One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 14



"Ra, adikmu itu siapa namanya?" Aurora memasukkan buku binder ke dalam tasnya. Kelasnya baru saja selesai.


"Kenapa? Adikku ada dua, Arya sama Ardi."


"Nah iya! Si Arya. Adekmu itu loh gemesin, ganteng pula lagi." Afifah menyengir. Aurora menggelengkan kepalanya.


"Ya Allah, Fah! Masih SMA loh dia mau kamu embat?"


"Ya gapapa? Sekarang kan lagi jamannya bronis, brondong manis hihi." Afifah memainkan kedua alisnya.


"Afifah, sayangku. Kamu nggak lupakan sama peraturan keluargaku kalau kami dilarang pacaran."


"Beneran, Ra? Di jaman sekarang masih ada aturan kayak gitu? Tapi aku ga yakin Arya jomlo. Bisa aja kan dia punya pacar di sekolahnya?"


Afifah dan Aurora keluar dari kelas. Mereka berjalan di sepanjang lorong fakultas.


"Memangnya salah? Ayahku ngasih aturan itu biar anaknya nggak salah langkah. Masalah Arya pacaran atau nggak. Aku yakin dia lebih milih pacaran sama buku daripada cewek."


"Selain ganteng. Pinter juga ya? Gemesin banget!" Aurora memutar bola matanya. Kantin begitu ramai, Aurora sungguh malas harus kesana. Selain ramai ada banyak asap rokok disana. Apa gunanya sih rokok itu? Yang ada membuang uang dan merusak paru-paru. Cih! Aurora benci lelaki perokok.


"Fah, jangan ke kantin deh. Banyak banget cowok disana terus asap rokok juga."


"Ya ampun, Ra. Namanya kampus banyak mahasiswanya lah."


"Mending di taman aja deh kita duduknya. Disana lebih asri lagi dibawah pohon." Aurora tersenyum memohon agar temannya itu luluh.


"Ribet ya kamu, Ra. Aku ke kantin bentar mau beli roti dari pagi aku belum makan." Afifah hendak berbalik tapi Aurora menghalanginya.


"Sekalian dong aku nitip juga hehehe. Sini tas sama bukumu tak bawakan."


"Ada maunya baik banget ya, Ra. Dasar princess Aurora." Afifah mendengus tapi tetap membelikan Aurora.


Taman tak jauh dari kantin. Di taman itu banyak pohon rindang dan ada sebuah ayunan. Kebetulan ayunan itu kosong, Aurora duduk disana. Dia mengeluarkan diary nya. Aurora bukan orang yang puitis tapi dia suka menulis. Menulis apa yang dia lihat dan dia rasakan.


Ponsel Aurora bergetar, satu pesan dari Afifah.


Afifah : 


Ra! Maaf aku duluan ke kelas. Pak Fahmi udah masuk nih. Cepetan!


Aurora menepuk jidatnya. Setelah ini kan dia masih ada kelas lagi. Aurora membereskan seluruh buku-bukunya lalu pergi tergesa-gesa hingga tak sadar buku diary kesayangannya tertinggal di ayunan.


"Hey! Ini buku diary-nya ketinggalan." Aurora tidak peduli dengan suara yang memanggilnya atau siapapun itu. Yang pasti Aurora harus masuk ke kelas sebelum dosen mengusirnya dari kelas karena masuk terlalu lama.


***


Aurora menatap lekat layar ponselnya. Foto si laki-laki berkaca mata masih Aurora simpan di galerinya. Aurora tak pernah sekali pun melihat lelaki ini tapi kalau dilihat dari cara berpakaian sepertinya laki-laki ini berfoto saat masih kuliah karena laki-laki itu menyandang tas ransel. Apa mungkin waktu kuliah S1 ya? Tapi dimana?


Aurora meletakkan ponselnya diatas nakas dan bersiap untuk tidur.


"Udah mau tidur, Ra?" Kairo baru saja keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"Iya. Mas tuh suka banget ya keramas malam-malam. Dibilangin kurang-kurangin, nanti sakit baru tau rasa!"


"Ya kan ada kamu yang rawat," kata Kairo pelan. Pelan sekali.


"Mas bilang apa?"


"Ha? Nggak ada. Kamu tidur gih." Aurora berdecak. Dia kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.


"Mas, tau nggak?"


"Nggak."


"Ck. Aku belum selesai loh ceritanya."


"Tadi aku ketemu loh sama Mbak Wenda di butik."


"Abaikan aja. Perempuan itu nggak penting," ujar Kairo santai.


"Yakin nggak penting? Tapi kenapa dia bisa tau kalau butik itu tempat langganan Mas Kairo?" Aurora bangkit dan menyandar di kepala ranjang. Apa benar wanita ular yang dia pernah dengar itu adalah Wenda? Wenda dan Kairo sama-sama di Jakarta saat itu?


"Kamu percaya sama perempuan itu?"


"Mas nggak lagi bohong kan?" Aurora kembali melempar pertanyaan.


"Bohong dari mananya? Ada gelagat saya yang mencurigakan? Ada suara saya yang bergetar tanda menutupi sesuatu?" Benar. Semua yang disebutkan Kairo tak ada. Kairo bersikap biasa saja. Ah mungkin Kairo pandai menutupinya.


"Coba tatap mataku, Mas. Kalau tidak salah orang berbohong tidak akan berani menatap mata korban."


"Korban? Korban apa sih, Ra? Kok kamu merasa jadi korban disini? Memangnya saya ngapain?"


"Kalau gitu tatap mata aku apa salahnya sih Mas?"


Kairo tidak mau menatap mata Aurora karena bukan apa-apa. Dia takut pertahanannya tidak kuat. Kairo juga seorang laki-laki.


"Tidur, Ra." Kairo menggantung handuknya dan beralih menuju kasur. Kairo ikut merebahkan tubuhnya disamping Aurora. Dia memejamkan matanya. Namun Aurora tak gentar begitu saja dia butuh penjelasan. Aurora tak mau berdiam diri lagi


"Mas! Sulit banget ya jujur sama aku? Apa-apa ngalihin. Apa-apa sok rahasia!"


"Kalian janjian ke Jakarta kan? Perempuan ular itu Wenda kan? Iya kan?!"


"Turunkan nada suaramu Aurora. Saya ini suamimu."


"Makanya jawab dan tatap mataku,  Mas!"


Kairo menarik napasnya. Emosinya tak boleh lepas begitu saja.


"Oke." Kairo duduk menghadap Aurora. Mata mereka saling menatap.


"Sekarang silahkan tanyakan apa yang mau kamu tanya?" Aurora menelan ludahnya baru sadar mata Kairo berwarna cokelat.


"Mas beneran janjian sama Wenda ke Jakarta?"


"Nggak."


"Apa hubungan Mas sama dia? Kenapa dia bisa tau itu butik langganan Mas?"


"Saya tidak punya hubungan dengan dia. Seperti yang kamu bilang dia itu wanita ular tidak bisa dipercaya. Terus untuk masalah butik, saya tau butik itu dari kakak perempuan saya. Mbak Kania."


Aurora jadi teringat Kairo memang memiliki seorang kakak perempuan tapi sayangnya Aurora belum bertemu dengan Mbak Kania karena Mbak Kania tinggal di Kalimantan bersama suaminya.


"Tapi--"


"Tapi kenapa pegawainya mengenal saya? Itu kan yang mau kamu tanyakan? Karena saya sering menemani Mbak Kania kesana." Satu lagi, Aurora ingin sekali menanyakan pertanyaan ini. Namun dia masih ragu.


"Mas tuh sebenarnya cinta nggak sih sama aku!?" pertanyaan ini, pertanyaan yang Aurora simpan selama ini. Pertanyaan gila memang tapi salahkah Aurora butuh pernyataan?


Kairo memutuskan tatapan mereka terlebih dahulu.


"Hm." Kairo tak menjawab. Dia merapikan selimutnya hendak tidur. Syukur pertahanannya masih kuat malam ini.


"Apa jangan-jangan Mas cuma terpaksa nikahin aku ya!?" Aurora kesal.


"Tidur, Ra udah malem. Nanti subuhnya telat." Kairo menepuk-nepuk bantalnya lalu membaringkan tubuhnya kembali. Ini belum waktunya karena masih ada hal yang mengganggu Kairo. Tenggorokannya tercekat untuk menjawab pertanyaan yang Aurora ajukan. Semuanya tak semudah itu untuk terucap. Kairo mencoba memejamkan matanya lagi.


"Mas, aku nggak suka sama laki-laki pembohong. Aku hanya ingin menikah sekali saja."


"Selesai acara resepsi, saya akan bawa kamu ke suatu tempat dan menjelaskan semuanya."