
Kairo menghentikan mobilnya tepat di depan gedung fakultas Aurora. Aurora cemberut, pasalnya mereka baru saja berdebat. Aurora meminta untuk diturunkan di depan kampus tapi Kairo menolaknya. Suaminya itu ingin Aurora sampai di depan gedung fakultas Aurora kalau bisa sih di depan kelas tapi mana mungkin dan berakhir lah Kairo yang memenangkan perdebatan itu.
"Udah sampai."
Aurora tak menjawab, wajahnya menghadap ke lain arah. Yang penting tidak melihat wajah Kairo yang menyebalkan.
"Ngambek mulu."
"Habisnya, Mas itu---" Aurora sudah akan mengeluarkan omelannya tapi Kairo mengusap puncak kepala Aurora yang tertutup khimar dengan lembut.
"Sana. Nanti kamu terlambat." seketika Aurora kicep. Kekesalannya menguap entah kemana.
Aurora menatap mobil Kairo yang sudah menjauh. Kairo itu memang nano-nano, beberapa hari ini Kairo punya sejuta tingkah dan itu membuat hati Aurora berdegup tak karuan.
"Apa sih! Baperan banget sih, Ra!" monolog Aurora.
***
Aurora mengunyah baksonya dengan lahap. Perutnya sangat lapar apalagi mata kuliah hari ini begitu menguras otak, mata kuliah Biokimia. Andai saja ada mamanya disini, Aurora pasti meminta mamanya untuk mengajarinya.
"Ck. Ck. Kayak nggak pernah makan aja kamu, Ra. Malu aku kita diliatin disini." Mita menatap sekelilingnya. Mereka berdua berada di kantin fakultas Manajemen yang tidak terlalu jauh dari gedung fakultas Mita dan Aurora.
"Biarin aja, Ta. Kita ini manusia butuh asupan makanan. Orang bahkan mana peduli kita lagi kelaparan atau nggak. Mereka cuma meracau apa yang mereka lihat tanpa tau kalau kita kelaparan berat." ucap Aurora menyeka bibirnya yang dower akibat kepedasan. Aurora tidak peduli dengan komentar orang-orang kecuali komentar itu memberikan motivasi baru lah Aurora akan mendengarkannya.
"Makanan apa micin, Ra? Lagian kamu aja kali yang kelaparan berat. Aku sih nggak."
"Keduanya." Mita --sahabat Aurora menggeleng. Aurora menyengir dan melanjutkan makannya.
"Eh aku kepo deh. Nikah itu enak ga?" Mita sudah tahu perihal kabar pernikahan Aurora. Mita juga turut hadir ke acara pernikahan Aurora yang digelar sederhana. Tidak banyak teman-teman kuliah yang Aurora undang karena acaranya khusus untuk orang-orang terdekat Aurora saja.
"Aku sih jalani aja."
"Kamu aneh deh."
"Aneh apanya, Mit?"
"Kamu kan belum kenal sama Mas Kairo tapi kamu udah main terima aja. Mending pacaran lagi buat saling kenal."
"Nggak ah. Percuma pacaran lama, udah saling mengenal satu sama lain tapi nggak menjamin bakal jadi jodoh. Buat apa aku pacaran kalau akhirnya pacar aku jadi jodoh orang? Yang ada dosanya yang dapat, jodohnya kagak."
"Rata-rata mereka yang pacaran, aku liat pada menikah kok." Aurora meletakkan sendoknya. Aurora tidak pernah berpacaran apalagi orang tuanya melarang keras dan Aurora paham semua itu memang untuk kebaikannya.
"Ya itu urusan mereka. Beda samaku, kalau nanti ternyata aku sebelum menikah udah meninggal dunia berarti aku dapat dosa zina dong."
"Astaghfirullah! Mulutmu, Ra."
"Loh bener kan aku?" Mita tak menjawab lagi. Semua perkataan Aurora ada benarnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi untuk ke depannya.
"Hey-hey-hey, Tayo," suara bariton yang Aurora sangat kenal membuat Aurora memutar bola matanya.
Gio duduk disamping Mita tanpa peduli tatapan Aurora seperti macan betina ingin melahap mangsa.
"Eh ada Mita syalala syilili disini. Sehat, Mit? Tahan banget temenan sama macan betina disebelahmu."
Gio kurang ajar.
Aurora terkadang heran, dirinya dan Gio seperti anak yang tertukar. Gio itu laki-laki berwujud jahil seperti ayah Aurora dan Aurora itu mirip dengan mama Gio, Tante Diana yang begitu cerewet. Syukurnya paras Aurora mirip dengan mamanya jadi dia tidak ragu kalau dia benar-benar anak kandung dari Bapak Randy dan Ibu Tari.
"Ngapain disini?! Sana hus hus. Jauh-jauh dari aku!" Aurora mengusir Gio.
Mita hanya menggeleng melihat Gio dan Aurora. Bagi orang yang tidak tahu Aurora sudah menikah pasti akan berpikir Gio dan Aurora itu saling suka atau mungkin berpacaran.
"Siapa juga yang mau dekat-dekat kamu? O to the gah."
Aurora menopang wajahnya dengan tangan kirinya.
"Mas Kairo nyuruh aku jaga jarak sama kamu, Gi. Aku mah sebagai istri ya harus nurut sama kata suami." Bibir Aurora cemberut.
"Sumpah demi ap--" Mita memekik namun seketika dia sadar berada dimana.
"Kamu nggak ngasih tau hubungan kita?"
"Hubungan, ndasmu. Kamu kira kita ini pacaran."
"Mit, ribet emang ngomong sama temenmu yang lemot ini. Pusing aku." Gio menjitak kepala Aurora.
Awalnya Mita juga tidak mengerti hubungan apa yang terjalin diantara keduanya tapi itu dulu sebelum Aurora memberi tahu yang sebenarnya. Namun bisa-bisanya sekarang Aurora lupa.
Gio dan Aurora adalah saudara seper-susuan dan haram hukumnya untuk mereka menikah. Tante Diana alias Mama Gio merupakan ibu susu dari Aurora. Mita yang mendengar cerita tersebut cukup kaget pasalnya jarang sekali hal itu terjadi di masa sekarang ini tapi mengingat Mama Gio dan Mama Aurora adalah sahabat dekat jadi wajar saja. Saat itu Mama Aurora mengalami sakit sehingga tidak dapat memberikan ASI pada Aurora yang berumur satu bulan hingga akhirnya kedua orang tuanya meminta tolong pada kedua orang tua Gio.
"Kalau begini ceritanya, aku pengen lanjutin rencana aku deh."
"Heh! Rencana apaan?! Jangan macem-macem sama Mas Kairo ya."
"Uluh-uluh, aku takut," ucap Gio dengan tatapan mengejek.
"Harusnya kamu itu bangga sama aku. Aku tuh bikin rencana buat suamimu cemburu. Lagian kamu nggak penasaran dia itu cinta sama kamu atau nggak?"
Aurora memang ragu dan penasaran, apakah Kairo mencintainya atau menikahinya hanya supaya ada yang mengurusi Kairo? Tapi mengingat semua sikap Kairo hari ini, Aurora berpikir lagi.
"Nah penasaran kan kamu?" Gio tersenyum jumawa.
Mita juga ikutan berpikir.
"Tapi aku rasa Gio ada benernya juga loh, Ra. Kenapa kamu nggak mau memastikan?"
Haruskah Aurora menyetujui rencana Gio yang sedikit busuk itu?
"Tapi aku takut. Aku takut nantinya ada orang ketiga."
"Bleh. Otak-otak sinetron dasar!" Gio gemas pada Aurora. Mita menepuk dahinya ikut gemas.
Ponsel Aurora berdering, satu pesan masuk ke ponselnya.
From Mas Kairo :
Pulang jam berapa? Biar saya jemput.
Jemput?
"Woi, pipimu kok jadi merah? Pesan dari siapa sih? Selingkuhanmu?" Gio mencoba mengintip layar ponsel Aurora tapi Aurora segera mendorong kepala Gio.
"Lambe-mu, Gi-rang! Enak aja itu mulut. Awas! Mau tau privasi orang aja."
"Oalah Ra-Ra." Mita tersenyum geli melihat kedua temannya Gio dan Aurora.
Eh pipiku memerah? Kok bisa? Padahal pesannya nggak ada manis-manisnya. Kayaknya karna kelamaan jomblo kali ya?
Aurora segera membalas pesan Kairo
To Mas Kairo :
Matkulku udah selesai, Mas. Ini lagi di kantin. Emangnya Mas bisa jemput aku?
Ternyata Kairo langsung membalas pesan Aurora.
From Mas Kairo :
ini udah jam makan siang jadi saya sempat jemput kamu. Tempat saya meeting juga nggak jauh dari kampus kamu dan saya pengen makan di rumah.
Makan di rumah? Demi apa?
"He, bocah! Wah Mit, temenmu beneran kesurupan ini! Wuah! Wuah!"
Tanpa sadar Aurora tersenyum namun di lain sisi hatinya masih penasaran. Benarkah Kairo menikahinya karena cinta? Atau karena alasan lain?