One Day For Ever

One Day For Ever
Episode 20



Kairo mengelus-ngelus punggung istrinya yang menangis tersedu-sedu. Sebenarnya dia cukup penasaran apa yang menjadi penyebab Aurora membuat kamarnya berantakan seperti ini.


Tiba-tiba saja Aurora mengelap ingusnya di kemeja Kairo. Kairo hanya bisa pasrah hingga sampai istrinya itu berhenti menangis dan berbicara.


Aurora memberikan sesuatu, selembar kertas. Kairo baru sadar jika sedari tadi Aurora menggenggam kertas di tangannya.


Dan Kairo ingat kertas apa itu.


"Ma--Mas ingat sama surat ini kan? Jangan bohong lagi deh! Capek tau nerka-nerka terus!"


Kairo menelan ludahnya. Jadi ini yang menjadi alasan Aurora terdiam sedari tadi?


Berarti Afifah masih ingat dengan Kairo dan surat itu?


"Aku kan udah bilang! Kalau apa-apa itu ceritain! Aku nggak ngerti sama pemikiran Mas."


Kairo menghela napasnya.


"Saya pikir semua itu nggak penting buat diceritain."


"Iya menurut Mas nggak penting! Tapi Mas pernah mikir nggak rasa bersalahku sebesar apa? Sama Abyan dan Mas yang nggak aku inget?" Aurora tetap menjaga suaranya agar tidak meninggi. Semarah apapun dia, dia harus sadar kalau Kairo adalah suaminya. Surganya.


"Ada hal yang nggak bisa saya bilang."


"Iya. Kalau sebenarnya yang nulis surat ini adalah Mas bukan Abyan kan?"


Kairo terkejut. Bagaimana bisa Aurora tau tentang hal itu?


"Tertulis inisial A dibawah surat ini menyatakan kalau Abyan yang nulis surat ini tapi Mas jangan lupa kalau aku hafal jelas dengan tulisan tangan Mas."


Aurora tau bentuk tulisan tangan Kairo karena Aurora pernah tak sengaja membaca catatan tertulis milik suaminya ketika dia membersihkan ruang kerja Kairo.


"Aku merasa jadi cewek bodoh tau ga." Aurora menangis lagi. Kairo ingin menghapus air mata istrinya tapi Aurora menepisnya.


"Sudah saya bilang. Itu semua tidak penting. Saya dan masa lalu saya itu urusan saya."


"Dengan keegoisan Mas dan tidak pernah memikirkan rasa bersalahku pada kalian?"


Lagi, Kairo menarik napas dan membuangnya.


"Itu bukan kesalahan kamu tapi kesalahan dan keegoisan saya."


"Karena keegoisan saya, berani-beraninya saya meminang kamu, menjadikan kamu istri saya." Wajah Kairo berubah sendu. Dia tidak menyesal menikah dengan Aurora tapi dia sangat merasa bersalah dengan Abyan.


"Dulu dalam kamus saya, saya tak akan tertarik dengan perempuan sebelum saya menjadi orang yang berhasil. Dan di saat itu, Abyan datang dan menceritakan semua tentang kamu yang satu kampus dengan saya. Dia meminta bantuan saya untuk mendekatkan kamu dengan dia tapi saya tidak tau bagaimana caranya. Hingga saya berjumpa dengan Afifah dan Afifah yang memberikan saran lewat surat karena kamu suka sekali dengan kalimat puitis."


"Abyan adalah orang yang penting dalam hidup saya. Dia bukan hanya sekedar sepupu bagi saya tapi dia adalah seorang adik yang membutuhkan seorang kakak. Saya punya kewajiban untuk melindungi dan membantu dia."


"Namun Allah berkata lain. Abyan meninggal. Disitu saya terpuruk. Setelah Ayah saya pergi sekarang giliran Abyan pergi meninggalkan saya." Aurora menghentikan tangisannya. Sepertinya ada orang yang lebih sakit dari dirinya. Apakah dia terlalu egois pada Kairo?


"Tapi Ibu menguatkan saya untuk bangkit kembali. Saya pun pergi meninggalkan Surabaya setelah lulus kuliah. Saya mendapat pekerjaan di Bogor. Kamu tau? Saya bahkan berpikir untuk tidak menikah sama sekali. Sampai kita berjumpa kembali di kantor cabang Surabaya, tempat saya dan kamu bekerja. Disitu saya dengan pikiran gila saya ingin menjadikan kamu istri saya, Aurora."


"Kamu tidak salah tapi saya yang salah." Kairo mengusap wajahnya.


Aurora menyusupkan kedua tangannya di leher Kairo. Aurora memeluk leher laki-laki itu.


"Aku suka Mas seperti ini. Menceritakan semuanya, menceritakan rasa sakit Mas. Sudah aku bilang berapa kali, biarkan aku jadi pendengarmu Mas. Mau itu rasa lelahmu di kantor atau apa pun itu."


"Aku ingin seperti Sayyidah Khadijah yang selalu mendengarkan cerita Rasulullah saat Rasulullah lelah."


"Tapi sayangnya beliau tidak cerewet seperti kamu." Kairo tersenyum mengejek.


Aurora melepaskan pelukannya lalu mengerucutkan bibirnya. Kesal karena apa yang dikatakan Kairo benar.


"Jadi, gimana ceritanya tentang kalung yang ada di leher kamu?" Kairo bertanya berpura-pura tidak tahu.


"Aku nemu di laci meja rias. Ini kalungnya dari Mas kan? Iya kan?" Kairo mengangkat kedua bahunya. Dia hendak berdiri namun Aurora menarik kemeja laki-laki itu. Syukur, Kairo sigap dapat menahan bobot tubuhnya jika tidak dia akan terjatuh dan menimpa Aurora.


"Jawab dulu baru boleh pergi!" rajuk Aurora.


"Bukan dari saya tapi dari toko tukang mas." Kairo mengecup dahi istrinya itu dengan cepat lalu melarikan diri dari kamar karena Aurora sudah melepaskan tangannya dari kemeja Kairo. Mungkin efek terkejut.


"Mas!" pekik Aurora dari dalam kamar.


***


Kairo membanting tubuhnya diatas sofa dan mencomot keripik kentang milik adik iparnya --Arya yang sedang asik menonton kartun.


Arya melirik Kairo yang tampak berseri-seri. Terlihat jelas dari wajah Kairo.


"Seneng banget kayaknya Mas?" tanya Arya cuek.


"Biasa aja." Kairo mengunyah keripik kentang itu dengan santai. Keliatan banget ya kalau Kairo senang? Adik iparnya saja bisa menebaknya.


"Masa, Mas? Atau jangan-jangan Mbak Rara hamil ya?"


Uhuk! Kairo tiba-tiba saja tersedak keripik kentang! Asem emang si Arya!


Dengan santai Arya memukul-mukul bahu Kairo.


"Wah bentar lagi cucu pertama di keluarga ini bakal hadir. Nggak kebayang sih aku gimana entar Mbak Rara jadi emak-emak. Pasti riweuh banget."


Tolong! Ini kenapa batuk-batuk Kairo nggak kelar-kelar?


"Rara jadi emak-emak? Maksudnya apa?" Mama mertua Kairo tiba-tiba datang dan ikut menyela.


"Iya, Ma. Mbak Rara kan Ha--hmm."


Kairo menutup mulut Arya dengan telapak tangannya. Bisa repot nanti dia kalau membiarkan Arya berceloteh yang tidak-tidak!


"Habis ketemu temen kampusnya yang lagi hamil, Ma." lanjut Kairo sekalian dia ingin menyelamatkan diri. Takut-takut kabar hoax ini menyebar.


Tari menganggukkan kepalanya.


"Rara mana Kai?"


"Lagi di kamar, Ma. Ngeberesin kamar."


"Oh iya deh. Mama ke dapur dulu ya." Kairo mengiakan dan sang mertua berlalu begitu saja.


Arya yang sedari tadi mulutnya dibekap akhirnya menghempaskan tangan Kairo.


"Mas kok nggak bilang sama Mama kalau Mbak Rara hamil!"


"Mbakmu nggak hamil! Kamu yang nyebarin hoax. Syukur kamu nggak jadi jurnalis bisa-bisa kamu nyebarin hoax!"


Arya mencibir kakak iparnya itu.


"Terus kenapa Mas seneng?"


"Kepo kamu kayak mbakmu."


"Siapa yang kepo? Aku?" Aurora yang baru selesai membereskan kamar mendatangi dua pria berbeda usia itu. Aurora mendorong Arya dengan kakinya, agar sang adik bergeser. Aurora duduk ditengah Kairo dan Arya.


Arya mencibir protes. Sepasang suami-istri ini memang menyebalkan!


"Apa melotot-melotot? Pengen kayak gini?" Aurora merangkul lengan suaminya.


"Sana nikah!"


"Awas kamu Mbak!" Arya kesal dan pergi meninggalkan Kairo dan Aurora.


"Dih dasar bocah."


"Tadi cerita apa sih?" Aurora menoleh pada Kairo.


"Nggak ada. Si Arya ngira kamu hamil."


"Memangnya Mas mau aku hamil?"


"Pertanyaan macam apa itu? Ya mau lah." Aurora tersenyum. Setelah Kairo menceritakan semuanya, ada sedikit perubahan pada Kairo. Laki-laki itu lebih banyak berekspresi berbeda jauh dari mereka pertama kali menikah dulu.


"Afifah udah hamil."


"Serius?" Aurora mengangguk mengiakan. Aurora menyandarkan kepalanya di bahu Kairo.


"Aku minta maaf ya Mas karena selalu menerka-nerka yang nggak-nggak ke kamu."


"Ini masih acara maaf-maafan? Sudah lah. Lupain aja mending kita buat kisah baru."


"Idih sok puitis. Tapi itu beneran tulisan kamu Mas?"


"Nyontek dikit dari internet. Kalau saya bisa nulis begitu saya udah masuk jurusan sastra bahasa Indonesia waktu kuliah."


"Itu saya-saya nya diilangin dong. Udah nikah masa pake saya. Dikira kita bos sama karyawan lagi."


Kairo terkekeh.


"Say--aku kan memang bos kamu." awalnya Aurora cemberut namun saat sadar Kairo sudah merubah panggilannya Aurora berubah heboh.


"Eh! Eh! Coba diulangin tadi bilang apa!"


"Tidak ada pengulangan."


"Mas!"