
Setelah Yoga sampai di apartemen nya ia langsung masuk ke dalam kamar Janet, melihat apakan Janet ada dikamarnya, dan ternyata Janet sedang meringkuk di atas kasurnya dengan menangis.
"Jane..." panggil Yoga lembut.
Janet tak bergeming ia terus saja menangis menumpahkan kekecewaan nya pada dirinya sendiri.
Yoga yang merasa dirinya di abaikan langsung mendekati Janet dan memeluk erat wanita itu.
"Menangislah, keluarkan semua tangismu, sampai kau puas. Tapi berjanjilah ini tangisanmu yang terakhir karena aku akan membahagiakanmu mulai hari ini."
Jane merasakan kenyamanan saat di peluk Yoga dengan erat, ia menangis sampai sesegukan di pelukan laki-laki itu.
Yoga mengerti dengan apa yang di rasakan Janet saat ini, dia harus merelakan kisah cintanya bersama Irwan dengan terpaksa.
Yoga pun tahu Janet dan Irwan begitu saling mencintai, walaupun Irwan bersedia menjadi ayah untuk anak yang di kandung Janet namun itu tetap tak akan adil untuk Irwan ataupun dirinya.
"Jane aku harap semua akan berjalan dengan apa yang kita rencanakan, ingat kamu harus membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitimu bahkan membuangmu begitu saja"
Jane yang mendengar perkataan Yoga sontak mendongak, ia menatap Yoga dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bagaimana dengan Irwan, dia pasti akan berusaha menggagalkan pernikahan kita, aku tau sifat nya."
"Itu biar jadi urusanku saja, sekarang istirahat lah, besok kamu harus terlihat fresh dan bahagia."
Yoga membenamkan bibirnya di kening Janet dengan lembut, Janet pun tak menolaknya, bibir Yoga seakan memberi kehangatan dalam tubuhnya, namun tak lama bibir Yoga malah turun menyusuri pipi dan berakhir di bibir mungil milik Janet, sontak mata Janet membola sempurna.
Janet mendorong dada Yoga, ia menolak untuk bersentuhan lebih dari sekedar cium kening, "Sekali ini saja biarkan aku mencium bibirmu, mungkin setelah ini aku tidak akan menyentuhmu lagi, sesuai permintaanmu!" Yoga melepas tautannya hanya untuk mengatakan apa yang ingin ia utarakan.
Setelah itu Yoga kembali menyatukan bibir nya dengan bibir Janet, menciumnya lebih lembut, dan Janet pun kini tidak menolak ia membiarkan Yoga menyusuri setiap inci mulut.
Bahkan kini Janet mulai menyeimbangkan ciuman itu, ciuman mereka semakin liar dan panas, bahkan kini Janet sudah berbaring kembali di kasurnya, menikmati setiap sentuhan bibir Yoga yang membuat nya terbang melayang.
Tangan yoga yang sudah tidak bisa dikondisikan mulai menelusup ke bawah baju Janet, menyingkap baju nya ke atas, hingga dengan leluasa masuk dan menyentuh dua buah gunung kembar Janet.
Setelah berhasil kemudian Yoga mulai memainkan tangan nya di area itu, memainkan chococip yang berwarna pink itu dengan perlahan membuat Janet mengeluarkan suara andalannya.
"Ahhhh...."
Yoga tersenyum ia merasa mendapatkan lampu hijau untuk melakukan lebih dari itu, Yoga menyusuri leher putih Janet dengan bibirnya, meninggalkan bekas kemerahan disana.
Tak lama kacamata gunung kembar Janet di singkap ke atas hingga memperlihatkan betapa mulus putih dan besar nya gunung itu.
Bahkan saat ini Yoga kembali memberikan maha karya nya di sana, bukan hanya satu atau dua bahkan dada Janet sudah penuh dengan totolan merah ke unguan.
Wajah Yoga yang sudah sangat di penuhi gairah kini menatap Janet dengan tatapan memohon, Janet tahu apa yang di inginkan Yoga, lalu ia mengangguk setuju, karena dirinya juga sama sedang menginginkan hal yang lebih.
Yoga tersenyum ia membuka seluruh pakaian yang masih melekat di tubuh Janet, dan juga tubuhnya hingga keduanya benar-benar sudah polos tanpa penghalang.
Tangan Yoga langsung meraba bagian bawah milik Janet yang ternyata sudah sangat basah, yoga pun tersenyum ia lalu mulai membenamkan wajahnya di antara selangk@ngan Janet, mulai memainkan daerah itu dengan menjil@t dan menyesap nya hingga erang@n dan desah@n dari mulut Janet kembali terdengar dan tak tertahankan.
"Achhh... eungg... acch..."
Tubuh Janet menggelinjang hebat di saat sesuatu yang melesat keluar dari bawah sana, bahkan Yoga tak ingin melewatinya ia begitu nikmatnya terus menyesap nya bahkan tak terlihat Yoga jijik dengan apa yang ia lakukan.
Nafas Janet begitu terdengar lebih cepat, pelepasan pertamanya begitu membuatnya lemas namun ia tak menyia-nyiakan moment itu, Janet langsung membalik keadaan, ia berada di atas Yoga dan kemudian memainkan senjata Yoga yang sudah begitu menantang.
Mengulum, menyesap dan menjilatinya tanpa jeda, ia begitu lihai memainkannya membuat Yoga terpejam menikmati nya.
"Ochhh nikmat sekali honey.."
Yoga terus meracau dengan permainan Janet, "Aku akan memuaskanmu, ini terakhir bagi kita, setelah menikah aku tak ingin kamu sentuh lagi, setelah aku mendapatkan apa yang sudah kita rencanakan dan setelah anak ini lahir aku ingin bercerai darimu."
Yoga terdiam sesaat dan hanya mengangguk, Yoga masa bodo dengan apa yang di katakan wanita nya itu, ia tidak mau memikirkan hal yang lain dulu, karena saat ini ia sedang menikmati surga dunia nya.
"Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, sampai kamu tak akan mau berpisah denganku." bathin Yoga.
Janet yang sudah puas dengan tongkat sakti itu kini memposisikan dirinya duduk di atas tubuh Yoga, memasukan tongkat itu ke arah lubang miliknya.
Tongkat besar dan panjang itu mulai masuk melesak ke dalam, membuat Janet menahan sedikit rasa sakit karena benda itu benar-benar memenuhi miliknya, namun tidak begitu sulit karena kini semuanya sudah masuk ke dalam.
"Aaccchhh....."
Janet kemudian memulai memaju mundurkan tubuhnya hingga penyatuan mereka begitu berirama.
ting tong...
ting tong..
ting tong...
to be continued