
"Mas temenin aku belanja ke supermarket ya. Kulkas kita perlu diisi."
"Hm."
Aurora berjalan di belakang Kairo. Aurora masih sebal dengan respon yang Kairo berikan.
"Hm Hm aja teros! Kayak sabyan! Kairo ngeselin!" cibir Aurora yang pastinya tidak didengar Kairo.
Kairo berjalan mendorong trolley sampai dia tak sadar Aurora sudah tidak lagi di belakangnya.
Aurora kemana? Kok hilang?
Kairo memutar trolley-nya mencari-cari istrinya itu. Kairo kesana kemari namun tidak menemukan istrinya itu dimana pun. Sedihnya lagi, Kairo lupa warna khimar yang Aurora pakai. Kairo menghembuskan napasnya bagaimana pun Kairo harus menemukan Aurora. Sampai akhirnya mata Kairo mendapati Aurora berada di deretan make up.
Aurora memegang dagunya, meneliti harga-harga. Gila ya mahal semua harganya. Mana mampu Aurora beli ini semua apalagi Aurora sudah tidak bekerja lagi. Tabungannya ada sih tapi tidak mungkin juga Aurora mengeluarkannya demi sebuah bedak dan liptint.
Mas Kairo ngizinin nggak ya? Tapi aku segan minta ke dia huft.
Kairo melihat Aurora dari kejauhan dia belum mendekati istrinya itu. Kairo masih sibuk memperhatikan apa yang dilakukan Aurora disana.
Kairo pun teringat sesuatu. Kabar yang Kairo dapatkan, Aurora memang sedikit tertarik dengan dunia make up.
"Hm. Ya sudah."
Kairo mendatangi istrinya itu. Aurora kemudian sadar dan hampir memekik saat Kairo ternyata sudah berdiri di belakangnya dengan membawa trolley.
"Ngapain disini?"
"Ha? Oh itu cuma liat-liat aja kok."
"Katanya mau belanja bahan makanan buat ngisi kulkas yang kosong. Emangnya bedak bisa dimakan? Bisa disimpan di kulkas?" Kairo bertanya dengan datar tapi menyebalkan sekali di telinga Aurora.
Aurora memutar bolanya dengan malas.
"Kapan sih Mas tuh nggak nyebelin!?"
"Ayo kita liat-liat daging. Saya lagi pengen daging." Kairo lagi-lagi tidak menanggapi dan berjalan meninggalkan Aurora. Aurora ingin menangis disini juga! Kejamnya suaminya itu!
Terpaksa Aurora meninggalkan keinginannya itu tadi. Mungkin tidak sekarang Aurora akan membelinya, pasti akan ada waktunya, pikir Aurora.
Kairo dan Aurora sudah berada di stan daging.
"Mas maunya apa? Daging ayam atau daging sapi?"
"Beli aja dua-duanya." Aurora memasuki daging ayam dan daging sapi ke dalam trolley.
"Mas mau sayur apa? Mau bayam, brokoli atau mau dibuatin cah kangkung?"
"Beli aja semuanya yang kamu sebutin tadi." Aurora menahan emosinya. Sabar Rara sabar. Orang kaya mah bebas.
"Tapi kan bayam sama kangkung nggak bisa bertahan lama, Mas. Harus dimasak di hari ini juga."
"Masak aja semuanya."
"Mubazir, Mas. Siapa yang mau makan nantinya? Emangnya perut kamu muat?"
"Bisa dibagiin ke tetangga."
"Eh iya juga sih aku nggak kepikiran. Tapi..tapi masaknya pasti makan waktu yang banyak. Kamu kelaparan kalau nungguin aku nyiapin semuanya."
"Mas dengerin aku nggak sih? Mas selalu aja nggak nanggepin aku! Aku sebal sama Mas!" Aurora tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Dengerin, Ra. Ya sudah saya bantuin kamu masak." Kairo mendorong trolley, Aurora membuntuti Kairo bagai anak ayam. Entah mengapa Aurora semakin penasaran. Beneran Kairo bisa masak?
"Mas bisa masak?"
"Hm."
"Mas bisa nggak sih jawabnya jangan pake 'hm' kayak lagu tau nggak sih."
"Bisa, Rara."
Masih singkat, padat dan jelas ya Mas!
Selesai sudah acara belanja mereka berdua meskipun diisi omelan-omelan Aurora dan Kairo tidak merasa terganggu dengan keberisikan yang dibuat oleh istrinya itu. Meskipun Kairo lebih menyukai ketenangan, selama ini hidupnya tidak pernah seberisik ketika dirinya sebelum menikah. Hidup Kairo begitu aman, disiplin dan tentram.
Mobil sudah sampai di rumah besar mereka. Kairo melepaskan seat belt-nya diliriknya samping kemudi ternyata Aurora sudah terlelap. Dengan hati-hati, Kairo menggendong Aurora agar istrinya itu tidak terbangun. Jika Aurora sadar maka kejadian terjatuh ke lantai akan terulang lagi.
Kairo meminta tolong pada penjaga rumahnya untuk membawakan barang belanjaan mereka.
"Pak Anto, tolongin bawain belanjaan di mobil ya. Saya mau bawa Aurora ke kamar dulu," kata Kairo pada Pak Anto dengan suara pelan agar Aurora tidak terbangun.
"Baik Tuan!" Pak Anto membantu membukakan pintu supaya Kairo bisa masuk. Kairo menaiki tangga pelan-pelan. Kamar mereka berdua letaknya berada di lantai atas dan semua itu keinginan Aurora. Kata Aurora sih, Aurora sangat suka diatas karena jika melihat keluar akan nampak kota Surabaya keseluruhan. Walau kenyataannya tidak seluruh kota Surabaya terlihat dari balkon kamar mereka.
Kairo membaringkan tubuh Aurora. Pelan-pelan dibukanya khimar dan kaus kaki milik istrinya itu. Sudah kesekian kalinya Kairo melihat Aurora tanpa khimar, rambut istrinya itu benar-benar terawat. Rambut Aurora yang lurus dan panjang serta hitam lekat membuat Aurora semakin cantik. Biarlah hanya Kairo yang boleh melihatnya terkecuali keluarga Aurora pastinya.
Kairo mendekatkan bibirnya pada kening Aurora, menciumnya dengan sayang. Kegiatan ini selalu Kairo lakukan di saat Aurora terlelap. Bukannya Kairo tidak berani melakukannya di saat Aurora sadar tapi entah mengapa itu malah membuat dirinya canggung. Tahu-tahu Kairo malah ditabok lagi sama Aurora. Kayak nggak tahu aja Aurora itu gimana. Hari pertama mereka jadi suami-istri saja sudah terjadi accident nubruk ke lantai.
***
Aurora membuka matanya. Suhu AC kamar begitu dingin membuatnya menggigil. Aurora menoleh ke arah samping, Kairo sepertinya sudah tertidur. Aurora menatap intens wajah Kairo
Dipikir-pikir sih ya. Mas Kairo itu ganteng cuma fashion-nya kaku. Coba aja dia make hoodie mungkin bakal kayak anak ABG gitu. Ih gemes! He?
Aurora keluar dari kamarnya, perutnya terasa lapar. Akibat ketiduran dia lupa memasak dan makan malam. Loh jadi Mas Kairo makan apa? Dia kan juga belum makan ya dan aku juga belum masak!
Aurora merasa bersalah pada suaminya. Harusnya kan dia menyiapkan segalanya dan mengerjakan tugasnya sebagai istri. Ya biarpun belum ada cinta di hatinya untuk Kairo. Aurora menuju ke dapur. Entah ini perasaannya saja atau bagaimana tapi dapur nampak bersih. Maksudnya seperti baru saja dibersihkan gitu.
"Wajannya berasa baru dicuci deh. Apa perasaanku aja ya?"
Aurora beralih ke arah meja makan. Tudung saji masih sama letaknya dari tadi siang. Pasti makanannya juga sama dengan siang tadi. Mana mungkin makanannya bertambah ya kan? Siapa yang masak coba? Sedangkan Aurora saja tertidur dan baru bangun.
Aurora mengangkat tudung saji itu. Aurora mengedipkan matanya berkali-kali. Ternyata dia salah besar, di dalam tudung saji sudah terhidang ayam semur, tumis kangkung dan masih banyak lagi. Makanan sebanyak ini siapa yang masak!?
Nggak mungkin Mas Kairo tapi siapa yang masak? ART di rumah ini juga nggak ada cuma ada Pak Anto penjaga rumah.
Aurora mengingat-ngingat kalimat yang diucapkan Kairo di saat mereka berbelanja. Kairo akan membantunya memasak. Jadi benar ini semua Kairo yang masak? Seketika Aurora semakin merasa bersalah, dia enak-enakan tidur dan membiarkan suaminya mengambil alih tugasnya.
Eh-eh terus yang ngangkat aku ke kamar siapa?
Mas Kairo juga?
Astaghfirullah, kamar di lantai atas begitu. Mas Kairo rela gendong aku!? Jahat kamu, Ra! Jahat! Istri macam apa kamu!? Huaaa.
Aurora ingin berteriak dan menangis karena sudah menjadi istri yang tidak tahu diri. Seharusnya dia berterimakasih pada suaminya itu bukannya selalu marah pada Kairo bahkan memaki Kairo di dalam hatinya.
"Hiks-hiks. Mas Kairo tuh ya! Ngeselin banget!"