One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 8



Aurora mengamati kamarnya yang sudah jarang dia tempati. Namun kamarnya masih tetap rapi dan bersih, mungkin Mama Aurora membersihkannya setiap hari. Hari ini Aurora dan Kairo berkunjung ke rumah orang tua Aurora karena Kairo besok harus pergi ke luar kota. Kairo tak mungkin meninggalkan Aurora di rumah sendirian.


Aurora beralih ke rak buku miliknya. Aurora suka sekali mengumpulkan novel-novel romansa tapi dia tidak mendambakan kejadian romance terjadi di dalam hidupnya, dia hanya suka melihat kejadian itu terjadi pada orang lain. Aneh? Mungkin tidak menurut Aurora.


Saat dia akan mengambil satu buku, sebuah buku berukuran kecil berwarna merah jambu tiba-tiba terjatuh. Ah, Aurora jadi teringat. Bukankah ini buku diary miliknya?


Aurora segera mengambil dan membaca diary itu sambil duduk bersilang di lantai.


Hore~


Hari ini, Bandung sejuk banget. Aku suka, aku suka. Rindu Nenek, rindu Kakek, Om Dhani sama Tante Nadi~


 


Kemudian Aurora membuka lembaran selanjutnya.


 


Aku ga tau arti cinta itu apa? Apakah aku merasakannya saat ini? Setiap aku melihatnya, hatiku terasa hangat~


 


"Najis ih. Beneran ini aku yang nulis? Kok geli banget ya?"


Aurora lupa kapan dia menulis ini, mungkin saja saat dirinya baru masuk kuliah. Bahkan Aurora lupa siapa yang dia taksir sampai-sampai Aurora menuliskan hal menggelikan itu. Aurora pun membuka lembaran lain,


 


Mungkin ini kali ya efek berharap penuh sama manusia? Ternyata sakit banget ya. Ya Allah, maafin aku karena aku mencintai makhluk-Mu lebih dari Engkau.


 


Aurora mengingat-ngingat, sepertinya ini dia tulis ketika dirinya patah hati. Kemudian Aurora teringat, dia pernah menyukai seniornya yang dia temui saat ospek. Aurora memilih cinta dalam diam saja namun sayangnya seniornya itu sudah memiliki pacar. Aurora buka lembaran selanjutnya.


 


Biar ayahku saja yang memilihkan pasangan halal untukku. Aku tak mau lagi berharap, aku tak mau terjatuh untuk kedua kalinya dengan rasa sakit yang sama.


 


Suara ketukan pintu menghentikan Aurora membaca diary.


"Siapa?"


"Saya." suara tegas yang sangat Aurora kenal. Suara Kairo.


"Masuk aja Mas. Pintunya nggak dikunci kok."


Kairo masuk dan membanting tubuhnya diatas kasur Aurora. Tidak peduli dengan apa yang Aurora sedang kerjakan. Aurora berdecak kesal melihat kasurnya menjadi berantakan.


"Kebiasaan deh."


Kairo memejamkan matanya, satu tangannya berada diatas dahinya.


"Itu apa?" Kairo bertanya tanpa membuka matanya.


"Diary yang aku tulis waktu SMA tapi terakhir kali tulis sampe S1."


"Oh." Kemudian tidak ada suara lagi di antara keduanya. Keduanya terlarut dengan kegiatan masing-masing.


"Ra, saya pernah bilangkan kamu jaga jarak sama Gio."


"He'em," jawab Aurora santai. Kairo mendengus tak suka. Memang, Kairo sempat melihat Gio masih berkeliaran di sekitar Aurora seperti saat Kairo menjemput Aurora di kampus istrinya itu.


"Apa perlu saya yang turun tangan?" Aurora segera menutup buku diary-nya itu dan mengembalikannya ke rak buku.


"Mas cemburu?" Aurora berdiri disamping kasur sambil berkacak pinggang.


"Saya suami kamu Aurora."


"Intinya cemburu kan Mas?" Kairo tidak menjawab yang ada malah merubah posisi tidurnya ke sisi kanan atau lebih tepatnya ke arah dinding kamar Aurora.


"Lagian tuh aku nggak mungkin jauh dari Gio. Aku sama dia bukan sekedar teman kecil tapi kami saudara persusuan kalau Mas mau tau." Kairo langsung membalikkan tubuhnya memghadap Aurora. Dia cukup terkejut dengan penjelasan Aurora.


"Serius? Kenapa kamu nggak bilang sama saya?"


"Ya, Mas nggak nanya." Oke baiklah, singkat sekali. Jawaban Aurora sedikit menjengkelkan tapi ada benarnya. Jadi Kairo sia-sia dong? Apanya coba yang sia-sia?


"Mas mau aku buatin apa untuk sarapan besok?"


"Tidak perlu, besok saya harus cepat-cepat ke bandara."


"Yakin? Padahal masih banyak waktu loh buat sarapan. Habis shalat subuh misalnya." Aurora menaikkan kedua bahunya.


"Kalau kamu memaksa buatkan sosis goreng sama brokoli tumis."


Huu makan tuh gengsi.


Aurora menggerutu di dalam hatinya. Dasar Kairo menyebalkan.


"Semoga balik dari Jakarta, saya-saya nya udah hilang ya Mas," cibir Aurora pelan.


"Apa?" ternyata Kairo mendengarnya.


"Ha? Nggak ada apa-apa kok, Mas. Hehe." Aurora menyengir dan keluar dari kamar.


***


Kairo menatap kotak bekal yang berada digenggamannya. Seharusnya dia malu karena kotak bekal itu berwarna merah jambu dan tampak imut. Sangat tidak sesuai dengan Kairo yang selalu berwajah datar dan tegas.


"Segitu bangetnya lo liatin tuh bekal? Gila ya dan ini untuk ke sekian kalinya lo ngeliat kotak bekal kayak ngeliat cewek cantik."


"Berisik."


"Lagian udah jadi bini juga, masih aja gengsi. Tinggiin aja tuh gengsi sampe ke langit sono." Kairo menatap tajam pada sekretarisnya yang tidak tahu diri itu. Afian cuma cengengesan. Sumpah ya! Tatapan Kairo itu mengerikan. Apa sih yang disukai cewek-cewek di kantor dari Kairo?


"Tobat lo tobat. Gimana si Aurora bisa cinta sama lo kalau lo begini modelannya."


"Tuh mulut mau saya lakban?" seketika Afian menutup mulutnya.


"Hey! Kamu di Jakarta juga ternyata. Aku seneng deh bisa ketemu sama kamu. Aku kangen banget loh sama kamu, Kai." Afian memutar bola matanya, malas melihat kehadiran wanita ular ini.


"Pergi," ucap Kairo dingin. Kairo tak menoleh pada Wenda. Kairo memilih mengecek pesan di ponselnya. Siapa tau ada pesan dari Aurora.


"Kok kamu gitu sih. Kamu nggak kangen sama aku?"


"Mbak, lo nggak denger apa kata Kairo? Mending lo pergi sebelum tuh beruang kutub ngamuk." Wenda mengabaikan perkataan Afian. Perempuan itu duduk disamping Kairo. Wenda berniat gelendotan di bahu Kairo tapi sayangnya Kairo menghempaskan tangan Wenda.


Kesian kan lo, Mbak. Nggak dengerin omongan gue sih. Tuli beneran baru tau lo, bhak.


Afian tertawa dalam hati.


"Fian, sebaiknya kita kembali ke kamar hotel saja. Masalah meeting nanti malam kan? Saya lelah, saya ingin beristirahat."


"Oke, Pak." Afian mengangguk, kakinya sudah hampir berdiri tapi tidak jadi karena teriak si wanita ular.


"Apa sih yang kurang dari aku Kai?! Apa karena perempuan norak yang kamu akui jadi istrimu itu?! Bahkan aku rela jadi istri kedua kamu, Kai!" Wenda menghentak-hentakan kakinya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang berada di lobi hotel.


"Jaga mulut kamu yang kotor itu. Sekali lagi kamu menjelekkan istri saya seluruh perusahaan kamu saya hancurkan dan saya tidak butuh istri kedua."


"Silahkan! Kamu pikir aku takut sama ancaman kamu itu? Liat aja nanti! Aku pasti buat kamu luluh, Kai!"


Kairo dan Afian meninggalkan Wenda begitu saja. Tidak peduli dengan teriakan perempuan itu. Afian bertepuk tangan melihat drama siang hari ini.


"Ternyata nonton FTV live lebih seru daripada nonton dari TV."


***


Berulang kali Aurora menghela napasnya. Mama Aurora yang sedari tadi duduk di samping Aurora, melirik putri sulungnya itu.


"Kamu kenapa sih, Kak? Dari tadi tarik napas terus. Kangen ya sama Kairo? Hihi."


"Ih nggak ya, Ma. Kangen apanya? Kangen sama tembok? Sorry lah yaw."


"Hush! Mulutmu! Dia itu suamimu.  Nggak boleh ah begitu. Gitu-gitu dia surga kamu ya, Ra." Aurora mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya deh. Kenapa sih Ayah malah milih Mas Kairo jadi suami aku?"


"Ya, mana Mama tau. Tanya sana sama Ayahmu. Itu kan juga permintaan kamu bukan? Kamu pernah bilang ke Ayah sama Mama, kamu akan menikah dengan pilihan Ayah jadi harus konsisten dong. Ayah sudah memilih Kairo sebagai suami kamu dan Mama yakin Ayah nggak salah pilih." Tari mengusap rambut anaknya.


"Mungkin semuanya butuh waktu. Kalian kan butuh saling mengenal lebih jauh. Kamu anak perempuan satu-satunya Mama sama Ayah. Jadi nggak mungkin sembarang laki-laki yang dipilih Ayahmu. Paling utama ya dari agamanya bukan karena ketampanan dan kekayaannya."


Aurora memeluk mamanya. Ah pelukan seorang Ibu memang yang paling hangat.