
Kairo mengecek jam tangannya. Sudah hampir dua puluh menit dan belum ada tanda-tanda kedatangan Aurora. Apa Aurora kejebak macet? Tapi ya namanya angkutan umum pastinya akan lebih lama dari kendaraan pribadi, Kairo tau hal itu. Kairo memutuskan untuk menunggu di lantai bawah saja. Mungkin tak ada salahnya jika dia menunggu di lobby.
Karyawan yang lewat tersenyum pada Kairo yang dibalasnya dengan senyuman tipis. Sangat tipis sampai tak terlihat. Kairo duduk di sofa sambil membaca koran hingga wajahnya tertutup. Karyawan yang berlalu lalang penasaran dengan kehadiran Kairo. Tak pernah sejarahnya Kairo duduk di sofa lobby, bukannya Kairo punya ruangan sendiri? Untuk apa sang manager duduk disini?
Kairo amat serius sampai tak sadar sosok yang ditunggu sudah berdiri di depan meja resepsionis.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hm siang. Saya ingin bertemu--"
Kairo mengintip dari koran yang dia baca. Terlihat punggung yang sangat dia kenal. Itu Aurora. Kairo mencoba untuk bersikap biasa aja. Kairo meletakkan koran dan berjalan sampai dibelakang punggung Aurora. Kedua tangannya berada di dalam saku celana.
"Biarkan dia masuk. Dia itu...istri saya." Kairo mendehem.
Ekspresi kedua perempuan dihadapannya berubah terkejut.
"O-oh. Baik, Pak. Maaf Bu jika saya bersikap tidak sopan," ucap sang resepsionis tak enak hati. Aurora juga ikut merasa tak enak, dia tak suka situasi seperti ini.
"Ah nggak kok. Kamu sopan. Biasa aja ya sama aku. Santai aja, anggap aja aku teman."
Kairo menahan senyumnya. Lucu sekali, bisa-bisanya di saat seperti ini Aurora mengajak sang resepsionis berteman.
Dasar Aurora.
Aurora permisi pada sang resepsionis sedangkan Kairo hanya berlalu begitu saja. Aurora melihat itu mendengus.
"Mas." Kairo berbalik.
"Kenapa?"
"Aku cuma mau nganter ini terus pulang." Aurora menyerahkan kotak bekal pada Kairo. Satu alis Kairo naik.
"Temani saya makan di ruangan saya."
Aurora bingung. Dia kan kesini hanya untuk mengantar bekal Kairo lalu pulang. Bagaimana jika dia bertemu teman-teman satu divisinya dulu?
"Katanya mau jadi istri yang baik kan? Ya sudah, dengerin apa kata suami."
Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Kairo. Sungguh. Kairo tidak bermaksud membuat Aurora semakin salah paham, dia hanya tak mau Aurora pulang sekarang.
Wajah Aurora merengut mau tak mau Aurora mengikuti langkah suaminya.
Mereka tidak berjalan beriringan. Kairo berjalan lebih dulu dan Aurora mengekor di belakang.
Saat akan masuk ke divisinya, Aurora menarik napasnya. Semoga teman-temannya tidak sadar kehadiran Aurora.
"Hey!" seseorang tiba-tiba saja menepuk pundak Aurora. Bukan hanya Aurora yang berbalik, Kairo juga ikut.
"Aurora kan?" benar saja, perempuan ini salah satu anggota divisinya dulu.
"Iya." Aurora mengangguk kikuk. Semoga tak ada pertanyaan aneh.
"Syukur, aku pikir aku salah orang tadi. Kamu ngapain kesini? Mau join ke sini lagi?" sepertinya teman kantor Aurora tak sadar Kairo juga berada disana.
"Itu. Itu.."
"Masih lama?" suara itu lagi-lagi mengintrupsi.
"Loh Pak Kairo? Bapak kok disini?" teman kantor Aurora menatap Aurora dan Kairo bergantian.
"Ra, kamu melamar jadi sekretarisnya Pak Kairo ya? Eh tapi kan masih ada Mas Afian. Emangnya Mas Afian mau resign? Kok aku nggak tau ya," bisik perempuan itu yang masih bisa didengar Kairo. Aurora tak menjawab dia bingung harus bilang apa.
"Aurora itu istri saya. Masih lama? Saya sangat lapar," kata Kairo yang mulai tak sabar. Dia tidak bohong, perutnya lapar.
Butuh waktu lama membuat teman kantor Aurora mudeng.
"Hahaha. Bapak nge-prank ya? Istri dari mana? Undangan Bapak aja belum nyampe ke tangan saya dan temen-temen lainnya."
"Ya sudah. Terserah. Ayo, Aurora." Kairo menarik tangan Aurora meninggalkan teman kantor Aurora itu. Teman Aurora itu terperangah. Matanya beralih ke arah tangan Aurora dan Kairo yang bertautan.
Keduanya melewati kubikel para karyawan. Terdengar bisik-bisik.
"Eh loh, itu Aurora kan?"
"Sama Pak Kairo lagi."
"Eh liat deh tangannya. Mereka pacaran? Gils!"
Aurora memejamkan matanya mendengarkan bisik-bisik karyawan. Dia bahkan tak sempat untuk menjelaskan.
Kairo tiba-tiba saja berhenti namun tangan mereka masih bersatu.
"Kalian nggak perlu bertanya-tanya untuk apa Aurora disini. Dia itu istri saya jadi wajar dia disini. Sana kembali bekerja," ucap Kairo membuat semuanya diam. Afian yang tak jauh dari sana, tersenyum miring.
Mantap, ini keajaiban, batin Afian.
Kairo kembali menarik Aurora hingga mereka masuk ke ruangan Kairo.
"Mas ngomongnya kok gitu? Nggak enak sama yang lain." Aurora menghentak-hentakkan kakinya.
Kairo melepaskan genggaman tangan mereka.
"Emangnya ada yang salah? Saya kan jujur, kamu emang istri saya." Kairo mengambil kotak bekal di tangan Aurora dan duduk begitu saja. Aroma masakan Aurora sudah tercium ketika Kairo membuka kotak bekal itu.
"Cuma kan, ini mendadak banget ngumuminnya. Kita ga ngundang mereka kemarin, tau-tau udah ngabarin kalau kita suami-istri." Akhirnya Aurora ikut duduk disamping Kairo.
"Kalau gitu dua minggu lagi kita buat resepsi. Nggak usah dibawa ribet." Kairo melahap makanan yang tersaji.
"Nggak bisa gitu dong! Mas pikir dua minggu itu semuanya bakal kelar gitu aja? Belum lagi ngurus ini itu, pakaian dan lainnya." sadar atau tidak, Aurora lupa dengan amarahnya pada Kairo. Kairo sedikit senang karena kecerewetan istrinya sudah kembali.
Kairo mengunyah cumi tepung goreng dan tumis brokoli buatan Aurora.
"Kamu nggak mau ikut makan?"
"Mas! Nggak denger apa yang aku bilang?"
"Karna bekalnya cuma satu. Kita bagi dua aja lagian nasinya kebanyakan."
"Mas nyebelin!"
"Emang."
"Mas! Ish!"
Kairo menghentikan kunyahannya dan menghadap Aurora.
"Jadi kamu maunya gimana? Omongan orang-orang nggak perlu didenger. Kita juga menikah dengan cara yang baik-baik. Nggak pernah pacaran. Jadi nggak usah dipikirin ya." Satu tangan Kairo mengelus puncak kepala Aurora.
Sikap Kairo membuat hati Aurora melembut.
"Gimana tentang resepsinya? Kamu mau?" Aurora menggeleng.
"Nggak mau. Sayang duitnya buat booking hotel sama WO. Aku juga nggak terlalu suka musik. Berisik."
"Siapa yang bilang bakal pakai musik?"
"Tapi kan Mas bilang resepsi pasti selalu ada musik atau band."
"Nggak akan ada musik, konsepnya kita buat sesuai sunnah. Kalau hotel pasti, karna orang-orang kantor nggak mungkin sedikit yang datang. Anggap aja kita bersedekah dengan menjamu mereka. Ada lagi?"
"Pestanya jangan mewah-mewah ya kayak klien Mas kemaren." Kairo tertawa renyah sekali. Aneh kan? Aurora bahkan terkesima melihat tawa Kairo yang jarang terlihat itu.
"Iya-iya. Kan sudah saya bilang sesuai sunnah. Nggak akan ada ikhtilah, musik dan kemewahan. Deal?" Kairo mengangkat tangannya menjabat tangan dengan Aurora.
Aurora tampak berpikir dan akhirnya menyetujui rencana Kairo.
"Deal." Aurora membalas jabatan tangan Kairo. Lagi-lagi tangan mereka bertautan.
***
"Mas, aku suka sama dia. Aku sayang sama dia."
Kairo membuka matanya. Tubuhnya berkeringat, wajahnya dipenuhi peluh. Dia bermimpi. Mimpi itu lagi. Mimpi yang sudah lama tak hadir dan sekarang kembali lagi.
Kairo menoleh ke sebelah kanannya. Aurora yang sedang tertidur pulas. Wajah istrinya yang damai itu membuat Kairo sedikit tenang. Kairo mendekati Aurora dan mencium kening istrinya itu. Semoga Aurora tidak sadar tetapi satu hal yang mengalihkan pandangan Kairo. Kalung yang Kairo beli sudah tersemat di leher Aurora.