One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 17



Surabaya, November 2015


Daun-daun cokelat berjatuhan dari atas pohon. Angin yang berhembus membuat rambut Kairo berantakan. Kacamatanya sengaja ia lepaskan karena matanya terasa lelah. Sedari tadi Kairo berjibaku dengan selembar kertas origami dan sebuah pena.


Tangannya sibuk merangkai sebuah kalimat yang tidak manis tapi puitis. Mungkin. Jujur saja Kairo tidak begitu pandai merangkai kata puitis. Dia hanya bisa menulis tulisan sesuai realita dan fakta. Aneh? Sepertinya Kairo memang aneh. Bukankah ini hanya membuang waktunya saja? Sebenarnya apa manfaat untuk dirinya melakukan ini semua? Hanya untuk membantu Abyan? Untuk ke sekian kalinya Kairo meremas kertas karena kesalahan. Dia pikir dengan duduk diatas rumput hijau dibawah pohon rindang akan menciptakan banyak ide. Namun nyatanya tidak.


Kairo membuka ponselnya, mencari sedikit referensi menulis di internet. Sebuah tulisan tentang kopi membuat dia berhenti mencari.


Mencoba belajar dari kopi


Dari rasa pahit itu bisa dinikmati


"Apaan! Bahkan kopi aja nggak suka." Kairo berdecih. Namun sepintas ide langsung muncul dari benaknya. Tangannya kembali menulis di atas kertas origami berwarna merah. Kertas origami yang ke sekian kalinya.


Mungkin teh tidak seterkenal kopi


Yang semakin pahit semakin dinikmati dan dicintai


Tapi teh punya cita rasa yang berbeda


Dengan rasanya yang sepat


 


Apakah tulisan ini cukup puitis dan tidak terkesan menggoda? Kairo membacanya berulang kali. Kenapa dia merasa dirinya seperti teh? Dan Abyan adalah kopi? Kairo menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran absurd-nya. Kairo membubuhi inisial 'A' diakhir tulisannya agar Aurora mengira orang yang mengiriminya surat adalah orang yang bernama A atau mungkin Aurora bisa menebak kalau surat itu berasal dari Abyan bukan dari Kairo. Tapi apa Aurora tidak tau tentang Abyan? Mana mungkin, Abyan kan terkenal diantara banyak mahasiswa apalagi mahasiswi karena prestasi dan ketampanan Abyan ditambah Abyan pernah menemui Aurora secara langsung. Beda dengan Kairo yang hanya seorang mahasiswa kupu-kupu, kuliah-pulang kuliah-pulang.


Kairo meletakkan kertas itu di dalam bukunya. Besok kertas surat itu akan dia selipkan di loker Aurora seperti biasanya dan Kairo selalu melaporan seluruh surat untuk Aurora pada Abyan.


"Mas yakin dia bakal ngeh kalau semua itu dari aku?"


"Ya, sabar aja. Hidup ini nggak semuanya instan."


"Bener juga sih. Yaudah deh Mas nanti kabarin lagi. semoga aja dapat balasan dari Wulan."


Sayangnya hingga kini tak ada satu pun balasan yang Kairo dapat. Apa Aurora membuang semua surat itu? Bahkan sebelum dibaca perempuan itu. Entah lah.


Kairo menatap sekelilingnya. Tak banyak mahasiswa duduk di taman ini. Ah dia baru ingat jika sudah jam segini mahasiswa akan lebih memilih kantin yang ramai daripada taman yang sepi ini. Kairo menoleh ke kanan. Ada sebuah ayunan yang tidak terlalu jauh darinya dan juga seorang perempuan berkerudung yang sepertinya sedang terburu-buru. Kairo menerka pasti perempuan itu hampir terlambat masuk ke kelasnya. Namun fokus Kairo tak sengaja jatuh pada sebuah buku berwarna merah jambu yang tertinggal diatas ayunan saat perempuan itu sudah menjauh. Sebuah buku diary.


"Hey! Ini buku diary-nya ketinggalan."


Ternyata teriakan Kairo sia-sia. Perempuan itu tidak mendengarnya dan terus berlari tanpa peduli suara Kairo yang cukup keras.


***


Kairo mengeluarkan laptop dari tasnya dan sebuah buku kecil berwarna merah jambu itu terjatuh dan terbuka. Kairo baru ingat, buku ini adalah buku perempuan tadi. Kairo bingung bagaimana dia bisa mengembalikan diary ini pada perempuan tersebut.


Kairo berjongkok matanya membaca goresan pena perempuan itu tepat pada halaman yang terbuka.


Biar ayahku saja yang memilihkan pasangan halal untukku. Aku tak mau lagi berharap, aku tak mau terjatuh untuk kedua kalinya dengan rasa sakit yang sama.


Ternyata perempuan ini menulis seluruh perasaannya di diary itu. Kairo meringis merasa tak sopan karena sudah membaca buku diary itu. Kairo membuka di halaman depan siapa tau ada nama identitas sang pemilik.


Kairo terdiam menatap lamat-lamat nama itu. Bukankah ini perempuan gebetan Abyan? Memangnya ada berapa banyak nama Aurora Wulandara di fakultasnya?


Kalau diary ini dia serahkan pada Abyan dosa tidak ya tapi kan Kairo tidak berhak. Ini adalah barang pribadi Aurora. Kairo merasa bimbang. Padahal ini kesempatannya untuk mengetahui seluruh hal mengenai Aurora.


"Ini nggak bener. Diary ini harus dibalikin." Kairo memasukkan kembali diary itu. setelah membereskan seluruh tugasnya, Kairo merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memejamkan matanya. Bukannya tidur Kairo malah teringat dengan seluruh kalimat di diary Aurora. Ada apa dengan perempuan itu? Mengapa harus ayahnya yang memilihkan pasangan untuknya padahal Aurora punya hak leluasa dalam memilih. Godaan untuk membaca seluruh isi diary Aurora timbul dari dalam diri Kairo.


"Tidur Kai! Tidur! Entar subuhmu kesiangan kamu yang repot!" ucap Kairo pada dirinya sendiri.


Seakan semua ucapannya tidak mempan, Kairo bangkit dan mengeluarkan kembali buku diary Aurora. Kairo membaca satu persatu halaman. Terkadang tanpa sengaja dia tertawa dengan cuitan yang Aurora tulis. Perempuan itu punya rasa humor yang cukup tinggi jika dilihat dari tulisannya. Hingga di sepuluh halaman terakhir, tulisannya mulai serius. Aurora ternyata sedang patah hati dan itu lah yang membuat perempuan itu memutuskan untuk membiarkan ayahnya yang memilihkan pasangan untuknya. Berarti Aurora lebih menginginkan hubungan pernikahan daripada hubungan pacaran? Begitu lah Kairo menyimpulkan semuanya dan entah mengapa dia tidak ingin memberitahu semua ini pada Abyan karena Kairo tau. Mungkin Abyan tidak akan pernah berpikir hingga kesana. Kehidupan pernikahan.


***


"Jadi gimana, Mas?" Abyan menyengir sambil mengapit leher Kairo.


"Awas tanganmu!" Abyan cengengesan dan melepaskan apitannya pada leher Kairo.


"Udah aku lepasin! Jadi gimana nih tentang Wulan?"


Kairo tidak begitu suka dengan panggilan Wulan untuk Aurora tapi memangnya Kairo siapa? Itu kan nama orang, pemiliknya saja tidak protes.


"Surat baru udah mas kasih tapi ya begitu. Dia nggak ngebales mungkin suratnya dibuang."


"Yaelah, Mas! Coba deh Mas temuin langsung."


"Kenapa harus Mas? Kan kamu yang suka sama dia bukan Mas." Abyan menggaruk kepalanya.


"Malu aku Mas ketemu dia lagi. Waktu aku ketemu pertama kali tanggapan dia tentangku udah nggak enak. Bahkan temannya aja nggak dia kasih buat pergi ninggalin kami berdua. Katanya kami bukan mahram."


"Kalau begitu nikahin aja." Kairo segera menutup mulutnya dengan rapat. Dia lupa jika Abyan anti dengan kata menikah.


"Haha Mas lupa ya? Mas bisa liatkan gimana pernikahan Ayah sama perempuan itu? Hancur!" Abyan bahkan tidak mau memanggil 'ibu' pada perempuan yang melahirkannya.


"Tapi kan-"


"Aku pulang dulu, Mas. Kapan-kapan aku bakal ke rumah Mas lagi. Kirim salam sama bude ya. Assalamu'alaikum."


Abyan pulang dan Kairo dirundung rasa bersalah. Kenapa dia harus mengungkit kata pernikahan di depan Abyan. Ini semua karena Kairo mengingat semua tulisan Aurora.


 


***


Kairo berdiri di depan sebuah kelas. Dia mencari-cari perempuan bernama Afifah yang merupakan sahabat Aurora. Mungkin lebih baik melalui Afifah saja Kairo mengembalikan diary ini namun sayangnya Afifah tidak terlihat juga.


"Nyari siapa ya Mas?" Kairo terkejut dan tak sengaja menjatuhkan buku diary itu ke lantai.


"Loh itu kan diary saya. Mas nemunya dimana?" Kairo menoleh ke belakang dengan sedikit horor. Ternyata sang pemilik diary itu yang mengejutkannya!


"Rara! Jalanmu cepat banget sih!" suara cempreng kembali mengejutkan Kairo. Tampak Afifah berlari sepertinya Aurora meninggalkan sahabatnya itu. Kairo mengambil kesempatan untuk kabur saat Aurora menoleh kesal pada Afifah. Dan diary itu masih tergeletak begitu saja diatas lantai.