, wanita munafik karena saat ia di ajak oleh Irwan Janet selalu menolak, tapi bagaimana bisa dia hamil oleh orang lain.
"Tidak... aku gak mau hamil.. arhhhhg...."
Janet terus berteriak-teriak di dalam kamar mandi kamarnya, memukul-mukul perut nya yang masih sangat rata, Untung saja kamarnya kedap suara jadi tidak ada yang tahu kalau Janet berteriak begitu keras.
Janet terus menangis, membuat dirinya lemas dan jatuh pingsan.
Sementara pak Wira yang heran anaknya tidak muncul-muncul untuk sarapan, akhirnya menghampiri kamar Janet. "Jane... Janet... aya sarapan dulu." Pak Wira memanggil manggil anaknya dari balik pintu.
Namun tak ada sahutan dari dalam kamar, membuat pak Wira sedikit khawatir karena Janet tak biasanya seperti ini.
Pak Wira langsung menyuruh Rissa mengambil kunci cadangan, dan Rissa pun segera melaksanakan perintahnya.
Rissa memberikan kunci cadangan itu kepada pak Wira, dan langsung membuka kunci nya, pak Wira heran Janet tak ada di dalam kamar, ia melihat kamar mandi yang tertutup dan dapat di pastikan Janet ada di sana.
Pak Wira langsung mengetuk pintu kamar mandi, namun masih tak ada suara sahutan dari dalam.
Pak Wira langsung membuka pintu kamar mandi, ia terkejut melihat Janet yang sudah terbaring di lantai, di sekelilingnya ia lihat beberapa tespek berserakan, pak Wira mengambil salah satu nya.
Duarrrr
Pak Wira merasakan di sambar petir di siang bolong, tak ada hujan tak ada angin ia memegang dadanya, merasakan sakit dan juga sesak.
"Apa yang terjadi dengan anakku Tuhan"
Air mata seorang ayah yang tak kuasa melihat ada benda kecil memperlihatkan dua garis ditengahya, ia merasa telah gagal mendidik anak perempuannya.
"Pah.. papah kenapa pah.." Tanya Bu Rissa yang baru saja masuk, ia melihat suaminya yang sedang memegangi dada kirinya, dan tangan pak Wira terulur memberikan benda yang ia pegang pada istrinya.
"Dasar anak sialan, beraninya membuat malu keluarga" Bu Rissa begitu murka.
Bruggghhhh...
to be continued