One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 11



Aurora memakai mukenah lalu keluar untuk membuang sampah ke tempat pembuangan sampah disamping rumahnya. Dia menepuk tangannya menandakan semua pekerjaan rumah sudah beres dan waktunya untuk istirahat.


Hubungannya dengan Kairo belum membaik. Tidak ada ucapan maaf atau penjelasan yang keluar dari mulut Kairo. Aurora sudah bisa tebak, Kairo menikahinya karena Kairo butuh istri yang melayaninya bukan karena Kairo cinta pada Aurora. Bagaimana bisa mencintai Aurora? Aurora saja baru bertemu dengan Kairo saat acara ijab kabul usai.


Jujur saja, Aurora tidak percaya dengan cinta yang bisa datang kapan saja. Tidak peduli dimana atau pun kapan. Akan kah Aurora bisa menjalani rumah tangganya tanpa rasa cinta? Menjalani tugas utamanya sebagai istri Kairo? Lelaki yang datar dan hemat kata itu? Apakah Aurora menyesal dengan keputusannya yang menyerahkan seluruh haknya dalam memilih pasangan kepada ayahnya? Ah semuanya sudah menjadi bubur.


Aurora menarik napasnya. Menerka-nerka itu melelahkan, menyimpulkan itu menyakitkan. Ada rasa yang tidak bisa didefenisikan dalam hatinya, rasanya Aurora ingin menangis.


"Astagfirullah, apakah ini kerjaan setan?"


Dikala manusia merasa kacau, bimbang atau pun kecewa, setan akan ikut andil menambah beban yang tak kasat mata alias kompor.


Aurora segera ber-istigfar dan menyadarkan dirinya. Semuanya sudah menjadi jalannya yang diatur oleh Allah. Aurora memang bukan orang yang sabar namun apapun ke depannya, Aurora serahkan pada Sang Maha Pencipta.


Suara notifikasi pesan membuat Aurora tersadar. Sebuah nomor asing.


From +6852xxxxxxxx :


Mengirim foto


Aurora mengerutkan dahinya. Seseorang yang tidak Aurora kenal mengirimkan foto seorang laki-laki memakai kacamata berlensa cukup tebal dan dandanannya terlihat agak cupu?


To +6852xxxxxxxx :


Maaf, tapi ini dengan siapa ya?


From +6852xxxxxxxx :


Kamu nggak ingat?


Aurora kembali membalasnya namun sayang tak ada lagi balasan dari orang asing tersebut. Aurora semakin penasaran, siapa laki-laki yang ada di dalam foto ini? Dan siapa pula orang yang mengirim foto ini? Dan apa tadi pesan terakhir orang ini, ingat? Aurora tak pernah bertemu laki-laki yang ada di dalam foto itu.


***


Afian memutar bola matanya, hari ini kantor begitu bising. Kairo lah yang menjadi topik utamanya.


"Pak Kairo kenapa sih? Aku tau dia orangnya rada galak cuma auranya hari ini loh beda banget. Lebih nyeremin," ucap seorang pegawai. Afian tak sengaja mendengar perbincangan dua pegawai perempuan yang berada di pantry.


"Apalagi tadi waktu meeting. Takut aku liatnya pake banting dokumen segala. Emang sih Pak Kairo ganteng tapi galak sama dingin. Ada nggak ya cewek yang tahan sama dia?"


"Loh kamu belum tau? Pak Kairo kan udah nikah cuma acaranya ijab kabul doang itu juga khusus keluarga yang datang."


"Masa sih? Tapi kabarnya kok nggak nyampe di aku?"


"Iya, serius tau. Aku rasa nggak dibuat resepsi pestanya karena--"


"Ekhem!" Afian berdehem kencang membuat kedua pegawai perempuan itu terkejut dan merasa gelisah karena tercyduk menggosip oleh Afian, sekretaris bos. Afian cukup disegani karena gayanya dan orang kepercayaan Kairo.


"Kalian digaji bukan untuk gosip disini. Mending balik sana daripada ngabisin waktu untuk hal yang ga penting." Kedua pegawai itu menunduk lalu ngacir meninggalkan Afian.


"Dasar. Nyeritain orang nggak bikin kenyang." Afian membuat segelas kopi dan segelas teh  lalu membawanya ke ruangan Kairo.


"Wow. Sehat, Pak? Kacau banget lo hari ini." Penampilan Kairo cukup berantakan. Dasinya melonggar dan rambutnya acak-acakan.


"Ngapain disini? Saya sedang sibuk," ucap Kairo datar. Jujur saja, Kairo sedang malas berhadapan dengan orang-orang saat ini.


"Lo jadi topik hangat di kantor hari ini. Ya walaupun setiap hari lo jadi topik utama tapi gara-gara insiden tadi pagi lo bentak staf jadi makin panas dah kayak hot dog."


Kairo tidak mengubris, dia hanya melemparkan pandangan malas pada Afian.


"Kalau ini tentang Aurora. Mending lo ngomong kek, ngerubah sifat lo yang sok datar najis itu kek. Masa jomblo kayak gue ini yang harus ngasih saran mulu sama lo yang udah punya bini."


"Saya nggak butuh saran kamu."


"Ya, emang nggak butuh tapi abis ini pasti lo terapin. Gue jamin," jawab Afian jumawa.


Kairo melengos dan pergi meninggalkan ruangan dan Afian yang sangat berisik. Hari ini dia begitu lelah. Aurora dan kerjaannya yang menumpuk.


"Eh woe! Ayam! Gue udah buatin lo teh manis malah pergi. Dasar lo beruang kutub!" dumel Afian.


Kairo pergi menuju mushala kantor. Berantakan sekali dirinya hari ini. Dia butuh shalat, dia butuh sujud pada Allah meminta ampun dan ketenangan.


Seusai dhuha, Kairo kembali ke ruangannya. Syukur sudah tidak ada Afian disana dan Kairo juga lebih tenang setelah shalat.


Sesekali Kairo mengecek ponselnya. Barangkali ada satu pesan yang masuk. Pesan Aurora. Tapi mana mungkin, istrinya itu sedang marah. Apa Kairo yang memulai lebih dulu? Bagaimana kalau tidak dibalas?


Berulang kali Kairo mengetik kalimat namun berulang kali juga dia hapus dan berakhir lah Kairo mengirim satu kalimat yang basi.


To Aurora :


Kairo menatap layar ponselnya. Benarkah kata Afian? Harus kah Kairo merubah sikapnya dan lebih romantis pada Aurora? Tapi Kairo sedikit geli, dia bukan tipe lelaki romantis dan manis. Dia hanya ingin melakukan hal-hal yang realistis. Belum ada balasan dari istrinya, Kairo terpaksa melanjutkan pekerjaannya.


Setelah hampir satu jam, Aurora baru membalas pesan Kairo.


From Aurora :


Aku lagi mau ke kantor Mas. Mas lagi nggak keluar kan?


Kairo mengerutkan dahinya. Ada urusan apa Aurora ke kantornya? Dan ini adalah kali pertama Aurora ke kantor Kairo.


To Aurora :


Mau ngapain?


From Aurora :


Mau nganterin bekal. Tadi pagi bekal Mas ketinggalan.


Haruskah Kairo senang? Haruskah dia berteriak? Seketika mood nya membaik. Oh iya satu lagi, apa perlu Kairo mengenalkan Aurora sebagai istrinya pada pegawai kantor? Tapi Aurora malah risih nanti. Apalagi kantor ini, mantan tempat Aurora bekerja.


To Aurora :


Mau naik apa kesini? Mau saya jemput?


 


From Aurora :


Nggak usah, aku naik angkutan umum aja.


 


To Aurora :


Saya jemput.


 


From Aurora :


Kalau Mas jemput buat apa aku ke kantor Mas?


 


Iya juga, batin Kairo. Sebenarnya ada rasa tak enak membiarkan Aurora pergi ke kantornya dengan angkutan umum.


From Aurora :


Tenang aja. Aku bukan istri yang manja.


Satu pesan lain membuat Kairo terdiam. Ah, ternyata Aurora masih marah padanya.


 


To Aurora :


Oh. Oke.


Hanya itu saja yang bisa Kairo jawab.


Kairo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia tidak pintar menghadapi perempuan yang sedang marah.


***


Aurora kembali menginjakkan kakinya di kantornya dulu. Rasa marahnya berubah menjadi rasa gugup karena dia pasti bertemu dengan teman-teman kantornya. Apa yang akan dia katakan nantinya? Rasanya aneh harus mengenalkan dirinya sebagai istri Kairo. Teman-temannya pasti akan terkejut sekali. Aurora menatap tangannya yang menggenggam kotak bekal. Sepertinya keputusannya untuk mengantarkan bekal kesini adalah salah namun tidak mungkin juga dia kembali ke rumah. Akhirnya Aurora masuk, seorang resepsionis menyapanya.


Loh resepsionisnya bukan Mbak Raina lagi ternyata.


"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Hm siang. Saya ingin bertemu--"


"Biarkan dia masuk. Dia itu...istri saya." Aurora dan sang resepsionis terkejut. Suara laki-laki itu suara yang sangat Aurora kenali.


Loh bukannya kantor Mas Kairo ada di lantai 3 ya? Kok dia ada disini?