
Malam ini Janet bersiap-siap untuk bertemu orang yang mengiriminya pesan teror itu, ia sebenarnya tidak ingin kembali bertemu dengan nya, namun ia takut kalau kejadian malam itu akan bocor ke semua orang.
"Huhhh, tenang Jane,,tenang,, semuanya akan baik-baik saja oke." Janet mencoba menenangkan dirinya sendiri, padahal hatinya benar-benar tidak karuan.
Takut dan penasaran bercampur aduk dalam dirinya, namun ia harus menghadapi laki-laki itu, agar kedepannya ia bisa tenang.
Janet menaiki mobil nya sendiri, tanpa mau di temani supir nya, padahal biasanya ia selalu di antar supir kemana-mana, atau selalu memakai taksi online.
"Oke, kita sudah sampai Jane, aku harap ini pertemuan yang terakhir dengan nya." Janet berbicara pada dirinya sendiri, ia kemudian masuk ke dalam cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka.
Janet celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, ia mencari pria yang membuatnya tidak bisa tenang dan akhirnya ia menemukannya di tempat paling ujung cafe tersebut.
Janet tahu persis pria itu, karena saat malam itu ia bisa melihat jelas wajahnya, jadi ia tidak kesulitan menemukan nya.
Janet menghampirinya dan langsung duduk di kursi kosong di hadapannya, "apa maumu?" tanya Janet to the poin.
Yoga malah tersenyum menanggapi pertanyaan Janet, "sabar dulu nona, tenangkan dirimu dulu, sesuatu tidak akan berjalan dengan baik kalau dirimu tidak tenang." Ucap Yoga santai.
Janet berkali-kali menghela nafasnya dalam-dalam, ia mencoba tenang, benar kata pria di hadapannya ia harus tenang.
"Baiklah, apa mau mu sekarang?" tanya Janet mulai tenang.
Yoga kembali tersenyum, ia menampilkan senyum nya yang paling manis agar Janet bisa terpesona oleh ketampanan dan karismanya, namun ternyata salah besar justru Janet muak melihat tingkah laki-laki di hadapannya itu.
"gak usah senyum-senyum begitu, geli aku lihat nya" jujur Janet, dan sukses membuat Yoga menampilkan ekspresi datar di wajah nya.
"Baik kalau itu mau kamu, saya cuma mau kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan malam itu." Yoga pun to the poin.
"Haiii tuan, apa yang harus aku tanggung jawab, justru di sini saya yang merasa banyak ruginya."
"Kalau kamu rugi kenapa malam itu kamu begitu lincah dan sangat menikmatinya, kamu tahu saat kamu menggoda saya, dan menyuruh saya menemani mu satu malam saja, saya kehilangan puluhan milyar karena tidak bisa menemui client saya, dan itu gara-gara Anda nona sombong."
"Ha-ha-ha itu salahmu sendiri tuan, kenapa mau saya ajak, sudah tau orang mabok masih saja di layani, itu Anda sendiri yang bodoh"
"Itu karena saya tidak mau barang bagus seperti Anda di ambil orang" Yoga tersenyum namun senyuman itu membuat Janet bergidik ngeri.
Janet terdiam, karena ia rasa tidak akan habisnya berdebat dengan manusia ini, apalagi disini dia sendiri yang memulainya.
Ingin rasanya Janet segera pergi dari tempat itu, tapi ia pikir tidak akan mungkin kalau urusan nya dengan dia belum beres.
"Baiklah, apa mau mu tuan? cepatlah aku harus pergi!"
"Lebih baik temani saya dulu makan, saya sudah lapar," Ucap Yoga yang membuat Janet menghela nafasnya kasar.
"Ya.. ya.. ya.. cepatlah, waktuku sangat berharga"
Yoga pun mulai memesan makanan, tak lupa ia menawari Janet untuk memesan makanan juga, namun gengsi Janet terlalu tinggi ia tak mau, ia hanya memilih minum saja untuk nya.
"Aku tidak lapar, aku mau Coffe late saja mas"
Pelayan itu pun mengangguk saat Janet hanya meminta secangkir kopi saja, "Kenapa harus kopi, itu tidak baik apalagi akan ada calon anakku di perut mu" ucap Yoga sambil matanya menuju perut rata Janet.
"Heii jaga bicaramu tuan, maaf saya tidak akan pernah mengandung anakmu, kita hanya melakukan nya satu kali saja kan, hanya malam itu tidak lebih."
"hahahaha ya memang satu malam tapi sampai pagi..."
Deg
Jantung Janet seakan ingin berhenti, ia tidak menyadari kalau malam itu mereka bermain hampir sampai pagi, bahkan mereka bermain berkali-kali tanpa henti.
Wajah Janet mulai pucat, ia meraba perutnya yang rata, "tidak... tidak.. itu tidak akan terjadi.. aku gak mau hamil.. tidak.." Tak ia sadari bulir bening jatuh dari matanya, ya Janet menangis, ia tak bisa menerima kalau ia hamil anak pria asing.
Yoga yang melihatnya pun terdiam, ia merasakan apa yang Janet rasakan saat ini, terlebih ini adalah yang pertama bagi Janet, ketakutan besar pasti melanda hidupnya.
"Tenang saja nona, kalau kau hamil aku akan bertanggung jawab,"
Janet hanya diam, ia tak bisa berkata-kata lagi, pikiran nya kacau apalagi kata-kata Hamil terus saja terngiang-ngiang di telinganya.
"Aku mau pulang, tolong izinkan aku pulang, dan tolong jangan pernah menggangguku lagi aku mohon." Janet berdiri dan langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah yang lemah.
Dipikirannya yang ia takutkan adalah kalau ia hamil, apa kata orang nanti, apalagi kalau ayahnya tahu, bisa-bisa ayahnya terserang penyakit jantung.
"Tidak... aku tidak boleh hamil... aku harus melakukan sesuatu.." ucapnya pelan.
Yoga yang tadinya ingin membuat Janet ketakutan dan membuat Janet menjadi miliknya, kini ia pun terdiam. Ia merasa bersalah melihat Janet seperti itu.
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu, kita lihat beberapa Minggu kedepan, kalau dia hamil, aku tidak akan melepaskannya lagi."
to be continued