One Night Stand With Hot Duda

One Night Stand With Hot Duda
Ungkapan hati Siska



"Ahhhh Irwan,"


Janet tiba-tiba teringat Irwan kekasihnya, entah bagaimana caranya agar bisa menghubungi nya, ia tidak membawa ponsel nya, Janet hanya bisa mendesah frustasi.


Tubuhnya yang begitu lemah membuat dirinya tidak bisa pergi kemanapun, tangan nya yang masih di infus membuat ruang gerak nya terbatas.


*


*


*


Sementara Irwan dan Siska terlihat sedang makan bersama di sebuah restoran, mereka tampak bahagia, tertawa bersama tanpa ada yang memikirkan Janet.


Bahkan saat tahu ayah Janet meninggal pun Siska tidak datang ke rumah sahabatnya itu, Siska memang sengaja pura-pura tidak tahu tentang kematian ayahnya Janet.


Siska pun tidak mengatakan nya pada Irwan, Siska ingin hubungan Janet dan Irwan segera berakhir. "Oia Sis kamu tahu kabar Janet sekarang? aku tidak bisa menghubungi nya dan dia pun tidak ada menghubungiku." tanya Irwan pada Siska.


"Entahlah aku juga tidak tahu, dan dia juga sama tidak menghubungiku." jawab Siska cuek.


"Bagaimana kalau nanti kita kerumah nya saja" Irwan berinisiatif untuk menemui kekasihnya itu di rumahnya, namun Siska mencegahnya.


"Jangan Wan, kamu tahu sendiri kan ibu tirinya bagaiman kalau kita kerumahnya, selalu saja jutek dan bahkan dia akan bilang kalau Janet tidak ada, padahal Janet ada." ucap Siska.


"aku tidak akan membiarkanmu menemui tata di rumah nya, bisa-bisa kamu malah begitu mengkhawatirkan nya dari pada duduk berdua bersama ku seperti ini" bathin Siska.


"hmmm iya juga ya, tapi hati aku lagi punya feeling gak enak tentang dia Sis." ungkap Irwan


"Ahh perasaanmu saja kali, berdoa saja mudah-mudahan gak ada apa-apa sama Janetmu itu"


Keduanya meneruskan makan mereka yang tertunda karena sempat mengobrol tentang Janet, dan setelah selesai mereka pergi dari restoran itu.


Keduanya masuk ke mobil Irwan, Irwan akan mengantar Siska pulang kerumah nya terlebih dahulu, tiba-tiba saja di perjalanan Siska menggenggam tangan Irwan.


Membuat Irwan heran dan langsung meminggirkan mobil nya dan mobilnya berhenti. "Kenapa Sis?" tanya Irwan heran.


"Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu Wan,"


"Ya udah ngomong aja!"


"Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Wan, tapi aku gak enak ngomongnya, aku tau kamu dan Janet sama-sama saling mencintai, tapi aku gak bisa diem aja, aku harus mengungkapkan semuanya, agar hati aku gak terbebani dengan cinta aku sama kamu ini." Siska benar-benar mengutarakan isi hati nya pada Irwan, ia sudah tak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya, ia tak mau hanya mencintai dalam diam, melihat kemesraan sahabatnya dengan pria yang sudah lama ia sukai.


Irwan terdiam, ia mencerna semua ungkapan hati Siska "sejak kapan?" tanya Irwan.


"dari semenjak kita kenal, aku sudah menyukaimu tapi aku gak mau menjadi orang ketiga diantara kalian."


Irwan menghela nafasnya, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, Irwan sebenarnya pria yang baik dan setia, ia tidak mau menyakiti hati seorang wanita.


Jlebb


Hati Siska benar-benar merasakan sakit, sakit yang tak berdarah, dia berpikir cintanya akan diterima baik oleh Irwan, selama sebulan ini dia begitu dekat dengan Irwan, dan Irwan pun terlihat sangat perhatian padanya.


"oh gak apa-apa kok, aku tau kamu pasti akan berkata seperti itu, tapi hatiku berasa plong karena sudah aku ungkapkan semuanya."


Irwan langsung menjalankan kembali mobil nya, entahlah perasaan Irwan sekarang bagaimana, ia hanya ingin cepat-cepat mengantarkan Siska ke rumahnya.


Perjalanan mereka sunyi, tanpa ada yang mau berbicara, ada yang berbeda setelah Siska mengungkapkan perasaan nya pada Irwan laki-laki itu tampak lebih dingin.


Siska turun dari mobil setelah sampai, bahkan Irwan tidak berbicara sedikitpun, Irwan langsung tancap gas setelah Siska turun dari mobilnya.


"Sial seorang Siska di tolak, lihat saja apa yang akan aku lakukan" Siska bermonolog sendiri.


Sementara Irwan yang sedang kesal kepada Siska ia langsung ke rumah Janet untuk menemui sang pujaan hati, yang sudah beberapa hari tidak menghubunginya.


Kurang dari tiga puluh menit Irwan sudah sampai di rumah Janet, ia kemudian memencet klakson agar gebang rumah Janet di bukakan oleh satpam.


Tapi saat itu satpam tidak membuka gerbang melainkan langsung keluar menemui Irwan, "Selamat malam den" sapa pak Udin.


"malam pak, bisa ketemu sama Janet nya pak?"


pak Udin tampak bingung, ia bingung bagaimana cara nya menjelaskan kepergian Janet yang di usir setelah ayah nya meninggal .


"emmm maaf den, non Janet tidak dirumah"


Irwan mengerutkan dahinya bingung, padahal hari sudah gelap tapi Janet belum pulang, kemana dia sebenarnya, itu yang Irwan pikirkan saat ini.


"Maaf pak, Janet kemana ya?


" anu den sebenarnya non Janet di usir ibu den, padahal pak Wira baru meninggal. " jelas pak Udin.


"Apa? kenapa bisa seperti itu, ini kan rumahnya."


Pak Udin hanya menggeleng kan kepalanya, "Bapak tahu dia pergi kemana?" tanya Irwan lagi yang terlihat khawatir.


lagi-lagi pak Udin hanya menggeleng, terlihat ekspresi wajah pak Udin tampak bersedih karena Janet pergi dan entah kemana perginya.


Iran langsung permisi dan meninggalkan rumah Janet, ia tidak menyangka kisah hidup kekasihnya akan seperti ini, dan ia berniat akan mencari Janet esok hari, karena hari ini hari sudah semakin larut.


"Maafkan aku, tidak bisa berada di sisimu di saat seperti ini Jane." Irwan merasa bersalah dalam hatinya.


to be continued....